
Angga duduk di atas motornya mengelus pipinya yang masih terasa nyeri kena tampar Melanie sebelum gadis keluar dari cafee tadi. Cewek yang kecewa benar benar sakit kalau mukul, sepertinya semua kekuatan mereka kerahkan pada telapak tangan mungil mereka.
Mungkin tamparan Melanie tidak sesakit ini kalau saja dia bilang dia tidak selingkuh, tapi itu satu satunya alasan yang ada di kepalanya saat menghadapi Melanie tadi, mengatakan yang sebenarnya dengan status pelajar sedikit merepotkan.
Dia sekarang berfikir, bagaimana tenaga cewek saat memergoki langsung pasangannya curang dengan cewek lain?
Sudah larut tapi rasanya Angga masih ingin di luar, bukan karena ada Lily di sekitarnya tapi rumah itu sebenarnya membuatnya sesak karena terus mengingatkannya pada orang tuanya. Angga mengeluarkan rokok dari sakunya menyalakannya lalu menyesapnya.
Dia menghela nafas panjang, tadi setelah dia bertemu orang kepercayaan Ayahnya dia diberitahu kalau ada sedikit masalah karena kepemimpinan yang tidak jelas jadi dia harus menghadiri rapat. Angga melihat ke atas langit rokok masih ada di mulutnya, dia tidak tahu harus melakukan apa dia belum pernah terjun ke bisnis.
"Kalau mau pergi setidaknya ajari Angga bertahan hidup dulu" gumamnya
Setelah menyebat satu batang rokok dia menjalankan motornya menuju supermarket karena sudah berniat membeli sendal untuk Lily.
Berbicara tentang Lily dia masih tidak tahu harus menghadapinya bagaimana, dia takut perlakuannya sekarang malah membuat Lily merasa kalau dia diperlakukan sebagai adik. Dia menghela nafas panjang.
Sesampainya di supermarket dia langsung menuju tempat sendal tapi sebelum dia sampai di kasir dia mengambil banyak camilan.
Karena malam dia tidak berani meninggalkan Lily sendirian terlebih di rumah yang sangat besar itu.
Angga menghentikan motor di depan gerbang, dia mendongak menatap rumah yang selama dua minggu ini terasa tidak seperti sebelumnya, haruskah dia memiliki rumah lain?
Membeli rumah tidaklah muda karena membutuhkan banyak biaya, Angga jadi ingin segera bekerja.
Saat masuk ke dalam rumah, lampu sudah di matikan dia berjalan masuk dan berhenti di ruang tengah di mana TV masih menyala.
Dia mendekat untuk mematikannya tapi terkejut mendapati Lily di sana di atas sofa tertidur sambil memegang buku.
Angga melepaskan jaketnya menyampirkannya di sofa, dia mengambil remot untuk mematikan tv. Dipandanginya wajah Lily yang pulas, gadis itu sangat putih sehingga pipinya memerah secara alami.
Angga mengambil buku Lily menyimpannya di meja kopi. Dia berbalik sambil menggulung lengan bajunya yang panjang, dengan sigap dia mengangkat tubuh Lily karena tidak enak juga membangunkannya hanya untuk menyuruhnya pindah.
"Lo ringan banget" gumam Angga, dia juga naik ke lantai dua dengan sangat berlahan karena tidak ingin gadis dalam gendongannya sampai terbangun.
Angga kembali menatap Lily dia sangat jelas melihat perubahan Lily, berat badan gadis itu sangat menurun dan itu wajar karena mereka masih dalam suasana duka saat ini, tidak ada orang dewasa yang mendampingi mereka untuk memberi suport.
Sampai di depan kamar Lily, Angga menggunakan punggungnya membuka pintu kamar Lily. Ini kali kedua dia masuk ke kamar itu setelah Lily menempatinya dan tidak terlalu banyak berubah.
Berlahan dia meletakkan Lily ke kasur memasukkannya ke dalam selimut. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambutnya.
"Selamat malam" bisiknya
__ADS_1
Memastikan Lily tidur Angga berniat ke kamarnya melanjutkan mengerjakan tugasnya.
Dia yang hampir berdiri limbung ke samping karena sebuah tarikan di ujung bajunya
"Ayah hiks... "
Angga menunduk menatap gadis yang tertidur tapi air mata mengalir dari pelupuk matanya.
"Ayah... Hiks.. Ayah!" Gumamnya sambil menangis
"Sssttt... Kakak di sini" Angga menyentuh kening Lily yang mengkerut penuh kesedihan. Berlahan kening itu normal jadi dia memindahkan tangannya di atas kepala Lily menepuknya sabar, dia juga menepuk nepuk punggung tangan Lily sampai terlihat lebih tenang.
*****
Angga meletakkan camilan di samping Lily yang sedang sarapan "Lily bisa bawa itu ke sekolah"
"Iya" pandangannya mengikuti Angga yang berjalan ke kursi di depannya.
Merasa di perhatikan Angga menatap Lily balik "kenapa?"
"kakak yang mindahin Lily di kamar?"
Angga hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Lily, dia buru buru mengambil ai dan menyesapnya
"bukan, kamu pindah sendiri saat aku bangunin" Angga berbohong takut Lily berfikir yang tidak tidak tentangnya "kakak hanya mengawasi dari belakang biar Lily tidak jatuh di tangga."
Lily mengangguk mengerti, dia takut Angga memindahkannya, Lily merasa tidak enak karena dia sudah diizinkan menumpang jadi dia tidak ingin banyak merepotkan.
Tapi tak lama kening Lily mengkerut melihat ada bekas memerah di pipi Angga seperti habis kena pukul
Angga memperhatikan apa yang dia lihat Lily dengan cepat dia menyentuh Pipinya "ini hanya tidak sengaja Kakak pukul kuat, berpikir di hinggapi nyamuk"
"lain kali kakak harus hati hati" kata Lily Angga hanya mengangguk pelan mengiyakan.
Selesai makan mereka langsung terburu buru ke sekolah mengingat jarak tempuh yang sedikit jauh, ini juga alasan kenapa Angga memilih naik motor ketimbang naik mobil yang ada di garasi.
"Li!" panggil Angga saat Lily yang sudah sampai di sekolah hendak berjalan ke kelas, dia menoleh dengan wajah bertanya.
Angga mengeluarkan dompetnya dari saku dan mengambil beberapa uang cash, kartu pengenal dan beberapa penting berkendara agar tidak ditilang polisi, sebelum mengulurkan dompetnya ke arah Lily
"pulang nanti kakak harus ke kantor!"
__ADS_1
"terus kenapa di kasih ke Lily?" tanyanya bingung dia dengan ragu menerima dompet itu.
"merepotkan membawa dompet" jelasnya "jangan naik angkot, oh ya pakai saja uang di dalamnya karena tadi kamu bilang kehabisan bahan di dapurkan?"
"i..itu, Lily punya uang kok kak"
Angga menatap Lily sebentar dan berkata "simpan uangmu, sebagai laki laki tugas kakak untuk menyediakan uang untuk dapur dan belanja kamu"
"tapi kakak kan baru akan bekerja" cicitnya, Angga menepuk kepalanys
"jangan pikirkan itu" ucap Angga dan berjalan melewati Lily "Dwi!"
Lily menghela nafas memandang dompet di tangannya sebelum melihat ke arah Angga yang sudah bercanda dengan temannya.
Di depannya dan di depan temannya Angga bertindak beda, saat bersamanya Angga menempatkan dirinya sebagai suami dan berusaha untuk terlihat dewasa, Lily sangat tau itu. Tapi, saat bersama Angga baru terlihat sesuai umurnya yang masih remaja pada umumnya
Lily terkadang merasa bersalah karena itu, tangannya memegang erat dompet Angga dia menundukkan kepalanya menatap dompet tebal yang kulitnya sedikit terkelupas.
"padahal dia punya banyak uang" gumamnya.
Angga merangkul Dwi berjalan ke arah gedung kelas dua belas, dua cowok itu berbeda kelas tapi akrab karena sama sama ikut OSN saat kelas sepuluh dan sebelas meski Angga tidak pernah ikut langsung karena urusan Osis sangat banyak.
"tugas lo kemarin sudah?" tanya Niel begitu Angga masuk kelas, Angga menganggukkan kepalanya "nyontek dong, gue lupa ada PR"
Angga mendengus tapi tetap mengeluarkan pekerjaan rumahnya dan memberinya ke Niel.
"Woi Daniel Redclife gue juga mau!" Hari berlari masuk menuju meja mereka
"kerjain sendiri, lo kan Hari potter!" Niel membalas candaan temannya
"sejak kapan Hari potter kerjain pr sendiri" dia menepuk pundak Angga "selama Angga Malfoy disini gue tidak akan mengerjakan secara mandiri"
Angga mendengus sebelum menendang temannya ke samping, tidak kuat.
" i will tell my Father, pottyhead"
Hari mengusap pinggangnya menyeringai ke arah Angga
"lo kan sudah masuk di squad gue, squad yatim"
Mereka berdua langsung tertawa
__ADS_1
"dark sekali kawan" ucap Niel dia mengambil buku dan mencatat tugas mereka.
*****