Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 99


__ADS_3

Angga menghela nafas berat, dosen baru saja keluar dari kelasnya setelah sejam setengah memberi materi. Sialnya begitu keluar dia memberi mereka tugas, tugas kelompok!


Padahal akan lebih bagus kalau dia mengerjakannya sendiri, akan membuang banyak waktu. Jujur saja, Angga yang berkuliah hampir dua bulan ini belum bergaul dengan orang orang kampus.


Dia datang begitu akan masuk kelas, pulang saat dosen keluar kelas. Dia makan selalu sendirian terkecuali saat mata kuliah yang sama dengan Ezra, selebihnya dia hanya diam mempelajari materi yang di berikan.


Dia bukannya tidak ingin membuat teman, hanya saja dia tidak punya waktu banyak untuk mengobrol dan nongkrong lama lama.


"Bro bro, lo sudah ada kelompok?" salah satu diantara mahasiswa di sana mencegatnya, Angga menggelengkan kepalanya dan berkata belum "Lo gabung di kelompok kita, gimana?"


Angga menoleh ke arah kelompok yang sepertinya baru di buat, tiga laki laki dan satu perempuan. Tidak akan canggung, jadi dia mengangguk setuju.


"Gue juga boleh gabung di sini?" Vidya yang memperhatikan diam diam dari tadi melangkah mendekat "Gue belum dapat kelompok."


Orang yang mengajak Angga bergabung mengangguk antusias "Tentu tentu, kelompok kami selalu menerima gadis cantik."


"Huuuu..." Tiga lainnya berseru ke arah yang berbicara.


Angga melihat jam yang melingkar di tangannya, "Kapan tugasnya di kerjakan?" dia bertanya karena tidak ingin lama lama.


Dia melihat Angga "Kayaknya lo sibuk, sebebasnya lo saja."


Angga mengkerutkan keningnya, kalau menunggu kebebasan waktunya, maka itu akan sangat sulit. Dia seorang pengusaha juga pebisnis yang punya banyak pekerjaan, waktunya tidak seluang mereka.


"Gue ikut jadwal kalian saja." jawab Angga, dia memperbaiki letak ransel di pundaknya "Kabari gue kalau sudah menentukan."


"Ya sudah nomor lo! Nanti kita kabari."


Angga mengeluarkan ponsel retak kesayangannya, dia bisa melihat ekspresi kaget mereka. Angga mengalihkan pandangannya pura pura tidak tahu selain itu dia tidak peduli, jadwalnya padat jadi ke konter hp untuk memperbaiki hpnya sangat sulit.


"Lah lo ada cewek?" tanya orang yang meminta nomornya, dia melihat sekilas foto Angga merangkul cewek, mereka memakai seragam SMA.


Angga hanya menyunggingkan sedikit senyumnya.


"ohhh... Anak fakultas mana tuh sekarang?"


"Adek kelas gue."


"Berarti masih SMA?" Angga menganggukkan kepalanya, setelah memberi nomor dia langsung pamit. "Masih bareng?"


Dia menutup mulutnya rapat rapat saat Angga menatapnya, Angga tidak suka kehidupan pribadinya di bahas. Selesai memberikan nomor ponselnya dia bersiap pergi, tapi langkahnya terhenti saat Vidya menarik ujung bajunya.

__ADS_1


Angga dengan cepat melepaskan tangan gadis itu, dia bahkan mengibaskan area yang dipegang Vidya seolah baru saja terkena debu. Yang melihat itu hanya bisa melongo, berlahan mereka menoleh ke Vidya, wajah gadis itu sangat tersinggung.


Angga, cowok yang latar belakangnya tidak di ketahui itu sangat sombong dan angkuh. Vidya rasanya ingin meraung dan memakinya, tapi dia menahan diri.


"Kenapa?" Angga bertanya tanpa melihat Visdya


Gadis itu mendengus dalam hati, tapi memperlihatkan senyumnya "Gue boleh numpang pulang sama lo?"


Angga "___"


Siapapun yang melihat ekpresi Angga akan tahu, cowok itu tidak setuju dengan permintaan Vidya. Gadis itu masih tersenyum pura pura tidak tahu, dia sangat yakin Angga memiliki hati nurani dan akan membiarkannya ikut.


Angga mengeluarkan uang lima puluh ribu, menyerahkan ke Vidya "Lo tidak mungkin lupa alamat rumah lo kan, gue kasih ongkos!"


Karena Vidya tidak mengambilnya, Angga meletakkan uang itu di atas meja yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Semua yang kebetulan berada di kelas itu hanya menatap Angga dengan berbagai pandangan, mereka menoleh ke arah Vidya, wajah gadis itu memerah menahan marah.


Dia tidak pernah dihina seperti ini!


Angga berjalan ke parkiran motor, setelah kejadian saat itu tidak ada lagi yang mengusili motornya. Dia menepuk sadel motornya, membersihkannya dari debu yang menempel.


Baru akan mengendarai motornya, ponsel Angga berdering dan si pemanggil adalah orang yang menyimpan nomornya tadi.


"Ini gue Rio, gue cuma mau bilang kalau kerja kelompoknya di lakukan hari ini, lo tidak sibukkan?"


Angga belum menjawab, dia membuka catatan kecilnya memastikan jadwal hari ini.


"Halo! Angga?"


"Ya tidak masalah, dimana? Gue bakal susul nanti." ucap Angga, dia masih harus ke kantor sebentar.


"Nanti gue shareloc!"


Angga dan Rio berbasa basi sebentar kemudian mematikan sambungan telfon, dia dengan cepat menaiki motornya untuk ke kantornya.


Begitu tiba dia hanya memberi beberapa instruksi, meminta sekretarisnya membatalkan rapat. Dia menjelaskan ke om Tio kalau dia harus mengerjakan tugas, beruntungnya pria itu memahami situasinya.


"Sibuk banget pak kelihatannya!" ucap sekretarisnya yang sekarang mengantar berkas lagi ke ruangannya


"Ngeledek saya?"


Sekretaris itu melambaikan tangannya dan menggeleng "Mana berani pak, saya mah masih sayang pekerjaan."

__ADS_1


Angga terkekeh pelan, dia tahu sekretarisnya hanya bercanda. Angga mengambil berkas di dalam lemari, menyerahkan ke sekretarisnya memintanya untuk menanganinya.


"Cek ini, saya mau laporannya besok!" Dia melirik hpnya yang berdenting menandakan ada pesan masuk, dia yakin itu dari Rio. "Atur kembali jadwal saya, pertemuan dengan pak Sudoyo tolong majukan jadi lusa."


"Baik Pak!"


"Atur juga jadwal keberangkatan ke pulau N."


"Baik Pak!"


"Kamu bisa keluar."


Angga mengerjakan dua pekerjaannya dulu, sebelum melihat lokasi yang dikirim Rio. Angga mengangkat sebelah alisnya sambil mendengus kecil, dia dengan cepat membalas pesan itu mengatakan dia akan segera ke sana.


Angga merapikan berkasnya yang sedikit berantakan, mengambil kunci motor yang dia taruh di laci mejanya. Sebelum berangkat dia berpamitan terlebih dahulu pada om Tio, meminta pria paru baya itu menjaga kantor saat dia keluar.


"Pakaian lusuh tidak melunturkan pesona bosnya!" salah satu karyawannya berkata ke karyawan lain


"Benar sekali."


"Sayangnya dia sudah menikah." Mereka berdua menghela nafas, tak lama ada kertas pekerjaan di depan mereka.


Karyawan yang memberi pekerjaan menyeringai "Bahkan jika dia tidak menikah, bos tidak akan melirik kalian."


Dua gadis karyawan itu mendengus ke arahnya, si empu hanya tertawa terbahak, dia sangat puas!


Angga mengendarai motornya ke tempat yang dikirimkan padanya, begitu tiba dia langsung memarkirkan motor di parkiran yang sudah tidak asing baginya. Angga mengambil ranselnya dan menaruhnya di bahu, dengan santai dia berjalan masuk ke dalam resto.


"Oh Senior!" Alga terkejut melihatnya "Cari Lily?"


"Tidak, gue mau mengerjakan tugas disini." jawab Angga, tapi matanya tidak berhenti mencari keberadaan gadis mungil yang sudah lama tidak dilihatnya secara langsung itu.


Yap mereka akan mengerjakan tugas di tempat Alga.


"Kalau senior cari Lily, dia keluar sebentar mengantar pesanan." Angga mengangkat alisnya, bukankah tugas Lily itu di dapur? Tapi kenapa Alga mengatakan mengantar makanan? "Dia sedang istirahat, tapi karena dia tidak bisa diam saja jadi dia menemani Rora mengantar makanan." Alga menjelaskan karena melihat raut muka Angga yang berubah tadi.


"Angga, disini!" Angga menoleh ke Rio yang melambai ke arahnya.


Angga melihat Alga lagi "Kalau begitu gue kesana dulu."


Alga menganggukkan kepalanya dan menyambut pelanggannya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2