
Angga duduk sambil menyesap teh kotak matanya fokus dengan kertas prediksi ujian di depannya. Sebagai pemegang nilai tertinggi di angkatannya dia dengan tiga lainnya di suruh memeriksanya.
Mereka berempat duduk berbarengan di perpustakaan sekolah karena sekaligus mencari materi.
Dia mendongak saat pak Juan kembali masuk dengan setumpuk kertas.
"Pakk!" Keluh mereka
Pak Juan tidak mengatakan apa apa hanya memberi isyarat agar mereka diam karena sedang berada di perpustakaan, di susul bu Ratna juga datang dengan setumpuk lainnya
"Ugh... Bunuh saja kami" Ezra menatap kedua guru itu memelas "buuu..."
Ratna hanya bisa tersenyum tipis, dia ingin membantu tapi dia masih harus mengurus pembelajaran adik adik kelas mereka
"Ini keinginan kepala sekolah"
"Pak bisa minta bantuan ke Kennan?" Tanya Dwi dia sudah tidak sanggup
Pak Juan menyeringai menatap Dwi mengejek "dimana harga dirimu sebagai kakak kelas?"
"Ugh!" Dwi dengan drama memegang dadanya seolah dia tertembak peluru di bagian dada
"Berhenti bercanda dan perhatikan soal soal itu." Titah pak Juan
Angga mengangkat tangannya "bagaimana dengan teman teman lainnya?"
"Mereka juga sudah dibagikan beberapa, pak Juan sudah mengkelompokkan sesuai kelemahan mereka dan memberi mereka tugas lain"
Begitu kedua guru itu keluar mereka berempat menghela nafas panjang
"Beruntung banget kelas 11 dia bukan wali kelas gue" ucap Gita yang lainnya mengangguk setuju
"Dia guru yang sadis" Angga sekali lagi menghela nafas panjang, dia memijit keningnya yang tiba tiba pusing. Dia dengan cepat berdiri
"Mau kemana lo?" Tanya Dwi terlebih melihat Angga dengan beberapa kertas
"Kennan, peduli kambing soal harga diri kakak kelas, kepalaku mau pecah" ucapnya.
Lagipula materi ujian kebanyakan di ambil dari kelas sebelas jadi meminta bantuan adik kelas tidak akan terlalu menyulitkan mereka
"Memang lo tau Kennan yang mana?" Tanya Ezra langkah kaki Angga terhenti
Dia belum pernah bertemu dengan pemilik nilai tertinggi se-sekolah itu.
"Apa susahnya bertanya." Ucapnya santai.
Angga berjalan ke gedung kelas 11 yang baru beberapa bulan dia tinggalkan itu, dia mencari kelas 11 IPA 1 yang sepertinya letak kelasnya tidak di ubah.
Tok tok
Dia mengetuk pintu kelas 11 IPA 1 mengintrupsi suara berisik penghuninya
__ADS_1
Mereka saling pandang sebelum melihat Angga, Radi berdiri mendekatinya "ada apa ya kak?"
"Ini kelas Kennan kan? Dimana dia?"
"Ini memang kelasnya, tapi pak pre.. maksudku Kennan tidak hadir."
"Oh begitu" Angga menghela nafas dan pamit, sepertinya dia memang tidak di takdirkan meminta bantuan Kennan si jenius kelas 11.
Dia berjalan sesekali dia mengangkat kertas untuk memahami isinya.
"Loh kakak ngapain di gedung kelas sebelas?" Tanya Afkar yang hampir bertabrakan dengannya.
Angga mengangkat kertas di tangannya "mau minta bantuan Kennan tapi katanya dia tidak masuk sekolah" jawab Angga sambil menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal.
Afkar menganggukkan kepalanya mengerti, dia melihat sekelilingnya dan menarik Angga ke belakang gedung
"Mau ngapain lo? Wah jangan macam macam gue sudah punya pacar" Angga menyilangkan tangannya di depan dada.
"Gue juga gak doyan batang" dengus Afkar, dia merogoh sakunya memperlihatkan ponselnya "lihat!"
Angga mengangkat sebelah alisnya "gue tau lo pacaran sama Hanin gak usah pamer ke gue juga kali kalo walpaper lo mukanya dia"
"Eh?"
Angga memberi isyarat ke Afkar untuk melihat hpnya yang hanya menampakkan lockscreen foto Hanin.
"Ah ****" umpatnya dia dengan cepat membuka dan memperlihatkan Video yang dikirim Sabrina "senior tahu orang orang ini? Mereka yang nraktir anak anak minum kemarin malam"
"Terus kenapa dia tidak di keluarkan" dia mengambil permen dari kantongnya dan memasukkannya ke dalam mobilĀ "sekarang dia pimpinan geng"
"Hahaha tidak heran gue." Ucapnya mengembalikan hp Afkar "lo sudah gak nyebat?" Afkar mengangguk "Kenapa mereka tidak di keluarkan karena kepala sekolah sebelumnya kurang berkompeten, ya... Dia takut dengan orang tua yang memiliki latar belakang penting. Dan anak anak itu kebanyakan anak pejabat." jelas Angga
Angga bertanya karena tidak mencium aroma rokok dari tubuh Afkar. Afkar melemparkan satu permen.
"Pantas saja" Gumam Afkar dia melepas permen tangkai dari mulutnya kemudian menatap permen itu" Belajar berhenti gue, gue ada megang tanggung jawab seumur hidup" Afkar menghela nafas berat "senior juga kan?"
Angga tersedak permen dia melihat Afkar "gue harus tau informan lo"
Afkar terbahak dia memukul lengan Angga "gak bakal gue kasih tahu"
Dua pemuda itu tertawa sebelum menghela nafas panjang.
"Dia cewek yang gue temuin di mall?" Tanya Afkar, Angga menganggukkan kepalanya dia menatap lurus ke depan
"Hm" gumamnya "lo bawa rokok gak?"
"Gila apa gue? Gue yang razia masa gue yang bawa" kata Afkar, dia menepuk dadanya "Gue bukan Afkar yang dulu senior kenal"
Angga menendang kakinya membuat Afkar mengadu sakit, Angga mencibir dan berjalan lebih dulu
"Buruan urus masalah Bryan sebelum dia lulus." Kata Angga dia melambaikan tangannya tanpa melihat ke belakang.
__ADS_1
Dengan permen di mulutnya Angga kembali berjalan ke perpustakaan untuk berkumpul dengan yang lainnya.
Kakinya berhenti di depan meja tempat dua gadis duduk
"Boleh gabung?"
Lily yang fokus mencatat mendongak, baru akan menjawab Rosa sudah menjawab lebih dulu
"Tidak!" Angga mengangkat sebelah alisnya dia bisa merasakan permusuhan dari gadis berambut pendek itu
"Ga, lo dapat jawaban belum? Gak usah ngeda cewek tugas kita banyak!" Omel Ezra yang kebetulan juga dari luar.
"Emak tiri" gumamnya sambil menggaruk kepalanya, dia melirik Lily yang masih melihatnya. Angga mengambil beberapa kertas tempel milik Lily "kakak minta ini dulu, nanti kakak ganti"
Lily menggelengkan kepalanya "Ng..ngak usah gan-"
"Ngomong apa sih lo?" Rosa menyela dia melotot ke arah Lily, dia melihat Angga lagi "ganti se pack"
Angga melihat Lily yang merasa tidak enak "nanti gue ganti dua"
"Gak usah, Lily masih punya banyak"
Angga tersenyum kecil menepuk kepala Lily
"Kakak ganti!"
"Angga!" Panggil Ezra kesal
"Iya iya ke sana gue" dia menghela nafas panjang dan berjalan mendekat saat sampai kepalanya di pukul kertas oleh Ezra.
Lily yang dari tadi memperhatikan terkejut melihatnya
Apa laki laki suka main kasar?
"Lo jangan mau mau saja digombalin sama senior, kalo lo di mainin siapa yang sakit hati? Belajar saja yang benar" Rosa berkata sambil terus menulis "lo gak ada siapa siapa jadi lo harus bergantung sama diri lo sendiri"
Lily melihatnya dan menganggukkan kepalanya, dia takjub dengan Rosa bagaimana dia mengatakan hal seperti itu tanpa merubah ekspresinya.
Senyum mengembang di bibir Lily, meski terkesan kasar tapi Rosa adalah orang yang memperhatikan kebaikan dirinya.
"Terimah kasih"
"Hah?" Rosa menoleh menatapnya, dia mendengus melihat senyum Lily "lo itu terlalu bo.doh!"
"Hehehe aku tahu kok!"
Rosa berdecih dia kembali mencatat
"Bo.doh!"
*******
__ADS_1