Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 48


__ADS_3

Setelah puas mengganggu Angga, keempat cowok itu baru pergi meninggalkan pasangan yang terlihat seperti orang tua muda itu. Angga menghela nafas panjang, dia mendekati Lily yang sudah tidak dengan dokter Libra lagi.


"Sudah selesai?" tanya Lily, Angga menganggukkan kepalanya wajahnya kusut.


"Hm" Dia mengambil posisi duduk di samping Lily "Mereka ganggu banget!"


Lily tertawa mendengarnya sambil tangannya sibuk mengelap tangan Farhan dengan tisu basah. Angga menoleh, dia mengulurkan tangannya menyibak rambut Farhan yang berkeringat.


"Heboh banget dia mainnya" ucap Angga, Lily hanya mengangguk setuju. Dia saja sampai kewalahan mengikuti anak itu.


Angga menoleh ke arah Lily, dia tidak kalah berkeringatnya dengan Farhan. Angga mengambil tisu kering di samping Lily, dia dengan pelan mengusap keringatnya.


"Ckckck... Anak jaman sekarang ya, masih bocah sudah berani bikin bocah. Ujung ujungnya nyusahin orang tua juga" terdengar cibiran wanita yang baru saja lewat "Pacaran tidak usah kelewatan!"


Lily menahan tangan Angga yang hendak berdiri, dia tau Angga akan membalas wanita itu. Lily menggelengkan kepalanya melarang Angga, toh yang dikatakan ibu ibu itu tidak benar.


Mereka belum punya anak dan mereka tidak pacaran sampai kelewatan, mereka juga tidak menyusahkan orang tua mereka. Angga bahkan bekerja siang malam untuk menghidupinya, bukan minta minta.


"Ngak usah diladenin kak" bisik Lily, Angga berdecak. Lily mengelus lengan atasnya "Tidak apa apa"


"Kamu tidak marah?"


"Ngapain marah? Toh mereka tidak mengatakan yang benar. Mereka tidak tau apa apa"


Angga menatap lurus ke iris mata Lily, gadis di depannya tampak biasa saja. Dia menghela nafas panjang, meraih tangan Lily yang masih di lengannya.


"Lain kali jangan mau digituin orang. Kakak tidak suka"


"Kan mereka ngomongnya di belakang. Kalo tiba tiba marah ke mereka, mereka bakal ngeles, jadi untuk apa marah" Lily nyengir, Angga mendengus dia gemas sendiri.


Angga berdiri, dia membawa Farhan ke gendongannya.


"Kamu tunggu disini saja" ucapnya pada Lily, Angga juga meraih tas punggung Lily


"Mau kemana?"


"Ganti bajunya nih bos kecil" Angga menekan pipi Farhan "Habis itu kita jalan lagi."


Lily mengangukkan kepalanya, pakaian Farhan memang sudah kotor dan beruntungnya bude Sum sudah menyiapkan pakaian gantinya.


Setelah mengganti pakaian Farhan, Angga membawa mereka ke mall. Sebelum belanja, mereka menonton film dulu.


"Bagus gak filmnya?" tanya Lily pada Farhan.


"Agus" Anak itu menerima susu kotak dari Angga yang sudah siap minum.


"Mau ikut Kakak lagi gak nanti?" Farhan hanya mengangguk karena menyesap susu miliknya. Lily mendongak menatap Angga "Mau kemana lagi kak?"

__ADS_1


"Kakak mau beli sepatu" ucap Angga. Lily menganggukkan kepalanya, tangannya membantu Farhan turun dari kursi.


Karena pusat perbelanjaan ramai, Angga kembali menggendong Farhan, takut anak orang hilang.


"Astaga!" seru Angga tiba tiba, Lily menoleh


"Kenapa?"


"Kakak lupa tanya ke anak anak itu, tempat jual motor bekas" jawab Angga


"Hah? Kenapa mau beli motor? Kan motor kakak ada"


Angga terkekeh "Motor kakak terlalu merepotkan kalau mau pake ngampus."


Angga mau membeli motor bekas yang sudah tua tapi masih layak pakai, motornya yang selalu dipakai ke sekolah dengan Lily memang tidak baru lagi tapi dilihat dari harga... Dia ingin tampil seperti mahasiswa yang kurang mampu.


Bukan karena untuk gaya gayaan atau karena dia mau tampil low profile, tapi Angga punya alasannya sendiri. Dan lagi tampilan seperti itu membuatnya nyaman, dia tidak perlu berurusan dengan banyak hal.


Yah... Mungkin dia akan sedikit di bully, well dia berniat memasuki universitas kenamaan yang isinya orang tajir semua.


Angga mendudukkan Farhan di kursi yang sudah disiapkan di toko sepatu itu. Angga berdiri di sampingnya sedangkan Lily, Dia memintanya untuk mencarikan untuknya.


Lily berdiri di depan deretan sepatu, memperhatikan mana yang cocok untuk Angga. Sebelumnya Angga mengatakan untuk membeli sepatu yang cocok untuk dipakai di kampus, tidak usah terlalu bagus.


"Kakak mau yang mana?" Lily membalikkan badannya menatap Angga, cowok itu melirik ke rak sepatu.


"Lily tidak tahu kakak suka yang mana, nanti salah lagi."


Angga diam sebentar, sebelumnya Angga tidak pernah memusingkan ini. Setiap kali dia membeli sepatu, dia tidak memperhatikannya dan asal pas saja di kakinya.


Lagian selama ini sepatu yang selalu dia beli sepatu sekolah, tidak perlu neko neko asal berwarna hitam. Lagi pun kalau ada sepatu mahal di rak sepatunya, itu pasti hadiah dari Ayahnya.


"Terserah saja. Pilih saja yang sekiranya bagus" ucap Angga, Lily cemberut.


Dia menatap kembali deretan sepatu di depannya, memeriksa yang sekiranya tahan untuk di pakai lama. Setelah memilih satu, dia meminta ukuran kaki Angga.


"Li, ini bagus untuk kamu!" Lily menoleh, cowok itu sudah berdiri di tempat sepatu perempuan. Angga memperlihatkan sepatu olahraga berwarna merah muda. "Kamu beli juga."


"Tapi sepatu Lily masih bagus" ucapnya menolak, Angga tidak menghiraukan, dia meminta karyawan disitu membungkusnya.


Lily menghela nafas panjang, Angga itu keras kepala. Dia beralih ke sepatu anak anak, tidak enak kalau hanya mereka yang membeli sepatu.


Lily memilih sepatu yang ada lampu lampunya, dulu dia sangat suka sepatu seperti itu. Dia mengambil dua, berbelanja untuk anak anak memang seperti tidak ingin berhenti.


Setelah selesai berbelanja sepatu, Lily menyeret Angga ke sebuah toko merek ternama. Dia akan mencarikan sepatu untuk ke kantor, sepatu Angga hanya ada dua pasang.


Lily menelan ludahnya melihat harga yang bisa bikin serangan jantung, tapi tak apalah toh untuk kerja. Pekerjaan Angga mewajibkan Angga bertemu orang kenamaan, kalau dia memakai pakaian murah dan dibawah standar... bisa bisa dia dinilai yang tidak tidak, biar bagaimanapun Angga membawa nama perusahaan.

__ADS_1


Mereka tiba di rumah saat menjelang maghrib, Farhan bahkan tertidur karena kelelahan mengikuti mereka.


Setelah mengembalikan Farhan, Lily mengikuti Angga ke kamarnya. Dia meletakkan belanjaan di atas kasur Angga sedangkan si empu langsung baring di kasur.


Lily memukul paha Angga "Jangan tidur, pamali tidur maghrib"


"Capek Li" keluhnya. Berlahan dia duduk, Lily membuka belanjaan Angga.


Benar saja kata orang, menemani perempuan belanja butuh tenaga ekstra. Lily benar benar memutari pusat perbelanjaan, dia membeli banyak hal dan itu semua untuk Angga.


Lily membeli baju, tas, sepatu dan perlengkapan Angga yang lain, hanya beberapa miliknya.


"Kamu tidak capek apa?" Angga bertanya karena sekarang Lily sibuk memasukkan belanjaan ke lemari Angga. "Lily?"


"Tidak! Lagian hanya begitu." Lily menoleh dan tersenyum mengejek ke arah Angga yang lemas di kasur.


Angga mendengus dia turun dari kasur, dengan gampangnya mengangkat Lily membuat gadis itu berseru keras


"Kakak!" Dia membulatkan matanya ke Angga yang seenaknya melemparnya ke kasur.


Angga berkecak pinggang sambil menyeringai, dia ikut berbaring kakinya dijulurkan ke arah Lily yang sudah duduk di tengah kasur.


"Pijitin kakak dong Li" pintanya.


"Yeee..." Lily mendengus tapi menurut juga, dia melirik Angga yang memejamkan matanya sambil memijat keningnya.


Lily berinisiatif memegang kening Angga, sedikit panas tapi sepertinya bukan demam. Angga berlahan bangun, menggerakkan tangannya karena sejujurnya badannya sangat lelah.


"Kakak duduk sini, biar Lily pijitin pundaknya" Lily menunjuk depannya, Angga menurut saja. "Kakak kurang istirahat ya?"


Angga menunjuk bagian badannya yang sakit "Sibuk, ngak sempat istirahat" ucapnya


"Terus gimana nanti kalau kakak kuliah? Pasti lebih ngak bisa istirahatkan?" Lily menekan bagian belakang Angga, dia lumayan pintar memijit karena sering memijit ayahnya dulu.


"Di usahain istirahat. Akhh.." dia meringis karena merasa sakit


"Tahan bentar!"


Angga meluruskan punggungnya "Sekarang sibuk karena perusahaan lagi gak stabil. Kedepannya mungkin akan lebih ringan."


"Mungkin?"


Angga terkekeh mendengar nada sensi Lily, dia berlahan menarik tangan Lily memindahkannya ke agar duduk di depannya. Dia dengan iseng menjentik kepala Lily.


"Gak usah sensi begitu, ini hanya karena kakak belum terbiasa saja."


Lily menatapnya sebentar "Tau ah, Lily mau masak!"

__ADS_1


__ADS_2