
Angga keluar kembali ke kantornya dengan taksi, sekali lagi dia meninggalkan motor di bengkel. Dia mengambil banyak berkas dan mulai bekerja, dia juga harus buru buru menyelesaikan tugas kampusnya.
Angga menekan pangkal hidungnya, belakangan ini dia terlalu banyak berfikir. Tenaganya juga sudah terforsir banyak oleh pekerjaan, tapi dia tetap masih harus bekerja sekaligus sekolah.
Ting!
Angga mengambil ponselnya saat ada pesan masuk, saat melihat itu dari Lily dia buru buru membukanya. Gadis itu mengiriminya sebuah foto grup, ada Melanie dan Valen dalam foto itu.
"Kenapa mereka berdua bisa sedekat ini ya?" Angga menggaruk pelipisnya, dia masih tidak habis Pikir.
Yang Angga tahu kalau cewek sulit berteman dengan orang baru, tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Lily dan Melanie. Mereka berdua sangat akrab layaknya mereka sudah lama kenal, tidak ada kecanggungan meski Lily tahu siapa Melanie sebelumnya.
Angga menghela nafas saat kembali melihat pekerjaannya, dia juga ingin jalan jalan mencari udara segar. Angga dengan cepat menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikirannya, dia harus kerja agar istrinya nyaman buat jalan jalan dengan penghasilannya.
Itu yang dia pelajari dari almarhum Ayahnya.
Tak lama Angga mengangkat pandangannya ke sofa, ke arah cowok yang sedang asik main game di ponselnya. Meski tidak bersuara, dia lumayan menyita perhatian terlebih kalau sudah mulai banyak tanya.
"Lo gak ada niatan mau pulang, Jrak?"
"Gue terlanjur nyaman di rumah pink lo!" jawab Ezra asal, dia kemudian menolehkan kepalanya ke arah Angga "Lagian nampung anak Piatu gak ada dosa malah dapat pahala."
Angga mendengus "Bodoh ah Jrak, orang gue lebih parah dari elu. Minta bapak lo sono!"
"Males banget!" dia langsung duduk "Lo pernah dengar pepatah gak sih, kalau lo punya Ibu Tiri maka bapak kandung lo juga jadi bapak tiri."
Angga memutar bola matanya jengah "Terserah lo aja dah, Jrak!"
Angga tidak mengatakan apa apa lagi, dia memilih melakukan pekerjaannya yang menumpuk. Membaca salah satu proposal yang lumayan menarik perhatiannya, proposal anak kuliahan yang meminta bantuan dari perusahaannya.
"Kayaknya kampus bakal ngadain acara." ucap Angga pada Ezra, cowok itu langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahnya.
Dia meletakkan proposal di atas meja kerjanya, membiarkan Ezra melihatnya. Di dalam proposal itu sudah terdapat rincian rencana penyelenggaraan, biaya dan yang lainnya.
"Ini tanda tangan rektor kita?" tanya Ezra, Angga mengangkat bahunya tidak tahu "Lo setuju?"
__ADS_1
"Gue tidak bisa langsung setuju, gue harus meninjau dulu lah." Angga menutup proposal di depannya.
"Lo mau muncul gitu? Di depan mahasiswa a.k.a senior-senior kampus?"
"Apa gunanya karyawan? Urusan begini gue tidak perlu langsung turun." dia menekan interkom, memberitahu asistennya untuk masuk menemuinya "Gue ada pekerjaan yang lebih membutuhkan perhatian gue."
Tak lama om Tio masuk, Angga menyerahkan proposal dari kampusnya. Dia memberi beberapa instruksi pada Om Tio yang langsung diangguki pria seumuran ayahnya itu, dia memintanya menggantikannya saat ada anak kampus meminta bertemu.
Angga juga menginstruksikan kalau mereka tidak harus langsung setuju hanya karena kampus itu tempat dia kuliah, dia meminta mereka meneliti kebenarannya juga.
Sebenarnya Angga lumayan tidak mempercayai proposal itu, di kampus sama sekali tidak ada tanda tanda penyelenggaraan. Terlebih penerimaan Maba yang memakan dana kampus pun sudah lewat, sedangkan dalam proposal yang mereka ajukan ada permintaan dana yang besar.
Apa dia harus langsung menemui rektor ya?
Angga menggelengkan kepalanya menolak gagasan yang terlintas, ada asisten yang bisa dia percayakan. Adapun kalau kampus berbohong dan jujur, dia sudah menyerahkan keputusannya pada asistennya.
***
Angga kembali ke rumahnya, di kosannya ada Ezra yang menumpang. Terlebih lagi masih ada beberapa berkas yang dia tinggalkan di rumah itu, sangat merepotkan kalau dia hanya mengambilnya dan kembali ke kosannya.
Lily kemudian mengangguk paham "Kalau begitu, kakak sudah makan?"
Angga duduk di sofa kamar Lily, menyandarkan kepala lalu menutup matanya. Dia menganggukkan kepalanya dan meminta Lily mendekat.
"Tolong pijatin kepala kakak dong! Pusing."
Lily langsung mendekati Angga, duduk di samping pemuda itu. Angga merebahkan kepalanya ke pangkuan Lily, posisi yang memudahkan istrinya memijat kepalanya.
"Bagaimana jalan jalannya tadi?" tanya Angga membuka pembicaraan.
"Seru, Lily tidak sangka ketemu sama kak Melanie tadi." jawabnya sambil tersenyum, Angga hanya bergumam "Kak Melanie katanya balik dari dua minggu lalu, kakak tahu?"
"Tidak, kakak sudah tidak punya kontak dia lagi." jujur Angga.
"Kenapa?"
__ADS_1
Angga diam sebentar sebelum menjawab "Untuk apa? Kakak sudah punya istri cantik di rumah."
Lily mencibir, tapi tak ayal mukanya juga memerah mendengar ucapan Angga. Angga menghapus kontak Melanie membuat perasaanya hangat, meski sebenarnya dia tidak masalah kalau Angga menyimpan kontak Melanie.
"Sepupu yang sama Melanie itu, Valen kan?" Angga membuka matanya, Lily mengangguk "Kalau tidak salah, dia sekolah di Tunas Bangsa juga!"
"Serius? Kakak kenal Valen?"
"Ya, Lumayan!" jawab Angga, tentu saja Angga mengenalnya. Angga dan Melanie cukup lama, Melanie sudah di kenal keluarganya begitupun sebaliknya.
"Ohh." dia menganggukkan kepalanya "Tadi juga ketemu sama dokter yang merawat Ayah, tahu Lily mencari buku kedokteran beliau merekomendasikan banyak buku." cerita Lily
Angga duduk menatap Lily serius, gadis itu memiringkan kepalanya "Dia sudah menikah?"
"Kayaknya belum, Lily juga kurang tau." jawabnya "Tapi ganteng begitu! Setidaknya pasti punya pacarkan?"
Angga menyipitikan matanya "Kamu suka?"
Lily menganggukkan kepalanya antusias, Angga menjitak kepalanya.
"Kamu punya suami, ingat!"
Lily tertawa terbahak "Dokter Libra tau itu kok, beliau kan saksi pas kemarin kita akad." dia menyandarkan kepalanya di sofa masih menatap Angga "Lily hanya terkesan melihat beliau sebagai seorang dokter, masih muda tapi sangat hebat. Lily berharap bisa seperti beliau."
Angga menyentuh rambut Lily yang tersampir ke depan, memainkan ujungnya. Matanya juga menatap serius ke arah Lily yang terlihat nyaman bersandar di sofa.
"Kamu pasti bisa seperti dokter itu, kamu kan pintar." dia ikut menyandarkan kepalanya di sofa "Kakak mendukung keinginan kamu."
Lily tersenyum "Terima kasih!"
Angga tidak mengatakan apa apa, tangannya meraih tangan Lily dan menariknya berlahan mendekat. Dia menyentuh pipi Lily mendekatkan wajah mereka, tapi dengan cepat dia berdiri membuat Lily kaget.
Angga menutup wajahnya dengan telapak tangannya, sial! Dia hendak melakukan apa tadi? Angga melihat Lily yang mendongak menatapnya, mata gadis itu terlihat sangat polos.
Angga mengacak rambut Lily sebelum keluar tanpa sepatah katapun, dia harus berada jauh dari Lily. Lily yang melihat Angga seperti itu juga tidak mengatakan apa apa, dia malah langsung memerah saat Angga meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Malu!!