Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 75


__ADS_3

"Haaaaa...."


Nurul menempelkan kepalanya di meja setelah menghela nafas panjang, dia merasa bosan karena sudah tidak belajar lagi. Di samping dan di depannya ada Rose dan Lily tetapi dua kembang itu sibuk dengan buku mereka.


Lily dan Rose? Haruskan dia juga mengganti nama? Nurul menggelengkan kepalanya membuang jauh jauh pemikirannya, namanya sudah sangat cantik jadi dia tidak akan mengubahnya.


"Kamu kenapa?" Lily akhirnya bicara setelah dari tadi hanya diam diam memperhatikan Nurul "Lapar? Ada makanan di tasku!"


Nurul mengacak acak rambut pendeknya "Aku mau main! Akhh... Aku mau main." dia menghentakkan kakinya kesal "Tidak ngapa ngapain begini, kenapa harus sekolah sih? Libur aja kali."


"Sana main, lo berisik!" usir Rosa, Nurul meliriknya kesal "Apa?" tanya Rosa begitu dia di tatapi Nurul.


"Hua... Lo ngak asik!" Nurul menelungkupkan wajahnya "Lagian apa asiknya baca buku?"


Rosa memutar bola matanya jengah, semenjak kapan juga dia mulai berteman dengan orang serusuh Nurul? Dia melihat Lily yang halaman bukunya tidak berubah sama sekali, dia sudah sadar kalau gadis itu sudah melamun sejak tadi pagi.


Rosa melambaikan tangannya di depan wajah Lily, terkejut akhirnya Lily menoleh ke Rosa. Merasa ada pergerakan, Nurul ikut menolehkan kepalanya juga pada mereka.


"Lo kenapa?" tanya Rosa tapi Lily hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak apa apa.


"Berantem sama kak Angga lo?" Nurul menegakkan duduknya, lagi Lily menggelengkan kepalanya. "Lo sudah sering melamun dari tadi pagi." kata Nurul yang juga sebenarnya sudah menyadari keanehan Lily.


"Tidak ada apa apa." Lily tersenyum kecil ke arah mereka.


Dia kemudian menoleh ke arah lapangan karena mereka bertiga berkumpul di meja Nurul yang memang dekat jendela. Lily sebenarnya sejak pagi memikirkan bagaimana Angga di sana, apa dia sarapan sebelum ke kantor atau bagaimana?


Biar bagaimana pun saat di rumah, Lily yang mengatur semua kebutuhan Angga. Lily juga tahu kalau Angga tidak pintar memasak selain mi instan, bagaimana kalau setiap hari dia hanya makan mi saja?


Nurul dan Rosa saling memandang sebelum memandang Lily, entah sudah berapa kali cewek itu menghela nafas. Mereka berdua semakin yakin kalau teman mereka memiliki keluhan, tapi mereka tidak memaksa dan membiarkan Lily bercerita saat sudah siap.


"Ayo ke kantin! Gue mau lihat crush gue!" dia berdiri dan menarik Lily yang terkejut karena tingkahnya.


"Aku di sini saja." ucap Lily, Nurul menggelengkan kepalanya tidak setuju, dia juga menarik Rosa


"Woi ah!"


"Pokoknya temani gue, gue malu sendirian." Rosa dan Lily otomatis melihatnya "Apa?" mereka berdua menggelengkan kepalanya


Ternyata bisa malu juga ya si Nurul!


Seperti yang dikata kan Nurul, mereka bertiga akhirnya nongkrong di kantin. Lily celingak celinguk mencari orang yang menjadi crush Nurul, tapi tidak ada yang mencolok dan memungkinkan karena Lily tidak pandai menebak.

__ADS_1


"Yang mana?" tanya Lily, dia penasaran dan merasa ini sedikit seru.


Nurul mencondongkan tubuhnya "Itu loh cowok depan rak camilan, pakai kaos merah." Nurul mencegah agar wajah Lily tidak menoleh "Jangan dilihatin."


"Dia melihat ke sini." ucap Rosa yang terang terangan melihat ke meja yang dikata kan Nurul tadi.


Nurul ingin menyembunyikan wajahnya, bagaimana bisa Rosa dengan santai melihat ke sana sambil menyesap teh kotak? Nurul melihat ke arah lain saat Lily juga melihat ke arah meja cowok itu, kedua temannya ini tidak tahu ya bagaimana melihat crush diam diam? Mereka terlalu polos atau bagaimana?


"Biasa saja." Rosa meluruskan duduknya menatap Nurul "Tampang playboy!"


"Gantengan kak Angga!" Lily juga meluruskan duduknya.


"Jangan bandingin sama kak Angga dong." gerutu Nurul, dia menopang dagunya "Level kakak kelas kita sih emang mantep!"


"Tampang playboy!" Ucap Rosa lagi.


Mereka berdua menatap Rosa, setiap kali mereka menunjuk cowok jawaban Rosa selalu sama. Nurul menyipitkan matanya ke arah Rosa yang mendengus.


"Lo... Ada trauma ya sama cowok?" tanya Nurul, Lily ikut menoleh ke arahnya "Tidak semua dari mereka itu playboy."


"___" Rosa tidak menyaut dan memilih menyesap teh kotaknya.


Lily bukannya ikut malah tertawa, dia selalu melihat konyol temannya itu. Rosa memutar bola mata jengah tapi sudut bibirnya terangkat tipis, sebenarnya dua orang itu adalah teman pertama yang tidak pernah bertanya ini itu tentang keluarganya.


Sejak masih di taman kanak kanak, beberapa orang tua meminta anak untuk berteman dengannya hanya untuk memudahkan mereka memiliki koneksi dengan orang tuanya. Karena itu, begitu lulus dari bangku SMP dia memilih sekolah biasa bukan swasta seperti sebelumnya, di sini meski tahu siapa ayahnya mereka malah menjauh dan tidak mau berurusan dengannya bukannya mendekat meminta koneksi, Rosa lebih suka seperti ini.


"Tapi gue serius, Ca. Kasih tau kita siapa orangnya, ada Lily yang bisa banting dia." ucap Nurul.


"Berisik banget sih, Lo. Duduk lo diliatin orang!" tegur Rosa, Nurul melihat ke sekelilingnya tapi dengan cepat terduduk karena merasa malu.


Lily menutup mulutnya berusaha menahan tawanya, Nurul yang melihat itu hanya bisa misuh misuh tidak karuan. Lily mengeluarkan kudapan yang dia bawa dari rumah, dia membuatnya semalam karena merasa bosan.


"Cookies?" Rosa menjulurkan lehernya ke arah kotak bekal merah muda Lily.


Dia menyodorkan agar di makan bersama "Aku membuatnya tadi malam, makan makan." tawarnya pada mereka.


Nurul langsung mencomot satu "Hmm... Enak! Li, lo nikah sama gue saja ya." serunya


"Tidak, aku masih normal." ucap Lily "Kamu juga tidak se-kaya kak Angga."


"Beuhh... Lo gitu ya Li! Tau gue sekarang.. tau gue" Lily hanya bisa tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Lily menatap cookie buatannya yang masih di dalam kotak, dia merasa ingin mengirimkannya ke Angga yang ada di kantor. Pagi tadi Angga mengiriminya pesan kalau hari ini dia hanya akan ke kantor, tapi saat Lily bilang ingin mengunjunginya Angga menolak karena dia akan sibuk seharian.


"Aduh!" Lily mengelus pipinya yang kena cubit Nurul "Kenapa?"


"Hanya nyadarin lo, jangan sampai kesurupan."


Lily menghela nafas dan berterima kasih. "Kemarin kak Angga sudah pindah ngekos." lirihnya.


Rosa dan Nurul jadi mengerti kenapa seharian ini Lily jadi melamun terus, mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Jadi itu yang lo galauin dari pagi." Nurul bertopang dagu menatap Lily "Jadi apa yang lo khawatirkan? Dia sudah dewasa bahkan lebih dewasa dari lo, dia pasti baik baik saja."


"Kak Angga ngak bisa masak." dia menghela nafas panjang. Nurul dan Rosa tertawa bersamaan "Kenapa?"


"Dengerin gue!" Nurul menepuk bahunya "Kak Angga itu berduit, soal makanan lo gak usah musingin kali."


"Lagian lo kayak istri yang baru ditinggal sendiri oleh suami." Rosa berkata dia juga mencomot cookies, keningnya mengkerut saat melihat cowok yang katanya di crush-in oleh Nurul. "Cemceman lo jalan ke sini." bisik Rosa.


Tak lama cowok itu sampai di meja mereka, tiga gadis itu melihatnya.


"Kenapa? Ada perlu apa?" tanya Rosa to the poin. Cowok itu melihat mereka.


"Tadi kalian ngelihat ke meja kami kan?" tanyanya, Rosa bersedekap dada dan mengangguk "Lo ada perlu sama gue?"


"Lo ngalangin pandangan gue, gue nyari camilan." jawab Rosa santai, Nurul menendang kakinya dari bawah meja.


"Oh." cowok itu melihat Rosa dan melirik kedua temannya, tatapannya jatuh ke Lily yang sekarang sibuk dengan ponselnya. "Lo Lily kan?"


Mendengar namanya di sebut, Lily mendongak "Kamu tau saya?"


"Adiknya Atar kan?"


Lily hanya bisa mengkerutkan keningnya, dia tidak menyangka ada yang megenalnya di sekolah itu.


"Li, lo punya kakak?" mereka berdua menoleh padanya, Lily menganggukkan kepalanya dan menjelaskan kalau bukan kakak kandungnya.


"Tapi kamu siapa?" tanya Lily


Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya "Farel, kita satu sekolah pas SMP tapi beda kelas."


Lily menganggukkan kepalanya dan mengatupkan tangannya di depan dadanya, bukan karena dia sombong, Lily hanya mengingat ucapan Angga yang melarangnya bersentuhan dengan lawan jenis, dia juga menghargai Nurul yang menyukai pria itu.

__ADS_1


__ADS_2