Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 28


__ADS_3

Angga mengangkat sebelah alisnya melihat Lily pulang dengan wajah berseri senang.


Sebahagia itu dia setelah bertemu teman?


Entah kenapa ada rasa kurang enak menyerang Angga. Lily yang tadi mau langsung ke kamar menyadari kehadiran Angga di ruang tamu, bukankah dia harusnya masih di kantor?


"Lily kesini dulu" Lily menghampirinya dan baru sadar kalau bukan hanya Angga yang ada di ruangan itu.


Dia duduk di samping Angga menatap laki laki dan perempuan yang umurnya ada di pertengahan, tidak tua dan tidak muda mungkin hanya tiga atau empat tahun lebih tua dari Almarhum Ayahnya. Dia menatap Angga dengan ekspresi bertanya, Angga meraih tangannya.


"Kenalkan, ini bude Sum yang akan membantu kamu, dan pakde Tono yang akan menjadi satpam kelurga kita" Ucapnya memperkenalkan mereka "Pakde, Bude ini istri saya, Lily"


Mereka saling bersalaman dan tersenyum ramah.


"Mereka akan bekerja mulai hari ini" kata Angga sebelum pamit sebentar dia menarik tangan Lily membawanya ke dapur yang lumayan jauh dari ruang tamu.


"Kenapa kak?" Lily mendongak menatap Angga yang mendudukkannya di kursi sebelum menarik kursi untuk dirinya sendiri.


Angga meraih tangan kanan Lily mengusap punggung tangannya.


"Sebelum bekerja Bude dan pakde ada satu kondisi, dan kakak tidak bisa mengatakan iya sebelum mendapat persetujuan Lily.


Gadis itu memiringkan kepalanya bingung, kenapa harus meminta persetujuannya sedangkan dia adalah kepala keluarga sekarang.


"Urusan rumah tangga tentu saja Kakak harus minta pendapat Lily, kakak tidak mau Lily merasa kurang nyaman" jelas Angga karena seperti paham kebingungan Lily.


"Memang apa kondisinya?"


"Mereka ingin membawa cucu mereka tinggal bersama mereka."


"Cucu?" tanya Lily


"Hm, cucu laki laki umur 3 tahunan. Menurut penjelasan mereka, Cucu mereka memang tinggal dengan mereka sejak lahir. Kalau mereka disini tidak ada yang menjaganya"


"orang tuanya mana?"


Angga menghela nafas dia hanya menatap Lily seperti ingin menjelaskan tanpa kata kata.


"Dia seperti kita?" Angga terkekeh pelan mendengar pertanyaan polos Lily tapi tak ayal mengangguk juga "Meninggal?"


"Untuk itu kakak tidak tanya karena sepertinya ada luka kalau kakak menanyakannya." Angga menopang dagu dengan tangan Kanan sedangkan tangan kirinya masih memegang tangan Lily, Angga menatap Lily "Bagaimana?"


"Tidak apa apa." jawab Lily, Angga tersenyum puas dengan jawaban Lily, mereka kembali ke ruang tamu untuk mengatakan hasil diskusi mereka.


Lily tersenyum kecil melihat kebahagian pasangan itu, padahal hanya hal kecil.


Lily dan Angga mengantar mereka ke kamar dimana tempat Asisten rumah tangga sudah lama dipersiapkan tapi baru sekarang terisi.


Di kamar itu ada Kasur busa yang cukup besar, dua lemari dan sebuah meja untuk menaruh barang printilan, kamar itu juga sudah ada AC karena menurut Ayah Angga kipas angin kurang praktis, Ayah Angga bahkan berprinsip 'Sebelum mau diperlakukan baik berlaku baiklah lebih dulu pada orang lain. Memanusiakan manusia.'


"Maaf bude, kamarnya belum sempat di rapikan" ucap Lily, Bude Sum menggelengkan kepalanya dan mengatakan tempat itu jauh dari kata tidak rapi, terlihat jelas kalau tempat tempat di rumah itu dirawat dengan baik.

__ADS_1


Tak lama pasangan itupun pamit untuk menjemput cucu mereka dan mengambil barang karena akan tinggal di rumah Angga dan Lily.


"Kakak masih mau kembali ke kantor? " Tanya Lily karena melihat Angga masih lengkap dengan jasnya.


"Tidak." Dia berjalan ke arah tangga untuk kembali ke kamarnya, dia melihat Lily yang seperti ingin mengatakan sesuatu "Kenapa?"


"Ah?" Dia menggelengkan kepalanya "Lily mau menunggu bude Sum saja dulu"


"Oh" Angga berkata dan buru buru ke kamarnya mengingat tas sekolah yang harusnya full dengan buku pelajaran malah penuh dengan berkas pekerjaan.


Angga hanya melempar jasnya asal menarik tugas sekolahnya lebih dulu sebelum pindah ke pekerjaan yang menumpuk.


Kalau saja dia tidak menuruti permainan asisten mungkin pekerjaan tidak akan sebanyak ini, tapi Angga percaya kalau asisten melakukan hal seperti ini untuk melihat apa dia pantas atau tidak menerima tanggung jawab untuk mengepalai ratusan karyawannya.


Dia meregangkan lehernya yang terasa pegal, tangannya juga sudah sedikit kram karena terus memegang pulpen.


Tok tok


"Masuk saja, Ly!"


Angga menoleh dan benar


Lily yang mengetuk, di tangan Lily ada nampan berisi camilan dan teh untuk Angga.


Dia meletakkan di nakas dekat kasur karena Angga bekerja di kasur. Menghela nafas panjang Lily memunguti pakaian pakaian kotor Angga menyimpannya ke keranjang pakaian kotor yang kosong karena pakaian kotornya berserakan di dalam kamar itu.


Angga mengangkat kepalanya karena baru sadar kalau Lily belum keluar dan malah menyapu di kamar itu tanpa suara. Merasa diperhatikan dia menoleh


"Tidak ada waktu membersihkan" kata Angga, ya memang benar dia tidak punya waktu untuk itu, pagi pagi sudah harus berangkat sekolah bahkan saat pulang sekolah dia tidak langsung ke rumah malah langsung ke kantor dan pulang ke rumah setelah larut malam.


"Setidaknya pakaian kotor di taruh di keranjang" gumam Lily, Angga terkekeh kecil mendengarnya menggeruru.


"Iya" Jawab Angga dia memberi isyarat agar Lily mendekatinya, gadis itu menyimpan sapunya dan berjalan mendekat.


"Bagaimana lukanya?" Angga menarik berlahan tangan Lily untuk duduk di sampingnya.


"Sudah tidak apa apa" Lily melirik tumpukan berkas di kasur. "Lily mau keluar, pekerjaan kakak banyak"


Melirik pekerjaannya Angga menggelengkan kepala "Tidak apa apa, tapi ada apa? Ada yang kamu mau katakan?"


Angga sudah memperhatikannya dari tadi, Lily beberapa kali menarik kalimat yang ia ucapkan.


"Itu... Lily besok sudah mulai bekerja." cicitnya, Angga mengkerutkan keningnya


"Bekerja? Kamu sudah mendapat kerja?" Lily menganggukkan kepalanya "Di mana?"


"ReAl" jawab Lily "Tadi tidak sengaja lihat ada Loker di sana dan kak Alga meminta Lily memasak menu, setelahnya di terima" jelas Lily.


"Di ReAl?" Lily menganggukkan kepalanya "Oke, tempat itu bagus"


Setelah bertanya ini itu Angga menganggukkan kepalanya mengizinkan Lily bekerja. Senyum gadis itu langsung merekah.

__ADS_1


"Ah Kak!" Seru Lily mengingat sesuatu.


"Ya?"


"Sepupuku menanyakan alamatku ke teman teman lama"


"Sepupu?" tanya Angga "Sepupu yang mana?"


"Anak tante yang waktu itu datang ke rumah Ayah" Lily menghela nafas dia bersandar di kepala ranjang "Rudi itu bandel jadi dia tidak segan segan memukul orang, kalau sampai tahu kalau sertifikat ada di tangan Kakak, Lily takut kala-"


"Lily takut Kakak dipukuli?" Angga mengangkat sebelah alisnya, Lily menganggukkan kepalanya "Tidak usah khawatir."


"Tap-"


"Begini begini kakak juga lumayan bandel" kata Angga dia tertawa melihat ekspresi bingung Lily "Ly, kamu tahu syarat menjadi ketua Osis Tunas Bangsa?"


"Cerdas? Tangkas?"


Angga menganggukkan kepalanya "Ya itu juga, tapi lebih dari itu... Ketua Osis harus mampu melindungi dirinya, terlebih Tunas Bangsa banyak preman yang harus dibereskan karena guru tidak mampu menghandle mereka sendirian jadi Osis harus ikut turun tangan" Angga mengambil berkas di sampingnya memilahnya "Bukan hanya ketua dan wakilnya, semua ketua Sekbid harus bisa membela diri mereka. Jadi jangan khawatir"


"Tetap saja, Rudi sabuk hitam karate."


"Ah pasti sakit kalau kena pukul" Angga menggaruk keningnya "Tidak apa apa, karena status pekerjaan Ayah Kakak sering jadi korban penculikan saat masih kecil jadi digebuk sedikit tidak masalah."


"Kakak!" kesal Lily, Angga tertawa dia mengacak rambut Lily yang terlihat sangat khawatir.


"Serius jangan cemas, sejak kecil Ayah memasukkan kakak di beberapa tempat untuk belajar beladiri."


Lily akhirnya menghela nafas lega dia hendak keluar tapi di cegah Angga dan memintanya tidur di situ saja.


"Eh tapi... Tapi Li-"


"Tidak dosa kita tidur bareng. Kamu tidur disini saja dulu."


"Oke" Lily bangun masuk untuk ke kamar mandi mencuci tangan dan kaki sebelum naik ke kasur.


Dia berbaring di samping Angga yang kembali fokus pada pekerjaannya, Lily melihat wajah serius Angga yang sesekali menelfon hanya untuk bertanya hal yang tidak dia mengerti. Angga terlihat sangat cocok dengan pekerjaannya.


Angga kembali meregangkan tubuhnya dia melihat jam alarm yang dia simpan di atas nakas, jam 01.30? Dia menoleh ke samping Lily sudah tidur sejak tadi. Angga merapikan pekerjaannya dia juga ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya mengganti pakaiannya sebelum naik ke kasur untuk istirahat bersama Lily.


Dia melihat wajah damai Lily yang tidur dengan tenang, sepertinya Lily sudah menerima keadaan mereka sedikit demi sedikit. Angga meraih tangan Lily yang ada di samping kepalanya, menggenggamnya!


Angga sebenarnya tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. sama seperti pekerjaannya baginya Lily juga hanya tanggung jawab, Angga takut kalau perasaan seperti ini terus dia takut Lily terluka.


Dia membawa tangan Lily kekeningnya menggenggamnya disana.


"Gue harus bagaimana?" Angga bergumam, dia bingung tapi tidak mau melepas amanah terakhir Ayahnya. "Kakak egois, maaf! Tapi kakak berusaha semampu kakak oke?"


ya dia harus berusaha mengembangkan perasaanya yang hanya sekedar tanggung jawab itu menjadi rasa benar benar suka.


*****

__ADS_1


__ADS_2