
Para karyawan di lobi menatap ke arah Angga yang baru masuk sambil menggandeng tangan Lily, ini kali pertama atasan baru mereka itu membawa seorang gadis ke kantor.
Mata resepsionis membulat, mereka sangat mengenal siapa gadis yang di gandeng sang boss. Meski belakangan dia tidak pernah datang lagi, tapi mereka sangat yakin kalau dia gadis itu.
Gadis pengantar makan siang!
Memang sih diantara banyaknya gadis yang mengantar makan siang untuk Angga, yang di terima hanya dari gadis itu.
Lily merapatkan dirinya "Kak, ini Lily gak masalah ikut ke sini?"
"Kenapa harus masalah?" tanya Angga. Lily tidak menjawab tapi melirik orang orang yang melihat ke arah mereka, dia tidak suka jadi pusat perhatian.
Mengerti kegelisahan gadis itu, Angga menggenggam tangannya memasukkannya ke saku jasnya. Dia tersenyum ke arah Lily begitu dia dilihat, mata Angga kemudian berpindah ke para Karyawan, memperingati mereka dengan tatapan tajamnya.
Lily bernafas lega melihat orang yang berkerumun bubar satu persatu, dia juga melepaskan tangannya dari Angga. Lily mengangguk arah para resepsionis, mereka selalu menyambutnya ramah saat dia berkunjung untuk mengantar makan siang.
Tio terkejut melihat Angga membawa Lily ke kantor, ini pertama kalinya dia melakukan itu. Lily memang pernah sampai ke ruangan Angga, tapi saat itu Angga tidak sendirian tapi bersama teman temannya.
"Siang Om." sapa Lily lebih dulu.
"Siang, Bu!" balas Tio, dia juga menganggukkan kepalanya ke arah Angga. "Siang Pak!"
"Siang!" Angga membalas, dia meraih tangan Lily dan membawanya ke ruangannya. "Oh ya~" dia berhenti di depan sekretarisnya "Tolong belikan camilan untuk Istri saya."
"Kak, Lily bisa sendiri." cegah Lily. Dia merasa tidak enak pada sekretaris Angga, dia tidak biasa menyusahkan orang lain.
"Tidak, kamu di dalam temani kakak!" dia melihat ke arah sekretarisnya "Tolong ya!"
Begitu Angga dan Lily masuk, sekretaris itu mendekati Tio, "Pak, tadi saya tidak salah dengarkan? Pak Angga bilang istrinya?"
"Iya."
Mata sekretaris itu membulat, jiwa gosipnya langsung muncul "Hah? Kapan? Kok bisa?"
Tio hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia meminta sekretaris itu segera kembali ke kursinya. Dia juga mengatakan kalau sekretaris itu tidak perlu banyak bertanya, dia juga mengatakan kalau Angga belum mengatakan apa apa dia dilarang memberitahu siapa pun.
Lily mengelilingi ruangan Angga, mengambil salah satu buku yang ada di sana sambil menunggui Angga bekerja. Angga menopang dagunya, matanya tertuju ke arah Lily yang dengan sangat serius membaca buku di tangannya.
__ADS_1
Bagaimana bisa gadis itu betah membaca buku tebal membosankan?
Merasa diperhatikan Lily menoleh ke Angga, gadis itu mengangkat sebelah alisnya ke arah Angga.
"Kenapa?" tanyanya.
Angga menggelengkan kepalanya meminta gadis itu melanjutkan apa yang dia lakukan, Lily melihatnya sekilas dan menurut untuk melakukan kegiatannya kembali.
Tak lama sekretaris masuk membawa camilan untuk Lily, untuk Angga dia membawa pekerjaan. Dia juga memberitahu kalau jadwal selanjutnya ada pertemuan, Angga mengerti dan memintanya keluar lebih dulu.
"Kakak mau meeting?" tanya Lily saat sekretaris itu, Angga mengangguk sambil mengatur persiapan pertemuan.
"Iya, tapi kamu tidak masalah kan tinggal sendirian di sini?" Lily menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kakak keluar dulu. Kamu santai saja disini."
"Iya."
Angga mendekati Lily, menarik pelan kepala gadis itu mencium pipinya. Mata gadis itu membulat dia menatap Angga, cowok itu terkekeh pelan.
"Kamu di sini, kakak kerja dulu buat cari duit yang banyak. Kamu lulus kita pergi Honeymoon!"
****
Lily menoleh saat pintu terbuka, awalnya dia berfikir itu Angga tapi bukan. Seorang wanita parubaya masuk begitu saja, di belakangnya berjalan seorang wanita muda.
"Kamu siapa?" tanya wanita parubaya itu menatap Lily.
"Tante yang siapa?" Lily meletakkan bukunya, dia tidak mengenal siapa mereka dan karena tidak ada orang di luar jadi mereka baru masuk begitu saja. "Kak Angga lagi ada meeting, kalau ada keperluan tolong silahkan tunggu di luar."
"TIDAK SOPAN KAMU!" Lily tersentak mendengar bentakan itu "KAMU TIDAK TAU SIAPA SAYA? SAYA ADIK DARI YANG MEMBANGUN PERUSAHAAN INI!"
Lily mengkerutkan keningnya merasa bingung, Angga tidak pernah mengatakan kalau dia punya tante. Angga juga hanya menjelaskan kalau Ayahnya anak tunggal, lalu siapa perempuan di depannya?
Wanita itu langsung duduk tanpa di persilahkan pun dengan wanita muda yang bersamanya, mereka menatap Lily dari atas ke bawah.
"Apa yang kamu lakukan? Siapkan minum." suruh wanita muda itu.
"Tidak, Saya bu-"
__ADS_1
"Buruan! Ck dasar tidak becus. Kamu mau di pecat ha?'" dia menumpukan kakinya arogan. "Dan lagi apa yang kamu lakukan di dalam ruangan ini saat bos mu tidak ada? Kamu mau menggodanya?"
"Ah?"
"Ngapain masih di situ? Kamu cepat buatkan air!" Meski Lily masih bingung dia melangkah ke meja Angga untuk menelfon "APA YANG KAMU LAKUKAN DI SANA?"
"Saya mau telfon OB untuk membuat minum!" jawab Lily
Wanita itu berdecak, dia dengan kesal berdiri dan menarik Lily "Gue suruh lo yang bikin, BUKAN OB! Gitu aja gak tahu."
"Tapi saya bu-"
"Buruan!" dia mendorong Lily keluar ruangan itu.
Lily hanya menghela nafas panjang, dia bukan karyawan di sana tapi tidak diberi kesempatan menjelaskan dirinya. Dia pada akhirnya berjalan ke pantri kantor untuk membuat air panas untuk tamu, dia menatap gelas gelas itu dalam diam.
Dia tidak tahu harus membuat apa!
Dua wanita itu membuat Lily kurang nyaman, tapi kalau memang dia kerabat Angga dia harus terbiasa. Tapi dia antara dua wanita itu, Lily paling tidak nyaman dengan wanita yang mendorongnya tadi, dia bertingkah seperti seorang bos!
Menyebalkan!
Lily bukanlah gadis lemah, tapi mendengar kalau mereka keluarga Angga dia memilih tidak terlalu melawan. Lily menjulurkan tangannya mengambil kopi instan, di sobeknya dan dimasukkan ke dalam gelas.
"Loh, Ibu bos sedang apa di sini?" Sekretaris yang membuat kopi terkejut melihat Lily, dia melihat apa yang ada di tangan Lily "Biar saya saja ya bawa, bu!"
Lily menggelengkan kepalanya "Terima kasih, tapi saya masih bisa membawanya. Kalau mbak di sini, apa rapatnya sudah selesai?"
"Sudah, bapak juga sekarang ada di ruangannya." jawab Sekretaris itu.
Dia melirik Lily yang berjalan di sampingnya, tubuhnya kecil dan bahkan terlihat jelas bahwa dia masih anak anak, tapi mengapa ekspresinya dewasa sekali? Bukan hanya Lily, tapi Atasannya tidak jauh berbeda bahkan levelnya jauh lebih tinggi.
Lily masuk ke dalam ruangan Angga kembali, dia terkejut saat Angga berdiri dan berjalan ke arahnya. Dia mengambil alih nampan di tangannya, yang membuat Lily cemas wajah Angga tampak dingin.
"Angga apa yang kamu lakukan? Biarkan dia melakukan pekerjaannya!" tegur wanita tua itu. "KAMU! Bagaimana bisa kamu membiarkan bos melakukan pekerjaan ren-"
"Tidak ada pekerjaan rendahan." Angga melihatnya dan memberi isyarat agar dia duduk.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih berdiri di sana? Cepat keluar!" wanita tua bersedekap dada mengusirnya "Dia benar benar tidak sopan, bagaimana dia bisa seenaknya santai d-"
"Sayang! kemari sini."