
Angga menguap menahan kantuk, dia tiba di kampus saat siang, saat waktunya tidur siang. Kalau tidak mengingat tugas yang menumpuk, dia mungkin tidak akan masuk hari ini.
Dia meletakkan tugas yang sudah dia print di atas meja Rio, pemuda itu menatapnya takjub. Dia tahu Angga pintar sejak awal masuk kampus, tapi dia tidak menyangka kalau Angga rajin mengumpulkan tugas juga.
"Woi, Ga!" Angga dan Rio mengangkat kepala mereka bersamaan, di ambang pintu Ezra berdiri "Katanya anak anak pada balik, mau ikutan gak lo?"
"Di mana?"
Ezra menyengir "Tempat lo lah, di mana lagi?"
Dengan sadar Angga mengumpat ke arah Ezra, dengan tidak peduli dia berjalan pergi. Angga menghela nafas panjang, mereka memang suka seenaknya.
Dia kembali menoleh ke Rio, membahas tugas mereka dan tidak ada yang lain. Angga menjelaskan ini dan itu tentan tugas mereka, karena Rio yang nanti akan mempresentasikannya.
"Gue paham." ucapnya.
Setelahnya Angga menuju bangku kosong, dia akan mencicil tugas lainnya. Karena tidak ingin terganggu dengan kebisingan, dia sengaja memasang earphone di telinganya.
Dia berhenti saat dosen yang mengajar hari ini datang, syukurnya dia hari ini hanya ada satu mata kuliah. Saat ini kelompoknya yang mempresentasikan lebih awal jadi mau tidak mau dia kembali bergabung dengan kelompoknya.
Karena dia yang menyusun tugas, jadi Angga sedikit santai. Tapi saat mendapat pertanyaan yang sulit, Angga sendirilah yang akan menjawabnya.
Sejujurnya Angga kuliah tidak bertujuan untuk nilai dan jadi kelulusan terbaik, dia kuliah untuk menambah wawasannya yang belum seberapa. Terlebih dia terjun ke dunia yang rumit, dunia yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Angga meregangkan tubuhnya setelah pembelajarannya berakhir, dia siap untuk pulang ke kantor.
"Mau pulang bareng kita?" Rio berinisiatif mengajaknya, Angga menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau dia punya kendaraan sendiri.
Tapi Angga tidak menolak saat mereka mengajaknya ke arah parkiran bersama, ya dia tidak harus selalu menolaknya kan? Dia mendengus melihat siapa yang berada di parkiran.
"Kalian seperti penjaga parkiran tau gak?" Angga berkata sambil berjalan ke arah teman temannya yang sudah di sana.
"Bang*e!" seru Niel "Lo ngak kangen sama gue gitu?"
"Ngapain?" dia mengeluarkan kunci dari kantornya, "Kalian ngapain kumpul di sini?"
"Gue dengar motor lo sering di rusakin?" Dwi bertanya saat Angga mengeluarkan motornya, dia hanya menganggukkan kepalanya "Siapa yang ngerusakin?"
"Preman kampus!"
Bukannya kasihan mereka malah menertawainya, Angga mendengus tidak peduli. Langkah Angga terhenti saat beberapa orang menghadangnya, Angga mengangkat sebelah keningnya.
"Jadi lo yang namanya Angga?"
__ADS_1
Angga hanya diam tidak menjawab, dia tidak tahu siapa mereka. Angga menatap mereka seolah bertanya, mereka yang siapa?
"Lo yang mukul anak buah gue kan?" dia menatap Angga tajam "Rudi!"
"Iya gue." jawab Angga tanpa pikir panjang.
"Heh, kapan lo berantem? Kenapa ngak ngajak ngajak?" tanya Ezra, kemarin dia ada urusan jadi tidak mengekori Angga.
"Kemarin, di resto Alga!" Niel yang menjawab, dia mengeluarkan ponselnya "Zain yang ngirimin gue video."
"Gue udah nonton!" seru Hari.
"Bagi Link, bagi Link!" Ezra berkata mengeluarkan ponselnya, Niel tertawa
"Berasa mau bagi video haram!"
Angga mundur selangkah, tanpa mengatakan apa apa dia menendang pantat Niel. Dia bahkan tidak perduli dengan ringisan temannya itu, hatinya puas itu lebih penting.
Karena kesal Niel membalasnya, dia dengan santai menarik rambut Angga. Angga pun sama saja dia juga menarik telinga Niel, sedangkan tiga lainnya menatap mereka malas.
"Ini... Kalian tidak ada niat mau misahin kita gitu?" tanya Niel
"Ngapain?" Dwi bertanya sambil bersedekap dada
"KALIAN MEREMEHKAN GUE? KALIAN TIDAK TAHU SIAPA GUE?"
Angga dengan santai melepaskan Niel, dia menatap orang yang mengaku bos dari Rudi tanpa ekspresi.
"Tidak, Lo belum memperkenalkan diri lo kan?"
"Apa?" Dia mendekati Angga yang terlihat tidak peduli "Lo ngak tahu siapa gue?"
Angga menatapnya tepat di mata orang itu? "Orang penting kah?"
Orang itu tertawa sarkas, dia menatap Angga dari atas sampai bawah sebelum mendengus. Tapi mengingat tujuannya dia membiarkan sifat arogan Angga, dia mengeluarkan kertas dari sakunya dan menyodorkannya ke Angga.
"Ini tanda tangani, lo di terima di geng Anjing gila."
Angga memandang kertas itu tanpa mengambilnya, dia ingin pergi dari tempat itu. Baru akan melangkah dia sudah di cegat, bahkan di paksa menandatangani kertas itu.
Hari maju mengambil kertas itu, membaca isinya sebelum tertawa terbahak.
"Hahahaha.... Kekanakan sekali, apa ini? Harus setia pada Geng? Dilarang memasuki area yang sudah di tandai atasan? Kalah berarti posisi lo bergeser? Ga, lo mau?"
__ADS_1
"Robek saja!"
Srak srak srak
Begitu Angga selesai bicara, Hari langsung melakukan apa yang dia katakan. Orang itu menatap Angga dan motornya, dia menyeringai dan menunjuk Angga
"Gue anggap itu tantangan buat anjing gila." dia mendengus dan bersiap pergi, baru empat langkah dia melangkah dia berbalik dan berjalan cepat ke arah Angga dan melayangkan pukulan.
Angga yang memang tidak melepaskan kewaspadaannya, menangkap tangan orang itu. Dia balas menyeringai seolah dia menyadari sesuatu.
"Jadi lo yang namanya Dero?" Angga masih menahan tangan Dero, dia mendekat dan berkata "Pelaku kasus kematian mahasiswa dua tahun lalu, tidak kena pidana karena bokap lo orang dalam kan?"
Angga melepaskan tangan Dero dan menepuk bahunya "Pulang gih, cuci kaki habis itu tidur."
"Lo!"
Angga menatapnya "Hanya anak kecil yang bertingkah kayak lo, kalau dewasa lo bakal lebih mikir!"
"Bang*at!" Dia melayangkan pukulannya ke arah Angga, tapi Angga lebih dulu menendangnya.
"Gue sibuk, ngak usah ngerepotin gue." Ucap Angga yang sudah sedikit kesal.
"Lo bakal tau akibat dari ini!" Dero menyeringai dan berjalan pergi sambil memegang perutnya.
Angga menoleh ke arah Dwi, cowok itu memberi tanda oke ke arah Angga sambil melambaikan ponselnya. Angga tertawa sedikit geli, teman temannya memang lebih tanggap dari yang dia kira.
"Kalian duluan, gue nyusul di belakang." ucap Angga
"Lah, mending lo yang duluan Ga. Masa bos besar di taruh di belakang."
"Kamp*et lo!" Seru Angga, mereka tertawa dan berlari lebih dulu.
Angga memakai helmnya, tapi saat hendak menjalankan motornya. Dia menghela nafas berat, kemudian menoleh ke arah belakang.
"Sampai kapan senior mau berdiri di sana?"
Indra yang memang berdiri di balik dinding parkiran, berlahan keluar dan menampakkan dirinya ke depan Angga. Dia menghela nafas dan menatap Angga
"Lo kenapa berurusan dengan Dero?" tanya Indra, Angga mengangkat keningnya "Lo harusnya di-"
"Apa gue yang mulai?" Angga mematikan mesin motornya "Senior, dia bukan orang penting. Kenapa harus gue cari masalah?"
"Hanya hati hati!"
__ADS_1
"Terima kasih sudah memperingatkan," dia kembali menyalakan mesin motornya "Duluan!"