KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 35 - Tentang Nara


__ADS_3

"Halo... Iya. Sudah dibawah? Tunggu sebentar ya." Nara mengakhiri panggilan. Ia pun membereskan barangnya.


Nara keluar dari lift setelah sampai di lantai 1. Ia setengah berlari keluar dari kantor.


"Gio!" Panggil Nara seraya melambaikan tangan melihat adiknya menunggu di depan kantor.


Gio tak mau menunggu di parkiran, karena akan berputar-putar lagi.


"Sudah lama kamu menunggu?" Tanya Nara menghampiri adiknya.


"Baru sampai kak." Jawab Gio memberikan Nara helm. "Kak, kita makan dulu ya. Aku lapar nih."


"Siap." Nara mengangguk. Ia kasihan melihat wajah Gio yang memelas.


"Bisa kak?" Tanya Gio.


Nara kesulitan memasang helm. Dengan sigap Gio membantunya.


"Terima kasih adikku yang tampan." Ucap Nara penuh dengan senyuman.


"Traktir aku ya."


"Iya iya." Wanita itu mengangguk.


'Apa itu berondongnya?'


Tak jauh dari mereka, ada sebuah mobil yang berhenti. Pengemudi di dalam melihat interaksi keduanya yang tampak sangat bahagia. Walau tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Tadinya Arka akan keluar area kantor, tapi karena melihat Nara berlari menghampiri pemotor, ia pun memberhentikan mobilnya.


Arka melihat Nara begitu bahagia bertemu dengan pengemudi motor itu. Tidak mungkin ekspresi Nara akan sebahagia itu, jika itu pengemudi ojek.


'Dia sudah punya kekasih!!!' Arka sedikit kecewa.


Pria itu pun memilih melajukan mobilnya. Saat melewati Nara yang akan naik ke sepeda motor itu...


Tin


Tin


Tin


Arka sengaja menklakson dengan keras. Hingga membuat orang-orang sekitar melihat ke arah suara.


"Astaga!!!" Kaget Gio yang tiba-tiba diklakson seperti itu. Ia berhenti sudah dipinggir dan bukan di tengah jalan.


Nara juga sama terkejutnya. Ia melihat ke arah suara, ternyata mobil atasannya itu yang menklakson.


'Kenapa mirip seperti mobil mewah yang pernah mengantar kak Nara, ya?'


Gio yang tadi sempat kesal, jadi fokus melihat mobil mewah tersebut. Tatapannya terus melihat mobil itu yang makin lama makin menjauh.


"Kak Nara." Panggil Gio sambil memiringkan tubuhnya.


"Tadi siapa yang menklaskson kita?" Tanya Gio dengan tatapan menelisik. Ia harus tahu itu mobil mewah siapa. Dengan begitu ia bisa tahu, siapa pria yang sedang dekat dengan kakaknya itu.

__ADS_1


Gio merasa aneh, pengemudi mobil menklaksonnya seperti itu. Padahal jalan masih lebar.


Nara menaikkan bahu, tanda tak tahu. Meskipun ia sangat tahu itu mobil Arka, tapi Nara akan berpura-pura tidak tahu.


"Masa kak Nara nggak tahu sih?!" Gio tidak percaya jika Nara tidak tahu, mobil siapa yang baru melewati mereka.


"Nggak tahu lho dek. Ayo cepat gerak... Kakak sudah lapar.."


\=\=\=\=\=\=


"Ada apa Ibu memanggil saya?" Tanya Sam begitu sampai di rumah atasannya itu.


Tadi saat di jalan pulang, ibu atasannya itu meneleponnya. Dan meminta untuk datang ke rumah.


"Jadi begini, saya mau meminta bantuan kamu." Ucap Mommy serius.


"Apa yang bisa saya bantu, Bu?" Tanya Sam yang begitu bersemangat. Jika membantu ibu atasannya ini, ia akan mendapat rezeki nomplok.


"Cari tahu tentang seseorang." Bisik Mommy pelan.


"Pria atau wanita?" Tanya Sam memastikan terlebih dahulu targetnya.


"Wanita. Wanita yang sedang dekat dengan Arka."


Sam mengangguk, pikirannya langsung tertuju pada Nara. Selama ini yang ia tahu, Arka sedang dekat dengan sekretarisnya itu.


"Arka lagi dekat dengan wanita. Namanya Nara." Mommy memberitahu Sam dengan wajah serius.


Sam makin melebarkan senyumannya. Ternyata benar dugaannya selama ini. Mereka memang punya hubungan istimewa.


"Mau melamar?" Sam cukup terkejut. Nara baru sebulan bekerja dan Arka mau melamarnya. Cukup singkat juga hubungan mereka.


"Iya, rencana Arka seperti itu. Ia mau memberikan kejutan saat melamar Nara."


"Wah!" Sam kagum. Ternyata Arka tipe pria romantis abis.


"Apa kamu tahu tentang Nara?" Mommy ingin tahu banyak tentang calon menantunya itu.


Sam meraih ponselnya dan menekan-nekan layar.


"Apa ini Nara ini yang Ibu maksud?" Sam memastikan foto Nara terlebih dahulu.


Yang Sam tahu, Arka itu playboy. Mungkin banyak Nara-Nara yang lainnya.


"Hah iya... Itu Nara." Mommy membenarkan foto tersebut.


"Kamu kok bisa tahu?" Wajah Mommy penuh pertanyaan.


"Nara... sekretarisnya pak Arka, Bu." Sam memberitahu.


"Sekretaris? bukan, Sam." Mommy menggerakkan tangannya. "Kata Arka, Nara tidak bekerja. Dia jualan-jualan online gitu." Mommy mengatakan sambil menganggukkan kepala.


"Saya tidak tahu jika Nara punya usaha sampingan. Tapi... yang saya tahu, Nara ini sekretarisnya pak Arka." Sam mengangguk yakin menunjuk foto Nara di ponselnya.


"Beritahu saya, apa yang kamu tahu tentang Nara!" Pinta Mommy yang ingin tahu sesungguhnya. Arka sudah membohonginya.

__ADS_1


"Namanya Nara Amelia. Usia 30 tahun. Dan dia..." Sam menjeda ucapannya sambil melihat wanita paruh baya itu.


"Dia... Dia apa?" Mommy kesal, Sam bicara setengah-setengah.


Sam bingung sendiri. Apa dia harus mengatakan status Nara yang seorang janda menggemaskan.


"Nara... Nara seorang janda, Bu." Sam memilih mengatakan yang dia tahu.


"Apa? Janda?" Mommy terkejut mendengar perkataan Sam.


'Pak Arka, maafkan aku!!!' Sam menyesal melihat keterkejutan ibu atasannya itu. Kemungkinan ia sudah merusak hubungan Arka dan Nara.


Mommy terdiam beberapa saat. Nara seorang janda. Sungguh, ia sangat kaget.


"Apa Nara sudah punya anak?" Tanya Mommy kembali. Ia masih penasaran pada wanita yang sedang dekat dengan anaknya tersebut.


"Tidak. Nara... Janda tanpa anak."


"Syukurlah." Mommy menghela nafas lega. Ia tadi mengira Nara itu janda punya anak. Karena jika punya anak, maka pasti tetap berurusan dengan mantan suaminya.


Tapi, karena janda tanpa anak. Berarti, hubungan Nara dengan sang mantan suami telah berakhir.


Sam juga bernafas lega. Sepertinya wanita paruh baya ini tidak mempersoalkan status Nara.


"Menurutmu, bagaimana hubungan mereka di kantor?"


"Mereka seperti sengaja merahasiakannya, Bu."


"Backstreet gitu?"


Sam mengangguk. "Tapi saya sering melihat, pak Arka tiap pagi membawakan Nara sarapan." Sam hanya sekali melihat, tapi ia sudah berasumsi Arka melakukan hal tersebut berkali-kali. Pasti setiap pagi.


"Arka perhatian." Mommy ikut senang. Putranya begitu perhatian.


Padahal yang Arka berikan pada Nara adalah titipan Mommynya.


"Terus, tiap sore mereka pulang bareng..." Sam menyampaikan apa yang dia lihat pada ibu atasannya itu.


Tak lama, Sam keluar dari rumah Arka dengan wajah bahagia. Bagaimana tidak bahagia, saldo di ATMnya sudah bertambah.


Pria itu bersembunyi di balik tembok, begitu melihat Arka. Ia tak mau berpapasan dengan atasannya itu. Bisa-bisa Arka akan menanyainya panjang kali lebar.


Sam tidak boleh ketahuan. Ia sudah ditugaskan Mommy untuk mengawasi kedua sejoli itu selama di kantor.


Sam menganggukan kepala. Arka kembali ke rumah sangat sore. Padahal perjalanan dari kantor ke rumah hanya 15 menit saja.


'Pasti nganter Nara pulang dahulu!' Sam tersenyum sesaat. Atasannya itu sungguh perhatian.


'Semoga Nara menjadi pelabuhan terakhirnya pak Arka!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2