
"Ini gak ada yang mau nambah lagi?" tanya Angga, mereka menggelengkan kepalanya. Angga berdiri "Ya udah gue bayar dulu deh."
Lily mengambil tasnya dan menyusul Angga, yang lainnya tidak memberi komentar apa apa lagi karena kekenyangan.
"Kakak ini!" Lily mengeluarkan kartu dari dompetnya ke arah Angga, cowok itu melihatnya sebelum menggelengkan kepalanya.
Dia mengambil kartu di dompetnya "Kakak masih ada uang, kamu simpan itu."
"Tapi~"
"Tidak apa apa." Dia memberikan kartunya ke kasir "Habis ini mau kemana?"
"Kakak tidak sibuk memang?" Angga menggelengkan kepalanya "Nanti tanya teman teman kakak saja mau kemana."
"Oh oke"
"Kak!"
"Hm?" Angga melihat Lily "Kenapa?"
"Kakak sudah membeli keperluan di kos? Kasur misalnya?" tanya Lily, Angga memiringkan kepalanya "Belum ada?"
Angga hanya menyengir "Belum."
Lily menghela nafas panjang "Ya udah besok Lily temenin cari." Dia melihat jam di hapenya "Pulang nanti kita catat apa apa saja yang perlu dibeli."
Selesai membayar mereka kembali bergabung, mereka berdebat sebentar untuk menentukan dimana tujuan mereka selanjutnya. Pada akhirnya yang memenangkan perdebatan adalah Nia, mereka akan ke taman hiburan, usulan para gadis.
"Sudahlah, lawan cewek tidak akan menang" Niel merangkul Hari "Yok lah masuk mobil."
"Gantian nyetir woi" seru Ezra, dia kesal karena menjadi sopir.
"Kami gak punya sim!"
Ezra hanya bisa pasrah lagi kali ini, memang hanya dia dan Angga yang punya SIM. sama seperti pengaturan sebelumnya, para cewek ikut di mobil Angga tapi kali ini mobilnya melaju lebih dulu.
"Baru kali ini gue ke taman hiburan!" Nurul berkata sambil meregangkan tubuhnya, mereka baru saja sampai.
"Aku juga." timpal Lily.
Mereka berdua saling melirik, kemudian berjalan lebih dulu masuk. Rosa dibelakangnya hanya bisa menghela nafas, dia menatap kedua temannya yang sangat kegirangan.
__ADS_1
"Kenapa lo tidak ikut dengan mereka?" Nia yang berdiri di sampingnya bertanya, Rosa meliriknya sebentar kemudian melihat ke temannya lagi "Lo jauh lebih diam. Tapi memang sih pertemanan tidak harus memiliki sifat yang sama."
Ngomong ngomong mereka sudah menggunakan pakaian biasa, karena memakai seragam sambil berkeliling kesana kemari kesannya kurang bagus.
"Li, jangan lari nanti jatuh!" tegur Angga, gadis itu melihatnya kemudian mengacungkan jempolnya. "Anak itu."
"Hahaha.... Angga masuk mode bapak!" ledek Hari, Angga meliriknya sekilas "Aduh!"
Dia memegang betisnya yang kena tendangan Angga, mendongak menatap Angga kesal tapi apa yang dia lihat adalah seringai puas dari Angga. Dia berdiri hendak membalas, tapi seperti yang semua tahu, reflek Angga sangatlah bagus.
"Kemari lo kamp*et, si*l sakit banget lagi dia nendang!" umpat Hari dia berusaha mengejar tapi Angga terus menghindar.
"Tingkah mereka kenapa kayak anak SMP sih? Malu maluin!" Nia hanya bisa menutup wajahnya "Kita cari makan saja!" Dia menarik tangan Rosa yang dari tadi tidak melakukan apa apa "Kakak ini akan mentraktir!"
"Eh!" Rosa hanya tersentak, dia tidak sempat merespon dan hanya di seret begitu saja.
"Dasar anak bungsu, sekarang dia bertingkah seperti seorang kakak!" komen Ezra melihat ke arah Nia dan Rosa pergi.
"Lah lo ngak kayak gitu." kata Dwi, Ezra menggertakkan giginya dan menatap tajam temannya "Apa?"
"Gue ngak ya?"
"Hanya gue yang waras!" Niel tertawa tawa meninggalkan mereka, dia ingin main sendiri.
Lily menarik tangan Angga, dia menunjuk permainan menembak yang punya hadiah utama boneka kelinci bertelinga merah muda. Lily sangat payah dalam permainan membidik, jadi dia akan meminta Angga memainkan untuknya.
"Li, Kakak gak bisa loh Menembaknya!" Angga berkata lebih dulu, dia takut membuat Lily kecewa karena tidak berhasil. "Jangan ngambek kalau kakak ngak berhasil."
"Kapan Lily pernah ngambek ke kakak? Tidak pernah."
"Siapa tau nanti kamu baru mau ngambek." Angga mengambil senapan yang di pakai di permainan itu, memasukkan pelurunya sesuai harga yang dia bayarkan.
"Lily tidak pernah ngambek ya." ucap Lily cemberut.
Angga terkekeh "Iya iya yang ngak pernah ngambek." Dia mengangkat senapannya, menutup sebelah matanya dan siap membidik.
"Duh disini banyak nyamuk!" keluh Nurul, Lily yang mendengarnya menoleh dan mengeluarkan lotion anti nyamuk. Nurul membulatkan matanya tidak percaya dan tertawa aneh. "Ha ha ha"
Angga benar benar tidak berhasil mendapatkan hadiah utama, jadi dia hanya menyerahkan hadiah kecil kecilannya beberapa boneka kecil dan gantungan kunci. Angga menatap boneka kelinci yang seolah meledeknya, dia sebenarnya tahu boneka itu sama sekali bukan hadiah tapi hanya penarik pelanggan.
"Maaf hanya itu." ucap Angga, Lily melihat mainan di tangannya kemudian mengangguk, dia bisa memberinya ke Farhan. "Ini kalian tidak ada yang mau naik wahana?"
__ADS_1
Mereka mendongak menatap orang orang yang berseru senang di wahana. Lily menggelengkan kepalanya pelan, dia sebenarnya lumayan takut ketinggian.
"Kamu mau naik wahana mana? Aku temenin!" Lily menoleh ke arah Nurul "Tapi aku tidak naik wahana."
"Ngak asiklah kalau hanya sendir- Oca mana?" tanyanya.
Lily juga melihat sekitar, kalau Nurul tidak bertanya dia mungkin akan lupa. Melihat kebingungan mereka, Angga memberitahu kalau teman mereka pergi dengan Nia.
Seperti yang Lily katakan, dia benar benar menemani Nurul naik wahana meskipun dia tidak ikut mencoba. Angga sudah tidak ada di sebelahnya, jadi dia hanya bisa berdiri di sana melihat Nurul dari bawah.
Tak lama sebuah eskrim muncul depan wajahnya, dia menoleh dan melihat Angga yang memberinya.
"Makan ini." suruh Angga
"Terima kasih!"
Angga menariknya mencari bangku yang tidak jauh dari tempat itu, Angga meletakkan jaketnya dan membiarkan Lily mendudukinya.
"Kenapa kamu tidak mau naik?"
"Hm?" Lily melihatnya dia tidak memdengar apa yang Angga tanyakan.
Angga mengangkat tangannya mengelap ice cream di sudut mulut Lily "Kakak tanya, kenapa kamu tidak mau naik wahana disini?"
"Itu... Lily.." Dia menjawab tapi rasanya malu juga, terlihat wajahnya memerah hingga ke telinga. "Lily takut sama tinggi." cicitnya.
Dia melahap ice cream di tangannya, mengingat sesuatu dia melihat Angga. Merasa diperhatikan cowok itu ikut menatap, tapi dengan ekpresi bingung.
Angga meraih tangan Lily bertanya dengan nada super lembut "Kenapa hm?"
"Kakak, kapan kakak akan mulai tinggal di kos?"
"Tidak lama lagi."
"Yang lebih jelasnya? Biar Lily bisa siapin barang kakak!"
Angga belum menjawab, dia hanya menatap Lily yang menggigit bibir bawahnya. Angga mengeratkan genggamannya tapi tidak sampai melukai Lily. Angga menarik perlahan tangannya agar Lily mendekat padanya, dia berbisik pada Lily
"Kita bahas ini di rumah ya." dia menatap lurus mata Lily "Tidak nyaman membahas itu disini."
"Hn!"
__ADS_1
"Bagus."