Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 36


__ADS_3

Angga menghentikan mobil di depan gerbang sekolah, dia hanya mengantar Lily yang akan ke sekolah.


"Turun kali senior, mentang mentang sudah UN" Afkar berujar sambil berjalan ke arahnya yang sedang melihat Lily masuk ke dalam sekolah.


"Sorry nih Kar, tapi level kita sudah beda" katanya sambil menyeringai, Afkar mendengus. "Kalian kan sebentar lagi kelas dua belas, Osis.. Kalian sudah melihat calon yang cocok?"


Afkar menghela nafas, dia menggaruk kepalanya dengan buku yang di gulung.


"Belum ada ya? Atau nunggu calon murid baru?"


"Kayaknya Kenzo tidak dilengserkan tahun ini" jawab Afkar, Angga mengangkat sebelah keningnya "Ini atas izin pak Juan dan kepala sekolah juga, masih banyak yang harus diselesaikan Osis."


"Sayang sekali" ucap Angga "tahun depan, Pak Juan juga selesai mengajarkan?"


"Hm, kontrak beliau kan cuma tiga tahun." Afkar menghela nafas "Padahal pekerjaanku bukan cuman mengurus Osis"


Angga tertawa melihat bagaimana adik kelasnya itu tertekan. Tak lama dia pamit, selain karena dia buru buru, Afkar juga sibuk dengan tugasnya.


Lily masuk ke kelasnya, semenjak kejadian hari itu, tidak ada yang benar benar berani mengganggunya. Memang masih ada yang tidak menyukainya, tapi tidak seperti dulu. Sekarang dia bisa berbicara dengan sebagian teman sekelasnya, bahkan sudah bisa tertawa, tidak seperti dulu dia sangat muram.


"Lo mau ikut seleksi hari ini kan?" Nurul yang baru masuk bertanya "Oca morning!"


Rosa mendengus tidak menjawab, Nurul hanya tertawa melihat balasan Rosa.


"Iya" jawab Lily, dia memperlihatkan tumpukan buku di depannya.


Nurul menyimpan tasnya sebelum mendekati Lily, dia menarik kursi menghadapkannya ke meja Lily.


"Sebenarnya untuk apa sih lo ikut begituan? Ngak pusing apa?" Nurul membuka lembaran buku Lily yang penuh rumus. "ughh... Kepalaku."


"Lily!" Rosa berdiri di depannya, Lily mendongak. Dengan jelas dia melihat wajah ketidak setujuan Rosa. "Lo nyabut beasiswa lo?"


Lily diam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya "Iya, tapi untuk tahun depan"


"Heh? Kenapa?" tanya Nurul, Lily diam. "Rugi Ly! Lo susah susah buat dapetin, kenapa lo lepas sih?"


"Kenapa kamu jadi bodoh? Lo lepas beasiswa lo, bagaimana lo lanjutnya ha?" tanya Rosa.


Lily menghela nafas menatap dua temannya, Lily kemudian mengatakan apa yang dikatakan Angga padanya tanpa membawa bawa Angga.


"Dan lo mau aja gitu?" Nurul berseru setelah mendengar penjelasan Lily.

__ADS_1


Lily menganggukkan kepalanya "Karena itu masuk akal. Banyak yang lebih membutuhkannya ketimbang aku. Masalah uang sekolah, Ayah sudah menyiapkan semuanya sebelum beliau pergi."


Lily tersenyum kecil, dia menoleh menghadap jendela kelas. Ah... Dia merindukan ayahnya sekarang.


Rosa duduk kemudian bersedekap dada "Kamu pikir, biaya lo cuman buat pendidikan? Lo gak mikir ya? Setidaknya lo bisa nabung kalau dapat beasiswa, biaya yang ditinggalkan bokap lo bisa lo pakai untuk keseharian lo" Nurul menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Rosa.


"Kamu benar!" Lily tersenyum "Tapi aku masih bisa kerja, juga wali ku yang sekarang setidaknya... Kalau untuk makan masih bisa mencukupi."


"Lo mau terus bergantung sama wali lo? Li, di dunia ini tidak ada yang gratis, jangan terlalu naif"


"Iya, aku tahu itu." Lily bingung bagaimana menjelaskannya, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia sudah menikah kan? Bisa bisa dia dikeluarkan dari sekolah. "Aku akan bekerja dan belajar lebih giat supaya bisa dengan cepat lulus"


"Bodoh"


"Ogeb" Nurul dan Rosa berseru bersamaan yang dibalas Lily dengan cengiran saja.


***


Jam istirahat, Rosa dan Lily pergi ke ruang klup. Hari ini mereka melakukan seleksi siapa yang akan ikut OSN.


"Kamu jangan sombong! Gue yang akan mewakili sekolah" Danu berujar begitu Lily masuk.


Lily hanya berlalu tidak peduli, sejak awal Danu selalu ingin bersaing dengannya.


"Berisik, mulut lo bau!" ucap Rosa, Danu melihatnya baru hendak membalas guru pembimbing sudah masuk. "Cowok kok bermulu cewek cabe" cibir Rosa sebelum berlalu.


Mereka duduk berdasarkan mata pelajaran yang mereka pilih, tapi karena takut adanya kerja sama, jadi mereka mengaturnya bercampur.


"Kerjakan soal dengan tenang, jangan ada yang berlaku curang."


"Ya buu!"


Tak lama pak Juan masuk dengan laptopnya, tanpa mengatakan apa apa dia langsung mengambil posisi tempat duduk pengawas.


"Saya sudah meminta izin dengan guru yang akan mengajar di kelas kalian" ucap pak Juan, dia melihat mereka satu persatu "Jadi kerjakan dengan tenang, waktu kalian hanya dua puluh menit."


Mereka menelan ludah, waktu hanya dua puluh menit sedangkan soal berjumlah tiga puluh lima nomor, dan itu tidak gampang.


"Kerjakan!" Mereka langsung menunduk "Ah jangan harap kalian bisa kerja sama, soal kalian tidak ada yang mirip" Juan menyeringai.


"Dia monster ya?" Dari belakang, Lily bisa mendengar gumaman salah satu seniornya.

__ADS_1


Menarik nafas panjang, Lily berlahan membuka soal miliknya. Dia menelan ludah berlahan sebelum bergumam


"Susah sekali"


Tapi selama ini dia sudah belajar dengan giat, dia pasti bisa. Berlahan dia mengambil pensil kertas untuk mencakar dan mengerjakannya dengan tenang.


Satu persatu dia mengerjakan soalnya, mula mula dia mengerjakan yang jauh lebih mudah. Karena terlalu befikir, keringat berlahan membasahi pelipisnya dan untung dia tisu.


Juan hanya melirik sesekali, matanya fokus ke layar laptopnya. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya sambil mencebik, membuat suasana makin tegang.


"Sudah dua puluh menit, kumpulkan!"


Lily memeriksa sekali lagi sebelum mengumpulkannya, ada sekitar tiga nomor yang tertinggal. Kalau saja waktu di tambah, mungkin dia bisa menyelesaikan semuanya.


Juan mengumpulkan kertas kertas itu, dia juga menutup laptopnya.


"Aku akan memberi tahu kalian hasilnya besok. Jadi bersabar saja." Juan menumpuk kertas itu "Kalian kembalilah ke kelas, ikuti pelajaran selanjutnya.


Rosa dan Lily berjalan berdampingan ke kelas, mereka terlihat sangat kelelahan.


"Katanya semua soal dibuat oleh pak Juan" beritahu Rosa, dia berjalan sangat lambat, mana kelas mereka ada di ujung.


"Semua?" Rosa menganggukkan kepalanya "Apa Pak Juan masih manusia?"


"Menurut lo?" Rosa mencibir "Kalau kelas sebelas, masuk di IPA 1 sudah jelas dia wali kelasnya."


"Aku ingin masuk kelasnya" Lily berkata sambil tersenyum "Beliau adalah orang berkompeten, menjadi salah satu muridnya merupakan kebanggaan."


"Ya itu benar!"


Mereka berdua berseru kaget, seorang siswa kelas sebelas tiba tiba menimpali. Alisa menyengir ke arahnya. 


"Tapi pak Juan itu kejam loh, masih mau di jadi anak perwaliannya?"


"Kakak siapa? Sedang apa di gedung kelas sepuluh?" Lily bertanya, sekarang sudah jam pelajaran.


"Ah, Gue Alisa. Kelas sebelas IPA 1. kalian bisa panggil gue, Yang Mulia Alice!" Alisa mengibaskan rambutnya. "gue sedang melakukan sidak, jadi gue disini"


"Kakak bolos kan?" Tanya Rosa to the point.


"ugh" Alisa berdecak, dia melipat tangannya depan dada "Gue sedang memeriksa rakyat gue, hmph"

__ADS_1


Alisa langsung berlalu, Lily dan Rosa hanya bisa saling menatap.


Sepertinya senior senior mereka, memang jelmaan orang sinting!


__ADS_2