
"lo kenapa lihatin orang tadi kayak punya dendam?" Ezra dan Angga berjalan berdampingan keluar ruangan.
"Masa? Cuman perasaan lo." ucap Angga, dia menepuk pundak Ezra "Gue mau keliling lo ikut?"
"Males, gue mau pulang tidur."
Angga hanya mengedikkan bahunya, dia memutar badannya dan berjalan ke arah berlawanan. Ezra menatap punggung Angga yang makin menjauh, entah kenapa dia merasa kalau Angga memang menyimpan dendam sama orang yang paling berisik tadi.
"Sudahlah, bodoh amat!" Dia menguap sambil berjalan ke arah parkiran.
Angga berkeliling sambil sedikit bernostalgia, saat masih kecil Ibunya sering membawanya ke kampus ini. Sekarang dia akan menjadi mahasiswa di kampus tersebut, tapi bukan Ibunya lagi yang menjadi dosen.
Dia berhenti di depan sebuah poster, poster seorang perempuan yang tersenyum ke kamera banyak tulisan ulasan tentang kampus di sekitar gambarnya. Angga tidak mengerti kenapa malah menggunakan gambar Ibunya? Dosen di sana kan banyak.
Dia menoleh saat ada seseorang juga berhenti di sampingnya, pria dewasa yang mungkin seusia orang tuanya. Orang itu juga melihat ke arah poster yang dia lihat, Angga tidak peduli dan kembali memandangi poster tersebut.
"Kamu calon mahasiswa di sini?" Pria itu bertanya memecah keheningan.
"Iya, Pak!"
Pria itu menganggukkan kepalanya, pantas saja dia tidak pernah melihat sebelumnya. Dia melirik Angga yang masih terus memandangi poster di depannya, tapi entah kenapa dia merasa tidak asing dengan wajah anak muda itu.
"Siapa namamu?"
Angga memutar posisi berdiri menghadapnya "Anggara Pak, Anggara Erlangga."
"Erlangga?" Pria itu memandang Angga kemudian melihat poster lalu ke Angga lagi "Jangan bilang kamu anaknya Agni."
Angga tersenyum kecil "Saya Pak."
Dia menatap takjub, bagaimana pun sebelumnya dia hanya melihat Angga saat masih kecil. Dia menepuk lengan Angga bercerita sedikit tentang Ibunya saat menjadi dosen, Angga hanya sesekali menyaut saat di tanya.
"Pak Rektor!" Mereka berdua menoleh saat ada staff kantor mendekat, dia berbisik untuk memberitahu perihal beberapa urusan.
__ADS_1
Saat melihat Angga dia mengangkat alisnya "Kamu Anggara kan?"
"Iya."
"Kamu kenal?" Rektor itu bertanya
"Tentu, dia adalah calon mahasiswa yang direkomendasi kampus, dia juga siswa yang lolos dengan nilai full."
Angga hanya bisa tersenyum kecil, dia merasa malu kalau ada yang mengatakan itu entah kenapa, padahal itu bukan hal yang memalukan. Rektor itu menatap Angga sambil terkekeh, dia tidak heran mengingat siapa orang tua Angga.
"Terima kasih" ucapnya.
Rektor itu kemudian meninggalkan Angga sendirian, dia kembali termenung menatap poster di depannya. Ah dia lupa bertanya, kenapa foto ibunya yang dijadikan poster?
Setelah puas dia kembali berkeliling, dia melihat perpustakaan, kantin dan beberapa kelas, semuanya banyak yang berubah. Angga hanya berharap masa kuliahnya tidak se-drama saat dia SMA, dia hanya ingin menjadi mahasiswa yang datang dan pulang tepat waktu, mahasiswa yang hanya di pusingkan oleh mata kuliah dan tugas.
Dia menggelengkan kepalanya, menarik kembali kata katanya yang hanya mau di pusingkan tugas. Kalau bisa tidak ingin di pusingkan tugas apapun, ya seperti itu saja harapannya.
"Kasian bener motor gue." lirihnya, dia mengambil kunci dari sakunya dia akan ke kantor tapi sebelum ke sana dia mau makan dulu.
"Itu motor lo?" Seseorang menghampirinya, Angga menganggukkan kepalanya sambil naik ke motor. "Sebaiknya dorong ke bengkel dulu."
"Kenapa?" Angga menatap motornya, masih rapi dan seperti tidak tersentuh.
"Sorry sebelumnya, sebenarnya gue yang minggirin motor lo." Angga mengangguk dan tidak masalah dengan itu "Alasannya ada beberapa orang tadi iseng iseng ngotak-ngatik, jadi gue tegor dan mindahin."
"Tidak apa apa, terima kasih." Angga menepuk kepala motornya dan bergumam "Padahal baru beli minggu lalu, susah lagi dapatnya."
Orang yang memindahkan motornya menatap Angga, dia menatapnya dari atas sampai melihat penampilannya. Dia bukan orang awam jadi tahu kalau pakaian Angga yang tidak murah, tapi melihat itu lusuh dan sepertinya sudah lama dan sering dipakai, tidak sulit mendapat pakaian murah dengan berkualitas dari pedagang trift.
"Di depan kampus ada bengkel, mending lo ke sana." beritahunya.
Angga setuju dan mengucapkan terima kasih padanya, dia mencabut kembali kunci motornya kemudian mendorongnya keluar parkiran. Angga yang teringat sesuatu menoleh ke arahnya, dia sepertinya tidak membawa uang cash.
__ADS_1
"Anu, gue boleh minjem duit lo gak? Masuk kuliah nanti gue ganti." kata Angga.
Pria itu langsung mengeluarkan dompetnya mengeluarkan uang dari sana, dia juga mengatakan kalau Angga tidak usah menggantinya tapi Angga menolak dan akan tetap mengembalikannya.
"Siapa nama Lo? Jurusan apa?" tanya Angga, dia mengantong uang seratus ribu itu di sakunya. "Gue harus tau nama lo buat ngembaliin duit lo."
"Gue Indra, bisnis managemen."
Angga mengerti dia juga mengatakan kalau itu tidak akan sulit, Angga soalnya mengambil jurusan yang sama dengannya. Indra menatap punggung Angga yang menjauh sambil mendorong motornya, dia selalu merasa kasihan dengan mahasiswa yang dari keluarga dari kelas mengengah ke bawah. Siswa yang seperti Angga bisa jadi bulan bulanan di kampus yang isinya anak dari berbagai orang kelas atas.
Benar seperti yang di katakan Indra, begitu keluar dari kampus dia melihat bengkel tidak jauh dari sana. Angga dengan cepat mendorong motornya ke sana, dia menjelaskan kepada orang yang bekerja di sana seperti yang Indra katakan tadi.
"Sebenarnya ini bukan pertama kali." Pemilik bengkel itu menjelaskan kalau rem motornya di otak atik "Entah apa yang mereka pikirkan."
"Ini bahaya dan bisa merenggut nyawa orang." ucap Angga, dia menatap nanar motornya.
Pemilik bengkel itu tertawa "Tidak masalah mereka membunuh atau tidak, negara kita lemah terhadap orang kaya. Tolong tangnya!" Dia menunjuk tang di samping Angga "Dua tahun kemarin sudah ada kasus seperti itu, pelakunya hanya menginap semalam di penjara kemudian di lepaskan. Alasannya tidak sengaja, tapi setelah di selidiki dia anak seorang pengusaha yang mengenal beberapa orang dalam."
Angga hanya bisa bergumam dan mendengarkan cerita tukang bengkel
"Sekarang dia makin semena mena di kampus, meski berapa kali di hukum dan hendak D.O dari sekolah tetap saja." orang itu menggeleng tidak mengerti lagi "Sepertinya mereka hanya akan takut dengan orang yang posisi keluarganya lebih tinggi dari keluarga mereka."
"Kupikir hanya pemikiran anak SMA yang sedangkal itu, ternyata di bangku perkuliahan sama saja." Angga menghela nafas, sekali lagi dia hanya berharap tidak bertabrakan dengan mereka.
Tukang bengkel itu tertawa "Mereka sebenarnya belum benar benar mengalami hidup seperti apa." dia menolah menatap Angga "Apa kamu masuk di sana melalui jalur beasiswa?"
Angga diam tidak berniat menjawab, entah kenapa dia malas melakukannya.
"Apa pekerjaan orang tuamu."
Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tersenyum kecil seperti anak yang pemalu.
"Ayahku hanya memiliki bisnis kecil kecilan, ibuku seorang guru biasa" jawab Angga yang tidak sepenuhnya bohong, Ayahnya memang hanya seorang pebisnis dan Ibunya pengajar di dalam kampus itu.
__ADS_1