
"HAH?!!''
Indra memutar bola mata jengah dengan keterkejutan Bakti, tapi sebenarnya dia memiliki ekspresi yang sama saat pertama kali mengetahuinya juga. Pantas saja saat pertama kali bertemu dengan Angga, dia merasa anak itu tidak terintimidasi dengan motornya yang sengaja dirusakkan.
"Jadi dia mantan ketua OSIS?" Indra mengangukkan "Tapi hanya ketua OSIS SMA, tidak akan sama dengan yang ki-"
"SMAnya termaksud memiliki murid bermasalah." potong Indra "Bahkan setelah turun dari jabatannya, dia masih sering membantu Osis menyelesaikan beberapa urusan. Setidaknya itu yang diceritakan sepupu gue."
"Tidak heran dia tau geng Anjing gila!" lirih Bakti
"Tidak usah dipikirkan, selesaikan ini dengan cepat!"
Mereka berdua menghela nafas panjang, mereka sudah sangat lelah tapi masih banyak yang harus mereka kerjakan. Mereka makin menghela nafas saat masuk ruang BEM, melihat orang orang di sana tidak melakukan apa apa.
Dia sepertinya mengerti apa yang dikatakan Angga sekarang.
Apa dia ke ruang rektor dan mengadu di sana? Indra menggelengkan kepalanya, sebaiknya tidak usah membuat masalah.
Hehehe... Dia memang se-pengecut itu.
Angga yang baru saja dari ruang BEM menuju kantin kampus, dia tidak sarapan karena buru buru ke kampus dan sekarang sudah siang. Meski semenjak kerja dia sudah terbiasa jarang makan, tapi saat tidak bekerja rasa lapar bisa dia rasakan dengan jelas.
Sepertinya Ezra belum selesai dengan mata kuliahnya, biasanya cowok itu akan menghubunginya saat dia selesai. Selesai selesai membeli makan, Angga membawa mangkuk soto Ayamnya di meja kosong yang ada di tengah.
"Enak!" gumamnya setelah mencicipi soto Ayam miliknya, tapi masih enak soto yang pernah di buatkan Lily untuknya.
Angga mengambil ponselnya, dia hendak menelfon Lily tapi setelah dipikir pikir lagi, dia mengurungkan niatnya. Lily masih di sekolah saat ini.
Berbicara tentang istri kecilnya itu, dia terkekeh pelan mengingat kejadian pagi tadi. Mungkin karena pertama kalinya dia meninggalkan gadis itu selama dua pekan, jadi gadis itu bertingkah manja padanya semenjak kemarin.
Dia membuka galeri foto ponselnya, membuka folder yang khusus untuk foto Lily semua. Ya, semenjak Lily tidak membangun tembok pemisah diantara mereka, Angga sering meminta foto Lily.
Awalnya gadis itu menolak karena merasa malu, tapi Angga memberikan penjelasan kalau dia tidak akan memperlihatkannya pada siapapun. Tentu saja!
Lily miliknya seorang!
Angga mengubah tampilan layar depannya dengan gambar Lily, meski selalu diledek bucin oleh teman temannya dia tidak peduli sama sekali. Dia meletakkan ponselnya di meja dan lanjut makan, ternyata cacing yang berdemo tidak bisa diabaikan begitu saja.
Dia mendongak saat sebuah nampan di letakkan di depannya, gadis yang menghadangnya tadi yang melakukannya. Angga mengedarkan pandangannya ke seisi kantin, masih banyak meja kosong.
"Tidak enak makan sendirian." ucap gadis itu sambil tersenyum, dia menyampirkan rambutnya saat hendak duduk di sana.
Angga tidak mengatakan apa apa dan lanjut makan, dia langsung meraih ponselnya saat berdering.
__ADS_1
"Hai cantik!" sapanya saat dia mengangkat telfonnya, gadis di depannya menatapnya. "Iya, ini lagi makan."
"....."
"Selain mereka siapa lagi?" tanya Angga saat mendengar Lily meminta izin padanya untuk keluar belanja dengan kedua sahabatnya, "Sudah kamu hati hati, pulangnya jangan sampai terlambat."
"Hm! Enak sekali!" Angga melirik gadis di depannya yang tiba tiba berseru "Kamu tidak makan? Mau coba?"
Angga menjauhkan mangkuknya sambil menjawab Lily yang bertanya dia makan dengan siapa "Iya, perempuan yang sepertinya mencari perhatian."
Vidya-gadis itu menatap Angga tidak percaya, bagaimana dia bisa mengatakan itu.
"Kakak kenapa bicara seperti itu!" omel Lily "Tidak boleh asal menilai orang lain seenaknya, mungkin memang makanannya enak!
Angga mendengus tidak senang kalimat Lily, mana ada yang seperti itu. Siapa pun tahu kalau gadis itu sengaja, Angga bukan sekali dua kali melihat trik seperti itu, trik yang bisa membuat orang akan salah paham.
"Iya." jawab Angga "Kamu hati hati jangan bicara dengan orang asing, lebih lebih lawan jenis!"
"Iya kakak."
Setelah bertukar sepatah dia kata, Angga mematikan sambungan telfon. Dia kembali memakan makanannya dengan cepat
"Lo ken-"
Angga meletakkan sendok di nampan, meminum airnya dan dengan cepat berdiri meninggalan meja. Vidya kesal karena Angga sama sekali tidak memberinya wajah, bahkan terang terangan memperlihatkan ketidak sukaannya.
"Apa apaan dia? Jual mahal sekali!" dengus Vidya, ini kali pertama dia diperlakukan seperti ini "Tapi tidak ada yang bisa menolak Vidya!"
Angga menggaruk telinganya yang berdengung, sepertinya ada yang membicarakannya. Sambil memainkan kunci motornya dia berjalan ke arah parkiran, dia berencana ke kantor dulu sebelum mata kuliah lain masuk.
Saat sampai di parkiran dia mendengar suara beberapa orang tertawa tawa, dia dengan cepat berjalan mendekati asal suara. Beberapa mahasiswa mengelilingi satu kendaraan, mereka terlihat bahagia mengerjai motor itu.
"Biar kapok! Masih saja berani majengin rongsokan di si-akhh!"
Semua orang kaget karena orang yang bicara itu langsung tersungkur, wajahnya jatuh lebih dulu ke tanah. Mereka melihat siapa pelakunya, Angga berdiri di depan mereka dengan wajah santai bahkan setelah menendang orang.
"Jadi kalian yang selalu ngerusakin motor gue?" Angga menginjak tangan yang masih memegang kunci inggris tanpa perasaan "Duit gue bukan cuman buat tukang bengkel tau!"
"Akhh!"
Angga menunduk mengambil kunci inggris itu, menodongkan ke arah orang yang mau menyerangnya.
"Bang*at! Lo berani macam macam sama anak Anjing gila?" satu orang maju hendak memukul Angga, Angga tanpa ragu memukulnya dengan kunci inggris, tentunya bukan di tempat yang berbahaya "Akhh!"
__ADS_1
"Bagus kalau kalian anggota geng itu," Angga mengangkat kakinya menginjak kepala orang pertama tadi agar tidak bergerak "Gue suka berurusan dengan mereka."
Angga melihat motornya yang bannya sudah di tempat, dia berdecak menghitung sudah berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk motor itu.
"Lo maju teman lo masuk rumah sakit," ancam Angga saat beberapa mau mengeroyoknya "mau coba?"
Prok prok prok
Angga menoleh dan mendapati Rudi dan gengnya berjalan ke arah mereka, dia bertepuk tangan untuk Angga. Seperti biasa Angga tetap tenang meski ada emosi melihat Rudi.
"Gue suka gaya lo!" Rudi berkata menepuk pundak Angga, Angga tidak mengatakan apa apa "Bagaimana kalau lo masuk geng Anjing gila? Lo bisa langsung jadi ket-"
"Tidak tertarik!" Angga menepis tangan Rudi dari pundaknya, Angga mengangkat kakinya dari orang yang dari tadi diinjaknya.
"Berani lo nolak tawaran Rudi? Belagu banget lo!" orang yang datang bersama Rudi berseru, Angga mengangkat pandangannya menatap orang yang berbicara "Apa? Lo pikir gue takut sama lo?"
Angga terkekeh, matanya kembali menatap Rudi "Lo anggota baru mereka ya?"
"Apa?"
Angga menepuk pundak Rudi "Anggota lamanya tidak akan mau gue bergabung." bisiknya di depan wajah Rudi.
Angga menjauhkan dirinya hanya untuk melihat ekpresi Rudi "Lo Rudi kan? Yang buat ulah di Resto adek kelas gue dua minggu lalu?"
Rudi mengepalkan tangannya dia tidak mau mengingat kejadian itu, hari itu sangat memalukan untuknya sebagai anggota geng. Dia memasukkan tangan ke saku celananya, matanya menatap tajam Angga tapi dia tidak merasa Angga takut padanya.
"Hahahaha.... Terus lo mau apa?" dia mengangkat dagunya menatap rendah Angga.
Angga menggelengkan kepalanya "Norak!"
Setelah mengatakan itu Angga memungut ban motornya, sepertinya dia harus ke bengkel lagi. Mudah mudahan saja tukang bengkelnya tidak bosan padanya. Merasa ada yang mendekat padanya, Angga melempar kunci inggris yang masih ada di tangannya dan mengenai kepala Rudi.
Angga berdiri menatapnya tajam "Bukan cuman lo yang mau ngehajar orang," Angga melangkah ke arahnya, memungut benda yang dia lempar tadi "Percaya atau tidak gue orang yang punya hasrat memukul lebih besar dari lo, tapi ini kampus."
Angga berjalan kembali ke arah motornya, dia akan mendorongnya saja. Langkahnya terhenti dan menatap ke arah pohon yang dekat parkiran.
"Kalau lo sudah puas nontonnya, sini bantuin gue!" ucap Angga, tak lama Ezra keluar sambil nyengir padanya.
Dia tidak tau kenapa, Angga selalu bisa nemuin dimana dia bersembunyi. Alasan kenapa dia juga tidak mau bermain petak umpet dengan Angga adalah ini, Angga punya penglihatan yang bagus.
"Buang saja sih nih motor, ngebengkel mulu perasaan." protes Ezra, Angga tidak mengatakan apa apa seperti biasa.
Moodnya sekarang lebih buruk.
__ADS_1