Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 59


__ADS_3

Selapas dari makam Angga dan Lily kembali ke sekolah, Angga sudah berjanji akan mentraktir teman temannya dan Lily juga berniat mengajak kedua temannya. Begitu sampai di sekolah, mereka berdua langsung di hadang di gerbang.


"Lily mau ngajak teman Lilh dulu." katanya bersiap masuk ke sekolah


"Telfon aja kali, Li!" usul Dwi, Lily menyengir


"Lily ngak ada nomor mereka." ucapnya "Lily masuk sebentar."


"Cewek lo aneh, Ga! Masa gak nyimpan nomor temennya." kata Dwi pada Angga yang sibuk dengan hpnya.


"Dia pernah di bully, makanya begitu." Jawab Angga, dia berbicara tanpa mengalihkan pandangannya. "Syukurlah sekarang dia sudah tidak diganggu lagi disini."


"Lily di bully kapan?" tanya Ezra


"Kayaknya sebelum bareng Angga, Waktu itu kami ke ruang osis tidak sengaja ngeliat rekaman disana." Niel yang menjawabnya karena sepertinya Angga tidak berniat menjawab. "Tapi kapan ini di beresin?"


"Anak kelas sepuluh yang dikeluarin kapan bulan itu, itu yang ngebully Lily" Angga menjawab santai, dia memasukkan kembali ponselnya ke saku "Lily sendiri yang nyelesein masalahnya."


"Maksudnya?"


Angga menatap Hari "Lily ngebales mereka pas dia diganggu lagi. Habis itu mereka masuk BK dari sana pak Juan nyelidikin" Angga menjawab tanpa berniat memberitahu kalau dia juga ikut andil di dalamnya dengan memberi pak Juan rekaman cctv.


Lily menghampiri dua temannya yang masih di kelas, Nurul menoleh dan melotot ke arahnya


"Dari mana lo? Di cariin dari tadi malah ngilang."


Lily hanya bisa tersenyum "Maaf!". Rose berdiri dari duduknya, dia mendekati Lily "Ke-kenapa?"


"Lo habis nangis?" Keningnya mengkerut melihat wajah Lily  yang masih sembab. 


"Tadi aku dari makam." jawab Lily pada akhirnya, dia malas mencari alasan.


Dia mengambil tasnya yang memang dia tinggalkan tadi, dia melihat kedua temannya. Nurul mengangkat sebelah alisnya, dia tahu Lily ingin mengatakan sesuatu.


"Kalian mau ikut tidak? Kak Angga mau ajak makan, kalian juga di ajakin."


"Gratis kan?" tanya Nurul memastikan, Lily mengangguk "Gue mah kuy aja." serunya.


Mereka berdua menoleh ke arah Rosa "Kenapa?"


"Lo ngak ikut?"


"Bareng kakak kelaskan? Gue ngak usah." tolak Rose, Nurul berdecak "Gue tidak ikut!"


"Masa cuma kami berdua doang? Kalau kami dibully bagaimana?" Nurul menaik turunkan alisnya, Rose mendengus

__ADS_1


"Apa gunanya mulut bawel lo, jangan kayak orang beg*" dia menoleh ke Lily "Lo juga jangan kayak orang beg*!"


"Tapi aku sudah bilang kalau kamu akan ikut." Lily memainkan jarinya, Rosa menghela nafas "Ikut ya. Hanya ada kak Angga bareng teman temannya."


"Ngak!"


Lily dan Nurul saling melirik, mereka bersamaan mengangguk seperti paham satu sama lain. Lily mengambil tas Rosa dan berlari ke luar kelas, sedangkan Nurul menyeretnya keluar mengikuti Lily.


"Hei! Lepasin gue!" serunya. "Lily balikin gak tas gue."


"Lu bawel banget sih!" Nurul berdecak "Lagian tiban makan aja Ca, lo gak kasian sama dia kalau dia sendirian diantara kakak kelas?"


"___"


Nurul menghela nafas dan melepaskan Rose, dia menatapnya "Lagian ini kali terakhir lo lihat kakak kelas, mereka juga baik sama Lily jadi apa salahnya?"


Rosa menghela nafas panjang, memang benar yang Nurul katakan. Tapi, entah kenapa dia tidak suka bergabung yang namanya Kakak kelas, mungkin karena image kakak kelas sudah tidak benar di kepalanya.


Dia berdecak sebelum berjalan lebih dulu, di belakangnya Nurul menyeringai penuh kemenangan. Takut Rosa berubah pikiran, Nurul berlari mengejarnya untuk menyamakan langkah mereka berdua.


"Teman teman kamu mana?" tanya Angga karena Lily sampai lebih dulu, gadis itu menoleh ke belakang dimana temannya berjalan dibelakang.


Rosa masih memasang wajah kusut begitu tiba di tempat Lily, sambil senyum meminta maaf Lily mengembalikan tas Rosa.


"Ngak ada kak, aku naik ojek kalau ke sekolah. Kenapa ya?"


Angga mengambil tas di punggung Lily memasukkan ke dalam mobil "Kalau ada yang jemput, kalian kabari kalau tidak usah jemput. Kami akan antar kalian pulang!"


"Ng..ngak kak kita bisa naik ojek atau taksi kok." seru Nurul, Angga melihat Rosa


Gadis itu mendengus tapi tidak mengatakan apa apa. Angga membuka mobilnya, mempersilahkan mereka masuk.


"Lah Ga, kami naik apa?" tanya Hari "Tadi gue cuman nebeng bokap boongan gue!"


Niel mendorong kepalanya "Bokap boongan masih bokap tiri lo, sat!"


"Ejrak bawa mobilkan? Kalian sama dia." ucap Angga.


Ezra menyipitkan matanya ke Angga sebelum berkata "Lo mau ngeharem ya?"


Puk


Angga tanpa sadar melemparinya kunci mobil "Balikin kunci gue!" serunya pada Ezra yang masih mengadu.


Sambil mengelus kepalanya yang terkena kunci, dia melirik tajam ke arahnya tapi menurut mengembalikan kunci.

__ADS_1


"Mainnya cowok emang beda!" komentar Nurul yang menonton dari dalam mobil


Lily tertawa "Ini belum seberapa!" dia juga melihat keluar mobil.


"Kalian jalan lebih dulu, tentuin mau makan dimana. Gue ngikut di belakang!" kata Angga.


Mereka berempat berhambur masuk ke mobil Ezra, tapi saat Angga hendak masuk Nia menghalangnya.


"Kalian mau pesta di mana? Kenapa gue gak diajak?" tanyanya melirik mobil Ezra, tadi dia tidak sengaja melihat mereka "Tega kalian! Begini begini gue yang ngebantuin kalian kalau memar, bisa bisanya kal-"


"Masuk!" Angga membuka mobilnya sebelum Nia mengoceh panjang lebar.


"Tapi ini mau kem- heh Angga! Sejak kapan lo jadi kriminal?" Nia berseru karena melihat isi mobil Angga, semuanya adik kelas dan semuanya perempuan."


"Lo mau ikut mobil Ezra? Yakin lo?" tanya Angga, Nia berfikir sebelum masuk mobil.


Membayangkan satu mobil dengan mereka, Nia bergidik ngeri sendiri. Diantara mereka, yang sedikit kalem itu hanya Angga dan Dwi, sedangkan yang lainnya? Ezra hanya bisa tenang saat main catur.


"Ngak deh, makasih!"


Angga kemudian masuk ke dalam mobilnya, hari ini dia sengaja akan menghabiskan waktunya sebagai seorang siswa biasa. Dia sangat yakin setelah ini dia akan kesulitan, terlebih mereka akan punya kesibukan masing masing ke depannya.


"Sedih ya mbok, keluar dari sekolah?" tanya Angga yang melihat wajah murung Nia dari kaca, Nia mendengus kesal. Sekarang Angga sudah menjalankan mengikuti mobil Ezra.


"Emang lo gak?"


Angga diam sebentar, dia berbelok keluar pertigaan "Sedikit, tapi lebih banyak leganya."


"Kalian nanti, kelas sebelas mau jurusan apa?" Nia menoleh pada Lily, Rosa dan Nurul.


"IPA kak." jawab Lily dan Rosa bersamaan.


"IPS!" jawab Nurul.


"Hebat ya kalian, gue dulu nentuinnya pas hari H di tanya sama guru, itupun dilema!".


"Gue kira lo sudah ngincar IPA dari lama, soalnya lo mau jadi dokterkan?"


"Kepikiran mau jadi dokter nanti gue mau kenaikan kelas dua belas." Jawab Nia "Ikut PMR saja, awalnya gue cuma niat titip nama."


"Kakak mau jadi dokter?" Lily bertanya, matanya berbinar. Angga meliriknya sebentar sambil tersenyum.


"Iya, lo juga?" Lily mengangguk semangat. "Lo kayaknya suka banget sama dokter ya?"


Lily hanya tersenyum menanggapinya, Angga mengangkat tangannya mengacak pelan rambut Lily.

__ADS_1


__ADS_2