
Lily atas izin Angga tentunya berkumpul bersama teman temannya setelah jam pulang sekolah dengan syarat Lily tidak pulang malam dan tidak boleh membiarkan siapapun menyentuh rambutnya, dan tidak boleh membiarkan lawan jenis menyentuhnya bahkan seujung kuku kecuali mendesak.
Sebenarnya Angga masih kesal karena melihat laki laki mengacak rambut Lily.
Lily sadar itu yang membuat Angga memberinya persyaratan untuk keluar tadi.
Mereka berkumpul di resto yang terkenal di kalangan remaja.
"Lily?" Lily mendongak melihat Hanin yang berdiri di depan mejanya.
"Kak Hanin" sapanya, Hanin tersenyum dia hendak menepuk kepala Lily reflek gadis itu mundur.
"Baru keramas" cicit Lily membuat Hanin tertawa dengan pandangan menggoda, sebenarnya Afkar sudah memberitahunya tentang status Lily yang sama seperti dirinya.
"Ma, ngak usah tebar pesona lapar nih" Lily mendengar teriakan itu dan melihat senior dari kelas Hanin ada disini, matanya membulat.
Ah.. Dia iri melihat kekompakan kakak kelasnya itu.
"Bawel lo!"Serunya pada teman temannya "Ly gue kesana"
Lily menganggukkan kepalanya tapi masih dengan kening mengkerut dengan kerlingan Hanin.
"Mereka satu sekolah dengan kamu?" tanya Sera dia menyesap jus jeruk di depannya.
"Iya, kakak kelasku"
"Mereka tadi yang paling heboh, kuping gue mau pecah karena ada di samping mereka" Keluh Anis, dia masih merasakan telinganya berdengung karena sorakan yang keras saat pertandingan tadi.
Lily terkekeh dia kemudian menceritakan tentang bagaimana kelas itu.
"Memang ganteng ganteng sih" Ucap Gebi sambil senyum senyum sendiri matanya sesekali melirik ke meja depan.
"Ya ganteng cantik doang sih percuma" Anis bersandar bersedekap dada, Lily yang tadi makan pasta meletakkan garpunya
"Mereka bukan modal ganteng doang. Pacar kak Hanin yang tadi itu... Ketua sekbid 2 di sekolah, kak Hanin peringkat kedua di seluruh sekolah, peringkat ketiga juga ada di kelas itu. Terus 2 Anggota basket yang bertanding dengan Atar juga dari kelas itu" jelas Lily
"Yang Mana?" Tanya Atar
"nomor punggung 03 dan 04. Nomor punggung 03 kak Ibrahim itu ketua Sekbid 1 dia juga ketua rohis sekarang dan yang satunya kak Zain dia ketua sekbid 10 dan dua lagi di kelas itu juga sekbid 2 dan sekbid 4." Jelas Lily "Dan satu lagi owner tempat ini juga salah satu dari mereka."
Sera memasukkan sendok ke mulut Anis "Mamam noh modal ganteng sama cantik doang!"
Anis menepis tangan Sera dan mulai berdebat.
"Terus cowok kamu? Apa kedudukannya di sekolah?" Gebi menopang dagunya dan menatap Lily yang sekarang sedang senyum
"Kak Angga, mantan ketua Osis sekolah kami" jawab Lily.
"Tampang belagu begitu? Mantan ketua osis?" Tanya Anis, Lily mengambil sendok dan melemparnya "Sakit, Na!"
"Kamu ada masalah apa sama anak sekolahanku?" Lily bertanya kesal ke arah Anis.
"Dia kesal" Atar yang menjawab dia menyeringai "Dia taruhan soal pertandingan dan dia kalah"
__ADS_1
"Gara gara kamu" kesal Anis
"Makan tuh taruhan, masih SMA juga dah belajar judi" Abel mendengus ke arah Anis yang sebenarnya tidak lain adalah sepupunya.
"Na!"
Lily menoleh ke Gebi dengan ekspresi bertanya
"Pacar kamu tidak kasarkan sama kamu? Dia baikkan?"
"Bilang kalau dia macam macam" ucap Atar, Lily menggelengkan kepalanya
"Aku tidak tahu perlakuan Kak Angga ke orang lain, tapi sama aku dia baik banget!" Lily menunduk memainkan jari jarinya "Aku bahkan merasa kalau aku tidak pantas buat kak Angga. Dia pintar, baik, berprestasi, dia juga populer pasti banyak perempuan yang lebih cocok"
Sera meraih tangannya "Na, Kamu cantik Na, kamu pinter. Dia mungkin populer di sekolah kamu tapi dia pilih kamu kan? Na, kamu hanya perlu percaya diri."
Lily menghela nafas, tidak tahu saja mereka kalau Angga tidak memilihnya tapi dijodohkan dengannya yang artinya dia dipilih karena keharusan.
"Bukan karena orang tuanya tidak suka kamu kan? " Tanya Gebi, ekspresi Lily makin sendu.
"Kak Angga juga sama kayak aku, kami tidak punya orang tua."
"Maaf" Gebi berpindah dan memeluk Lily merasa prihatin karena berfikir kalau Lily pasti mengkhawatirkan banyak hal makanya dia mencari pacar yang sama dengannya.
"Tidak apa apa"
"Oh ya, Na. Sepupu kamu si Rudy, dia nanyain kamu tinggal dimana"
Lily menghela nafas, pasti mencari untuk sertifikat rumah.
"Tapi aku mau tahu kamu tinggal dimana" Cicit Sera, Lily terkekeh tentang apa yang dikatakan Atar tidak salah.
"Maaf"
Lily pamit ke kamar mandi sebentar karena panggilan alam, setelah selesai dia berjalan pelan tapi berhenti saat matanya menatap kertas yang tertempel di dinding dimana Memo di tempelkan.
"Lowongan kerja?" gumam Lily
"Kami mencari koki" Lily kaget saat seseorang tiba tiba berdiri di sampingnya "Ah sorry, gue gak maksud bikin lo kagat."
"I..Iya kak tidak apa apa" jawab Lily dia melirik pengumuman lowongan kerja itu lagi.
"Gue Alga, gue bertanggung jawab di resto." Alga mengulurkan tangannya, Lily membalasnya dia menyebutkan nama dan melepasnya. "Lo tertarik mau kerja"
Lily menganggukkan kepala " tapi saya tidak bisa full time kak"
Alga diam sebentar "Tapi kamu bisa masak?"
"Kakak bisa menguji saya" ucap Lily tangannya tertaut di belakang karena merasa gugup.
"Lo sempat gak kalau gue uji sekarang?" tanya Alga dia mengeluarkan resep dari sakunya "lo bisa coba resep ini"
Lily menganggukkan kepalanya tapi sebelum mengikuti Alga ke dapur dia mengirim pesan ke teman temannya memberitahu kondisinya sekarang.
__ADS_1
Alga menunjukkan kompor yang tidak digunakan karena kekurangan juru masak, menunjukkan bahan bahannya terakhir dia memberi Lily apron dan penutup kepala.
Lily menganggukkan kepalanya dan mulai mengeluarkan bahan bahan yang sesuai resep tertulis, mencuci yang perlu yang dicuci. Dan sebelum mengeksekusi bahan bahan dia terlebih dulu mencuci tangannya.
Karena resepnya lumayan merepotkan jadi dia harus membutuhkan waktu sedikit lama, di belakangnya Alga berdiri tanpa memberi instruksi sedikitpun dia membebaskan Lily.
Setelah selesai dia menyajikannya sebersih mungkin dan menatanya agar tidak terlihat cantik lalu menyajikannya ke Alga yang sudah menunggunya.
Jantungnya berdegup karena Alga hanya menatap masakannya tapi semakin panik saat melihat Alga mengambil sendok untuk mencicipinya.
"Hmm..." cuman itu respon Alga.
Dia meminum air sedikit sebelum menatap Lily
"Enak, tapi kurang manis. Gula merahnya kurang sedikit" ucap Alga dia menarik kursi dia juga mempersilahkan Lily duduk.
"Kamu bilang tidak bisa fulltime apa alasannya?" Alga mengambil kertas dan pulpen yang tadi sudah disiapkan.
"Saya sekolah dan tinggal di rumah kerabat" jawab Lily, Alga mengangguk angguk
"Kenapa mau kerja, memang kamu bisa mengatur waktu?"
"Saya harus mengumpulkan uang saya sendiri, tentang waktu saya bisa mengaturnya."
Alga diam sambil bersedekap dada sambil berfikir.
"Sebenarnya kami butuh pekerja fulltime bukan paruh waktu" Lily menautkan kedua tangannya dia juga sadar itu "Tapi kamu satu satunya setelah dua minggu yang cocok dengan selera resto kami.
Lily tetap diam, Alga menghela nafas dan bertanya waktu yang luang untuk Lily kapan.
"Dari pulang sekolah sampai jam tujuh atau delapan."
Alga menopang dagunya sambil mengetuk ngetukkan jarinya di meja berfikir.
"Kapan kamu bisa bekerja? Hari ini bisa?"
"Sa.. Saya tadi hanya izin jalan sama teman, Kak" jawab Lily dia takut Angga marah padanya kalau dia tidak izin dulu.
"Kamu bisa kerja besok" Ucap Alga membuat senyum Lily merekah lebar.
"Terimah kasih, Kak!"
"Tidak tidak, saya yang harus berterimah kasih" Dia mengulurkan tangannya sekali lagi, Lily lalu menyambut "Selamat datang di ReAl, semoga betah ya"
"Terimah kasih banyak." ucap Lily lagi.
Alga mengubah ekpresinya dari yang tadi serius menjadi ramah "Jangan tegang begitu, ikut gue, gue kenalin ke teman teman."
Lily berdiri dan mengikuti Alga yang berjalan menuju ruang staf
"Lo sekolah dimana? Kelas berapa?"
"Kelas 10 A tunas Bangsa kak"
__ADS_1
"Oh, adek kelas gue dong?" Lily menganggukkan kepalanya "Pantes dari tadi lo manggil gue kak" Alga meraih pintu ruangan staffnya istirahat "Santai saja, oke!"
*****