Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 24


__ADS_3

Angga menghentikan mobilnya tidak jauh dari sebuah tongkrongan. Mengambil jaketnya dia langsung keluar di susul teman temannya.


Dia mengedarkan pandangannya, tempat itu cukup sunyi memang cocok di jadikan tempat nongkrong anak muda dan remaja seperti mereka.


"Ini lo serius mau menyapa doang?" tanya Hari, melihat Angga yang masih diam dia yakin ini bukan sekedar sapaan biasa. "Ejrak, lo ngapain sih dari tadi?"


Ezra yang sibuk melilitkan perban di tangannya mendongak "Mau jadi Mumi, ya enggaklah! Gue mau siap siap saja."


Hari menggelengkan kepalanya melihat teman temannya, sepertinya cuman dia yang waras.


Angga melihat jam tangan di tangannya, dia tadi sengaja memakainya hanya untuk memastikan dia akan tepat waktu untuk rapat.


Mereka berjalan mendekati sebuah pondok dimana banyak remaja berkumpul. Melihat kedatangan mereka beberapa langsung berdiri.


Angga berhenti tepat di 2sdepan Bara yang hanya duduk.


"Hehe... Siapa yang datang kesini? Apa pecundang yang mengandalkan adik kelasn- Akhh!!"


Bara kaget saat tiba tiba dia sudah terjatuh karena Angga baru saja menendangnya, dia melihat Angga, cowok itu bahkan belum menurunkan kakinya setelah menendang Bara.


"Lo!" Bara berdiri sempoyongan tapi sebelum dia berdiri tegap wajahnya kanannya sudah kena tendang Angga membuatnya kembali jatuh ke lantai.


Angga mengangkat kakinya ke dada Bara menahannya agar tidak bangun.


"Gue tidak suka basa basi" Angga berkata sambil menatap Bara dari atas "Gue sudah memperingatkan lo sebelumnya untuk tidak macam macam dengan anak sekolahan gue, tapi hari ini lo malah cari masalah dan melukai adek kelas gue yang tidak tau apa apa"


Angga mengangkat kakinya dan menendang perut Bara yang masih terus berusaha bangun.


"GA! Gue yang harus memukulnya" kesal Ezra dari belakang, biar bagaimanapun dia adalah korbannya.


Dia tidak mengubris dan malah berjongkok di depan bara yang menatapnya tajam.


"Apa ohok.. Ini cara tunas bangsa ukhuk menyelesaikan masalah? Kalian hanya kumpu-"


Plak


Angga menampar wajah Bara yang banyak bicara.


"Gue tidak peduli lo mau cari masalah dengan siapapun, tapi jangan sentuh orang orang gue." Angga berkata dengan sangat dingin "Hari ini lo nyentuh hal yang harusnya lo jauhi"


"Pasti Lily" Niel berbisik ke kedua temannya


"Pasti" Hari menyetujui


Ezra menatap punggung Angga dan menghela nafas sambil berucap "Kalau jadi dia gue juga ngamuk"

__ADS_1


Hari dan Niel menoleh ke arahnya yang kebetulan berdiri di tengah.


"Emak Tiri" Mereka berucap bersamaan, Ezra tersenyum sambil tangannya dengan lancang mencubit perut mereka berdua.


"Jangan banyak ba*ot!"


Angga melihat jam tangannya kemudian dan berbalik tapi baru dua langkah dia berhenti.


"Kalau kalian membuat ulah dengan anak sekolahan gue, bukan cuman luka itu yang lo dapat"


"Anj*ng" Bara menggeram memegang perutnya, Angga hanya meliriknya dan berlalu begitu saja.


Angga menghela nafas sedikit kesal, dia kesal melihat teman teman Bara yang hanya diam saat dia memukul Bara tapi mereka hanya diam.


Dia benar benar tidak tahu jenis teman seperti itu.


Dia menghindar saat merasakan ada yang hendak memukul dari belakang, dia menoleh dan mendapati Ezra yang memasang wajah kesal. Dia menunjuk Angga


"Lo... Lo!" Ezra menggaruk kepalanya kesal, Angga mengangkat sebelah alisnya


"Gue apa?"


"Karena lo gue gagal terlihat keren, Ba*gke lo" kesalnya, Angga mendengus mereka langsung masuk mobil.


**


Angga masuk ke ruang rapat semua peserta rapat sudah datang bahkan lengkap tidak seperti sebelumnya.


Angga meletakkan file di meja "Maaf saya terlambat" Dia menarik kursi dan duduk "Langsung saja, Saya sudah membaca materi produk baru kita, tapi Manager Cyntia saya ingin anda menjelaskannya kembali"


wanita yang dia sebutkan  langsung berdiri di samping papan yang sudah menampilkan diagram.


Angga mendengarkan penjelasannya dengan serius tapi kalau orang melihatnya dia terkesan tidak memperhatikan.


"Ulangi" Angga mengetuk meja dengan jarinya yang sebelah kiri sedangkan sebelah kanannya menopang dagunya.


"Tapi Pak!" Angga tidak bicara tapi memberi isyarat agar Cyntia melakukan apa yang dia minta. "Baik"


Beberapa dari mereka menatap Angga kesal meski tidak terang terangan tapi Angga tahu.


Keningnya makin mengkerut setelah mendengar penjelasan ulang, dia memang membaca berkasnya tapi karena tidak puas makanya dia meminta penjelasan mendetail.


Semua menatap ke arah Angga kaget karena remaja itu menutup berkasnya sedikit keras cukup untuk menarik perhatian.


"Tim berapa yang mengerjakan ini?" tanyanya

__ADS_1


"Tim saya pak" Cyntia menjawab, Angga mendengus


"Saya tanya tim berapa bukan siapa!"


"Tim 3 Pak" Cyntia kembali menjawab.


"Berapa lama kalian mengerjakan perencanaan ini?" Angga kembali bertanya, moodnya benar benar buruk saat ini.


"Itu... Tiga bulan Pak" Salah satu dari tim itu menjawabnya.


"Tiga bulan dan hasilnya tetap seperti ini?" Angga mengangkat berkas di tangannya "Apa kalian benar benar serius dengan pekerjaan kalian? Bahkan jika ini di serahkan ke anak smp hasilnya akan lebih baik dari ini!" Dia kembali meletakkan berkas itu


Mereka menundukkan kepala, siapa yang menyangka bos baru yang masih remaja itu memiliki kata kata yang pedas.


"Saya tidak tahu kenapa Ayah menyerahkan pekerjaan pada tim kalian." Angga berdiri dia mengancingkan jasnya "Saya mau hasilnya dua minggu lagi, kalau kalian tidak bisa saya akan serahkan pekerjaan ini pada tim lain. Rapat selesai sampai disini."


Mereka langsung berdiri saat Angga akan keluar dan menghembuskan nafas yang dari tadi seperti susah mereka lakukan saat Angga menghilang dari ruangan itu.


"Dia serius masih 18 tahunkan." Mereka saling bertanya dan menjawab juga


"Ya."


Angga kembali ke ruang kerjanya memeriksa pekerjaan yang lain.


"Pak!" Angga mendongak, ah dia lupa kalau Om Tio masih mengikutinya "Apa yang membuat anda kurang puas dengan perencanaan tadi? Saya pikir itu-"


"Om!" Angga memotong kalimatnya "Saya mungkin masih SMA yang tidak paham bisnis dan bagaimana menjalankannya, tapi mengenai perencanaan dan beberapa mekanisme produksi perusahaan serta standarnya.. Saya memiliki sedikit wawasan tentang itu." Angga menautkan jari jari tangannya dan menatap lurus pada pria paru baya di depannya. "Apa pengujian saya belum selesai atau belum membuat anda puas, Om!"


Tio kaget tapi tak lama terkekeh pelan, dia memang melakukannya.


"Anda... Menyadarinya dari kapan?"


Angga menarik nafas, dia bersandar di kursinya.


"Pertama anda menyerahkan pengakusisian yang jelas jelas tidak sesuai standar, kedua berkas yang anda serahkan kepada saya bukan berkas yang terlalu penting." Angga memutar kursinya melihat keluar kaca yang menunjukkan pemandanga karyawan yang sibuk "Jelas Cyntia menahan dirinya tadi, dia beberapa kali menggigit bibirnya. Penjelasannya tidak terlalu detail serta berbeda dari berkas serta dia tidak menghapal materi." Angga menolehkan kepalanya ke asisten Ayahnya itu "Itu karena... perencanaan yang asli masih mereka simpan dengan baik dan ada di tangan, Om!"


Angga kembali memutar kursi dan menyeringai, dia tidak tahu kenapa pak Juan selalu menyuruhnya menjadi detektif abal abal yang membuatnya pusing, tapi sekarang itu sangat berfungsi dengan pekerjaannya.


"Lalu kenapa bapak meminta perbaikannya itu dua minggu lagi? Bapak tahu berkasnya sudah siap!"


Angga menghela nafas panjang "Seseorang hanya memberikan berkas kurang penting, yang berarti berkas pentingnya sekarang deadlinenya harus cepat diselesaikan. Terimah kasih." Kali ini Angga benar benar menunjukkan wajah kesalnya.


Tio hanya tertawa tapi tangannya mengetik pesan untuk meminta sekretaris membawa file penting ke ruangan Angga.


*****

__ADS_1


__ADS_2