KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 6 - Cek Kandungan


__ADS_3

"Putraku bergerak-gerak, Yol." Ucap Adam senang merasakan gerakan, saat mengelus perut hamil itu.


"Iya, Mas. Anak kita sangat senang karena Papanya datang." Ucap Yola, wanita yang sedang hamil 7 bulanan.


"Oh iya, Mas. Kapan kamu akan bicara sama istrimu?" Tanya Yola dengan wajah serius. Ia lelah menjadi yang kedua.


"Nanti." Jawab Adam sekenanya. Ia masih mengelus perut itu, merasakan gerakan bayinya.


"Nanti-nanti. Dari sebelum aku hamil sampai sudah mau berojol. Nanti-nanti juga tuh." Yola mendengus, Adam selama ini hanya memberikan janji-janji manis diiringi harapan palsu.


"Ada waktunya. Kamu sabar saja."


"Tapi, Mas... Aku di sini menjadi gibahan tetangga tahu. Mereka bilang aku simpanan, padahal aku sudah bilang pada mereka, kalau aku sudah menikah. Dan suamiku sedang tugas keluar kota." Yola menumpahkan segala unek-uneknya.


Adam datang hanya 2 kali sebulan. Itu pun hanya sebentar saja. Itulah yang membuat anggapan, jika ia adalah wanita simpanan om-om.


"Nggak usah kamu dengar."


"Mas, segera katakan pada istrimu tentang diriku. Agar kita bisa tinggal bersama dengan anak ini. Aku nggak masalah merawat anak ini bersama istrimu. Tapi, nggak tahulah kalau dia." Yola ingin membesarkan anaknya bersama Adam setiap hari. Seperti keluarga seutuhnya.


"Nara akan mengerti."


"Oh iya, Mas. Besok temani aku cek kandungan ya." Yola mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Besok aku akan menemanimu sebentar ke dokter, setelah itu baru berangkat ke kantor."


"Terima kasih, Mas Adam."


\=\=\=\=\=\=


Malam itu, Nara menonton tv bersama Mama di ruang nonton. Menunggu adik iparnya membeli makanan.


"Kami pulang." Ucap Rio dan Rindu. Mereka membawa bungkusan.


"Kalian beli di mana sih? Lama banget. Apa kalian sekalian membantu memasaknya?" Omel Nara bangkit menuju meja makan. Perutnya sudah sangat lapar.


"Kami sekalian bantui belanja, kak." Ledek Rio.


"Ngantri lho kakak. Tah apa harus beli bakso di situ, kayak nggak ada lagi orang yang jual bakso." Rindu membalas omelan kakak iparnya.


"Rasanya disitu enak." Nara menuangkan bakso dalam mangkuk.


"Sama saja. Masih rasa bakso pun." Rindu menunjukkan wajah kesalnya.


"Sudah-sudah, kalian ini betekak saja." Mama menggeleng. Memang begitulah jika mereka bertemu.


"Ini punya, Mama." Nara menyodorkan mangkuk bakso. Lalu ia menuangkan bakso untuknya.


"Kak Nara, punyaku mana?" Tanya Rindu memasang wajah manja.


"Ini."


"Terima kasih kakakku yang cantik." Puji Rindu menerima mangkuk berisi bakso, membuat Nara jadi tersenyum.


Mereka pun makan bakso bersama-sama, sambil mengobrol berhaha hihi.


"Punyaku mana?" Tak lama Bily yang baru pulang kerja, langsung ke meja makan.

__ADS_1


"Sebentar biar kakak ambilkan." Ucap Nara segera bangkit menuju rak piring.


"Kak Nara, kapan datang?" Tanya pria itu saat melihat Nara.


"Tadi pagi. Abangmu ke luar kota lagi, jadi kakak akan menginap di sini." Jawab Nara.


"Kamu kok malam pulangnya?" Tanya Nara kemudian.


"Iya kak, lagi banyak kerjaan."


"Nih, makan yang banyak."


"Terima kasih, Kak."


"Bang Bily pasti capek ya. Sini Rindu pijatin." Rindu bangkit dan memijat tengkuk Bily.


"Pasti ada maunya nih." Bily sudah mengerti dengan adik bontotnya itu.


"Belikan album ya."


"Iya, album foto."


"Bukan!!!"


###


"Pelan-pelan, Yol." Adam membukakan pintu mobil, ia membantu Yola naik ke dalam mobil.


"Terima kasih, Papa." Yola menirukan cara bicara bocah.


Adam melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Hari ini mereka akan ke rumah sakit untuk mengecek kandungan Yola. Adam tadi sudah izin atasannya, ia akan terlambat datang ke kantor. Alasannya karena ada urusan mendadak.


"Ibu Yola... Silahkan masuk." Ucap perawat mempersilahkan Yola masuk ke ruangan dokter. Karena hari masih pagi, Yola tak mengantri lama.


Senyuman bahagia tak dapat Yola sembunyikan lagi. Akhirnya Adam bisa menemaninya mengecek kandungan. Karena biasanya ia selalu datang sendiri. Adam tidak punya waktu.


Mata Adam berbinar melihat layar yang menunjukkan janin dalam perut Yola. Sudah nampak bentuk wajahnya, sudah menjadi bayi kecil.


'Pasti Nara sangat bahagia melihat ini.' Adam membayangkan jika Nara di posisi sekarang. Pasti istrinya itu akan mewek. Ada nyawa dalam rahimnya.


"Mas, lucu ya." Yola gemas melihat anaknya. Adam mengangguk pelan.


Dokter mengatakan kondisi kandungan Yola sangat sehat. Kemungkinan 7-8 minggu lagi, bayi itu akan segera lahir.


Adam dan Yola keluar dari ruangan dokter setelah selesai melakukan berbagai pemeriksaan. Wajah keduanya begitu sangat bahagia.


Adam menuntun Yola berjalan. Wanita itu agak sulit berjalan dengan perut sebesar itu.


Adam harus segera mengantar Yola pulang, karena ia harus berangkat ke kantor lagi.


"Itu kan temannya Dika... yang semalam ketemu di pernikahannya Raka." Ucap seorang wanita melihat Adam yang berada tak jauh darinya.


"Apa itu Nara? Kok beda ya?" Wanita itu tak bisa melihat wajah wanita itu, karena tertutup rambut.


"Li, ayo kita pulang. Kasihan Bila sudah ngantuk." Ucap Dika menghampiri Uli. Ia menggendong balita perempuan berumur 1 tahun yang sedang demam.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Uli ingin bertanya pada suaminya. Tapi ia juga bingung.


"Dika... Tadi saat di rumah sakit aku lihat teman kamu." Uli pun memilih mengatakan saja.


"Temanku? Siapa?" Tanya Dika sambil tetap fokus menyetir.


"Yang semalam sama kita di pernikahan Arka. Yang Nara nama istrinya." Uli hanya ingat dengan Nara saja.


"Oh, Adam." Dika memastikan.


"Hah iya..." Uli baru mengingat namanya.


"Kenapa dia di rumah sakit? Apa Adam sakit?"


"Dia sama perempuan, tapi bukan si Nara." Uli memberitahu.


"Jadi?"


"Aku nggak tahu. Tapi perempuan yang bersama Adam itu sedang hamil." Bisik Uli pelan.


"Hmm... Nanti kamu salah lihat, Li."


"Nggak lho. Aku yakin itu teman kamu." Uli sangat yakin, itu Adam.


"Pasti kamu salah lihat itu. Bukan Adam, hanya mirip saja."


"Apa Adam berselingkuh?"


"Uli! Jangan bicara sembarang. Sudah kamu cek dulu, Bila-ku masih panas nggak?" Dika mengalihkan pembicaraan. Istrinya itu kalau sudah menggosip nomor 1. Jika diikuti, maulah itu seharian bahas si Adam saja.


"Sudah nggak terlalu." Uli meletakkan tangan di dahi sang putri.


"Coba ku rasa." Dika gantian meletakkan tangan di dahinya.


"Uli... Ini masih panas."


"Nggak, hanya hangat."


"Panas lho."


"Hangat, nggak sepanas tadi."


"Sama kita hangat, sama Bila itu pasti panas."


"Sudah turun panasnya. Dokter sudah memberikan obat penurun panas."


"Bila-ku masih panas. Sampai rumah kita berikan obatnya." Dika ingin putrinya segera sembuh.


"Jangan nanti Bila bisa over dosis. Ada aturannya minum obat." Uli mengingatkan. Dari pada Dika memberikan obat melebihi dosis yang seharusnya.


"Bila sayang. Cepat sembuh ya, Nak. Papa nggak mau kamu sakit." Dika menatap haru bocah kecil yang sedang tertidur itu di pangkuan Uli.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2