
Angga berjalan ke arah podium, setelah berdiri di atas podium dia berdiam diri sebentar menatap orang orang yang menunggunya bicara. Dia menghela nafas panjang biar bagaimana pun ini hari yang penuh emosional, dia kembali menatap ke depan, meski hanya teman seangkatan, guru dan orang tua siswa tetap saja dia gugup.
Angga berdehem pelan, dia mengucapkan salam pembuka beberapa kata formal sebelum kembali terdiam, matanya sedikit berkaca kaca.
"Sebenarnya saya berdiri disini tanpa persiapan apa apa, hari ini juga cukup berat buat saya." Dia berdehem kecil "Hari ini hari yang paling di tunggu Ayah saya beberapa bulan lalu, saya juga menyiapkan beberapa kata untuk menyombongkan diri yang saya ingin ucapkan padanya"
Angga mengangkat kepalanya ke atas agar air matanya tidak jatuh "Saya tetap akan mengatakannya." Angga menarik nafas panjang sebelum menyeringai seakan ayahnya ada di depannya "Abang sudah bilangkan, Abang akan lulus dengan nilai tertinggi di sekolah, sekarang lihat Abang benar benar lulus dengan nilai tertinggi. Karena itu... Jangan khawatir, Abang bisa mengurus diri Abang dan amanah yang kalian tinggalkan. Istirahatlah!"
Angga menundukkan kepalanya sejenak, menstabilkan perasaanya. Setelah merasa lebih baik dia mengangkat kembali kepalanya, menyampaikan beberapa kata untuk teman temannya.
"Terakhir, selamat untuk kelulusan kita semua! Mulai besok s-
"SELAMAT TINGGAL SERAGAM SEKOLAH!!" Seangkatan berseru sambil bertepuk tangan bersamaan dengan dia turun dari podium.
"Tidak heran, dia mirip ayahnya" Naya berbisik pada suaminya yang masih bertepuk tangan. Pria paru baya itu menganggukkan kepalanya, ada senyum di bibirnya "Dia juga pintar seperti Ibunya."
"Bagaimana?" Azka berbisik pada Lyz yang juga hadir di hari kelulusan Angga.
"Tidak buruk." jawab Lyz "Tidak heran dia bisa menangani orang di perusahaannya."
Angga sudah tiba di depan mereka masih dengan senyuman yang tidak sampai ke mata itu, Naya menepuk pundaknya mengatakan kalau Angga sudah sangat bagus.
Angga terus berbicara dengan mereka semua, menanggapi pertanyaan mereka sesekali dia akan saling menyapa dengan temannya yang lewat.
"Senior!" Angga menoleh ke samping, dimana anak anak osis dan beberapa temannya menyapa, Angga pamit untuk berbicara dengan mereka sebentar.
"Cieee yang resmi lulus." Ledek Zain diikuti yang lain, Angga berdecih tapi tetap tertawa pelan.
"Gue juga rasanya capek SMA, sudah mau lulus gue." Keluh Baim, Niel menepuk kepalanya
"Sogok saja sekolahnya"
Ezra dan Angga memukulnya bersamaan, Niel mendengus tapi masih tertawa puas.
"Sibuk apa sih nih anak?" Angga mendekati Kenzo yang sibuk dengan kertas di tangannya.
__ADS_1
Dia melipat kertasnya sebelum menghela nafas "Gue banyak urusan, tapi sekarang masih harus nyiapin sepatah dua kata untuk para senior."
"Siapa suruh lo jadi Ketos!" Aryan menanggapinya "Senior, lo habis ini masih lanjut atau fokus kerja."
"Lanjutlah, pendidikan penting soalnya" Angga memasukkan tangannya ke saku celana "Kalian tidak masuk belajar emang?"
"Guru mana yang mau ngajar kalau ada acara" ucap Afkar "Anak kelas gue pasti menggila sekarang" keluhnya.
Setelah merasa puas berbicara dengan teman temannya, Angga menghampiri walinya lagi.
"Kapan kamu datang?" Angga bertanya saat melihat Lily yang sudah gabung dengan yang lainnya.
Gadis itu menoleh ke arahnya, dia mengulurkan buket kearah Angga.
"Selamat, kakak sekarang sudah lulus." ucap Lily, Angga terkekeh.
Dia bukannya menerima buket Lily, Angga malah menarik gadis kecil itu ke pelukannya, mencium puncak kepalanya.
"Kakak!" protesnya, mereka masih di sekolah.
"Terima kasih" Angga melepaskan Lily dan mengambil bunga di tangannya "Tapi kamu bilang tadi kamu sakit."
Angga diam, dia melirik sertifikat kelulusan di tangannya.
"Kakak mau jalan dulu sama teman kakak?"
Angga menggelengkan kepalanya "Kakak mau ke makam Ayah sama Ibu dulu. Kamu ikut ya!"
*
Seperti yang Angga katakan, selepas acara selesai Angga dan keluarga angkat Lily berangkat ke makam. Adapan pasangan orang tua angkat Lily, mereka ikut karena untuk pertama kalinya mereka berziarah kesana.
Angga berdiri di depan dia gundukan tanah, menghala nafas panjang entah yang sudah berapa kalinya. Dia meletakkan bunga di atas masing masing makam, menunduk untuk mendoakan mereka dulu, Lily melakukan hal yang sama.
Angga menundukkan kepalanya, air mata yang dia tahan sejak tadi tumpah begitu dia kembali menatap makam itu.
__ADS_1
Meski air matanya terus berjatuhan, Angga terus menahan dirinya agar tidak terisak karena dia tidak mengatakan apa apa. Dadanya terasa sangat sesak, rasanya ingin berteriak kalau dia tidak baik baik saja sekarang.
Dia sama dengan remaja lainnya, dia ingin di dampingi oleh orang tuanya saat kelulusannya. Dia menunduk menutup wajahnya dengan lengannya, berusaha untuk berhenti menangis.
Lily menghapus air matanya yang juga berjatuhan, dia menarik lengan Angga memeluknya. Angga membenamkan wajahnya di pelukan Lily, barulah suara isak yang tadi dia tahan terdengar.
Lily hanya menepuk pelan pundak Angga sambil sesekali menghapus air matanya sendiri, dia tidak mengatakan kalimat penghiburan karena dia merasakan apa yang dirasakan Angga.
Keempat orang dewasa itu pun juga tidak mengatakan apa apa, mereka hanya bisa menatap dua remaja yang saling berpelukan, berpegangan satu sama lain untuk menguatkan.
Angga melepaskan dirinya, dia menghapus air matanya. Merogoh tas sekolahnya dan mengambil sertifikat kelulusannya, dia meletakkannya di antara kedua makam, dia atas makam yang paling kecil.
"Sekarang Abang sudah resmi lulus, nilai Abang bagus dan Abang akan masuk di universitas tempat Ibu ngajar. " Dia menghela nafas kemudian melihat ke arah Lily, sejujurnya ini kali pertama dia membawa Lily ke makam orang tuanya.
Lily sebenarnya, semenjak Ayahnya meninggal beberapa bulan lalu, dia belum pernah berkunjung lagi. Dia entah kenapa merasa takut datang ke makam, bukan takut hantu tapi... Dia merasa akan sangat sedih dan masih trauma.
Merasa Angga ingin bicara dengan orang tuanya lebih privasi, mereka memilih pamit dan pulang lebih dulu.
Angga menarik pelan Lily untuk mendekat padanya, menatap ke arah tiga makam yang berjejer. Mata Lily baru melihat makam kecil di antara dua makam, dia melihat Angga.
"Adiknya kakak?" tanya Lily, Angga melihat makam, nisannya tertulis nama Anggini Natari Erlangga.
"Em." gumamnya. "Kedepannya kalau kakak ke makam dengan kamu lagi, kakak usahakan tidak menangis lagi."
Lily mendongak menatap Angga, wajah cowok itu memerah karena malu. Lily tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
"Iya."
Angga menggandeng tangannya "Ibu, Adek. ini istri Abang, maaf lama baru membawanya ke sini." ucapnya Lily meliriknya "Ayah. Mungkin Ayah memperhatikan Abang dari sana, maaf merombak tatanan perusahaan Ayah." Dia menyeringai ke arah makam yang masih terlihat baru itu. "Terimah kasih juga, Ayah sudah memilihkan istri cantik dan pintar."
Wajah Lily memerah mendengarnya, dia mencubit pinggang Angga karena merasa malu. Angga terkekeh sambil mengusap pinggangnya.
Angga balas mencolek pinggang Lily "Kamu ngak mau ngenalin diri ke Ibu mertua sama Ipar kamu?"
Dia diam, meski hanya berbicara pada gundukan tanah, entah kenapa Lily tetap merasa gugup. Dia melirik Angga dan cowok itu hanya mengangguk mempersilahkan.
__ADS_1
"Ibu, Anggi. Maaf lama baru datang berkunjung, nama saya Lily, Lilyana Flowerencia Anderson." Dia menoleh lagi ke Angga tapi cowok itu diam seolah memintanya untuk melanjutkannya. "Kak Angga menjaga Lily dengan baik, Ayah. Jadi jangan cemas, kami akan baik baik saja. Dan... Em... Lily juga akan mengenalkan Kak Angga pada Ibu, secepatnya."
Mata Angga membulat kaget, dia sebenarnya tidak mengharapkan Lily mengatakan itu. Dia menatap Lily yang juga sudah melihat ke arahnya, gadis itu tersenyum dengan wajah memerah.