Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 106


__ADS_3

Lily terkejut saat keluar dan mendapati Angga bersandar di kap mobil, dia sama sekali tidak memberi tahunya kalau akan menjemputnya. Angga yang tadinya sibuk bermain ponselnya mengangkat kepalanya, senyumnya langsung tersenyum ke arah Lily.


"Kenapa tidak bilang kalau mau jemput?" tanya Lily begitu tiba di depannya, "Lily kan bisa keluar lebih awal."


Angga menyampirkan anak rambut Lily ke belakang telinga, "Tidak apa apa, Kakak cuman mau pulang saja ke rumah, jadi jemput kamu dulu."


Dia membuka pintu dan membiarkan Lily masuk lebih dulu, Angga barulah ke arah kursi pengemudi. Merasa ada yang kurang beres, Lily menoleh ke arah Angga.


"Kenapa?" tanya Angga merasakan pandangan Lily, gadis itu menggelengkan kepalanya "Kakak makin ganteng ya?"


"Hue..." Lily memasang tampang mau muntah, Angga tertawa melihat itu.


"Memang benar, kakak kan makin ganteng Li." canda Angga, Lily mendelik tapi tetap terselip senyum di bibirnya.


"Tumben kakak pulang bukan di akhir pekan?" tanya Lily


Angga mengetuk ngetukkan jarinya di kemudi mobil, "Mungkin karena kakak kangen!"


"Apa sih Kak." cicit Lily.


Angga terkekeh sebelum kembali bertanya "Kamu mau jalan jalan gak?"


"Ke mana?"


"Ke mana saja, keliling keliling naik mobil." tawar Angga, Lily berfikir sebelum menggelengkan kepalanya "Kenapa?"


"Lily belum mandi."


"Kan di mobil juga, ngak ada yang bauin kamu kecuali kakak," ucap Angga, dia mengendus-enduskan hidungnya "Lagian bau kamu enak, bau daging panggang!"


"KAKAK!"


Angga langsung terbahak keras, Lily yang melihat itu cemberut dibuatnya. Dia mengangkat tangganya menoel pipi Lily, tapi gadis itu menepisnya


"Jangan marah, kakak kan cuma bercanda, sayang!"


Sayang? Telinga dan wajah Lily langsung memerah mendengarnya, melihat reaksi Lily, Angga kembali terbahak. Lily yang gampang memerah saat dia menggodanya, alasan kenapa Angga sering melakukannya.


Tidak lama mereka sampai di rumah, Angga dan Lily langsung menuju kamar masing masing untuk membersihkan diri. Tak lama mereka berdua berkumpul di kamar Lily untuk menonton drama korea, lagi!


Angga bersandar di kepala ranjang, sedangkan Lily bersandar di lengannya. Keduanya fokus menonton dengan camilan di pangkuan Lily, mereka menonton drama di laptop Lily yang sebenarnya adalah hadiah dari Angga.


"Ini drama lama ya?" tanya Angga, Lily mengangguk


"Dari mana kakak tahu?"


"Insting doang." jawab Angga, Lily hanya mencibir dan kembali menonton.


Mereka sedang menonton drama korea di mana protagonis wanita yang sangat bodoh, menyukai protagonis pria yang tampan dan sangat pintar. Sayangnya si cowok menolak si cewek, tapi si cewek tidak pantang menyerah.


"Kalau aku jadi cewek itu, udah aku tinggalin," gumam Lily, Angga menunduk menatapnya "Kurang ajar banget jadi cowok!"


"Tapi si cewek kan cinta sama dia," ucap Angga, Lily mendongak dengan tatapan kurang senang. "Ini tuh demi cinta!"

__ADS_1


"Cinta boleh, tapi jangan mau dibodohi. Kata Oca begitu" ucap Lily


Angga memasang wajah bingung "Oca? Siapa Oca?"


"Rosa."


Angga mengangguk paham, kalau adik kelasnya yang satu itu yang mengatakannya, Angga tidak akan heran lagi. Dia cewek judes dan blak blakan yang pernah dia temui, tapi dalam hati dia mengakui kalau dia adalah teman yang baik untuk Lily.


"Jadi kamu bakal ninggalin kalau kakak kayak cowok itu?" tanpa berpikir dua kali, Lily menganggukkan kepalanya. Angga langsung mencibir "Sadis."


"Sadis mana dari cowok yang modelan kek dia!" Lily menunjuk ke arah Laptop dimana masih menayangkan drama, "Suka tapi gengsi, cowok apaan? Cemen! Maunya dikejar doang ngak mau usaha."


Angga yang melihat Lily mengomel ngomel tertawa, baginya gadis di sampingnya terlihat sangat imut. Angga dengan gemas meremas pipi Lily, kemudian menunduk mencium pipi yang dia kembungkan.


"Kak," panggil Lily saat mereka kembali serius menonton, "Kakak!"


"Hn?"


Lily bangun dan duduk dengan tegak, dia menghadap Angga yang juga sudah menatapnya. Cowok itu mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya ada apa, karena gadis itu hanya diam.


Lily menghela nafas dan menatap Angga ragu ragu.


"Kenapa?" Angga meraih tangan Lily agar mendekat padanya "Kamu buat kesalahan?"


Lily menggelengkan kepalanya "Terus kenapa? Kamu mau bilang sesuatu?"


Lily menunduk menautkan jari jari tangannya, Angga masih menatapnya menunggu dia berbicara. Tak lama gadis itu menatap Angga, memastikan kalau apa yang akan dia katakan tidak membuat Angga marah.


"Memang kamu mau kakak marah?" Lily menggelengkan kepalanya "Kakak tidak marah, tidak apa apa."


"Tapi ka-"


"Kamu mengatakan pada mereka karena kamu mempercayai mereka kan?" Angga menegakkan duduknya, dia menyentuh pipi Lily dengan telapak tangannya. "Kakak juga kan ngasih tau ke teman teman kakak, tidak adil kan kalau hanya kakak yang cerita."


Lily "___"


Angga membawa Lily ke pelukannya, "Kakak juga tidak mau kamu dinilai yang tidak tidak sama teman kamu sendiri, memang lebih baik jujur kan?"


Lily sebenarnya memikirkan itu juga, terlebih belakangan Angga kadang terlihat tidak menahan diri. Angga terkadang memeluknya begitu saja, tidak peduli ada teman temannya atau tidak.


Tidak akan mengherankan kalau ada yang menganggap hubungan mereka berlebihan, dia juga tidak bisa menyalahkan orang lain. Mereka tidak tahu status mereka yang sah, tapi akan menyakitkan kalau teman sendiri yang berfikir buruk tentang diri kita.


Setidaknya itu yang dia pikirkan!


"Iya" cicitnya.


"Ayo nonton lagi." Angga kembali berbaring, Lily masih dalam dekapannya.


Dia akhirnya ikut menonton saja, selama Angga tidak masalah maka dia juga tidak masalah. Dia kembali merebahkan kepalanya, menatap lurus ke arah tv.


Tapi suasana hatinya kembali jelek, menonton cowok yang tsundere nya kebangetan sangat membuat kesal. Angga yang sebenarnya lebih fokus melihat ekspresi Lily yang berubah-ubah, hanya bisa tersenyum kecil.


"Kalau suka ngomong!" kssal Lily yang sudah mulai marah marah, Angga yang di sampingnya hanya bisa meringis karena tergigit.

__ADS_1


"Akh, Lily!" dia mengelus tangannya yang baru saja digigit, gadis itu menatapnya "Kenapa kakak digigit?"


"Lily kesal."


Angga menatapnya "Terus kenapa kakak yang harus jadi pelampiasan?"


Lily langsung cemberut "Masa gigit tangan sendiri? Kan sakit!"


Angga memutar bola mata malas, lalu dia tidak merasakan sakit begitu? Melihat itu Lily terkekeh, dia mengambil tangan Angga dan mengelus bagian yang sempat dia gigit tadi.


Melihat bekas gigitannya, barulah dia merasa sedikit bersalah.


"Sekalian pijitin ya, tangan kakak capek ngetik." Ucapnya memanfaatkan Lily, sekali kali tidak masalah kan?


Lily tidak mengatakan apa apa, tapi dia tetap melakukan apa yang diperintahkan Angga padanya. Angga bersandar di kepala ranjang, dia fokus menatap gadis yang serius memijat tangannya.


Tangan Angga yang tidak di pegang Lily, terulur menyampirkan Anak rambut Lily yang terjuntai ke belakang telinga. Saat gadis itu meliriknya, dia hanya tersenyum.


"Tipe cowok kamu bagaimana?" tanya Angga tiba tiba


Lily menghentikan pijatannya, dia menatap Angga sebentar sebelum menunjuk ke layar "Yang penting bukan kayak dia."


Angga tertawa gemas, sepertinya gadis itu masih kesal dengan apa yang mereka nonton. Padahal yang memilih drama adalah gadis itu sendiri, Angga hanya numpang menonton saja.


"Jadi kamu suka cowok yang jujur dengan perasaannya?" tanya Angga, Lily mengangguk pelan "Kalau kakak bilang suka sama kamu, kamu percaya?"


"Percaya."


"Kenapa?"


Lily menatap Angga "Karena kakak mengerjakan apa yang kakak inginkan, kecuali pas menikahi Lily."


"Eh? Kenapa aku tidak menginginkannya?"


Lily tersenyum kecil, "Jadi kakak mau?"


"Tidak juga, tapi kakak tidak membencinya. Kakak berfikir menikah tidaklah terlalu buruk." Angga berkata lagi "Terlebih pas habis makan masakan kamu waktu itu, kamu juga bukan wanita jahat kan? Kamu benci menikah dengan kakak?"


"Aku hanya tidak terlalu setuju menikah di usia muda," jujur Lily, dia tidak ingin berbohong "Tapi menikah dengan kakak, aku tidak membencinya juga."


"Kamu suka sama kakak?" dia menatap Lily, dia merasakan dadanya berdegup kencang


Lily mengangguk mantap "Suka."


"Kalau cinta?"


Lily diam sebelum menjawab "Ngak tahu, Lily suka kakak tapi soal cinta Lily tidak tahu."


Angga menunduk dan sedikit merasa lega, meski belum tentu cinta tapi Lily suka padanya. Urusan Cinta, waktu mereka masih panjang bukan?


Lily dia kembali berbaring, Angga sudah tidak mood menonton dramanya. Angga mengulurkan tangannya memeluk pinggang Lily, dia kemudian menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Lily


"Tapi kayaknya, kakak sudah cinta sama kamu."

__ADS_1


__ADS_2