Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 87


__ADS_3

Lily berjalan keluar gedung perusahaan Angga, dia menuju ke arah temannya yang menunggunya. Dia menerima helm dari temannya tapi sebelum itu, dia meminta maaf karena terlalu lama di dalam.


"Tadi gue lihat pacar lo masuk ke dalam itu," Rora-temannya yang bekerja di tempat yang sama, berkata sambil menjalankan motornya "Kalian ketemu?"


"Iya kah? Aku tidak bertemu." jawab Lily, entah kenapa dia tidak berniat memberitahu siapa Angga sebenarnya.


"Mungkin gue cuman salah lihat. Selanjutnya kita ke mana lagi?"


"Langsung pulang, yang mau diantarkan sudah habis. Tempat tadi terakhir!" jelas Lily sambil memperlihatkan tempat barang yang kosong.


"Ya udah kita balik, gue juga sudah capek."


Rora salah satu jasa tukang antar di resto, bernding terbalik dengan namanya yang feminim, Rora itu tomboy dan memiliki tenaga tidak jauh berbeda dari laki laki.


Meski seperti itu Rora sangat cantik, terlebih rambutnya panjang dan indah. Kalau hanya dilihat sekilas, orang orang tidak akan menyangka dia sangat tomboy, terlebih pembawaannya yang sangat tenang.


Dia bekerja dari sebulan yang lalu, sama halnya dengan Lily, dia juga pekerja paru waktu. Berbeda dengan Lily yang seorang siswa, Rora adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas.


"Kakak kenapa mau kerja di sana?" tanya Lily tiba tiba, dia sebelumnya bertanya. "Maaf, Lily tidak bermaksud apa apa."


Rora tertawa "Tidak apa apa. "Dia menatap lurus ke jalan "Kenapa ya? Karena gue punya waktu luang mungkin, sekaligus menambah uang jajan."


"Tapi bukannya kalau kuliah itu sibuk ya, kak?" tanya Lily, Rora meliriknya dari spion. "Kakak tidak sibuk tugas ya?"


"Hmmm... Gue kan sekarang masih semester tiga, hahahaha....!!!"


Lily menggelengkan kepalanya, dia tidak berniat bertanya lagi. Dia memandangi jalan yang mereka lewati sekarang, dulu saat Ayahnya di rumah sakit hanya sedikit yang bisa dia lihat, tapi sekarang?


Dia berterima kasih ke Angga yang memberinya kebebasan, dia akan menggunakan waktunya sebaik mungkin. Setelah dia lulus SMA dan masuk universitas, dia akan sibuk kuliah dan menjadi istri yang sebenarnya.


"Lo sama pacar lo, sudah berapa lama pacarannya?"


"Berapa lama?" Lily diam sejenak sambil berfikir "Sekitar tujuh bulan."


Tujuh bulan, berarti sudah selama itu Ayahnya meninggalkannya. Dia masih sangat ingat, tiga bulan sejak Ayahnya meninggal dia masih sangat terpuruk dan Angga lah yang selalu di sampingnya.


Lily menatap langit dan bergumam pelan "Padahal dia juga masih berkabung!"


"Lo bilang sesuatu?"

__ADS_1


"Eh?" dia menggelengkan kepalanya "Eng-enggak kok, Kak! Aku tidak mengatakan apa apa."


"Oh!" Rora menganggukkan kepalanya, dia melirik Lily dengan ekor matanya sekilas, dia tidak mengerti gadis kecil di boncengannya itu.


Tak lama mereka tiba di resto, setelah turun dari motor Lily membersihkan dirinya dari debu sedangkan Rora mengantar setoran di kasir. Setelah merasa bersih, Lily kembali ke dapur dan mulai memasak pesanan pelanggan.


"Maaf kak." ucapnya pada Alga yang menggantikan pekerjaannya.


"Tidak apa apa, lo pakai kompor lain saja dulu," Alga menunjuk kompor kosong. "Tolong bantuin gue bikin menu ini lagi."


Lily melihat masakan Alga yang sudah jadi, Alga membuatnya cukup banyak yang berarti...


"Kakak kelas IPS 1 datang ya kak?" tanya Lily


Alga hanya menganggukkan kepalanya "Siapa lagi? Mereka sekarang di belakang, heboh sendiri. Kang rusuh."


Lily hanya menanggapi seniornya dengan senyuman, tangannya dengan lincah mencampurkan bahan bahan. Meski seniornya itu terdengar misuh misuh, tapi ada rona senang saat membahas teman teman sekelasnya.


"Kakak sudah kenal dari kelas berapa?" tanya Lily, dia sedikit iri dan ingin punya teman sekelas seperti itu "Sudah lama pasti."


"Hahaha... Tidak! Kami malah bertemu saat kelas sebelas, tak satupun yang dekat saat kelas sepuluh!"


Alga mengedikkan bahunya "Entahlah, gue juga tidak paham. Tapi satu yang pasti," Dia mengambil telur di kulkas "Kalau kelas punya pemimpin yang bagus, maka anggotanya memiliki hubungan yang bagus."


"Bagaimana cara memilih atau melihat?" Alga menoleh ke arah Lily yang bertanya "Saya sedikit iri dengan hubungan senior."


Alga terkekeh "Tidak tahu, kami sebenarnya asal tunjuk saja saat kelas sebelas." Dia mengangkat masakannya "Jangan mau punya teman kayak mereka, lo bisa pusing sendiri."


Setelah selesai membuat menu, Lily dan dua orang lainnya membantu membawa ke halaman belakang. Seperti biasa halaman itu sudah sangat berisik, tidak ada ketenangan kalau mereka datang.


"Eh si Cantik di sini?" Hanin berdiri dan merangkul Lily "Bagaimana olimpiade kemarin?"


"Lumayan sulit, Kak. Tapi aku mengisi semua pertanyaan." jawab Lily "Dan salah tiga."


"Dari mana lo tahu kalau lo salah tiga?" tanya Aryan "Kan belum ada pengumumannya."


"Ah itu.." Lily menggaruk pelipisnya "Setelah keluar dari ruangan, Kak Kennan ngasih kunci jawaban yang dibuatnya saat saya mengerjakan ujiannya."


"Jadi lo yang di ajarin Kennan itu?" tanya Miya "Enaknya... Gue kapan ya di ajarin Kennan."

__ADS_1


"Dih mupeng!" cibir Aryan


Miya mendelik "Kenapa lo yang sewot? Iri ya?" dia mengibaskan rambutnya "Udah sih, lo itu bukan tipe gue."


"Memangnya lo tipe gue? Gue curiga lo suka lagi sama gue?"


"Oh ngak kebalik ya?" Miya mendekatkan wajahnya tapi Aryan tetap biasa saja "Lo suka kan sama gue."


Aryan mendorong pelan kepala Miya ke samping "Jauh jauh dari gue, lo merusak pemandangan, lagian cewek gue lebih cantik!"


"Ma! Kawinin saja mereka." saut Baim "Berantem mulu."


"Iri ya? Ngak ada teman bertengkar?" Miya dan Aryan berseru bersamaan.


"Cieeeeee.... Kompak!!!"


Lily yang melihat itu hanya bisa tertawa, setelah mengatur makanan di meja dia kembali ke dapur.


Di dapur sama seperti juru masak lainnya dia sibuk memasak, terlebih saat sore pasti banyak tamu yang berdatangan. Dia selama bekerja di sini selalu senang, dia bisa melihat berbagai jenis pelanggan.


Kalau kelak dia tidak bisa menjadi dokter, dia berencana membuat rumah makan sederhana. Dia sangat senang melihat ekpresi tamu yang memakan masakannya, rasanya sangat hangat di dada.


Dia menghempaskan dirinya di kursi ruang istirahat, tak lama telfon berdering dari Angga. Dengan cepat dia menjawabnya, yang membuatnya tidak senang karena Angga mengatakan kalau dia akan keluar kota.


Tapi dia marahnya tidak lama, karena setelahnya dia sibuk memberitahu Angga apa saja yang harus dia bawa.


"Kakak dengar tidak?" tanyanya karena tidak mendengar jawaban Angga.


"Dengar cantik," Angga kemudian menyebutkan apa saja yang dikatakan Lily "Hanya itu kan?"


"Iya." Dia menghela nafas "Kakak hati hati di jalan, jangan sampai tidak makan karena kerja."


"Iya." jawab Angga, "Kamu mau oleh-oleh apa?"


"Ngak ada, paling penting kakak pulang selamat dan sehat, itu saja."


"Lily!" salah satu pegawai masuk "Sorry banget ganggu istirahat lo. Tapi tolong bantuin melayani tamu ya!"


"Iya tidak apa apa." ucap Lily, dia kembali bicara dengan Angga "Kak, Lily mau kembali kerja, kakak hati hati di jalan ya."

__ADS_1


__ADS_2