
"Asyila!! jangan lari, nanti kamu jatuh" teriak Alex cemas, karna ia melihat asyila akan menuruni tangga dengan keadaan berlari, "kakak!! ayo kejar ak--AAA!!" Asyila berteriak sekencang mungkin saat ia terpeleset dari tangga. bukan hanya Asyila, Alex pun juga ikut terjatuh saat ia berusaha menahan tangan Asyila tapi keseimbangan nya terganggu dan akhirnya ia pun ikut terjatuh.
mereka berdua tergeletak di lantai, dengan darah yang terus keluar, "Tuan!! Nona!!" pekik bi Jani lalu menghampiri anak majikan nya yang bersimbah darah di lantai, "Tuan!! Nyonya!! Tuan!!" panggil bi Jani berteriak, "ad--ALEX!! ASYILA!!!" Sinta turun dari tangga dan menghampiri kedua anaknya yang tidak sadarkan diri
__ADS_1
"sayang, buka mata kalian, ini mama sayang" ucap Sinta sambil memangku kepala kedua anak nya yang penuh dengan darah, air mata nya tidak bisa berhenti untuk keluar, "papi!! mami!!" panggil Sinta, "bi, bagaimana bisa jadi seperti ini" tanya Sinta, "saya kurang tau Nyonya, karna saya tadi ada di dapur, terus saya dengar teriakan dan waktu saya kesini Tuan sama Nona sudah seperti ini" jelas bi Jani menunduk
"ada apa Sin--astaga!! Alex! Asyila!" ucap Arini, "kita bawa mereka kerumah sakit, Sinta kamu telfon Deon" sambung Rendra diangguki Sinta.
__ADS_1
Tidak lama, Deon datang dan menghampiri mereka, ia langsung memeluk sang istri yang terus menangis, ia tau betul Sinta akan mudah menangis kalau sudah menyangkut anak-anak nya. "sudah, jangan menangis, mereka akan baik-baik saja" ucap Deon mengecup pucuk kepala Sinta.
"dok, bagaimana keadaan anak kami" tanya Deon saat melihat dokter keluar dari ruang UGD, "Tuan dan Nona kehilangan banyak darah dan kami membutuhkan darah, disini ada persedian darah uang cocok untuk mereka, tetapi kita masih membutuhkan kan 2 - 3 kantung" jelas dokter, "ambil darah saya saja dok" ucap Deon, Sinta dan Arini, "tidak Sinta, biar aku saja, keadaan mu yang seperti ini, aku tidak akan mengijinkan mu untuk mendonorkan darah mu" ujar Deon, "tap--"
__ADS_1
"Sinta" panggil Deon menatap lekat kedua bola mata sang istri, "baiklah" Sinta menurut dan membiarkan Deon dan juga Arini mendonorkan darah mereka.