Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 80


__ADS_3

Lily yang baru memasak makan malam meletakkan makanan di depan Angga, mereka sudah tiba di kosan sejak sore tadi. Angga dengan cepat mematikan laptopnya, dia mengambil piring dan gelas untuk mereka.


"Kak, itu laptopnya jangan taruh di situ." Lily menunjuk laptop Angga yang masih di meja "Kena air nanti rusak!"


"Oke Nyonya!" Angga yang baru mengambil air mengambil cepat laptopnya, dia menyimpannya di dalam kamar mereka.


Karena kosan Angga kecil dan hanya ada satu kamar, jadi mau tidak mau mereka satu kasur. Angga menggaruk kepalanya menatap kasur di depannya, ya mau bagaimana lagi?


"Alamat mandi air dingin lagi ini."


"Kakak!" Suara Lily terdengar dari luar, Angga dengan cepat meninggalkan tempatnya.


"Kakak ke sana." jawabnya.


Lily melihat Angga yang baru keluar, dia tersenyum kecil "Ayo makan!"


Angga langsung duduk di depan Lily, sudah seminggu ini dia makan seadanya karena tinggal sendirian. Jadi, melihat semua masakan Lily di atas meja, dia sudah sangat tidak sabar di tambah cacing di perutnya juga sudah mendemo.


Lily tersenyum melihat bagaimana Angga makan dengan lahap, seminggu ini dia juga mengkhawatirkan makan Angga. Merasa di perhatikan Angga mendongak menatapnya, dia menggeleng saat di tanyai kenapa dia melihat Angga.


"Kak!"


"Hm?" Angga memasukkan makanan dalam mulutnya, dia menunggu ucapan Lily "Kenapa?"


"Itu soal tadi siang, itu..."


"Itu?"


Lily menatap Angga "Lily tidak punya saham, kenapa tadi kakak mengatakan itu? Kan bohong!"


Angga meletakkan alat makanannya, dia menatap Lily. "Li, kakak minta maaf karena berbohong. Alasan kakak menggunakan nama kamu itu untuk antisipasi." dia menggenggam tangan Lily "Tapi berkas tadi itu benar, kamu bisa memeriksa keabsahannya. Apapun milik kakak itu juga milik kamu, karena itu kakak membalik namakan semua properti atas namamu."


Lily membulatkan matanya kaget "Kakak kenapa bodoh sekali?!"


"Apa?" Angga terkejut mendengar ucapan Lily "Kenapa kamu?"


"Kakak tidak bisa melakukan itu, bagaimana bisa kakak percaya Lily begitu saja? Bagaimana kalau Lily menyalahgunakannya?"

__ADS_1


Angga terkekeh "Li, pondasi sebuah keluarga adalah kepercayaan dan kesetiaan. Ayah selalu mengatakan itu." tetap saja Lily cemberut "Tenang saja, ada beberapa properti yang tidak akan kakak balik namakan atas namamu, jadi kalau kamu menyalahkan properti dan saham, kita tetap masih ada tempat untuk tinggal. Kakak bisa berkebun!"


"Kakak!" seru Lily "Ini tidak lucu."


"Iya iya." Dia menyodorkan makanan ke depan Lily. "Makan lebih banyak, kita bicara lagi setelah makan."


Selesai makan malam mereka kembali ke kamar, karema di kosan itu tidak ada tv jadi Lily menonton drama lewat ponsel. Angga yang duduk di sampingnya kembali bekerja, mereka juga sudah biasa saling diam saat salah satu dari mereka sedang sibuk.


"Saat kembali masuk sekolah, kamu sudah olimpiade kan?"


Lily hanya mengangguk sebagai jawaban iya, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari drama.


"Li, soal yang kamu bilang tadi..." Lily langsung mempause dramanya, dia melihat Angga "Kamu tidak perlu khawatir, seperti yang kakak katakan tadi, kakak tidak membalikkan semua atas namamu."


Angga menghentikan tangannya dari mengetik, dia melihat Lily serius. "Bahkan jika kamu melarikan diri dengan semua itu, kakak tidak akan jatuh miskin seketika. Kakak masih mempunyai usaha sendiri."


Ya, meski sebelumnya Angga tidak tertarik dengan bisnis, Ayahnya tetap memberikan sesuatu untuk dia kelola. Meski tidak sebesar milik Ayahnya, Angga masih mengurusnya juga dulu, tapi sekarang dia mempercayakannya pada kepercayaannya.


Dan lagi Ayahnya membangun beberapa bisnis, dia juga tidak berniat membaliknamakan semua menjadi milik Lily. Angga itu cerdas dan memiliki banyak perencanaan, dia sudah memikirkan semuanya bahkan sebelum Lily marah marah.


"Kakak punya pundi pundi tabungan di tempat lain, kamu tidak perlu khawatir."


"Kakak juga melakukan itu karena kakak tidak bisa menjamin diri kakak sendiri." Angga tersenyum ke arahnya, dia memainkan rambut Lily "Kakak juga takut, Li. Kakak takut kedepannya akan berubah, kakak tidak ingin kamu sendirian tanpa apa apa."


"Kakak ada rencana mau ninggalin Lily ya?" Gadis itu menatap Angga, Angga langsung kelabakan karena tidak bermaksud seperti itu "Apa Lily terlalu membebani?"


"Lily!" Angga menarik tangan Lily mendekatkan mereka, dia menatap Lily yang menyendu "Kakak minta maaf kalau ucapan kakak membuatmu berfikir seperti itu, tapi kakak tidak ada maksud."


"Lily tidak mau sendirian." Lily menempelkan kepalanya di bahu Angga "Itu menyakitkan!"


"Kakak minta maaf." dia mengusap punggung Lily "Kakak minta maaf, Li. Kakak benar benar tidak bermaksud, kakak hanya mengatakan kekhawatiran terbesar kakak saat ini. Jangan menangis!"


"Lily juga minta maaf." dia mengendurkan pelukannya "Lily hanya takut sendirian."


"Hm, kakak tahu!" dia mencium kening Lily "Kamu tidur ya, sudah larut."


***

__ADS_1


Bukh


Seseorang terlempar mengenai dinding, wajahnya sudah babak belur dan ada rembesan darah di wajahnya. Orang orang yang ada dalam ruangan itu hanya bisa histeris melihatnya.


"Apa yang kamu lakukan? Itu sepupumu!" Pria tua itu sampai bergetar menahan amarah melihat pemandangan di depannya.


Lyz-pelaku hanya berdiri tanpa raut wajah bersalah, dia melihat kakeknya acuh tak acuh.


"LIZ LAURENZ!"


Liz mendengus "Sudah kukatakan jangan gali masa laluku bukan? Jangan usik satu satunya keluargaku." Liz memasukkan pisau kecil di tempatnya "aku benar benar bisa membunuhnya tanpa berkedip."


"Kamu! Kamu! Sebenarnya apa yang kamu pelajari di luar negeri? Kamu tega bahkan dengan keluargamu!"


Liz terbahak mendengar ucapan itu, sedetik kemudian wajahnya berubah dingin "Aku mempelajarinya darimu, Kek!" dia berjalan mendekat "Mengusir Putri bungsumu dari rumah hanya karena tidak mau menikah dengan pria tua yang kamu pilihkan," Liz mengangkat dua jarinya "Yang kedua, saat Dia meninggal kamu menyalahkan bayinya tidak berdosa dan merebut paksa putra sulungnya dan terakhir."


Dia berhenti di depan kakeknya, memandang pria yang duduk di sofa tunggal "Tidak bisa mengambil perusahaanmu, kakek mencari tahu tentang adikku, menghabisinya untuk memberiku peringatan." Liz terkekeh "Jadi pikir saja, darah dingin kakek menurun dari kakek! Sehelai rambut saja yang berkurang dari adikku karena keluarga ini... Jangan salahkan aku mengambil apa yang paling berharga bagi kakek!".


Liz melirik gadis kecil yang menatapnya dengan gemetar, merasakan pandangan Liz, ibu anak itu memeluk putrinya. Liz menyeringai dan berbalik pergi.


"Tuan muda!" sambut asistennya saat Liz keluar, dia menerima kaos tangan yang baru saja di buka Liz "Apa anda berniat kembali ke perusahaan."


"Ke rumah." Dia masuk ke dalam mobil miliknya. "Tetap awasi mereka, "Perketat pengawalan adikku, tapi jangan sampai ketahuan."


"Baik tuan!"


Liz membaringkan kepalanya di kursi mobil, kepalanya berdenyut nyeri.


***


Berhubung hari raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi, jadi untuk besok sampai selesai hari raya saya tidak akan update dulu ya.


Saya minta maaf sebelumnya, tapi saya akan sibuk untuk beberapa saat. Jadi waktu menulis tidak ada!


Dan saya ingin minta maaf kalau ada salah kata dan salah perbuatan sebelumnya, saya minta maaf!


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI untuk teman-teman yang menjalankannya.

__ADS_1


MINAL AIDIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN.


__ADS_2