
"Ternyata ini yang kamu lakukan di belakangku, Yola?" Wajah Adam pun merah setelah membaca pesan di ponsel Yola.
Pesan di ponsel yang berisi chat romantis Yola dengan seorang pria.
Yola menundukkan kepalanya, merasakan aura yang membuat buku kuduk berdiri.
"Sudah berapa lama kamu berselingkuh dengannya?" Tanya Adam kembali.
"Aku hanya berteman dengannya, kok." Sanggah Yola. "Kami hanya teman baik. Hanya teman." Yola menyanggah.
"Jangan membodohiku Yola!!! Isi pesan kalian ini!" Emosi Adam sudah di ubun-ubun. "Hanya teman? Kamu mengirim pesan menjijikkan seperti ini kepada temanmu?"
"Ka-kami hanya ber-"
"Yola!!! Katakan sudah berapa lama kamu berselingkuh dariku?" Sela Adam dengan suara yang tinggi.
"Se-setengah tahun." Ucap Yola sambil menghembuskan nafasnya berkali-kali. Wajah murka Adam benar-benar tak nyaman. Mau berbohong pun, pria itu tidak akan semudah itu percaya.
Adam menggeleng tak mengira, Yola berani bermain api di belakangnya. Wanita itu telah mengkhianati pernikahan mereka.
"Kita bercerai saja, Mas." Ucap Yola kemudian. Selama ini, Yola juga merasa tertekan dengan Adam. Ia beranggapan ini waktu yang tepat untuk mengakhiri pernikahan yang memuakkan ini.
"Apa?" Adam menatap Yola tajam.
"Ceraikan aku. Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Berpisah denganmu akan lebih baik." Jawab Yola dengan sorot mata yang sama tajamnya.
Dulu, Yola beranggapan. Adam pasti pria kaya karena bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan. Tapi, ternyata... pria itu tidak sekaya yang dipikirkannya.
Gaji Adam bahkan tidak cukup untuk membeli sebuah tas branded asli. Belum lagi, pria itu yang begitu sangat pelit. Selama menjadi istrinya, Yola tak pernah memegang gaji pria itu secara utuh.
Adam hanya memberikan sesuai kebutuhan pokok mereka saja. Sementara untuk membeli tas atau yang lainnya, Adam hanya sanggup membeli barang bermerek kawe.
"Apa kamu bilang?" Tanya Adam kembali. Yola menginginkan perceraian.
"Kita bercerai. Aku sudah salah, ternyata selama ini kamu cuma pria miskin yang tidak bertanggung jawab. Hidup bersamamu, aku seperti berada di neraka." Ungkap Yola mengeluarkan uneg-unegnya. Ia ingin mengakhiri semuanya.
"Jaga perkataanmu!!!" Pekik Adam yang merasa kesal dengan ucapan Yola. Ia merasa sudah memenuhi kebutuhan mereka dengan layak dan Yola mengatakan ia tidak bertanggung jawab.
"Aku mencintai pria itu. Ia bisa memenuhi semua kebutuhanku dan apapun yang ku inginkan. Jadi, untuk apa aku masih bersama pria miskin sepertimu." Cibir Yola dengan wajah jijik.
Plak
Satu tamparan mendarat mulus di pipi wanita itu.
"Mas... Beraninya kamu menamparku!" Yola yang emosi memukuli tubuh Adam sekuat tenaganya. Pria itu kira, ia tidak bisa membalas.
Adam berusaha menghindar dan memegangi tangan wanita itu.
"Mario..." Adam menepis tangan Yola saat mendengar suara tangisan Mario. Putranya terbangun karena suara pertengkaran mereka.
"Kamu sudah bangun, Nak." Adam menggendong sang putra. Mengelus-elus kepalanya agar tenang.
"Berikan anakku." Yola akan meraih putranya tapi segera di tepis Adam.
"Jangan pernah menyentuh anakku. Atau ku patahkan tanganmu." Ancam Adam dengan wajah berang.
"Mario itu anakku. Berikan dia padaku." Paksa Yola dengan suara bergetar akan meraih anak itu.
"Tidak. Dia anakku."
__ADS_1
"Lepaskan anakku." Pinta Yola dengan geram.
"Stop Yola!!! Pergilah dengan selingkuhanmu itu. Bukankah selama ini kamu menitipkan Mario demi bersama pria itu!!!" Ucap Adam yang menjauhkan Yola dari putranya. Ia tidak akan membiarkan Mario dirawat Yola lagi. Wanita yang lebih memikirkan keegoisannya saja.
"Mas, Mario itu anakku."
"Aku akan menurutimu untuk bercerai dan aku akan mengambil hak asuh Mario."
"Mas Adam..." Yola mengejar Adam yang membawa pergi putranya.
\=\=\=\=\=\=
"Sayang, kenapa belum tidur? Ini sudah jam berapa?"
"Iya, sebentar lagi Mas. Ini tinggal menunggu matang." Jawab Nara.
"Sayang, aku merindukanmu!"
Wajah Nara merona mendengar ucapan pria itu dari ponselnya.
"Nara... Kamu mendengarkanku, kan?" Tanya Arka. Hening tak ada suara.
"Maaf, Mas. Aku tadi lihat kukisnya." Alasan Nara seakan tak mendengar.
"Sayang, aku ingin lihat kamu." Pinta Arka dengan nada memelas.
"Tiap hari kita sudah ketemu, Mas. Apa nggak bosan?"
"Nggak!!! Mana ada waktu aku bosan sama kamu." Ucap Arka yakin.
Nara ingin tertawa mendengar gombalan Arka.
'Bagaimana ini?'
"Sayang, diangkat dong!"
Nara segera berlari ke kamar meninggalkan ponsel itu di meja dapur. Ia mendempul bedak tipis dan tak lupa memakai lipstik. Lalu menyisir rambut dan menggerainya.
Wanita itu kembali ke dapur dan melihat ponselnya yang sudah gelap. Nara mencemberutkan wajahnya, pria itu sudah mengakhiri panggilan mereka.
Ia juga merasa bersalah, mau menjawab video call saja mesti berdandan dulu. Tapi mau bagaimana, ia ingin tetap terlihat cantik di depan pria itu.
Ting
Suara notifikasi masuk ke ponselnya. Nara membuka pesan yang masuk.
Pak Bos: kamu kok diam saja, Nara?
Pak Bos: Sudah halo-halo tapi kamu tak ada suara.
Pak Bos: sepertinya ada gangguan jaringan
Pak Bos: Kalau sudah selesai buat kukisnya. Cepat tidur ya sayang
Nara tampak bingung. Tentang membalas pesan dari Arka atau tidak.
'Balas saja ya. Aku juga merindukannya!'
Sementara di sebuah kamar, Arka tersenyum-senyum melihat ponselnya. Nara sedang mengetik pesan. Wanita itu belum tidur dan masih membalas pesannya.
__ADS_1
'Apa yang di balasnya?!' Batin Arka dalam hati. Sepertinya Nara mengetik pesan yang sangat panjang.
Isinya pasti tentang semua perasaan Nara padanya. Arka tersenyum lebar membayangkan itu.
Ting
Arka menghela nafas. Akhirnya pesan Nara sampai juga.
Nara: Iya
Pria itu terbengong sesaat. Nara menjawab pesannya singkat dan padat.
Arka pun menekan panggilan video. Ia ingin melihat wajah wanita itu.
"Hai sayang..." Ucap Arka ketika melihat wajah cantik memenuhi layar ponselnya.
"Kok-kok Mas, belum tidur?" Tanya Nara gugup. Senyuman Arka membuatnya berdebar.
"Nunggui kamu. Sudah masak kukisnya?"
"Sudah, Mas. Sebentar ya biar aku angkat dulu. Takutnya gosong." Ucap Nara cepat dan menuju oven untuk mengeluarkan kukisnya.
Nara kembali menghembuskan nafasnya berkali-kali. Menetralkan hatinya terlebih dahulu.
"Nara, mana wajah kamu?" Tanya Arka yang melihat di ponselnya hanya langit-langit rumah.
"Sebentar, Mas. Lagi mindahi kukisnya." Ucap Nara sibuk dengan kukis dalam oven tersebut.
Tak berapa lama.
"Maaf, Mas. Lama ya?!" Nara telah selesai dengan kukisnya. Ia berjalan ke kamar.
"Nggak." Arka menggeleng. Ia kembali tersenyum melihat wajah cantik Nara.
"Kamu..."
3 jam kemudian...
"Sudah ngantuk ya?" Tanya Arka tersenyum. Melihat mata Nara yang sayup-sayup.
"Hah?" Nara membuka matanya yang sempat terpejam.
"Belum, kok." Sambung Nara kembali.
"Tidurlah yang nyenyak. Selamat malam sayang. Aku mencintai-"
Arka menghela nafas, Nara sudah mengakhiri obrolan panjang mereka. Padahal ia belum menyelesaikan perkataannya.
'Baiklah, mari tidur juga.'
Arka memeluk guling di sampingnya, sambil membayangkan memeluk Nara.
'Peluk guling dulu. Nanti baru peluk kamu!'
.
.
.
__ADS_1