LEADER OF MAFIA

LEADER OF MAFIA
CHAPTER 31 •


__ADS_3

Alex dan Asyila sampai di rumah jam 01.33 WIB rumah tampak sepi dan gelap mereka memasuki rumah dengan hati-hati, namun saat akan menaiki tangga lampu tengah menyala


tek


Mereka berdua terkejut melihat Sinta di samping tangga dekat meja makan


"dari mana saja kalian jam segini baru pulang" tanya Sinta, "tadi ada masalah sedikit ma" ucap Asyila menunduk, "masalah apa? membunuh orang" ucap Sinta dingin dan itu membuat mereka berdua terkejut


"maksud mama" tanya Alex mencoba untuk tenang, "ya mama sudah tahu semua nya kalau kalian terjun ke dunia bawah bahkan Mafia itu mafia terbesar nomor 2, mama tau karna tadi mama menyuruh seseorang mengikuti kalian saat kalian pamit keluar" ucap Sinta masih dengan nada dingin nya


"maaf" cicit mereka menunduk, "sejak kapan kalian ikut dunia bawah" tanya Sinta menghampiri kedua anak nya, "setelah ayah meninggal" ucap Asyila yang masih setia menunduk


"beberapa tahun sebelum ayah meninggal, dan ayah pun tidak mengetahui ini" ucap Alex dengan posisi kepala yang menunduk


plakk...plakk...


Untuk pertama kali nya, Sinta melayangkan tamparan di pipi kedua anak nya dengan sangat keras hingga sudut bibir mereka mengeluarkan darah dan tersungkur di lantai


"kalian berdua sudah membuat mama kecewa" kata Sinta mengalihkan pandangan nya, "maaf ma" Asyila dan Alex, mereka berdua memegang kaki Sinta, Alex dan Asyila mengabaikan rasa sakit yang menjalar di pipi nya karna tamparan dari Sinta.


Sinta melepas paksa tangan kedua anak nya yang memegang kaki nya dan berlari ke lantai atas. Di dalam kamar Sinta menangis, ia merasa kecewa kepada kedua anak nya karna telah menyembunyikan hal sebesar ini dari nya

__ADS_1


"mas apa kau lihat, anak-anak kita merahasiakan hal sebesar ini kepada kita, apa mereka tidak memikirkan bagaimana resiko nya dan bagaimana perasaan ku saat melihat mereka pulang dengan keadaan terluka" Sinta terus menangis sambil memeluk lutut nya, ia sudah beberapa kali bukan beberapa kali bahkan sering kali melihat Alex dan Asyila pulang dengan luka di tubuh nya


sedangkan di luar kamar Sinta, Alex dan Asyila terus mengetuk pintu dan memanggil Sinta


"ma, mama dengerin kita dulu ma hiks" air mata Asyila mengalir tanpa henti, "iya ma, dengerin kita dulu" tambah Alex sambil mengetuk pintu, "bagaimana ini kak hiks" tanya Asyila langsung memeluk kakak nya


"tenang kamu tenang dulu" Alex membalas pelukan Asyila, "mama sudah kecewa sama kita kak" Asyila terus menangis di pelukan Alex


"sekarang kamu tidur kita bicarakan ini besok sama mama okey" Asyila mengangguk melepas pelukan nya lalu pergi ke kamar nya begitu juga dengan Alex


~


Alex dan Asyila sudah berada di meja makan lebih awal tidak seperti biasa nya. sudah lama mereka berdua menunggu Sinta tetapi tak kunjung turun


"yang masak sarapan ini Nyonya non" kata bi Tuti, "apa mama sudah makan?" tanya Alex, "belum tuan muda karna tadi Nyonya habis masak sarapan langsung pergi ke kamar lagi" ujar bi Tuti


"baiklah bibi bisa melanjutkan pekerjaan bibi" kata Asyila, "iya non saya permisi" ucap bi Tuti kembali ke belakang, "kak apa mama marah sama kita" ucap Asyila tertunduk lesu


"tenanglah kita bicara baik-baik sama mama oke, sekarang kita sarapan dulu" mereka sarapan dengan tenang.


Karna Asyila hari ini tidak ke kampus jadi dia bersantai di rumah, ia berinisiatif mengantar kan makan ke kamar mama nya

__ADS_1


"kak aku anter sarapan ke kamar mama dulu ya" ucap Asyila, "iya, yaudah kakak ke kantor dulu" pamit Alex


Asyila mengambilkan Sinta sarapan lalu pergi ke kamar Sinta


tok tok tok


"ma ini aku, aku masuk ya" tanya Asyila. karna tak ada jawaban Asyila langsung masuk ke kamar Sinta, ia melihat Sinta duduk di atas ranjang sambil melamun, Asyila yang melihat itu pun menghampiri nya


"ma" panggil Asyila sambil memegang bahu Sinta, "mama makan dulu ya" lanjut Asyila, "mama nggak lapar" kata Sinta mengalihkan pandangan nya


"mama belum makan, nanti kalau mama sakit gimana" bujuk Asyila


"biarkan mama sakit" ucap Sinta menundukkan kepala, "ma jangan ngomong kek gitu" ucap Asyila


"biarkan mama tiada dan menyusul ayah mu" ucap Sinta, "ma" ucap Asyila melemah, hatinya terasa sakit saat mendengar perkataan Sinta, bahkan tidak pernah sekali pun terbesit pikiran seperti itu


"kenapa? kamu dan kakak mu tak akan peduli jika mama tiada" ucap Sinta air mata Sinta lolos dari pelupuk mata nya, Asyila menundukkan kepala nya, "ku mohon jangan bicara seperti itu lagi ma, aku sudah kehilangan ayah dan itu rasa nya sangat menyakitkan. mama bisa menghukum ku dan menyiksaku sepuas mama, tapi ku mohon jangan bicara seperti itu" kata Asyila lalu meraih tangan Sinta dan memberikan pisau lipat yang selalu ia bawa di saku nya


Asyila memberanikan diri untuk menatap Sinta, "atau mama bisa menghabisi ku sekarang juga, mungkin dengan begitu, luka di hati mama akan hilang" sambung Asyila menahan rasa sakit yang ada di dalam hati nya saat mengatakan itu semua dan di tambah ia melihat air mata Sinta yang mengalir deras. sama hal nya dengan Sinta, hati nya merasa teriris dengan perkataan anak nya.


Karna tidak ada pergerakan dari Sinta, Asyila langsung menuntun cepat tangan Sinta dan menyayat tangan nya sendiri, "Asyila! apa yang kau lakukan!" ucap Sinta langsung melempar pisau itu lalu mengambil kotak obat, "mama obati" kata Sinta, "nggak perlu ma, luka ini bisa sembuh hanya dengan waktu beberapa hari, tapi luka di hati mama akan membutuhkan waktu yang lama untuk hilang" Asyila beranjak dari duduk nya

__ADS_1


"maafin mama" kata Sinta, ia menyesal dengan apa yang ia katakan tadi, ia bahkan tidak tega meninggalkan anak-anak nya walaupun hanya sebentar, "mama nggak salah sama sekali, kita yang salah, kita minta maaf sudah menyembunyikan ini semua dari mama" kata Asyila lalu keluar dari kamar Sinta dengan darah yang masih menetes.


__ADS_2