
Lily mematikan telfonnya setelah meminta izin pada Angga, dia mendongak menatap Atar yang sudah menunggunya.
"Sudah?" Lily menganggukkan kelapalanya, Atar melirik ke jok belakang "Ayo buru naik!"
Lily memperbaiki letak selempangnya, dia dengan cepat ikut ke Atar. Hari ini dia diberitahu oleh Alga kalau resto tutup, kebetulan sekali Atar lewat jadinya dia menghentikannya untuk ikut.
Begitu tiba di rumah Atar, Lily langsung ke dapur mencari keberadaan Mama angkatnya. Dia mengelilingi dapur, tapi tidak menemukan siapa siapa.
"Mama mana?" tanya Lily sambil berjalan keluar, Atar yang baru turun dari kamarnya hanya mengedikkan bahu. "Kok tidak tau? Mam mana?"
"Ngak tau, Na!" Atar mengambil kunci motornya, melihat itu Lily cemberut.
"Kemana?"
"Ke tempat anak anak!" dia menoleh ke Lily "Mau ikut gak?"
"Ikut." Lily mengambil kembali tas selempangnya yang sempat dia taruh di sofa, memakainya sambil mengikuti Atar keluar rumah. "Tapi singgah di mini market ya, Lily mau beli ciki dulu."
Seperti permintaan Lily, mereka berdua singgah di mini market dekat tempat Atar dan teman temannya janjian. Lily menyodorkan keranjang ke Atar sedangkan dia memilih jajanan apa yang akan dia beli.
"Kamu pilih apa yang mau kamu makan." ucap Lily, dia mengambil keranjang lainnya.
"Males ah, Na. Palingan yang ngabisin si Anis." keluh Atar, dia hendak meletakkannya tapi di cegah Lily. "Aku bayar sendiri tapi."
"Kamu ngak mau sekali aku traktir ya." Lily mendengus tapi tangannya sudah mengumpulkan makanannya.
Atar hanya mengekor "Aku laki laki, Na. Malu kali di jajanin cewek, apalagi uang kamu kan yang nyari Angga."
Lily menoleh ke arahnya "Emang sih, tapi kak Angga bebasin Lily kok. Lagian masa Lily mulu yang ditraktir."
Atar mendorong kepalanya pelan, Lily berbalik menendang pelan lututnya.
"Ngajak ribut banget sih nih anak." Atar mengelus kakinya yang di tendang Lily, gadis itu menyeringai. "Beneran ngajak ribut!"
"Ngak usah drama, buruan." Atar tidak menjawab apa apa lagi, dia hanya langsung berdiri dan mengikuti Lily dengan patuh.
Posisi Lily itu hampir sama dengan Mamanya, tak terbantahkan. Membantah Lily sama dengan cari masalah sama sang Mama, dia harus siap siap kena omel berjam jam.
Mereka memilih jajanan sambil sesekali bertengkar kecil, Lily suka jajan sedangkan Atar suka mengeluh padanya. Dan tanpa mereka berdua ketahui, dua orang mengikuti mereka dari belakang.
"Wihh... Banyak banget kartu di dompetmu." Ucap Atar yang tidak sengaja melihat saat Lily membuka dompetnya, Lily tidak mengatakan apa apa, dia hanya menyikut perut Atar menyuruhnya diam.
"Terimah kasih Mbak." Lily menerima belanjaannya, dia berbalik dan menyerahkan ke Angga "Bawa!"
"Sekarang aku curiga, kamu memintaku ikut untuk jadi babu kan?" Atar berjalan lebih dulu, membuka pintu untuk mereka berdua.
"Pintar!"
Atar mendengus membuat Lily tertawa, Angga menggantung jajanan mereka dan menyerahkan helm ke Lily. Begitu dia hendak menyalakan motor hapenya berdering, Atar melihat ID pemanggil sebelum turun kembali dari motor.
"Sebentar, aku angkat telfon dulu."
Lily melihat punggung Atar yang berjalan sedikit menjauh, sambil menunggu Atar, Lily juga mengeluarkan hape miliknya untuk memberitahu Angga kalau dia sekarang jalan jalan sama Atar.
Atar kembali bersamaan dengan balasan Angga, melihat itu Atar mendorong pelan kepalanya
"Nyengir mulu Mbak." ledeknya, Lily mendengus tidak mengatakan apa apa "Dapat duit tambahan ya?"
"Ngak lah. Orang belum gajian." jawabnya, dia mendongak menatap Atar "Kusut amat tuh muka. Kenapa?"
"Bukan apa apa." Dia menaiki kembali motornya "Ayo, mereka menunggu kita."
__ADS_1
Lily menganggukkan kepalanya, dia langsung kembali naik ke motor juga.
"Yanaaa...." Lily tertawa begitu dia turun dari motor dan disambut sahutan sahabat SMPnya itu.
"Minggir minggir." Atar memisahkan para gadis itu, dia sengaja melewati mereka.
"Apasih!" Abel memukul pundaknya, Atar meringis karena sudah entah keberapa kalinya dia mendapat tabokan dari cewek hari ini.
Dia meletekkan jajanan di atas meja, Anis yang melihat itu langsung mendekat.
"Banyak duit nih bulan." Dia mengambil dua bungkus kentang goreng balado, Atar memukul tangganya. "Pelit amat lo."
"Bukan punya gue." Dia memberi isyarat, menunjuk Lily dengan lirikan matanya.
"Na... Ini buat aku!" Lily yang melihatnya menganggukkan kepalanya "Tapi ini serius banyak banget, gak bokek emang?"
"Ya syukurlah!" Seru Abel yang berjalan bersama yang lainnya mendekati mereka. "Hahaha... Pesta ciki kita."
"Banyak banget, Na." bisik Geby, Sera yang disampingnya mengangguk setuju.
Lily menggelengkan kepalanya sambil menarik salah satu kursi, dia duduk di samping Atar. "Tidak apa, kebetulan aku punya uang lebih."
"Harusnya Atar aja kamu porotin" kata Sera, Atar langsung mencibir tidak terima. "Kan kamu bank berjalannya Lily."
"Tidak terimah kasih." Atar membuka snack di depannya "Sekarang dia lebih kaya dari kita kita."
"Kamu gak jual narkoba kan, Na?" dia langsung memegang kepalanya yang dipukul Atar tiba tiba. "Shh... Sakit Ege, lagian gue bercanda kali. Sumpah lo siscon!"
Lily tertawa pelan "Aku akan kerja di resto seniorku. Kebetulan bulan kemarin gajinya dapat bonus." Lily memilah milah jajanan favoritnya.
Sera merangkul lengannya "Hanya, jangan terlalu capek ya Li. Kamu masih muda, main main sedikit tidak apa."
"Hm." Dia menganggukkan kepalanya "Kerjaku santai kok, rekan kerja juga baik baik semua." ucapnya.
Gebi menunjuk Atar dengan cokicoki di tangannya "Senior kamu suka kamu kali ya."
Lily menatap temannya itu aneh "Kak Alga tau aku punya pacar. Kak Angga selalu jemput juga kalau aku pulang kerja." jelas Lily "Kak Alga juga sepertinya ada yang disukainya."
"What?" Abel menepuk meja, mereka semua menatapnya "Yaa.. Padahal mau deketin!"
"Mimpi lo." Anis memukul lengan sepupunya itu, dia menariknya duduk "Gak usah jauh jauh si Bel, noh... Mang Dirma masih jomblo!"
Mereka semua terkekeh, Mang Dirma adalah Satpam sekolah pas SMP, mereka suka bercanda dengannya pun sebaliknya.
"Kamu gak senang sekali lihat sepupu sendiri senang."
Anis merangkul Abel "Soalnya mimpi lo ketinggian, lagian ya bosnya Lily itu lumayan ganteng. Emang mau sama elu?"
Abel dengan kesal menyikut Anis, cowok itu hanya bisa mengumpat kesal. Melihat pertengkaran sepupu itu, mereka hanya menggelengkan kepala sudah biasa.
"Pacar kamu sudah kelas dua belaskan Li?" Lily mengangguk atas pertanyaa. Sera "Lanjut dimana?".
Lily menyebutkan nama universitasnya "Kenapa?"
"Tidak hanya penasaran saja, kamu sendiri rencana mau lanjut dimana?" Tanya Sera lagi "Kali saja kuliah nanti kita bisa bareng lagi."
Lily meminum minuman di depannya sebelum menjawab "Rencananya di univ yang sama dengan kak Angga, tapi beda jurusan."
"Kamu masih mau jadi dokter?" tanya Atar, dia mengelap remah di pipi Lily, dia sudah biasa mengurus Lily yang mungkin akan selalu jadi anak kecil di matanya.
Lily mengiyakan, tangannya menarik tisu "Emang dari dulu aku selalu mau jadi dokter kan?"
__ADS_1
"Sekalian biar bisa bareng pacar juga ya?" Gebi menaik turunkan alisnya menggoda Lily, gadis itu hanya tertawa
"Iya."
"Ngaku lagi." cibir Atar, dia masih kurang terima kenyataan Lily menikah. "Awas saja kamu tidak fokus"
"Aww.. Sakit." Dia memukul lengan Atar yang mencubit pipinya.
"OH JADI GINI YA ORANG SIBUK!" mereka semua menoleh, tidak jauh dari mereka berdiri cewek berkecak pinggang.
"Siapa?" Tanya Lily pada Sera karena Atar sudah berdiri lebih dulu.
Cewek itu mendekat, dia menatap Atar sebelum melihat Lily. Merasa bingung karena di tatapi tajam, berlahan dia juga berdiri karena sepertinya orang itu akan bicara padanya.
PLAK-
Lily yang belum berdiri tegap terpaling kesamping, dia syok tentu saja.
"HEH CEWEK GATAL, DIA INI COWOK GUE. DASAR PELAKOR"
"Na!" Atar membantu Lily berdiri "Lo apaan sih Cindy?" Dia menatap cewek yang baru saja memukul Lily tajam.
"LO YANG APA APAAN? LO BILANG LO GAK BISA KETEMU SAMA GUE KARENA SIBUK. TERNYATA LO SIBUK SELIN-"
Plak
Lily menamparnya kembali, dia melihat Atar "Dia pacar kamu?" Dia bertanya dengan nada pelan, Atar menganggukkan kepalanya.
"LO! PEL-"
Anis menariknya agar tidak mendekati Lily, sedangkan yang lainnya menatap cewek itu kasihan. Mereka salah labrak orang, kalau mereka dari SMP yang sama pasti tahu kenapa.
"LEPASIN GUE! KALIAN SEBAGAI TEMAN HARUSNYA NGINGATIN TEMAN BRENG*EK LO. BIAR GUE JAMBAK TUH CEWEK KEGATELAN, LA-"
"Cindy!" Atar melihatnya menyuruhnya diam
"APA? LO MAU BELAIN TUH PELAKOR HA? BANG*AT MEMANG LO. LA*UR"
Plak!
Lily kembali menamparnya, kali ini tidak ada ekspresi yang nampak dari wajahnya. Abel menariknya supaya menjauhi Cindy, mereka sudah jadi tontona.
"Atar!" Lily memanggil dengan nada yang rendah, Atar melihatnya, Lily balas menatapnya.
"Aku tahu." Ucap Atar seolah mengerti apa maksud tatapan Lily, dia menatap Cindy. "Kita putus."
Dia mengambil tasnya, menggandeng tangan Lily membawanya pergi. Di belakang mereka Cindy terus berseru dari mereka, Atar menoleh ke Gebi
Gebi mengacungkan jempolnya dan membiarkan mereka pergi. Gebi berdiri di depan Cindy, menghela nafas panjang.
"Harusnya lo cari tahu dulu, bukan asal labrak." ucap Gebi, Sera menganggukkan kepalanya.
Abel yang selesai mengemasi barang barang mereka ikut mendekat, dia menatap Cindy kasihan.
"Lo salah labrak, lo bisa labrak semua cewek yang dekat dengan Atar, tapi tidak cewek tadi. Lo ceroboh tau gak."
Sera memberi isyarat agar Anis melepaskannya. Dia juga berkata pada Cindy "Lo mungkin tidak tahu karena beda SMP, tapi bukan lo cewek pertama yang ngelabrak dia dan semuanya di putusin Atar." Dia menatap Cindy serius "Dia sama berharganya dengan Ibu Atar, bagi Atar cewek itu seperti anaknya."
"Dia..." mata Cindy bergetar.
Anis mengangguk "Dia saudara Atar yang paling berharga. Kami sudah pernah bilang sama lo, jangan lewati batas."
__ADS_1
Abel menepuk lengan Cindy "Lain kali, sebelum bertindak cari tahu dulu. Lagian cewek tadi sudah ada pacar." Mereka menghela nafas, kasihan tap tidak tahu harus apa.