Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 15


__ADS_3

Tio menatap Angga dengan pakaian cleaning servis kantor dengan pandangan tidak percaya, disampingnya ada Niel dan Hari juga memakai seragam yang sama dengan muka ditekuk.


"lo tau kan, Ga, ini tugas pak Juan saja tidak cukup" Niel mengangkat pel di tangannya dengan nada kesal, Angga memutar bola matanya jengah "apa maksudnya lo liat gue begitu? Meski begini emak gue kagak pernah ngasih gue buat ngepel di rumah"


Hari mencibir kearahnya "anak Mami"


Niel menendang kakinya membuatnya tersenyum puas "shut up, Mr potter"


Hari berdiri dia mengangkat tangannya untuk membalasnya tapi Angga lebih dulu memukul mereka dengan kain lap ditangannya.


"riweh banget lo berdua, tenang saja gue tidak bakal nyuruh lo berdua mengepel beneran"


Hari menunjuk Niel "dia duluan yang manggil gue Hari Potter" serunya tidak terima


"eh nyet, untung lo gue panggil Hari potter mau gue panggil voldembrot lu?"


Angga mengabaikan kedua temannya yang kembali bermain main, dia melihat Tio dan berkata untuk meninggalkan mereka padanya.


"Kalau begitu saya pamit pak"


Angga menganggukkan kepalanya, saat Tio meninggalkan mereka dia menyeret alat pembersih untuk memulai penilaiannya pada karyawan yang bos besarnya baru meninggal dunia.


Sebelum beraksi siang ini, Angga menyerahkan beberapa data kepada teman temannya agar memudahkan mereka untuk membantunya, mereka sering melakukan hal seperti ini sebelumnya jadi bukan masalah.


Mereka membagi tugas di departemen yang berbeda, Angga tahu ini tidak akan selesai dalam tiga hari mengingat banyaknya orang tapi dia akan berusaha mempersingkat. Dia juga tahu akan sedikit sulit, Lingkungan kantor dan sekolah berbeda karena itu dia memperingatkan temannya lebih awal soal waktu kerja yang sedikit lama.


Angga mengambil bagian dimana memungkinkan dia tidak di kenali, jadi dia mengambil departemen yang jarang berhubungan langsung dengan presiden perusahaan karena kalau mengambil bagian di departemen yang lebih tinggi dia sudah dikenali beberapa petinggi yang sempat bertemu kemarin ataupun sempat bertemu sebelumnya saat mereka berkunjung ke rumah.


Angga mengepel dengan serius tapi pendengarannya dia tajamkan begitu dengan analisisnya.


"bro, kerjain ini dong. Gak paham gue" seorang menghampiri orang yang tenggelem dengan pekerjaannya yang kebetulan berada tidak jauh dari Angga.


"sorry bro, tapi pekerjaan gue juga numpuk nih." karyawan yang meminta bantuan itu memandang meja di depannya yang memang banyak berkas. "maaf banget, bro"

__ADS_1


"lagian ngapain lo rajin banget? Bos kita sudah meninggal jadi percuma saja" ucapnya mendengus "paling juga ini hanya bertahan sebentar"


"jangan begitulah bro, gue yakin ini tetap bakal jalan, karena bukan presiden perusahaan saja yang bekerja, masih ada petinggi lain yang bakal serius mempertahankannya, pak CEO juga masih punya anak yang bakal nerusin"


Karyawan yang meminta bantuan itu berkecak pinggang sambil mencibir "memang apa yang bisa diharapkan dari anak kecil? Kalau memang bisa, gue mungkin sudah punya perusahaan" dia meletakkan berkasnya di atas tumpukan milik karyawan lain "bantuin ya."


Angga mengepalkan tangannya, ini bukan pertama kali dia mendengar dia diremehkan hanya karena dia anak SMA, dia sudah mendengarnya beberapa kali hari ini.


Setelah merasa cukup dia meminta kedua temannya juga berhenti, Niel dan Hari menyerahkan catatan yang mereka buat untuk Angga.


"sebenarnya buat apa lo nyelidikin karyawan lo?" tanya Hari dia meluruskan tubuhnya, dia benar benar mengepel karena bertemu karyawan menyebalkan yang seenaknya memerintahkannya. Kalau tidak mengingat dia sedang menyamar dia pasti akan membantahnya.


Niel mengelilingi ruangan Angga yang merupakan bekas ruangan Ayahnya. "Setelah jadi CS, gue sekarang mikir... Kenapa ya gaji CS itu rendah? Bukan gimana ya... Pekerjaan mereka sulit loh dan butuh mental kuat karena sifat semua karyawan beda beda, ada beberapa yang sombong." tanya Niel yang berdiri di rak buku "buku sebanyak ini emang dibaca?"


"lo benar, CS bukan pekerjaan mudah." Angga berdiri menuju meja kebanggan ayahnya mengambil hp yang ada di sana.


Dia melihat ada pesan dari Lily yang menanyakan kepulangannya. Dia menatap pesan itu dalam diam.


"ceweknya kali" Niel menjawab Hari yang menanyakan kenapa Angga menatap ponsel dengan tatapan begitu lembut, tatapan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Hanya karena itu?" Hari mengkerutkan keningnya, Niel mencibir ke arahnya


"makanya punya pacar biar lo tau rasanya jatuh cinta"


Hari mendengus mengambil bantal sofa dan melemparnya ke arah Niel.


"alah, lo yang pacaran paling lama tiga bulan gak usah sok nyuruh gue jatuh cinta, an.jir"


Angga melihat dua temannya yang bercanda malas, dia mengambil telefon meminta Tio masuk menemuinya.


Tidak butuh waktu lama, pria yang mungkin seumuran Ayahnya masuk. Dia meminta pendapat pria itu tentang beberapa proyek yang belum sempat dikerjakan Ayahnya.


Tio bersyukur pemahaman Angga tidaklah lambat juga tidak buruk, awal meninggalnya atasannya dia sempat merasa sangat frustasi karena takut Angga tidak seperti bayangannya, dia takut Angga hanyalah remaja yang tidak bisa memegang tanggung jawab dan malah menyalagunakan posisinya, tidak jarang hal ini terjadi, sangat wajar dia menjadi cemas.

__ADS_1


Angga menopang dagunya matanya tertuju pada berkas dan mendengar dengan serius penjelasan Tio yang menjelaskan tentang pengakusisian sebuah perusahaan yang sementara jadi proyek ayahnya.


"jadi bagaimana menurut, Tuan?" Tio bertanya setelah menjelaskan rencana awal.


Angga mendongak ke arahnya dengan kening terangkat.


"kenapa harus menunggu sampai harga sahamnya anjlok? Maksudku.... Perusahaan itu bukan hanya kita yang mengincarnya" jelas Angga dia mengetukkan jarinya di meja sambil terus berfikir.


"itu mungkin sulit, kita tidak hanya mengakusisi satu perusahaan tapi tigac ucap Tio


"lepaskan yang ada di kota P" kata Angga cepat, dia sudah memeriksanya


"tapi, pak?"


Angga mengangkat sebelah keningnya "tidak ada keuntungan mengakusisi perusahaan itu, selain kondisi kantor yang kurang, tempat dan pendapatan yang bisa kita raih tidak sama dengan dua lainnya" Angga mengambil berkas dan laporan itu  maksudkan pada Tio


Pria setengah baya itu tersenyum simpul, Angga sesuai ekspektasinya. Meski dalam penjelasan Angga agak kaku itu diwajarkan karena Angga memang masih sangat baru dalam bidang ini. Tapi Tio bisa melihat insting dalam berbisnis Angga tajam seperti ayahnya.


Setelah menjelaskan beberapa hal Tio akhirnya undur diri tapi belum sempat dia keluar dia kembali di panggil Angga.


"ini..." Tio menatap surat di tangannya yang baru saja diberikan Angga. "Tuan mendapat masalah di sekolah?"


Angga menggelengkan kepalanya, dia melirik temannya yang malah tidur pulas di sofa


"punya pacar saya, tolong ya Om jadi walinya besok. Sebenarnya saya ingin mewakili tapi saya merasa kurang pantas."


"Tapi..."


"saya akan menjelaskannya nanti, hanya cukup jadi walinya besok."


"baik pak."


******

__ADS_1


__ADS_2