Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 55


__ADS_3

Sementara Lily membantu Mamanya di dapur, Angga menarik Atar keluar untuk bicara. Karena merasa bersalah pada Lily, meski tidak suka Atar tetap mengikuti Angga.


"Kenapa mereka?" Afiq yang duduk menonton penasaran melihat Angga dan Atar "Kapan mereka dekatnya."


Mereka semua melihat ke arah dimana Atar dan Angga tampak bicara serius, Afiq berdiri hendak menghampiri tapi Azka menariknya untuk tetap diam.


"Apasih kak?"


Azka hanya memberinya isyarat untuk diam, dia juga memperhatikan wajah Lily tadi. Dia tidak bertanya karena tidak mau membuat suasana heboh, dia yakin Angga mengintrogasi Atar untuk itu.


"Dia serius masih delapan belas tahun?" Lyz yang dari tadi diam bertanya, Azka menganggukkan kepalanya. "Dia terlihat sudah biasa menghandle situasi, pekerjaannya juga bagus dan dia bisa memimpin dengan baik."


"Lo ngakuin?" Azka menopang sikunya di tangan sofa, Lyz menganggukkan kepalanya "Jadi?"


"Intinya dia tidak buruk, sebagai partner juga." Lyz menghela nafas "Dia baru lulus SMA kan?"


"Kata Yana, iya dia sudah lulus tapi secara resminya belum."


"Ha?" Lyz tidak mengerti maksudnya.


"Yana bilang dia pengumuman kelulusannya masih tunggu bulan depan." jelas Azka


Lyz memiringkan kepalanya "Katakan saja, seminggu lagi. Bulan depankan tinggal seminggu!"


Azka tertawa puas. "Ya begitulah. Sayang sekali mereka terlalu muda dan sudah menikah."


"Tanda kakak harus secepatnya menyusul." Afiq mencetus, Azka mengambil bantal dan melemparnya ke Afiq begitu saja. Lyz ikut tertawa, melihat itu Azka mengangkat kakinya mendorong paha Lyz biar jatuh ke bawah.


"Lo sama gue cuman beda sebulan ya!" katanya pada Lyz


"Setidaknya lo lebih tua dari gue!" Lyz dan Afiq langsung tos, melihat itu Azka hanya mendengus.


Di luar Angga benar benar mengintrogasi Atar, Atar yang ditanyai hanya bisa menggaruk kepalanya. Dia menceritakan kejadian siang tadi, tidak ada yang terlewat.


"Lo mukul cewek?" tanya Atar melihat ekspresi diam Angga, Angga menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


Atar menghela nafas "Lily menamparnya balik, jadi impas."


"Tidak ada yang impas" Angga memasukkan tangannya ke saku, mengambil rokok yang dia simpan di sana. Dia menyalakan rokok dan menyesapnya, dia melirik Atar. "Apa?"


"Lo ngerokok?" Atar tidak percaya melihat Angga, dilihat darimana pun Angga tidak terlihat seperti remaja ya merokok.


"Dari SMP!" Atar menggelengkan kepalanya "Tapi gue bukan perokok aktif."


Atar bersandar di tiang rumahnya "Jadi lo mau bagaimana? Soal Lily!"


"Tadi lo bilang dia pacar lo kan?" tanya Angga, Atar menganggukkan kepalanya mengiyakan "Gue sedikit kesal, bagaimana kalau lo saja yang tanggung? Gue tidak mukul cewek soalnya."

__ADS_1


Atar menegakkan berdirinya, menelan ludahnya karena tidak percaya dengan ucapan Angga. Melihat ekspresi Atar, Angga terkekeh pelan, dia menyesap rokoknya sebelum menghembuskan lingkaran asap.


"Lily sudah membalasnya, aku juga tidak punya hak membalasnya. Masalahnya sudah selesai, kecuali mantan lo cari masalah lagi."


"Lo bakal mukul dia?" tanya Atar, Angga terkekeh


"Tidak. Tapi, gue punya beberapa orang yang bisa melakukannya." Angga mematikan api rokok dan membuang ke tempat sampah "Gue tidak berfikiran pendek, jadi tenang saja."


"Bukannya gue khawatir."


Angga menyeringai, dia mendekat dan menepuk pundak Atar "Kalau lo suka, balikan gih. Lagian gue yakin dia tidak bakal ngengangguin Lily lagi."


Atar diam "Gue memang mau putus sama dia, jadi putus sekarang tidak masalah." ucap Atar kemudian. 


Angga tidak mengatakan apa apa lagi tapi dia berjalan masuk sambil terkekeh, melihat itu Atar menyusulnya


"Gue serius!" ucap Atar, Angga hanya mengangguk mengiyakan.


"Kenapa?" Lily yang dari daput bertanya melihat mereka berdua, dia bertanya tanya sejak kapan mereka akrab. "Kenapa sih?"


Angga menggelengkan kepalanya "Bukan apa apa." Dia mendekati Lily melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu, dia berbisik "Kembaranmu.. Ege!"


pluk


Angga menyentuh kepalanya yang baru terkena timpukan bantal, dia menoleh dan mendapat tatapan tajam Afiq.  Angga menyeringai ke arahnya, bukannya takut Angga makin memeluk Lily


"Kak Angga!" tegur Lily


"Yana sini!" Panggil Afiq pada akhirnya, bukannya pergi Lily malah tertawa cekikikan. 


Plak


Naya memukul lengan anak tengahnya itu "Kenapa kamu yang kesal? Orang Angga meluk istrinya bukan istri kamu."


"Yana masih kecil!"


"Makanya cari pasangan sana." Naya mendengus "Kalian mari duduk sini."


Angga dan Lily menuju sofa yang kosong, Atar yang melihat masih ada tempat menyempil diantara mereka.


"Apasih? Sempit pindah sana." Lily mendorong punggungnya "Gue masih marah ya sama kamu!"


"Dih selo kali Mbak!" Atar bersandar membuat Lily makin kesal "Apa? Mau ngadu ke Mama?"


"Ngak ye, Kak Angga!" Lily menoleh ke Angga yang berusaha menahan tawanya melihat dua orang itu bertengkar "Kak Angga!"


"Iya iya ngak tertawa." Atar memasang wajah ingin muntah. Angga menyikut Atar membuat cowok itu meringis menjatuhkan dirinya di lantai.


"Tau rasa!"

__ADS_1


"Cepu!" dengus Atas, Lily menatapnya sinis


"Biarin. Aku ada tempat buat nyepu, kamu mana?"


Angga tidak tahan lagi, dia menyemburkan tawanya melihat mereka. Atar yang mendengus dan tanpa sadar mengumpat, tapi langsung mendapat jitakan dari Azka.


"Wahh...Kayaknya aku disini anak tiri deh!" serunya berdiri "Tidak pernah dibela perasaan!"


"Siapa bilang kamu anak tiri?" Naya bertanya sewot, Atar melihatnya penuh haru "Orang Mama nemuin kamu di tong sampah depan!"


"Maa!" Atar cemberut dia melangkah mendekati Mamanya dan langsung menyempil diantara orang tuanya.


Azka dan Afiq yang melihat itu hanya mendengus, siapa yang bisa melawan anak bungsu? Para orang tua hanya bisa menggelengkan kepalanya, selalu seperti ini tapi berisik mereka tetap senang.


"Kabar kakek kamu gimana Lyz?" tanya Ayah Atar, Lyz mengedikkan bahunya


"Jangan tanya soal orang tua itu, Om." lirih Lyz, Lily meliriknya merasa karena dari nada bicaranya, Lyz terdengar kesal.


"Kalau bukan dia, aku masih bisa melihat orang tuaku."


Lily dan Angga hanya bertukar pandangan, merasa kalau mereka tidak bisa ikut dalam pembahasan ini. Karena itu Lily meminta izin keluar sebentar, dia mengajak Angga untuk ke teras saja.


"Kamu kayaknya beberapa kali merhatiin orang itu." ucap Angga, dia bersandar di dinding.


Lily duduk di kursi rotan yang memang ada disana "Sebenarnya, wajahnya tidak asing."


Angga melihat Lily "Kamu pernah ketemu sebelum ini?"


Lily menggelengkan kepalanya untuk memikirkannya, tapi sekuat apa pun dia merasa tidak pernah bertemu.


"Ini pertama kalinya." jawab Lily "tapi Lily benar benar tidak asing." dia masih mengkerutkan keningnya.


Angga duduk di kursi sampingnya, mengusap alis Lily yang bertautan "Mungkin kamu pernah ketemu saat kecil, kamu lupa kali."


"Mungkin!"


Angga menghela nafas, dia bersandar di kursi menatap lurus ke depan. Lily yang memperhatikan itu menoleh, dia menarik narik ujung lengan kemeja Angga.


"Hm?"


"Capek ya? Mau pulang sekarang?" tanya Lily, dia kasihan juga pada Angga.


Angga menganggukkan kepalanya, dia mengeluarkan hp untuk meminta supir menjemput mereka. Selesai menelfon dia menggandeng tangan Lily masuk ke dalam rumah, mereka akan pamit dulu sebelum pulang.


"Kenapa buru buru sayang? Menginap saja." ucap Naya yang sepertinya enggan mereka pulang "Kamu juga gak bawa mobilkan?"


"Lily besok ada quis di sekolah dan belum belajar." Lily mengambil tasnya "Kak Angga sudah minta orang untuk menjemput kami." jelasnya


Naya melihat Angga yang hanya diam, dia tidak bisa menahan mereka lagi terlebih melihat wajah Angga. Angga memang sedikit merasa pusing, dia harus melakukan persiapan untuk peluncuran produk baru.

__ADS_1


"Ya sudah kalian hati hati saja di jalan." Ucap Naya, Lily menganggukkan kepalanya. Naya sekali lagi melihat Angga dia menepuk lengannya "Jangan terlalu memaksakan diri, sesekali bersenang senanglah."


"Iya tante" jawab Angga melirih. 


__ADS_2