
"Pak, sepertinya Ibu demam!" Beri tahu bude Sum begitu keluar dari kamar Lily.
Angga tadi memintanya untuk membangunkan Lily, mengingat sudah hampir jam tujuh, gadis itu akan terlambat ke sekolah.
"Apa saya siapkan bubur, Pak."
"Iya, tolong ya Bude! Terima kasih." Angga berdiri dari duduknya berjalan ke kamar Lily.
Angga mendekat ke kasur dimana Lily meringkuk, dia menyentuh keningnya dan benar saja, sangat panas. Angga duduk di tepi kasur merapikan selimut Lily, ini pertama kalinya gadis itu sakit selama mereka bersama.
Angga dengan cekatan menelfon Rosa untuk mengambilkan izin Lily, dia juga menghubungi dokter yang sudah di kenal dari dulu. Padahal hari ini dia tidak bisa tidak ke kantor, pekerjaannya menumpuk terlebih kemarin dia membatalkan beberapa pertemuan rapat.
"Li!" panggilnya yang hanya dibalas gumaman oleh Lily "Makan dulu ya?"
"Ngak." balasnya, dia meringis makin meringkuk kan badannya. "Ayah hiks..."
Angga memijit pangkal hidungnya, dia memegang kembali Lily dan suhu badannya makin tinggi. Yang membuat Angga semakin kelimpungan, Lily selalu mengigau memanggil Ayahnya sambil menangis.
"Hiks.. Ayah, Ayah hiks Lily pusing."
Angga hanya bisa menghapus air matanya, dia yang sudah lengkap dengan pakaian kerjanya kembali berbaring di samping Lily, menepuk nepuknya berharap dia tenang.
"Ayah..."
"Ssstt... Kakak disini." bujuk Angga.
Angga menunduk menatap Lily yang berlahan membuka matanya, mata gadis itu memerah menatapnya.
"Kakak.."
"Hm?"
"Ayah mana? Lily mau Ayah... Panggilin Ayahnya Lily!" Angga tidak mengatakan apa apa dia hanya bisa memeluknya "Lily mau Ayah... Lily mau Ayahnya Lily!"
"Tidak apa apa, kakak disini."
"Ngak mau!" dia berusaha mendorong dengan tenaganya yang tidak seberapa "Lily mau ayah, Lily mau Ayah panggilin Ayah!"
"Tuan!"
Angga menoleh mendapati bude Sum di ambang pintu dengan nampan, dia memberi isyarat agar bude Sum masuk. Wanita parubaya itu merasa kasihan melihat majikannya, dia juga melihat Lily yang terus menangis seperti anak kecil memanggil Ayahnya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, bude?" tanya Angga, dia benar benar pusing. "Lily tidak pernah bersikap seperti ini."
Bude Sum diam sebentar sebelum berkata "Itu karena saat sehat nona selalu bersikap dewasa, makanya di saat seperti ini nona memperlihatkan sifat anak anaknya."
Angga melihat Lily yang kembali tertidur, dia menyugar rambutnya menghela nafas panjang. Dia meminta bude Sum untuk menunggu dokter yang dia telfon tadi.
Setelah datang, dokter itu memeriksa dan meresepkannya obat.
"Jangan biarkan dia banyak berfikir, anak ini tidak bisa stress!" jelas sang dokter "Dia hanya demam biasa, jangan terlalu cemas." Dia menepuk bahu Angga.
"Iya, terima kasih, dok!"
Setelah mengantar kepergian sang dokter, Angga meminta bude Sum menjaga Lily sementara dirinya ke kantor. Angga sebenarnya tidak ingin ke kantor, tetapi tidak bisa, kantor juga tanggung jawabnya karena ada ratusan orang yang bergantung padanya.
"Lily, tolong dijagain ya bude" ucap Angga masih menatap Lily, dia menunduk mencium keningnya sebelum benar benar keluar kamar.
****
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Tio yang sedari tadi memperhatikan Angga akhirnya bertanya, sebenarnya dia hanya ingin diam tapi melihat Angga yang tidak fokus membuatnya memberanikan diri.
"Itu wajar." Angga mendongak menatapnya "Ini pertama kali dia sakitkan semenjak Ayahnya meninggal." Angga menganggukkan kepalanya "Dia hanya mengeluarkan keluh kesahnya, dia pasti merindukan Ayahnya. Sangat wajar untuk anak diusia itu. Bahkan jika kamu sakit dan mengigau begitu Om wajarkan!"
Angga hanya bisa menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya, melihat Lily tadi membuat perasaannya kacau. Dia jarang berurusan dengan orang lain, sekarang mau tidak mau dia harus.
"Nak, tugasmu sebagai suami memang tidak mudah. Tapi bukan berarti kamu harus membebani diri, tidak semua harus kamu pikul sendiri." Tio menepuk pundaknya "Suami istri itu bukan siapa yang di depan dan di belakang, tapi saling berdampingan."
Angga menganggukkan kepalanya mengerti, ya dia sadar akan itu. Angga menggelengkan kepalanya menghilangkan pikirannya sejenak, dia meraih hpnya untuk menghubungi rumah dan bertanya keadaan Lily.
Dia bernafas lega saat mendengar dari Bude Sum kalau Lily sudah membaik, gadis itu juga patuh makan dan minum obatnya. Setelah mengucapkan terima kasih lagi, Angga menutup sambungan telefon dan kembali fokus pada apa yang dia kerjakan.
Mengingat sesuatu lagi, Angga mengambil telfonnya dan menelfon Atar, dia meminta pemuda itu untuk ke rumahnya melihat Lily. Mungkin dengan keberadaan keluarga angkatnya, Lily akan merasa lebih baik setidaknya Angga berusaha.
"Kami tidak tau alamat lo." ucap Atar.
Angga mengetukkan jari telunjuknya di meja, dengan cepat dia menyebutkan alamatnya. Angga juga sangat yakin kalau Lyz pasti sudah menceritakan apa yang terjadi kemarin, jadi dia hanya bisa menangani yang lain.
"Kar, gue mau minta tolong." giliran Afkar yang dia hubungi.
"ugh senior, gue tau lo dah lulus, tapi lihat waktu juga napa? Gue masih di sekolah ini." Angga tertawa mendengar gerutuan Afkar dari sana. "Minta tolong apaan?"
__ADS_1
"Cari tau tempat tongkrongan orang yang namanya Rudi, dia sepupu bini gue." kata Angga dia memutar kursinya menatap keluar dimana dia bisa melihat pemandangan kota "Kalau bisa secepatnya.
"Buru buru amat, senior."
Angga menopang kepalanya "Oh itu, gue ada urusan pribadi sama dia."
"Gue tau."
Angga memutuskan sambungan telfon, setelah mendengar seruan seseorang memanggil Afkar. Angga masih berdiam diri memikirkan sesuatu, apa yang harus dia lakukan tanpa harus melibatkan hukum?
****
Lily kaget melihat orang keluarga angkatnya datang, bukan bagaimana, mereka kan tidak tahu alamatnya. Naya mengelus kepala Lily menatapnya dengan penuh sayang, begitu Atar memberitahunya tadi dia langsung panik.
"Istri sakit kok malah dia kerja?" dengus Afiq, dia bersedekap dada sambil duduk di sofa kamar itu. "Ngak becus!"
bukh
Ayahnya memukul kepalanya "Kalau dia tidak becus, dia tidak akan menelfon Atar. Kadang ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda."
"Tolong jangan bicara seperti itu soal kak Angga." lirih Lily "Kemarin kak Angga pulang cepat karena Lily."
"Memang harus begitu kan?" Afiq mengelus kepalanya.
Azka menghela nafas panjang "Tidak semudah itu, utamanya untuk Angga yang menggantikan Ayahnya. Pasti sulit mendapat kepercayaan orang orang, terlebih kalau dia banyak menunda pekerjaannya." Dia berjalan mendekati Lily duduk di tepi ranjang "Kamu baik baik saja?"
"___"
"Lyz sudah kasih tau kakak apa yang terjadi kemarin." ucap Azka, Lily hanya menunduk menautkan jarinya. "Yana?"
"Aku takut" dia menatap keluarga angkatnya berkaca kaca "Bagaimana kalau Lily bawa si*l buat kak Angga? Dia baik sekali ke Lily."
"Sayangku!" Naya langsung menghambur memeluknya erat, Lily selalu seperti ini saat drop "Mau tinggal sama Mama dulu nak?"
"Tanya Angga kalau soal itu." Ayah Atar mengeluarkan pendapatnya "Bagaimanapun Lily sudah jadi istrinya."
Naya menganggukkan kepalanya, dia mengendurkan pelukannya mengusap air mata Lily. Mereka tau Lily banyak menangis, karena begitu sampai mereka disambut dengan mata bengkak gadis itu.
"Kamu sudah makan?" tanya Naya dia mengelus pipi Lily yang terlihat tirus. Lily melirik nampan di atas meja, ada piring berisi nasi yang tidak habis. "Sedikit sekali kamu makannya sayang, mau Mama masakin? Mau ya?"
Lily menggelengkan kepalanya, mungkin kalau dia sehat dia akan langsung mengangguk tapi sekarang tidak. Dia tidak nafsu makan terlebih kejadian kemarin masih terngiang ngiang di kepala dan telinganya.
__ADS_1