Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 108


__ADS_3

Plak


Seorang pria tua berambut putih menampar cucunya dengan tak berperasaan, padahal mereka sedang berada di kantor polisi. Terlihat sangat jelas kalau dia sedang marah, seluruh wajahnya berubah merah dan terlihat menggertakkan giginya.


Sang cucu hanya bisa diam dan menerima kemurkaan sang kakek, dia tidak bisa mengatakan apa apa karena sudah merasa gemetar lebih dulu.


"Sudah kukatakan, lakukan sesukamu tapi jangan melibatkan bisnisku!" Pak tua itu kembali mengangkat tongkatnya dan memukul cucunya


"Ayah cukup!" Ibu dari Dero menahan Ayah mertuanya agar berhenti memukul putranya "Dia sudah tahu, cukup Ayah dia bisa mati."


"MENYINGKIR!" dia melepaskan tangan menantunya "KALAU KAMU BECUS MENGURUSNYA, DIA TIDAK AKAN BERAKHIR SEPERTI INI!"


"Ayah!" Wanita itu kembali berseru saat sang putra kembali mendapat pukulan.


"Tolong hentikan! Ini kantor polisi," petugas yang sedari tadi mengawas akhirnya bersuara "Anda tidak diizinkan melakukan kekerasan di sini."


Pak tua itu menarik nafas berlahan, menenangkan emosinya yang memuncak. Tapi saat memikirkan usaha yang dirintisnya diambang bangkrut, dia kembali mengangkat tongkatnya tapi kali ini sasarannya adalah putranya.


"Apa gunamu menjadi pejabat negara kalau hal seperti ini, kamu bahkan tidak bisa menanganinya."


"Ayah, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku bahkan meminta kampus mengeluarkan anak itu... Tapi, aku tidak benar benar per-"


"Anak? JADI KAMU SEPERTI INI KARENA ANAK INGUSAN?" pria itu semakin meraung "KAMU BAHKAN DI PERIKSA HANYA KARENA BERURUSAN DENGAN ANAK AN-!"


"Maaf mengintrupsi!" mereka menoleh ke asal suara. Angga masuk dengan gaya formalnya, setelan jas mahal yang selalu dipakainya ke kantor "Saya sudah delapan belas tahun, bukan anak anak lagi."


"BANG*AT!" Dero meraung dan berlari ke arah Angga, tapi di hentikan oleh pengawal yang mendampingi Angga. "Bang*at! INI SEMUA KARENA LO ANJING! SETELAH GUE KELUAR DARI SINI, GUE BAKAL MEMBUN*H LO!"


Angga menoleh ke samping ke arah pengacaranya "Catat juga ancaman yang baru saja dia lontarkan!"


"Siap pak!"


"Siapa kamu?" pria tua menatap Angga, Angga balas menatapnya dan tersenyum "Kamu yang menyerahkan bukti rekayasa untuk menjebak putra dan cucuku!"


"Rekayasa?" Angga bertanya dengan nada tenang "Benar saja anda sudah sangat tua."


Dia melangkah ke arah kursi tunggu, tanpa dipersilahkan dia duduk lebih dulu. Inilah Angga, dia tidak akan bersikap sopan pada orang yang tidak disukainya.


"Apa anda punya bukti dengan apa yang anda katakan?"

__ADS_1


"Apa?"


Angga menyilangkan kakinya, dia juga memasukkan tangannya ke dalam saku "Perkataan anda bisa saja masuk pelanggaran, tuduhan palsu! Adapun bukti yang saya serahkan, semuanya bisa dijamin keasliannya."


Pak tua itu ikut duduk, dia bukan setahun dua tahun di dunia ini, dia tidak mungkin kalah dengan anak yang bahkan belum mendapat gelar sarjananya.


"Siapa kamu anak muda?" pria tua bertanya dengan tenang, dia memperhatikan Angga dari atas ke bawah.


Angga balas menatapnya "Angga Erlangga!"


"Erlangga?" Pria tua terkejut " Kamu... Kamu pemimpin baru perusahaan Erlangga?"


"APA?" Dero dan Ayahnya berseru bersamaan.


Tidak mungkin!


Dari awal mereka melihat anak itu, mereka tidak yakin dengan latar belakangnya. Setelah Dero mencari tahu lebih lanjut, dia hanya menemukan kalau Angga hanya anak Yatim Piatu yang Ayahnya meninggal saat SMA.


Angga tersenyum, dia tidak perlu mengkonfirmasinya kan? Pak tua itu mencengkram ujung tongkatnya, kenapa cucunya bodoh sekali.


Tapi dari pada itu, memang kenapa kalau putra tunggal dari mendiang pemimpin ErlanggA Group? Dia hanya anak kecil yang bahkan jauh lebih muda dari pada cucunya.


Angga menautkan tangannya di atas lutut "Kenapa ini tidak ada urusannya denganku? Saya bahkan dikeluarkan dari kampus dan di permalukan, jadi bagaimana ini tidak urusannya dengan saya?"


pak Tua itu hanya diam. "Dan sebagai warga negara yang baik," dia melirik Bramo "Saya tidak bisa menutup mata melihat anggota dewan yang curang, jadi bagaimana ini bukan urusan saya?"


"Kamu!"


Bramo bergerak tapi pengawal Angga lebih dulu menghadangnya, pria itu menggeram tidak terima tapi tidak bisa apa apa. Pengawal Angga terlihat sangat besar dan kuat, tidak akan mudah mengalahkannya.


"Lo keluar dari sini, geng tidak akan membiarkannya!"


"Maksudmu Anjing gila?" Angga terkekeh pelan "Tenang saja, dua hari lagi kalian akan reuni," Angga melihat sel "Di dalam sana."


Dero tertawa dan mencibir "Dengan kemampuan lo, mereka tidak akan dengan mudah di tangan-"


"Benar, mereka memang tidak mudah di tangani, tapi..." Angga juga ikut terkekeh "Kami sudah mengikuti mereka sejak tiga tahun lalu, narkoba, pencurian, pemukulan, pembegalan bahkan tindakan kriminal seperti membunuh, menurutmu mereka akan lolos?"


"Katakan apa yang kamu inginkan?' Pak tua itu bertanya dengan emosi yang di tahan "Dalam bisnis aku bisa membantumu, anak muda bisnis bukan tempat bermain. Aku bahkan menjalankan bisnis jauh lebih dulu dari Ayahmu."

__ADS_1


"Anda benar, tapi saya tidak berniat mendapat pembelajaran dari anda." Aku menatap lurus kakek Dero, "Karena itu, saya menarik investasi saya dari perusahaan anda."


Angga berdiri dan kembali berkata "Saya ke sini hanya untuk menyapa, terima kasih sudah meluangkan waktu!"


Dia tersenyum kecil ke arah Kakek Dero, tapi menyeringai ke arah Dero yang membeku di tempatnya. Angga dengan cepat meninggalkan tempat itu bersama dengan para pengawal dan pengacara perusahaan, tinggal di tempat itu membuang banyak waktu.


Angga melonggarkan dasinya begitu dia keluar, berlahan dia masuk ke dalam mobil berharap orang yang ada di dalam belum bangun. Berlahan dia membuka pintu mobil, dia menghela nafas lega mendapati Lily masih tidur.


Dia duduk di samping Lily, merapikan anak rambut gadis itu yang jatuh di wajahnya. Bagaimana bisa dia tidur sedamai itu, padahal dia dalam kantor polisi lumayan lama.


"Apa dia pernah bangun?" tanya Angga pada supir yang memang sejak tadi dimintai menjaga Lily.


Dia menggelengkan kepalanya "Tidak pernah, pak!"


"Bagus," Angga menarik perlahan gorden mobil agar cahaya tidak menerpa wajah Lily, "Jalan kan mobil, perlahan saja."


"Baik, Pak!"


Angga menutup menaikkan sekat antara supir dan tempat dia duduk, sebenarnya di bangku depan bukan hanya ada supir, salah satu pengawal ikut bersama mereka juga.


Angga menutup matanya, dia juga akan tidur sebenar saja, mumpung perjalanan ke kantor lumayan jauh. Dan dalam hitungan beberapa menit saja, Angga sudah berhasil tidur.


Lily membuka matanya saat Angga tertidur, dia duduk tegap menatap Angga yang terlihat lelap. Lily mengambil jas yang Angga pakai untuk menyelimutinya, gantian dia menyelimutkan jas itu ke Angga.


Sebenarnya dia sudah terbangun dari tadi, saat mobil tiba tiba berhenti. Dia juga meminta agar supir tidak memberitahunya ke Angga, dia hanya pura pura tidur saja tadi.


Lily tidak tahu kenapa Angga ke kantor polisi, suaminya bekerja di dunia bisnis jadi kantor polisi mungkin tempat yang sering di kunjungi. Ayahnya Lily juga sempat menjalankan sebuah usaha, beliau juga sering ke kantor polisi untuk mengurus beberapa hal.


Lily menundukkan kepalanya, berlahan dia mendekati wajah Angga dan...


Cup!


Dia mencium pipi Angga.


Dia berbisik "Terima kasih, love you!"


Dengan cepat dia menjauhkan dirinya dan akan merasa malu kalau saja sampai ketahuan, dia dengan cepat memainkan ponsel yang dari tadi dia anggurkan. Yang dia tidak tahu, Angga sudah membuka matanya dan menarik bibirnya ke atas membentuk senyuman mendengar bisikan Lily.


Kenapa istrinya manis sekali??

__ADS_1


__ADS_2