
Mobil yang ada di belakang Andin terus mengikuti kemana lun arah Andin pergi, "mama pegangan, aku akan bermain dengan mereka" ucap Andin mengeluarkan pistol dari dashboard, "itu berbahaya sayang" kata Sinta khawatir, "mama tidak perlu khawatir, semua nya akan baik-baik saja, mama pegangan aku akan bermain" Sinta menurut, Andin membuka atap mobil nya lalu mengarah pistol ke arah mereka
Dorr Dorr
Bodohnya orang yang mengikuti Andin tidak memakai mobil anti peluru jadi setiap peluru yang Andin luncurkan membuat kaca depan mobil mereka hancur, bukan hanya itu saja Andin juga meluncurkan peluru nya ke salah satu ban mobil mereka hingga ban mobil mereka pecah. Andin kembali fokus mengemudi dan meninggalkan mereka sebelum itu Andin sudah menyuruh Ardana dan Kayra untuk membawa mereka ke markas.
__ADS_1
"selesai, tidak terjadi apa-apa kan" ujar Andin menatap Sinta sekilas, "kau membuat mama takut Andin, lain kali mama tidak akan ikut dalam aksi mu ini" kesal Sinta, "itu baru permulaan mama, permainan ini masih panjang" kata Andin, "apa kalian tidak sayang dengan nyawa kalian, mama setiap hari mengkhawatirkan kalian, tapi kalian selalu saja bermain dengan nyawa" ucap Sinta, Andin hanya tersenyum.
Mobil yang di tumpangi Andin dan Sinta sudah terparkir sempurna di halaman mansion bersamaan dengan mobil Alex, "mama masuk lah, aku masih ada urusan" ucap Andin, "baiklah" balas Sinta lalu masuk kedalam mansion
"bagaimana" tanya Andin, "kurang seru, kamu cuma menembak saja" kata Alex, "kalau pun mau aku bisa saja membuat tangan sama kaki mereka patah, tapi kita juga butuh mereka untuk mendapat informasi" ujar Andin, "lebih baik kita masuk, untuk urusan mereka besok kita nanti kita bahas lagi" tambah Alex
__ADS_1
"memang nya kenapa? apa ada masalah" tanya Aurel, "seperti biasa, musuh selalu mengincar. karna aku tidak mau terjadi apa-apa sama kalian jadi aku sarankan untuk tetap di dalam, aku sudah perketat penjagaan di sekitar mansion dan untuk pengawasan dari Andin akan selalu ada" ucap Alex, Aurel hanya mengangguk patuh
Andin baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar, Andin keluar dari kamar menuju kamar Sinta. Andin mengantuk pintu kamar Sinta, setelah mendapat ijin ia masuk kedalam
"ada apa? apa kamu butuh sesuatu" tanya Sinta, Andin mendudukkan diri nya di tepi ranjang sebelah Sinta, "tidak, aku kesini kangen sama mama" ucap Andin memeluk Sinta dari samping, "aku sudah lama tidak bermanja dengan mama" sambung Andin
__ADS_1
"sudah besar masih saja" ucap Sinta mencium pucuk kepala Andin, "aku tetap putri kecil mama walaupun aku sudah dewasa" ujar Andin, "tentu saja, sampai kapan pun kamu akan tetap jadi putri kecil mama" tambah Sinta tersenyum
"gimana perasaan mama saat aku pergi" tanya Andin, "hancur" jawab Sinta menahan air mata nya, mengingat kejadian 3 tahun lalu saat Asyila pergi.