
Angga kembali menjemput Lily saat malam harinya, di depan resto Lily sudah menunggu kedatangannya.
"Lama?"
Lily menggelengkan kepalanya sambil menerima helm yang di serahkan Angga.
"Lily juga baru keluar." Angga mengulurkan tangannya meraih tas dari bahu Lily yang akan memakai jaket. "Kakak besok mau ke sekolah?"
"Tidak, Kakak mau ke kantor saja dulu. Toh sudah tidak ada yang perlu dilakukan di sekolah lagi. Palingan ngembaliin buku perpus"
Lily menganggukkan kepalanya. Setelah memakai jaket, Angga kembali mengulurkan tangannya untuk membantu Lily naik ke atas motor yang lumayan tinggi. Untung Lily pakai celana bukannya rok seperti yang biasa dia kenakan.
"Mau jalan jalan?"
"Pulang, Lily belum nyuci"
Angga menganggukkan kepalanya, dia juga sebenarnya masih mengantuk. Mungkin selesainya UN juga berefek, rasanya beban dipundaknya terasa ringan membuatnya selalu ingin tidur.
Sesampainya di rumah, mereka langsung mengerjakan pekerjaan masing masing. Lily mencuci sedangkan Angga membersihkan kamarnya yang jarang dia tiduri dua bulan ini.
Setelah selesai, Lily kembali ke kamarnya. Dia ingin belajar agar bisa lulus seleksi OSN.
Dia menoleh saat pintu kamarnya di buka, dari luar Angga masuk dengan guling di tangannya.
"Kakak mau tidur di sini" ucap Angga, dia sudah melempar bantalnya ke kasur sebelum ikut rebahan di sana.
Lily yang notabenya pemilik kamar bahkan belum mengangguk dan berkata ya, tapi Angga sudah berbaring sambil memejamkan matanya. Setelah jam sebelas, Lily menutup bukunya dan bersiap tidur.
Dia mendekati kasur, melihat Angga yang tidurnya serampangan membuatnya menggelengkan kepala. Ini kali pertama Angga tidur lebih dulu darinya. Lily menarik selimut, merapikannya sebelum menyelimutkannya ke Angga.
Dia segera ke lemari mengambil piyama, setelahnya dia ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tapi, begitu dia keluar, dia mendapati Angga sudah bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Lily dengan pelan mendekat
"Kakak tidak tidur?"
"Tidur, cuma kebangun" Dia membuka selimut dan membiarkan Lily masuk ke dalam selimut.
Angga melirik jam di atas nakas, jam sebelas lewat "Kamu baru selesai belajarnya?"
Sambil menguap, Lily menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah kamu tidur"
Lily menepuk nepuk bantal terlebih dahulu, baru berbaring. Begitu kepalanya menyentuh bantal, entah kenapa rasa kantuknya menghilang.
"Kenapa?" Angga bertanya karena Lily belum menutup matanya.
"Lily tiba tiba tidak mengantuk" jawab Lily, dia kemudian bangun dan ikut bersandar.
Angga merebahkan kepalanya di pangkuan Lily, gadis itu hampir saja berseru karena kaget.
"Kamu dekat banget ya, sama tante yang nemuin kamu tadi siang?" tanya Angga "Sampai manggil Mama!"
Lily menganggukkan kepalanya "Beliau yang mengurusku saat Ibu meninggal, kata Ayah... Beliau sampai ikut begadang kalau aku demam, padahal Atar juga waktu itu masih bayi."
"Tapi dia mau nikahin kamu sama anaknya" Angga memejamkan matanya, Lily menunduk menatapnya.
Lily tersenyum kecil "Mama memang selalu bercanda seperti itu, Kak Azka sudah tunangan sebentar lagi nikah, sedangkan Kak Afiq, mungkin sudah ada pacar."
"Ya mungkin sama teman kamu itu"
"Atar?" tanya Lily, Angga membuka matanya menatap wajah Lily dari bawah
"Itu kali, ngak ingat namanya"
Angga langsung duduk, dia menatap Lily serius "Kalian tidak ada hubungan darah"
Lily terkekeh sebelum berkata "Tapi kami saudara sesusuan." Angga diam "Ibu meninggal begitu aku lahir, kata Ayah dulu aku alergi susu formula. Bersyukurnya, Mama waktu itu juga baru melahirkan seminggu dan air susunya banyak. Lily dan Atar tidak lainnya saudara kembar. "
"okelah kalau begitu"
"Tapi Kak!" Lily mencegah Angga yang ingin kembali berbaring.
"Apa?"
"hm itu..." Lily menggigit bibir bawahnya, Angga mengangkat sebelah keningnya
"Kenapa?"
"Boleh tidak, Lily bilang kalau Lily udah nikah?" tanyanya takut takut, matanya menatap Angga yang hanya diam menatapnya "Itu.. Itu... Bagi Lily, mereka sudah seperti orang tua Lily" ucapnya menundukkan kepalanya.
"Selama mereka tidak nyakitin kamu, kakak tidak masalah."
__ADS_1
Senyum Lily mengembang lebar, matanya penuh binar. Lily menganggukkan kepalanya keras.
"Kakak jangan khawatir, mereka juga bisa di percaya." serunya
Angga menepuk kepalanya "jadi kapan kamu akan ke sana?"
"Besok boleh? Nanti aku minta izin ke kak Alga sehari." serunya "Kakak juga datangkan?"
"Hm, kakak antar kesana. Karena kakak tidak bisa lama lama." jawab Angga.
Angga bersandar kembali di kepala ranjang, dia menunduk melihat Lily yang sudah tidur beberapa saat lalu. Tangannya terulur memainkan rambut panjang Lily, gadis itu tersenyum dalam tidurnya.
"Sesenang itu ya?" Angga tanpa sadar ikut tersenyum "ya kamu harus selalu seperti ini. Jangan menangis lagi."
Sekarang Angga tidak masalah kalau ketahuan sudah menikah, tapi saat ini dia tidak ingin terlalu mengumbar karena Lily masih sekolah. Dia hanya akan memberitahu teman temannya saja.
Meski sudah memutuskannya, sebenarnya Angga sendiripun bingung bagaimana menyampaikannya. Dia juga tidak mau, kalau Lily tidak nyaman.
Dia melirik Lily lagi, dia harus meminta izin gadis kecil ini dulu.
Angga menyibakkan selimutnya, dia keluar kamar untuk kembali ke kamarnya mengambil laptop. Karena sudah tidur sedikit, sekarang dia tidak mengantuk dan memilih bekerja.
Dia kembali ke kamar Lily, dia akan bekerja di sana.
Angga membuka laman pendaftaran hanya untuk melihat apa ada pemberitahuan tambahan, tapi tidak ada.
Dia bersandar lagi, matanya fokus ke layar. Dia sebenarnya sudah meminta asisten untuk mencari kosan untuknya, kosan yang nyaman dan luas.
Tangan Angga menyentuh kepala Lily, rambut gadis itu sangat lembut. Dia tidak akan tinggal dengan gadis ini sementara waktu, mungkin dia akan merindukannya tapi dia harus melakukannya.
Angga sebenarnya mengambil jarak sebagai alasan, tapi itu bukan alasan sebenarnya. Angga sadar dengan status mereka, dan kalau dia mengatakannya pada Lily, gadis itu pasti tidak akan menolaknya. Lily masih anak anak, bahkan bisa dibilang, dia anak yang polos.
Meski sudah sah, tetap saja Angga tidak ingin merusaknya. Kalau mereka terus tinggal bersama, Angga tidak bisa percaya pada dirinya sendiri.
"Untuk kebaikan bersama" gumamnya.
Angga menunduk mencium pelipis Lily sebelum mengelusnya dengan ibu jari.
"Setelah kamu benar benar sudah bisa mengambil keputusan, kita baru akan membicarakannya" Angga berkata dengan sangat pelan.
Angga menegakkan duduknya saat Lily mencari posisi tidur yang nyaman, kepala gadis itu pindah mendekati paha Angga. Senyumnya merekah, Angga menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal.
__ADS_1
"Bisa gila gue lama lama" gumamnya.
Dia kembali turun dari kasur, berjalan ke arah balkon kamar untuk menghirup udara malam. Dia merogoh sakunya mencari rokok, tapi sepertinya dia lupa rokoknya di kamar, karena tujuannya ke kamar Lily memang hanya untuk menumpang tidur.