
Lily menutupnya karena menguap, sudah larut tapi dia belum tidur. Besok dia ada ulangan, tapi dia baru belajar sekarang.
Angga masuk ke dalam kamar, duduk di atas kasur tanpa berniat mengganggu Lily yang masih belajar. Merasa ada yang datang, Lily menoleh dan mendapati Angga di sana.
"Kakak, ajarin Lily." ucap gadis itu, mukanya memelas.
Angga berdiri dan mendekati Lily, melihat buku pelajarannya "Kimia?"
Lily menganggukkan kepalanya "Lily kurang bisa kalau Kimia."
"Hm," Angga bergumam dia menarik kursi lain dan duduk di sampingnya "Bagian mana kamu kurang paham?"
"Ini!"
Angga melihat yang ditunjuk Lily, dengan pelan dia mengajari Lily sampai gadis itu mengangguk paham. Lily senang karena kedatangan Angga, dia bersyukur karena punya suami yang pintar.
Angga menopang kepalanya di meja dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang pensil mencoret di kertas. Lily dengan serius memperhatikannya dan terus bertanya ini dan itu.
Angga berdiri dan membuka lemari dimana dia menyimpan buku bekasnya, dia tidak memindahkan ke kamar barunya. Setelah kembali mendekati Lily, menyodorkan kertas itu padanya.
"Ini materi yang sama, coba kamu kerjakan ini dulu." Angga kembali duduk "Kakak akan memeriksanya nanti.
"Dari mana kakak dapat ini?"
"Punya kakak, kebetulan kakak dulu suka mengumpulkan materi soal."
Lily menganggukkan kepalanya, dia mengambil pulpen dan mulai mengerjakan soal yang diberikan Angga. Angga kembali menatap Lily, memainkan rambut gadis itu.
Saat dia menoleh ke arahnya, Angga menyuruhnya untuk fokus pada soalnya.
"Sudah selesai?" tanya Angga saat Lily melepaskan pulpennya, Lily menggelengkan kepalanya "Terus? Capek?"
Lily tidak mengatakan apa apa, dia berlari ke lemari pakaiannya mengambil sesuatu. Angga ikut berdiri dan menyusul gadis itu, dia berdiri di belakangnya.
"Apa yang kamu lihat?"
Lily membalikkan badannya dan menunjukkan apa yang dia pegang, sebuah penghargaan.
"Minggu lalu sudah ada pengumumannya," Angga menerima piagam Lily dan membacanya.
Angga tersenyum sampai ke mata, dia menatap Lily dengan bangga "Selamat!"
Lily balas tersenyum, itu adalah piagam OSN yang dia dapatkan. Dia terkekeh pelan dan sedikit malu.
"Dua soalnya tidak terjawab dengan maksimal," jelas Lily.
Angga tertawa, dia tidak tahu kenapa gadis itu begitu tertekan? Nilainya nyaris sempurna dan mendapat posisi pertama dalam OSN.
"Kenapa tidak memberitahu kakak?"
Lily menggigit bibir bawahnya sebelum mencicit "Lily mau kasih tau secara langsung"
__ADS_1
"Hn?"
Lily menunduk, memelintir ujung piyamanya "Lily maunya kasih tahu langsung ke kakak."
Angga meraih Lily ke dalam pelukannya, "Saatnya menagih janji ke anak anak."
"Hah?" Lily mendongak heran "Maksud?"
Lily menundukkan kepalanya "Kamu lupa? Mereka bilang mau kasih hadiah kalau kamu bisa nomor satu."
"Ngak usah ah, Lily tidak enak!"
Angga mencium puncak kepala Lily "Ya udah, kamu kembali belajar lagi."
"Oh iya, lupa!"
Dia dengan cepat melepaskan dirinya dari Angga, dia harus kembali belajar. Mereka berdua berhenti saat benar benar tengah malam, Angga juga tidur di kamar Lily karena malas bergerak.
***
Lily terbangun kaget, dia hampir saja terlambat bangun. Dia menoleh ke samping dan mendapati Angga di sampingnya, masih sangat nyenyak tidurnya.
"Kak, kakak tidak ke kampus?" Lily menggoyangkan badan Angga "Kakak!"
"Hn?"
"Bangun dulu, kakak tidak ngampus?"
Angga mengubah posisinya "Masuk siang." gumamnya.
Angga berlahan membuka matanya, dengan malas dia mengangkat kepalanya memangkukan kepalanya di paha Lily. Lily mengguncang lengannya sambil berdecak, bukannya bangun dia makin memejamkan matanya.
"Kakak, nanti Lily terlambat ke sekolahnya." ucap Lily sedikit tergesa-gesa "Kakak!"
"Hm hm..."
"Kakak!"
Angga mengangkat kepalanya, menatap Lily yang cemberut "Jam berapa?"
"Sudah mau jam enam!"
"Lima menit lagi." dia kembali merebahkan kepalanya, melingkarkan tangannya di pinggang Lily.
Lima menit kemudian dia langsung bangun, menyuruh Lily mandi dengan cepat. Mendengar itu membuat Lily kesal, siapa coba yang menahannya? Angga kan?
Angga meraih kepala Lily, mencium kepalanya "Ngak usah marah marah, kamu bau iler!"
"Kakak yang bau iler."
Angga tertawa dan dengan cepat keluar dari kamar itu, dia juga harus cepat cepat ke kamar mandi. Mereka mandi cukup cepat, saat Angga selesai berpakaian Lily juga sudah selesai.
__ADS_1
"Kamu tidak sarapan?" tanya Angga yang merapikan dasinya, Lily menggelengkan kepalanya.
"Sudah mau terlambat, sini Lily bantuin pakai dasi," Angga dengan cepat mendekat, karena sudah biasa dia melakukannya dengan cepat. "Kakak sarapan saja dulu, Lily mau langsung sekolah."
"Kakak antar, lagian kakak bisa sarapan di kantor," ucap Angga, Lily menyipitkan matanya seolah tidak mempercayai ucapan Angga "Kakak serius sarapan di kantor, cantik."
"Beneran ya?"
"Bener!" dia meraih tangan Lily dan menggandengnya keluar rumah.
Seperti hari biasa, sudah ada supir yang menunggu Lily di depan rumah.
"Pagi, Pak!" sapa kang supir pada Angga, Angga mengangguk dan membalas sapaannya "Mau sekalian saya antar ke kantor, Pak?"
"Iya," Angga membuka pintu dan mempersilahkan Lily masuk lebih dulu "Tasnya awasin sedikit."
Lily memindahkan tas sekolahnya, menyimpannya di sisi dekat pintu mobil. Angga masuk dan mengambil posisi di sampingnya, karena mengantuk dia merebahkan kepalanya di pundak Lily.
"Masih mau tidur?"
"Iya," dia menguap "Capek banget soalnya."
"Capek berantem maksudnya?" ucap Lily seolah mengingatkan apa yang dilakukan Angga kemarin.
"Kerja lah, cantik!"
Lily tertawa pelan, "Terima kasih untuk yang kemarin, Kak."
Dia mengangkat kepalanya, menatap gadis kecil yang sekarang memasang wajah sendunya. Dengan iseng Angga memencet pipinya, memanyunkan bibir gadis itu agar terlihat lucu.
"Kakak ihh"
"Kakak suami kamu, hal yang seperti kemarin memang harus kakak lakukan." ucapnya serius, "Jadi kamu tidak perlu berterima kasih."
"Tetap saja, Lily merasa lega melihat kakak memukulnya kemarin." dia menunduk memainkan jarinya "Bagaimana kalau dia mencari kakak, Rudi punya banyak teman bandel yang sama dengannya."
"Hm..." Angga menegakkan duduknya sebelum bersandar di jok, Lily memutar badan menghadapnya. "Kakak juga punya teman, tenang saja."
"Kak Ezra?"
Angga menganggukkan kepalanya, cukup membuat Lily tidak khawatir. "Dan lagi, banyak pengawal di kantor. Mereka mengawal secara diam diam agar tidak mencolok."
Mata Lily membulat "Jangan bilang Lily juga punya?"
Angga menganggukkan kepalanya, "Kemarin kalaupun aku tidak disana, Rudi tetap tidak akan memukulmu." Angga mengambil tangan Lily "Bukan cuman dari kakak, tapi ada juga dari Kak Liz."
"Kakakku? Kok?"
"Iya kakakmu, adapun kenapa dia memberimu... Bukannya sudah jelas karena kamu adiknya." Angga kembali duduk dengan tegak, mencubit pipi kanan Lily gemas "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka, kamu hanya perlu fokus belajar dan lulus dengan cepat."
"Memang mau ngapain kalau Lily lulus dengan cepat?" gadis itu mengangkat sebelah alisnya memprovokasi.
__ADS_1
Angga tertawa melihat itu, ekspresi Lily yang memprovokasi terlihat menggemaskan. Angga meraih pipi Lily menangkupnya.
"Kakak akan melakukan lebih dari ini." Angga menunduk dan mencium sudut bibir Lily.