
Lily duduk di taman rumah sakit, taman di mana dia dulu selalu menangis diam diam saat merasa dirinya kesepian. Dia mengedarkan pandangannya, kalau dulu terlihat untuknya tapi saat ini itu terlihat seperti harapan untuk baginya.
Meski masih selalu ada sedih di hatinya, entah kapan itu akan benar benar hilang.
"Lelah?" Lily mendongak mendapati salah satu seniornya di sekolah, sekarang menjadi seniornya di rumah sakit berdiri di sampingnya.
Lily menerima botol minuman yang disodorkan padanya "Lumayan"
"Resiko pekerjaan," Aryan menyesap minuman kaleng di tangannya "Bagaimana dengan senior?"
"Senior? Ah Kak Angga!" Lily berseru kemudian mengangguk "Kak Angga masih sibuk di kantor seperti biasa, tambah baru baru ini sepertinya ada proyek yang harus dia kerjakan."
Lily menghela nafas panjang, belakangan dia sendiri pun jarang bertemu dengan Angga. Sudah hampir seminggu Angga dinas di luar kota, diapun tidak bisa menyusul karena banyak pasien belakangan ini.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Lily menoleh ke arah Aryan, Aryan mengangkat sebelah alisnya
"Kabar siapa?"
"Bayinya Kakak lah" jawab Lily
"Dia sudah tengkurap," Lily bisa melihat senyum di mata Aryan yang mengingat anaknya "Terus si kembar?"
"Mereka tidak kembar," Lily memberenggut saat ada yang mengatakan kedua putranya kembar "Mereka di rumah Omnya, di jemput dari kemarin sama kak Liz."
Tidak lama kemudian dia ada suster yang menghampiri mereka, memberitahu kalau ada pasien yang baru datang. Mereka berdua terburu berjalan masuk ke rumah sakitnya.
Lily yang sekarang berusia 27 tahun, ibu dua anak. Dia sekarang seorang dokter bedah umum, awalnya dia ingin menjadi dokter obgy tapi entah kenapa dia malah mengambil jurusan bedah umum.
Pasien yang baru masuk adalah pasien yang baru saja mengalami kecelakaan, untuk menyelamatkannya mereka langsung operasi sebagai tindakan.
Operasi baru selesai setelah tiga jam, karena pasien mengalami kecelakaan yang parah jadi banyak yang harus di tangani. Bersyukurnya pasien tersebut masih bisa tertolong, ya lambat sedikit bisa tidak terselamatkan.
Lily meregangkan tubuhnya yang sudah sangat lelah, hari ini dia menjalankan tiga operasi besar dan membutuhkan banyak waktu. Saat ini kakinya terasa akan patah, dia hanya ingin pulang dan istirahat sebenarnya.
"IBU!!"
Lily tersentak mendengarkan seruan itu, dengan cepat dia menoleh ke asal suara. Dua anak kecil berlari kearahnya, dia dengan cepat berjongkok dan membuka kedua tangannya.
Bruk
Dua bocah yang berlari dengan menggemaskan itu ke pelukannya, Lily menciumi kepala mereka satu persatu.
"Kalian kesini di antar paman?" tanyanya, dua anak itu menggelengkan kepalanya "Lalu?"
__ADS_1
Anak yang paling tinggi menoleh dan menunjuk pria yang masih lengkap dengan jasnya, tapi penampilannya di rusak oleh tas panda kecil di salah satu bahunya dan ransel beruang di tangannya.
"Ayah!" seru anak itu.
"Hai cantik! Sepertinya bukan cuman anak anak butuh ciuman," Angga berkata sambil menunjuk pipinya "Ayahnya juga butuh asupan."
Lily berdiri dengan sedikit mencibir, dengan perlahan dia mendekati Angga mengambil kedua tas darinya. Angga memeluknya sebentar, masih di rumah sakit jadi dia harus menahan diri bukan.
"Kamu sudah pulang kan?" tanya Angga, tangannya menyampirkan rambut Lily.
Lily mengangguk sambil melirik anak anaknya, si bungsu tengah menyapa anak yang baru lewat sedangkan si sulung tengah memandangi poster di dinding.
Sifat mereka memang berbeda, si bungsu yang aktif seperti Angga sedangkan si sulung lebih ke Lily sama sama pendiam.
Dia menoleh menatap Angga "Kok Anak-anak bisa sama kakak?"
"Aku menjemputnya di rumah kak Liz, kangen juga sama mereka." dia meraih lengan Lily "Ayo pulang, aku lebih kangen sama ibunya anak anak."
Lily hanya bisa tertawa mendengarnya, Angga semenjak Lily habis melahirkan membuatnya semakin lengket. Kalau saja bukan pekerjaan, dia mungkin akan mengikuti Lily ke rumah sakit ini.
***
Angga masuk ke kamar anak anaknya, Lily berbaring di antara mereka dengan buku di tangannya. Angga mendekati mereka, mengangkat selimut mereka satu persatu sampai batas leher. Mereka sengaja diberikan selimut yang berbeda, bukan karena takut bertengkar melainkan takut si sulung tidak kebagian karena si bungsu grasak grusuk kalau tidur.
Melihat kedua anak itu tidur dengan nyaman, Angga tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya tersenyum. Meski kedua anaknya laki laki semua, Angga sama sekali tidak menginginkan anak lagi meski sedikit iri dengan temannya yang punya anak perempuan.
Karena hal itu, hampir setahun dia tidak berani menyentuh anak keduanya. Beruntungnya dia dengan cepat berkonsultasi ke dokter, Lily juga banyak membantunya untuk dekat dengan anaknya.
Dan sekarang dia baik baik saja.
Lily berlahan turun dari kasur, dia tidak berani membuat banyak gerakan karena takut mereka tertidur. Saat dia berhasil turun, Angga menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu kamar.
"ukh! Capek!" Lily meregangkan tubuhnya begitu keluar kamar, Angga di belakangnya hanya tertawa. Lily menoleh "Kakak tadi tiba jam berapa?"
"Empat," dia mendekati Lily memeluknya dari belakang, dia menunduk mencium pipi Lily "Lama di rumah kak Liz, soalnya anak anak dibawa jalan jalan dulu saat aku tiba di sana."
Lily mengangguk paham, tak lama dia berbalik dan mengendus Angga "Kakak bau, mandi sana. Kalau tidak mau, mending ngak usah tidur sama Lily."
"Sadis!"
Lily tertawa, dia kemudian melepaskan pelukan Angga dan mendorong pria itu ke kamar.
Sambil menggosok rambutnya dengan handuk, Angga keluar dari kamar mandi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar, tapi tidak melihat keberadaan istri kecilnya.
__ADS_1
"Lily? Li?"
"Di balkon!" terdengar seruan dari luar.
Angga dengan cepat melangkah menuju balkon, benar saja di sana ada Lily yang berdiri menatap ke langit malam. Angga berlahan melangkah mendekat, memeluk Lily dari belakang.
"Bu dokter, sedang apa di sini?" dia melingkarkan tangannya di pinggang Lily, menumpukan bahunya di pundak gadis itu "Sudah malam loh, cantik! Udara malam tidak baik untuk kesehatan."
Lily menepuk pelan tangan Angga, kepalanya sedikit di miringkan karena kepala Angga yang bersandar di pundaknya "Hanya ingin melihat bintang."
Angga mendongak menatap langit "Tapi tidak ada bintang."
"Semuanya hilang saat kakak datang!"
Angga langsung mencibir membuat Lily tertawa, dia menyandarkan tubuhnya pada Angga yang sudah berdiri tegak.
"Terima kasih," Angga menunduk mendengar ucapan Lily yang tiba tiba "Kakak sudah menjadi suami Lily selama sebelas tahun, terima kasih!"
Angga mengeratkan pelukannya pada Lily, dia tidak mengatakan apa apa dia memilih menunduk mencium kepala Lily.
Setelah dihitung-hitung, ini memang tahun kesebelas mereka. Ini bukan waktu yang singkat, mereka awal menikah saat masih remaja dan sekarang dia hampir memasuki usia tiga puluh.
Pernikahan mereka bukan hanya ada cerita manis, dalam pernikahan mereka juga ada tangis dan kesedihan. Tidak jarang mereka akan berdebat karena beda pendapat, terutama setelah anak anak lahir.
Di saat orang lain baru akan memulai, mereka sudah berada di tahun kesebelas pernikahan. Masih ada waktu yang sangat panjang menunggu mereka berdua, semoga selalu seperti sekarang.
"Jangan ninggalin kakak, oke. Karena kamu lebih muda dari kakak, kamu harus hidup lebih lama dari kakak." lirih Angga, memikirkan bagaimana Lily yang hampir meninggal setelah melahirkan membuatnya takut.
Lily memutar tubuhnya memeluk Angga, dia menyandarkan kepalanya di dada Angga. Permintaan Angga, dia tidak bisa menjanjikan apa apa soal itu.
"I love you!" bisik Lily
Angga terkekeh dia menangkup pipi Lily, mencium keningnya lama membuat Lily memejamkan matanya.
"I love you too!"
*****
Tamat!
Terimah kasih semua sudah setia pada Angga dan Lily.
Berhubung mereka sudah tamat, cus coba coba baca karya baru saya
__ADS_1
*My lecture, My Husband