
"Maaf!" Lirih Lily, dia menarik ujung baju Atar yang diam.
Cowok itu melihatnya, ada perasaan bersalah melihat pipi Lily yang merah.
"Kenapa kamu yang minta maaf?"
Lily menautkan tangannya sendiri, dia melirik Atar dan berkata lirih "Karena aku kamu putus lagi. Kamu seharusnya tidak menurutiku, aku hanya marah tadi."
Atar melihat lurus ke depan, sekarang mereka berdua duduk di depan toko yang menyediakan tempat duduk.
"Bukan kamu yang pertama." Lily mengubah posisi duduknya, Atar melihatnya "Kamu bukan cewek pertama yang Cindy labrak. Aku memang mau putus."
Lily memicingkan matanya, dia tidak yakin dengan ucapan Atar. Melihat reaksi Lily, Atar mendorong kepalanya
"Bukan karena kamu, serius!"
Lily menghela nafas, dia meluruskan kembali duduknya sambil menggoyangkan kakinya. Yang dikatakan Atar benar benar bohong, Lily tau sifatnya dan ini bukan pertama kalinya.
"Kalau kamu suka sama pacar kamu, minta maaf gih."
Lily mengaduh lumayan keras, kepalanya baru saja digetok Atar. Cowok itu menatapnya tajam "Harusnya dia minta maaf sama kamu. Aku tidak akan minta maaf padanya."
"Terserahlah!" Dia melihat ke atas kemudian memegang pipinya yang masih berdenyut "Jangan kasih tau kak Angga kalau aku habis di labrak."
"Kenapa?"
Lily terdiam sebelum menjawabnya, "Aku tidak mau kak Angga cemas, sekarang ini dia banyak pikiran." Atar menatapnya dengan sebelah kening terangkat. "Pikiran kak Angga banyak banget, kerja dan sekolah penguras pikiran. Belakangan ini juga, Kak Angga kurang istirahat."
"Pipi kamu bengkak, dia pasti ngeh kalau datang."
"Bilang saja habis menabrak dinding saat main." Lily berucap asal.
Atar tidak menjawab lagi, setelah beberapa kali bertemu dengan Angga langsung, Atar sedikit banyaknya bisa menilai Angga. Mengelabui Angga dengan alasan konyol, Atar sangat yakin kalau Angga tidak akan tertipu.
Dari apa yang dia lihat, Angga yang penampilan luarnya memang terlihat biasa saja dan normal, tapi Atar bisa melihat kalau Angga penuh akal. Sebenarnya Atar sedikit takut, bagaimana kalau Angga hanya mempermainkan Lily?
Atar tersentak dengan lambaian tangan di wajahnya, dia mendelik ke si pelaku.
"Melamun terus, kesambet setan baru tau rasa."
"Kamu setannya" dengus Atar, dia berdiri "Mau pulang gak?"
"Yang lainnya gimana?" tanya Lily, mereka tadi pergi begitu saja. Atar mengeluarkan hpnya menelfon Anis, memberitahu kalau mereka akan pergi lebih dulu.
Lily cemberut."Aku masih mau main!" Atar memperlihatkan chat yang dari Mamanya, meminta mereka berdua untuk cepat pulang.
Mereka berdua bergegas bergegas pulang, perintah ibu negara adalah mutlak. Sesampainya di rumah, mereka disambut dengan kue kuean.
"Darimana Ma?" Lily bertanya sambil mengambil kotak donat sebelum Atar masuk merampasnya.
"Arisan. Kamu dari tadi disini?" Naya merapikan anak rambut Lily yang terjuntai.
"Dari tadi, ini sempat main sama yang lain tadi."
"Ma darimana?" giliran Atar yang baru masuk bertanya, dia memicingkan matanya ke arah pangkuan Lily "Wahh... Curang, Ma... Masa cuman Lily doang dapet donatnya?"
Lily buru buru menjauhkan kotaknya, menatap tajam Atar. Tapi sebagai seorang kakak, Atar tidak akan membiarkan Lily memilikinya sendirian.
"Maa... Atar Ma!" lapor Lily yang kotaknya di rampas, Atar menahan kepala Lily agar tidak menggapai kotak
"Tar!" tegur si Mama tapi dia tidak mengubris. "Atarasya!"
__ADS_1
Atar tidak mengatakan apa apa, tapi dia dengan cepat membawa kotak ke kamarnya.
"Atar! Itu punya Lily ih!" Atarr!" dengan kaki pendeknya dia mengejar Atar ke kamarnya, menggedor pintu kamar yang dikunci.
Naya yang melihat tingkah mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya, pembuat onar di rumah itu memang mereka berdua.
"Yana datang ya, Ma?" Afiq yang baru datang dari kampus bertanya, dia berjalan ke arah Mamanya untuk di salami "AssalamuAlaikum"
"Wa'alaikumussalam. Dari mana kamu tahu?"
Afiq menunjuk ke arah lantai dua "Tuh ada suara gaduh di atas!" jawabnya "Kak Lyz bakal datang nanti kan?"
Naya menganggukkan kepalanya, matanya menyendu sambil menghela nafas panjang.
"Ya sudah kamu masuk mandi sana!"
***
Lily berlari ke arah pintu yang diketuk, sekarang sudah malam dan makan malam tidak lama lagi, jadi dia percaya yang mengetuk pintu itu Angga mengingat laki laki di rumah itu semua sudah datang dari sore.
Begitu membuka pintu, Lily tertegun karena bukan Angga yang ada di sana. Lyz yang mengetuk pintu tadi hanya diam, dia menatap Lily bingung.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Lily, ini kali pertama dia melihatnya.
"___"
Lyz tidak mengatakan apa apa, Lily mengkerutkan keningnya.
"Cari siapa ya, Kak?" tanya Lily sekali lagi.
Lyz tersentak seperti baru sadar akan sesuatu. "Ini rumah Azkarasya kan?" Lily menganggukkan kepalanya.
Lily mengkerutkan keningnya, dia merasa bingung melihat kedekatan tamu itu dengan Mama angkatnya. Naya meraih tangan Lily, menepuk bahunya menghadap Lyz.
"Nah Lyz, ini anak perempuan tante." Karena diperkenalkan Lily mengangguk sopan "Dan Lily, ini Lyz! Dia teman kak Azka, sama kayak kamu, dia anak Mama juga."
"Senang punya adik perempuan!" dia tersenyum ke arah Lily, merasa canggung Lily terpaksa senyum juga.
"Itu pasti kak Angga!" Lily berseru saat pintu diketuk lagi, dia dengan cepat menjauh merasa aneh berada di depan orang yang baru dilihatnya.
"Hai!" sapa Angga begitu melihat Lily yang membuka pintu. "Menunggu?" tanya Angga sambil membuka sepatunya.
Lily mengambil tas yang disodorkan Angga karena harus membuka sepatunya "Hm, kakak kenapa lama?"
"Ada pekerjaan dadakan!" Dia berdiri tegak, mengambil kembali tasnya dan menuntun Lily masuk ke rumah.
Dia menghampiri Naya yang tentunya menyambutnya dengan senyuman, tapi saat menoleh dia terkejut mendapati Lyz di sana. Sama halnya dengan Angga, Lyz juga cukup terkejut melihatnya.
Mereka saling menyapa dengan canggung, biar bagaimanapun sekarang pertemuan informal mereka.
"Karena semua sudah di sini, ayo makan." Naya menuntun Lyz masuk sedangkan Angga bersama Lily.
"Hm?" Angga menunduk menatap Lily yang menarik lengan bajunya "Kenapa?"
"Kakak kenal?" Lily memberi isyarat dengan lirikan matanya, Angga mengangkat pandangannya sedikit "Jangan dilihatin!" Lily menahan wajahnya.
"Kenal. Dia klien baru di perusahaan kit- muka kamu kenapa?" Angga menyampirkan rambut Lily, melihat dengan jelas pipi Lily yang sedikit bengkak.
Lily berlahan mundur, dia menjauhkan dirinya sambil tersenyum "Tadi Lily mainnya kelewatan, jadinya kebentur dinding!"
Atar yang kebetulan lewat berhenti, dia penasaran dengan reaksi Angga atas Lily yang memberi alasan konyol.
__ADS_1
"Oh! Lain kali hati hati." kata Angga, Lily menganggukkan kepalanya antusias.
Atar membuka mulutnya tidak percaya, bagaimana Angga bisa percaya begitu saja dengan alasan konyol Lily? Sudahlah apa yang dia harapkan? Dia mending menyusul Lily yang melarikan diri.
"Atar!"
Deg
Atar menghentikan langkahnya, entah kenapa jantungnya berdegup dengan cepat mendengar Angga memanggilnya. Berlahan dia memutar tubuhnya untuk melihat Angga, tubuhnya kaku melihat tatapan Angga yang dingin.
"Siapa?" tanya Angga.
"Hah?"
"Siapa yang mukul Lily?"
Seperti yang dia duga, Angga tidak mungkin tertipu begitu saja dengan ucapan Lily. Angga melihatnya intens membuatnya bingung mau menjawab apa, dia hanya bisa menggaruk keningnya.
"Ngapain sih kalian berdua disana? Ayo makan!" Panggil Naya.
"I..iya Ma, baru ini." balas Atar dia dengan cepat memutar tubuhnya, tapi dia kembali terkejut mendengar ucapan Angga
"Sebaiknya kamu jujur nanti." Angga melewati Atar begitu saja.
"Bicara apa sih?" Tanya Lily saat Angga mendekat ke arah mereka "Cuci tangan dulu!"
"Cerewet!" Atar berucap tapi tetap mengikuti Angga yang berjalan lebih dulu ke tempat cuci tangan.
Lily menyerahkan tisu ke Angga yang sudah duduk di sampingnya, Angga menerimanya dan mengucapkan terimah kasih. Mereka berdua hanya bisa diam mendengar deheman mereka, Angga meringis dalam hati karena tahu kalau dia masih musuh laki laki di rumah itu.
"Tadi bicara apa sama Atar?" Lily bertanya dengan suara pelan, dia khawatir Atar mengatakan pada Angga.
"Dih kepo!" Atar yang kebetulan lewat mendengar, dia menarik sedikit rambut Lily.
"Tar!" suara berat Ayah dan kedua kakak laki lakinya langsung terdengar. Atar menyengir tanpa dosa.
"Tadi Atar nanya soal Zain!" bohong Angga, Lily mengkerutkan keningnya
"Kak Zain?"
Angga menganggukkan kepalanya "Basket!"
Mendengar jawaban Angga, Atar hanya bisa mengeluh dalam hatinya. Kapan dia penasaran dengan permainan orang lain? Tapi lebih bagus begitu.
Angga mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan tatapan Lyz yang melihat Lily. Tapi meski sudah kepergok Angga, Lyz sama sekali tidak mengindahkan pandangannya.
"Kenapa?" Angga bertanya, dia menarik Lily duduk mendekat ke arahnya.
Lyz terkekeh "Bukan apa apa, dia mengingatkankan dengan adik perempuanku." Dia melihat mereka lagi "Tapi bukannya kamu bilang ada pacar?"
"Dia!" Angga menumpukan tangannya di kepala Lily.
"Kalian tidak terlihat seperti orang pacaran." Lyz mengangkat sebelah alisnya, Angga menegakkan duduknya.
"Karena kami pasangan yang sudah menikah." jawab Angga, dia bisa merasakan ada ketidaksukaan dari Lyz atas jawabannya "Adapun tadi saya bilang pacar, karena adik kelas saya disana."
Lyz mengkerutkan keningnya.
"Angga dan Lily menikah tanpa pengetahuan sekolah, mereka berdua masih dibawah umur." jelas Naya, Lyz mengangguk dia paham.
"Oh!" responnya.
__ADS_1