
Mereka pindah ke taman bermain, sambil memantau Farhan dan Lily, Angga dan teman temannya duduk di bangku taman. Angga menyesap minuman di tangannya sambil melirik mereka kesal, kencannya jadi batalkan?
Lily yang bermain dengan Farhan mengkerutkan keningnya, sepertinya dia melihat seseorang. Dia menyipitkan matanya untuk memastikan.
"Dokter Libra?"
Merasa namanya di sebut, pria yang dimaksud menoleh. Dia tersenyum ke arah Lily.
"Hai Lily!" sapanya
"Siang dokter"
"Siang." Dokter itu menatap Lily dari atas ke bawah dan berkata "Senang melihat Lily baik baik saja."
Lily hanya mengangguk dan tersenyum, dia mengedarkan pandangannya siapa tahu dia melihat orang yang dia kenal lagi.
"Dokter sendirian?"
Libra menggeleng, dia menunjuk kumpulan anak anak yang bermain di bak pasir.
"saya ganti profesi hari ini jadi nanny. Aa Ai jangan taruh pasir di baju kak Asla!" seru Libra, Lily ikut menoleh memperhatikan mereka.
"Lily tidak pernah lihat mereka di rumah sakit" ucap Lily, dia menoleh ke arah Libra lagi.
"Mereka bukan pasien anak anak Li, mereka ponakan saya." Libra terkekeh "Kamu sendiri ke sini dengan siapa?"
Lily menunjuk Farhan yang bermain, lalu menunjuk ke arah Angga bersama yang lainnya. Libra menoleh ke arah yang dituju, kebetulan Angga menoleh ke arah mereka, Angga menganggukkan kepalanya sopan pun dengan Libra.
Libra dan Lily duduk tidak jauh dari tempan anak anak, Libra meminta Farhan bergabung dengan keponakannya. Sambil mengawasi mereka, Lily dan Libra bercerita banyak hal salah satunya kondisi Ayah Lily dan Ayah Angga sebelum meninggal.
Sementara itu, di tempat Angga mereka juga membahas hal yang serius.
"Jadi maksud kalian, di belakang Bryan ada dalang lain?" tanya Dwi, mereka menganggukkan kepalanya "Ah.. Tau seru begini, gue juga bakal gabung osis dulu"
"Seru nenek moyang lo?" omel Ezra, Dwi tertawa.
"Tapi kalian tau siapa orang itu?" tanya Dwi, mereka tidak menjawab dan malah menoleh ke Angga.
__ADS_1
"oi, itu Lily ngobrol dengan siapa?" Hari menepuk bahu Angga, Angga menoleh bertepatan saat orang yang mengobrol dengan Lily menoleh. Angga mengangguk sopan
"Beliau dokter yang menangani Ayahnya Lily." jawab Angga. Dia sempat berkenalan dengannya sebelumnya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue" kata Dwi "Jadi siapa?"
Angga menggaruk keningnya, dia menghela nafas berat.
"Petinggi Osis dan Pak Juan mencurigai seseorang, tapi ini bukan rana anak sekolahan seperti kita. Pak Juan hanya meminta menangani Bryan, selebihnya kenalannya yang akan mengurus." jawab Angga.
"Pak Juan itu siapa sebenarnya? Dia hanya guru kontrakkan?" tanya Ezra, Dwi berdiri tiba tiba "Kenapa dah lo?"
"Pak Juan bukan guru?" tanyanya, wajahnya penuh keterkejutannya. Dia mendapat informasi banyak sekali hari ini.
Angga menganggukkan kepalanya, dia mengeluarkan ponselnya hanya untuk memeriksa e-mail.
"Serius? Tapi pak Juan kelihatan ahli banget jadi guru!"
"Beliau maniak matematika." jawab Angga santai. "Tidak ada yang tahu dia kerja apa, tapi beberapa orang bilang, sebelumnya beliau kerja di sebuah bengkel."
"Gue juga taunya itu" jawab Hari.
"Gak usah mimpi disiang bolong!" seru Hari, Niel menendangnya.
Ezra memukul mereka berdua "Gak usah banyak bertingkah, banyak bocah di sini!" ucapnya.
Mereka berdua menoleh dan berseru ke arah Ezra "NGACA!"
Ezra mengambil ponselnya, mengarahkan layar hitam ke arah wajahnya. "Selalu ganteng!"
Angga dan Dwi bersamaan mendorong dengan kaki di pantat Ezra, cowok itu langsung terhuyung ke depan.
Dia menoleh dengan marah "Ban*ke lo berdua!"
"Jadi lo tugasnya apa?" tanya Hari tanpa memperdulikan Ezra yang terus mengomel.
"Cuman diminta ngawasin Afkar" jawab Angga "Tau sendiri adek kelas lo satu itu kalau hilang kewarasannya, plus Aryan."
__ADS_1
Niel menoleh "Kayaknya Aryan agak rada sensi kalau bahas ini deh."
"Aryan paling benci sama preman preman yang beraliansi, kayaknya dia ada masalah dengan mereka" jelas Angga, dia hanya sedikit mendengar soal itu.
"Oh, jadi makanya lo dipanggil pak Juan"
"Uhm!" Dia berdiri dan berjongkok di depan Farhan yang berlari menghampirinya, dengan telaten dia menghapus keringat anak itu "Karena ini bukan rana siswa, mereka berdua harus di awasi. Tepatnya sih si Aryan."
Dia memberikan minum ke Farhan, soalnya dia yang diberi tugas oleh Lily menjaga minuman.
"Sudah? Jangan lari lari, nanti jatuh" Angga mengelus kepala Farhan sebelum membiarkannya pergi bermain lagi. "Kalau Aryan emosi dan sampai babak belur, Afkar bisa ngamuk. Tau sendiri Afkar paling tidak suka lihat temannya dibonyokin"
Mereka berempat hanya bisa saling melirik tanpa sepengetahuan Angga, rasanya mau memukul kepala mantan ketua osis mereka itu. Mereka tau Angga dan Afkar adalah orang dengan tipe karakter yang sama, yang membedakan Angga kesehariannya memang lembut beda dengan Afkar yang memang rada rada.
"Kenzo ngapain?" tanya Dwi
Angga menoleh ke arahnya, dia meringis kecil "Kenzo orang yang paling tenang diantara semuanya, lo taukan maksud gue"
Mereka menelan ludah, ya Kenzo yang paling tenang. Diantara semuanya, mereka paling tidak berani pada ketua osis saat ini, ketenangannya bikin takut.
Jangankan mereka, Afkar dan Angga yang mereka kenal jago kelahi saja segan padanya. Kenzo paling bisa menjaga emosinya, karena itu mereka tidak berani mengganggu hewan yang tenang karena takut terbangun
Mereka memang tidak pernah melihat Kenzo marah dan berkelahi, tapi mereka berpegangan pada prinsip 'Jangan ganggu orang sabar'. Tipekal seperti Kenzo lah yang tidak bisa ditebak, terlalu pandai mengatur emosi.
Mereka memang tidak tahu, Kenzo Harimau yang tidur atau Kucing yang tidur. Tapi Harimau dan Kucing sama sama memiliki cakar, sama sama bikin luka kalau marah.
"Kenzo hanya boleh duduk dibelakang meja, tidak boleh turun lapangan." ucap Angga. "Dia bisa lebih diandalkan kalau hanya bertarung dengan otak."
Ya meski tidak menduduki peringkat teratas, tapi Kenzo tetap pemilik juara pertama di kelasnya dan masih masuk sepuluh besar antar sekolah. Mereka juga sempat melihat rapor SMP dan SD, Kenzo selalu juara pertama. .
"Tidak bakal jadi ketos kalau tidak pintar" cetuk Ezra.
"Tapi mau sampai kapan mau mengekori gue? Gue hari ini mau kencan tau gak!" Angga bertolak pinggang ke arah teman temannya, mereka menyengir tanpa dosa.
"Ya ilah, sekali kali Ga kencan sama kita" Hari menaik turunkan alisnya, Angga mencibir ke arahnya.
"dih... Masih amit amit kencan sama kalian" Angga bergidik sendiri "Cari pacar sana, Dwi lo kan punya pacar ngapain ngikutin nih Baji*an busuk kek mereka."
__ADS_1
Mereka tertawa kecuali Dwi
"DIA BARU PUTUS!"