Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 38


__ADS_3

Setelah menekan bel beberapa kali, akhirnya terdengar suara dari dalam yang membuka.


Di depan mereka, cowok yang matanya setengah terpejam. Wajahnya kusut seperti rambutnya, terlihat jelas kalau dia baru saja bangun.


"Cari siapa?" cowok itu bertanya, sepertinya dia tidak memperhatikan siapa tamunya.


"Kak Afiq!" seru Lily, merasa namanya di sebut, cowok itu mau tidak mau memperhatikan siapa yang datang.


Keningnya mengkerut, tak lama dia berseru "YANA!"


Lily tersenyum.


"Ma... Yana datang Ma!" Afiq berteriak, dia menarik tangan Yana.


Langkah kaki Afiq terhenti, dia menoleh saat menyadari Lily tidak datang seorang diri. Afiq menatap Angga yang balas menatapnya. Angga mengangkat sebelah alisnya, dia tidak suka pandangan Afiq yang seperti menscen dirinya.


"Na, kamu datang dengan dia?" Afiq menunjuk Angga sementara wajahnya menoleh ke Lily "Siapa orang jelek ini? Tampangnya menyebalkan."


Angga tanpa sadar mengertak giginya, dia ingin memukul Afiq saat ini. Dia melihat ke arah Lily, gadis itu tampaknya bingung mau jawab apa.


"P-"


"Kenapa kalian menghalangi pintu?" Atar yang baru saja datang bertanya. Dia melihat kakaknya menatap Angga tidak suka "Fiq, ngapain sih lo di pintu? Ngalang jalan"


"Lo tau dia siapa?" Afiq menunjuk Angga.


"Pacarnya Yana." Atar mengedikkan bahunya, dia mempersilahkan Angga masuk.


"What? Apa? dia apa?" Afiq bertanya beruntun sambil mengekori adiknya. " Yana! Kamu harus putus sama dia!"


Angga tanpa sadar melangkah mundur begitu Afiq menoleh ke arahnya. Angga bukan takut, dia kaget karena tindakan tiba tiba Afiq.


"Ah... Itu..." Lily menggaruk pipinya dengan telunjuk, dia melirik Angga dengan tatapan minta bantuan.


"Lo kalo di suruh putus sama sofia begitu, emang mau?" Atar bertanya, dia menatap kakaknya yang tidak masuk akal itu.


"Itu beda!"


Atar mengangkat dagunya, menatap kakaknya dengan pandangan aneh "dimana letak perbedaannya? Kenapa lo makin hari makin ogeb sih?"


Lily menggaruk keningnya yang tiba tiba gatal, selalu begini. Mereka berdua sangat jarang untuk akur.


Afiq melipat kedua tangannya "Bagaimana sama lo?"


"Gue? Gue biasa saja. Kalau disuruh putus, itu bukan hal yang terlalu besar." Atar mengedikkan bahunya.


"Kamu masih suka gonta ganti pacar?" Lily bertanya pada Atar dengan nada menuduh.

__ADS_1


Atar tidak menjawab tapi malah menyengir, dia mengangkat sebelah alisnya di ke arah Lily "Kamu yang paling tahu alasan aku sering putus, bukan begitu adik manis?"


Lily mendengus, dia melepaskan dirinya dari Afiq. Dia mendekati Angga yang seperti terabaikan keberadaannya. Angga mengangkat alisnya


"Kenapa?"


Lily menggelengkan kepalanya "Tidak ada, ayo masuk!"


"Yanaaa... " gerutu Afiq, Atar menahan kakaknya itu menariknya ke samping karena benar benar menghalangi jalan masuk ke dalam rumah.


Afiq menyusul mereka masuk dan duduk di sofa di depan Angga dengan tatapan tidak suka. Angga sendiri tidak peduli, dia malah memperhatikan dinding yang terpampang banyak foto.


"Na, buat minum!" Atar yang baru dari kamarnya berbicara, Lily begitu masuk langsung bermain kucing.


"Mama mana ya?" Afiq baru sadar, dari tadi dia tidak melihat Mamanya. Bahkan setelah dia panggil panggil.


"Lo pasti tidurkan tadi?" Atar bertanya "Mama jemput kak Azka."


Afiq mencibir, dari dulu dia ingin menjedotkan kepala Atar di dinding. Anak itu selalu tidak sopan padanya, tapi pada Kakak pertamanya, dia selalu menggunakan embel embel Kak.


Atar melihat Angga yang tampak fokus pada satu gambar, dia juga melihatnya.


"Itu Yana dan Gue" ucap Atar. Angga melihat foto dua bayi, satu memakai bedongan biru dan bayi lainnya memakai warna merah muda.


Angga mengerti sekarang, Lily menganggap keluarga ini seperti keluarganya karena mereka melakukan hal yang sama.


Sangat jarang foto Atar sendirian, pasti ada Lily bersamanya. Mereka di perlakukan layaknya anak kembar.


Melihat foto foto Lily, dia tahu awal mula kenapa istrinya itu suka warna merah muda. Sejak kecil, sepertinya dia selalu disuguhkan dengan warna itu. Dari semua foto masa kecil yang terpampang, Lily selalu menggunakan pakaian warna feminim itu.


"Assalamu'alaikum" Pintu terbuka dan menampakkan nyonya rumah telah kembali


"Wa'alaikum salam" mereka membalas salam itu.


Wanita itu menertawakan kedua putranya "Astaga, kenapa wajah kalian tidak pernah tampan sih?"


Atar dan Afiq hanya memutar bola mata jengah.


"Kan turunan Mama" ucap Atar, wanita itu mencibir dia melempar kipas di tangannya ke arah putra bungsunya. Atar yang sepertinya sudah biasa langsung menghindar.


Angga yang duduk di sana cukup terkejut, dia tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Angga melihat dua pria yang berdiri di belakang wanita itu, mereka juga menatapnya.


"Jaga sikap, ada tamu" pria paru baya menegur, seperti baru tersadar akhirnya menyadari keberadaan Angga.


"Hei, kapan kamu datang nak?." Naya langsung mengubah nada bicaranya.


"Baru tante"

__ADS_1


"Mama kenal?" Afiq bertanya tidak suka


"Dia kan pacar Yana."


"Apa?" Dua pria tadi berseru bersamaan. Secara bersamaan, mereka menatap Angga dari atas ke bawah, terlebih Angga sudah berdiri.


Tak lama Lily keluar dengan nampang di tangannya. Tadi dia sudah mendengar dari dapur kedatangan orang tua angkatnya.


"Ini... Ada apa?" Lily meletakkan minuman di meja sebelum bertanya, suasana di sana tampak gelap. Dia melihat Angga yang sepertinya mulai tidak nyaman.


Lily berjalan ke arahnya, saat hendak duduk suara berat Ayah angkatnya terdengar. "Yana, duduk di sini" pria itu menepuk sisi kosong di sampingnya.


Mau tidak mau Lily menurut, dia merasa aneh.


Angga hanya bisa mendengus dalam hati. Untuk beberapa bulan belakangan ini, dia memang terbiasa bertemu pria dewasa, tapi kali ini entah kenapa dia merasa gugup.


Suasana yang hening pecah saat ponsel Angga berdering, keningngnya mengkerut melihat id pemanggil. Dia permisi saat hendak menjawab telefon, tapi dia di cegah dan disuruh menjawab di sana.


"Ya, kenapa Om?" Angga bertanya, yang menelfonnya asisten ayahnya.


Mereka diam tidak bersuara, Ayah Atar menatap ekpresi Angga. Anak itu tadi jelas seperti anak remaja biasa yang bertemu orang tua pacarnya, tapi lihat sekarang! Anak itu memasang ekspresi layaknya orang dewasa.


Angga menghela nafas "Kalau mereka menolak pertemuan itu, beritahu mereka kalau saya akan menemuinya langsung, besok." Angga diam karena mendengar penjelasan asisten itu "Om tidak perlu mengkhawatirkan itu, ini bukan pertama kalinya. Saya akan mengurusnya"


Lily terus memperhatikan Angga, dia tidak pernah melihat wajah setenang itu dari Angga, biasanya cowok itu selalu menampilkan wajah lembut padanya. Merasa di perhatikan, Angga mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah Lily.


"Baj*ngan ini!" Afiq bereaksi kesal, tapi dia ditahan Azka. Dia tidak tahu siapa Angga, tapi dia yakin dia bisa di percaya.


"Tolong siapkan saja berkas yang saya minta sebelumnya. Selebihnya kita bahas besok. Suruh tim Claudya bersiap, saya akan membawa mereka."


Selesai mengatakan apa yang dia mau katakan, Angga memutuskan telfonnya. Dia mengehela nafas pelan, wajahnya kembali normal.


"Kamu anaknya Satya kan?" Pria paru baya itu bertanya


"Ya om"


Dia menatap Angga lagi sebelum menghela nafas "kamu lebih mirip sifat ibumu."


Angga hanya bisa tersenyum canggung, wajar kalau mereka mengenal ibunya lebih dari dirinya sendiri. 


"Ayah selalu mengatakan itu" jawab Angga, matanya menyendu tapi hanya sebentar.


"Jadi, apa yang kau punya sampai berani menikahi anak saya?"


Deg


Angga dan Lily menelan ludah bersamaan, kapan mereka mengatakannya?

__ADS_1


*****


Maaf dua hari ini tidak up, saya sedikit ada kesibukan. Juga kebetulan, draft saya habis. Ini saya malah terburu nulis pagi pagi hanya untuk chap ini.😁😁😁


__ADS_2