
Tahun ajaran baru sekarang di mulai, sama halnya dengan siswa pada umumnya Lily juga mempersiapkan banyak hal. Tapi berbeda dengan yang lain yang hanya mempersiapkan perlengkapan baru, Lily lebih banyak yang harus di persiapkan karena dia juga akan melakukan olimpiade.
"Yo Lily yo!"
Lily menoleh dan mendapati beberapa senior yang harusnya sudah lulus, tapi kenapa mereka malah dengan santainya datang? Hari, Niel, Ezra dan Dwi berjalan berdampingan sedangkan Angga berjalan di belakang mereka, senyumnya mereka melihat Lily yang berdiri kaget di tempatnya.
"Kenapa ke sini?" Lily bertanya begitu Angga tiba di depannya. Angga menatap wajah mungil yang beberapa hari ini bersamanya, dia menyerahkan bingkisan ke Lily "Apa ini?"
"Hadiah kenaikan kelas, kemarin kakak ngak sempat kasih!"
Lily menerima bingkisan itu sambil berterima kasih, sebenarnya dia penasaran dengan apa isinya, tapi dia mengurungkan niatnya dan menyimpannya untuk nanti. Karena bingkisan itu cukup berat dan sepertinya benda yang tidak bisa di banting, jadi dia menyimpannya dengan sangat hati hati dalam tasnya.
"Kenapa orang yang sudah lulus ada di sini?" sinis Rosa yang baru datang, tapi seperti sudah terbiasa mereka hanya menyengir menanggapi.
"Lilyana, Rosa cepat bersiap!" salah satu teman mereka di persiapan OSN mendatangi mereka, tapi sedikit terkejut melihat Angga "Siang kak!"
"Siang!" Angga mengangguk menanggapi, mereka kemudian menuju tempat di mana mereka bisa melihat para siswa yang akan melakukan OSN.
Di depan mereka terdapat layar besar, di mana mereka mengawasi jalannya Olimpiade. Angga duduk sambil bersilang kaki, matanya fokus ke layar di mana ada Lily di tampakkan.
Dia lumayan percaya diri!
"Ah! Senior?" Angga mendongak dan mendapati Kennan di sana.
"Mau ngeliat murid murid lo?" tanya Angga, dia mempersilahkan Kennan duduk di sampingnya.
"Ya!"
Kennan mengambil duduk di samping Angga, dia membuka kertas yang sempat di berikan pak Juan sebelum dia duduk tadi. Itu adalah soal OSN yang tersisa, dia memperhatikan soal soal itu.
"Bagaimana?" tanya Angga pada Kennan, Kennan menatapnya "Soalnya susah?"
"Iya." Kennan memperlihatkan soal di tangannya "Tapi tidak akan sulit kalau menemukan rumus simple-nya." jelas Kennan.
"Kalau Lily, menurutmu apa dia bisa mengerjakannya?"
Kennan menutup kertas di tangannya dan menatap layar "Ya, tapi mungkin butuh waktu."
Mereka berdua memperhatikan perwakilan sekolah mereka dengan tenang, karena di ruangan itu bukan hanya mereka saja. Angga membuka kembali kertas di tangannya, mengambil pulpen yang selalu ada di sakunya, dia berlahan mengerjakan soal matematika dan fisika.
Pemilik nilai terbaik se-sekolah memang beda.
"Pengumuman penilainnya kapan?" Tanya Angga dia menopang dagunya.
__ADS_1
"Kemungkinan minggu depan." Kennan mencoret salah satu jawaban di kertas dan pindah ke soal berikutnya "Banyak yang harus dinilai, jadi akan memakan waktu. Senior lebih tau soal ini."
Angga mangguk mangguk "Kenapa lo gak ikut olimpiade atau sejenisnya? Itu penilaian tambahan saat masuk universitas."
Kennan mengedikkan bahunya "Terlalu melelahkan."
Dia melirik adik kelasnya itu, wajah datar Kennan tidak ada yang berubah. Hari ini Kennan malah terlihat lebih suram dari biasanya, mungkin dia masih merasa kurang untuk liburannya.
Itu yang dia pikirkan Angga!
"Padahal lo punya peluang yang bagus." ucap Angga, Kennan hanya terkekeh pelan, tapi dia tidak mengatakan apa apa.
***
Lily meregangkan tubuhnya, otaknya serasa ingin meledak rasanya karena berfikir terlalu banyak. Waktu yang di berikan sudah habis dan lembar jawaban mereka sudah di kumpulkan, beruntungnya dia sudah menyelesaikan semua pertanyaan yang ada.
"Kakak!" Lily berlari pelan ke arah Angga yang sudah menunggu di luar ruangan "Kakak masih di sini? Tidak kerja memangnya?"
"Kerja. Tapi agak siangan lagi." dia menepuk kepala Lily "Apa sulit?"
Lily memasang wajah lelah "Sangat sulit." lirihnya, matanya melihat sekitar "Teman teman kakak di mana?"
"Mereka ke kantin dari pagi tadi."
Angga mengkerutkan keningnya saat seorang gadis yang berasal dari sekolah lain berdiri di belakang Lily, melihat kerutan itu Lily menoleh ke belakang.
Seorang gadis dengan kulit yang putih, bulu mata lentik, bibirnya semerah ceri, sangat cantik. Lily yang wanita pun, mengakui kecantikannya.
"Pacarnya Atar!" sapa Lily
Gadis itu kelabakan, dia dengan cepat menggelengkan kepalanya, dia juga mengatakan kalau dia dan Atar bukan pasangan lagi. Angga memicingkan matanya menatap perempuan itu, perempuan yang pernah membuat tanda di wajah mulus Lily-nya.
"Kenapa menemuiku?" tanya Lily.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, dia tidak mengatakan apa apa. Matanya melirik Angga, seolah meminta cowok itu meninggalkan mereka berdua untuk bicara.
"Tidak bisa." Angga merangkul Lily, dagunya terangkat sombong. "Kenapa gue harus pergi? Gue gak bisa jamin kalau lo gak mukul Lily-ku lagi."
Lily-Ku?
Semburat merah langsung terlihat dari wajah, hingga ke leher dan telinga Lily. Dia merasa malu mendengar kata itu dari Angga, dengan cepat dia mendorongnya.
"Kakak ke sana gih."
__ADS_1
"Tapi Li?" Lily menggelengkan kepalanya, matanya dengan serius menatap Angga. "Oke." dia menoleh ke arah cewek di depannya "Gue bakal ngawasin!"
Sepeninggal Angga, Lily mengajak gadis itu ke tempat yang lebih nyaman untuk bicara. Meski wajahnya masih memerah karena malu, dia tetap harus menatap gadis di depannya.
"Mau bicara apa?" Lily mempersilahkannya duduk. Gadis itu duduk tanpa mengatakan apa apa.
"Gue Cindy." ucapnya
"Saya Lily." kata Lily. "Apa ini soal Atar?"
Cindy tersentak tapi langsung menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Gue mau mInta maaf, hari itu gue kesal dan mukul lo."
Lily memperhatikan Cindy, gadis itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Apa yang terjadi padanya?
"Apa Atar yang meminta kamu minta maaf?" tanya Lily
Gadis itu menghela nafas, dia mengangkat pandangannya menatap langit "Sejak hari itu, melihat wajahku saja kayaknya dia ogah!"
"Hah?"
Cindy menoleh ke arahnya "Gue pantas kok ngedapatin perlakuan seperti itu. Gue selalu bertindak sesuka hati, nyakitin semua cewek yang dekat dengan Atar."
"Itu karena kamu sangat suka sama Atar kan?" Cindy tersentak, dia tidak percaya Lily mengatakan itu. "Meski cara kamu sedikit ekstrim, dan tidak benar!"
"Iya. Gue baru sadar akhir akhir ini." dia menghela nafas "Sebenarnya gue malu ketemu lo, tapi gue harus minta maafkan?"
"Saya juga minta maaf. Karena saya, kamu dan Atar putus." Lily berucap lirih, dia memang merasa sangat bersalah soal ini. "Tapi saya dan Atar benar benar tidak hubungan apa apa, kami saudara dan tidak lebih."
"Iya, gue percaya." Cindy tersenyum ke arah Lily "Gue saja yang berlebihan. Gue berusaha berubah."
"Untuk Atar?"
Cindy menggelengkan kepalanya "Bukan. Ini untuk diri gue sendiri, gue juga tidak bisa mengharapkan Atar, dia berhak dengan cewek yang lebih baik."
*****
Lily's back!
Minal aidin, maaf lahir batin!
__ADS_1
Hehehe.... Baru bisa up sekarang, jadi maaf keun daku.