Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 63


__ADS_3

Pada akhirnya Angga dan Lily menginap di kosan yang baru saja mereka isi itu, Angga tidak tega membangunkan Lily yang kembali tertidur setelah makan.


Lily berlahan membuka matanya begitu telinganya mendengar alarm, dia mengangkat kepalanya untuk mencari dimana alarm itu. Dengan nyawa yang masih setengah terisi, tangannya terulur melewati Angga untuk meraih ponsel Angga yang terus berbunyi tapi sang empu tidak terganggu sama sekali.


"Ak!" dia terjatuh menimpa Angga karena tangannya belum terlalu kuat menahan tubuhnya. Saat bangun dia terkejut melihat Angga yang sudah membuka mata dan melihatnya "A..Itu.. Lily cuman mau matiin alarm."


Angga meraih hp miliknya untuk mematikan alarm, dia menjauhkan sedikit badan Lily kemudian bangun duduk. Memegang keningnya yang terasa pening karena baru bangun, dia mengulurkan tangannya menaikkan selimut Lily lebih tinggi.


"Dingin!" katanya.


Angga turun dari kasur memungut bajunya yang ada di lantai, dia sempat membukanya semalam karena gerah. Sambil memasang bajunya dia berjalan ke arah kamar mandi, dia ingin pagi pagi ke kantor.


Lily menatap punggung Angga yang menghilang di kamar mandi, selalu seperti ini setiap kali mereka satu kamar. Angga akan bangun berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh ke arahnya.


Angga sudah segar saat keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke arah Lily yang sudah duduk di tengah kasur.


"Mandi disini atau ntar di rumah?" tanya Angga sambil melipat selimutnya sendiri, mereka tidur dengan selimut berbeda. Lily memang menyiapkan dua agar Angga bisa mengganti gantinya. "Pamali melamun pagi pagi."


"Mandi di rumah, Lily ngak ada seragam disini" jawabnya.


"Buruan cuci muka kalau gitu, biar tidak telat." Dia menepuk pelan pipi Lily. Lily melihatnya "Kenapa?"


"Kakak kenapa kalau tidur sama Lily, bangunnya ngak mau lihat Lily?" akhirnya dia menanyakannya.


Angga diam tak lama dia berdehem, wajahnya memerah. Lily memiringkan kepalanya menatap Angga.


"Itu... Karena cowok mempunyai sisi semangat pagi pagi." Lily mengkerutkan keningnya, Angga mengacak rambutnya yang memang sudah seperti singa. "Nanti kamu juga ngerti. Kamu cuci muka gih sana, Kakak mau manasin mesin mobil dulu!"


Setelah mengatakan itu Angga buru buru keluar, Lily tidak memikirkannya lagi karena buru buru ke kamar mandi. Setelah merapikan penampilannya, Lily bergegas keluar mencari Angga yang katanya memanaskan mesin mobil.


"Kak!" dia menghampiri Angga yang berada di tengah obrolan dengan seseorang yang juga bangun subuh.


"Sudah?" Lily menganggukkan kepalanya "Yaudah kakak pintu kunci pintu dulu."


"Pacarnya?" Orang itu bertanya pada Lily setelah Angga meninggalkan mereka untuk mengunci pintu kosan.


"Kami sudah menikah." jawab Lily, orang itu tampak terkejut.


"kalian terlihat muda sekali." ucapnya kaget, Lily hanya bisa tersenyum karena memang itu kenyataannya. "Jadi kalian akan tinggal di sini?"

__ADS_1


Lily menggelengkan kepalanya "Hanya suami saya."


"Kenapa?"


"Itu..." Lily melirik Angga yang berjalan ke arah mereka "Kampus tempat dia kuliah tidak jauh dari sini." jawabnya sambil tersenyum.


"Li, Ayo! Nanti kamu telat" Angga melingkarkan tangannya di bahu Lily "Duluan Mas." pamitnya pada pria yang berbicara dengannya tadi.


Angga membuka pintu untuk Lily mempersilahkannya masuk, dia mengitari mobil untuk membuka pintu untuk dirinya sendiri. Pria yang tadi hanya menatap belakang mobil yang melaju, dia yakin anak tadi orang kaya tapi masih memilih ngekos.


Orang itu menarik nafas panjang sambil mendongak ke langit, menikah muda pasti harus memiliki tanggung jawab besar. Tidak cocok dengan orang sepertinya, dia terkesan acuh tak acuh.


"Devan! Ngapain sih lo?" orang yang tadi bicara dengan Lily "Buruan, tugas masih banyak nih!"


Pria itu mendengus dan berjalan masuk ke dalam kosan temannya, mereka memang sedang mengerjakan tugas yang sampai subuh bahkan belum selesai selesai.


"Kenapa kak?" Lily menatap Angga yang seperti tadi memiliki sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Orang tadi, mukanya kayak siapa ya? Gak asing!" Angga mengkerutkan keningnya "Lihat dimana ya?"


"Mirip kak Aryan!" jawab Lily dia bersandar santai, Angga menjentikkan jarinya seperti setuju dengan ucapan Lily. "Tapi kak, Kakak yakin mau ngekos disitu? Tempatnya kecil, kakakkan selama ini tinggal di rumah besar."


Lily diam tapi tak lama kemudian tertawa, dia mengingat penampakan kosan Angga yang kebanyakan barang warna merah muda. bahkan kompor dan kulkasnya Lily beri stiker warna pink. Semua barang di kamar berwarna pink kecuali lemari pakaian yang berwarna putih


"Kenapa? Kamu tidak kesurupan kan?" Lily memukul lengannya dan mendelik, Angga tertawa "Aduh, sakir Li!"


"Biarkan!" Lily mengulurkan kedua tangannya mencubit Angga yang sebenarnya dibandingkan kesakitan dia malah kegelian.


Angga tertawa dan berusaha menghindari Lily "Kakak nyetir Li!"


Setelah puas baru dia berhenti, Lily kembali bersandar di jok mobil menatap ke depan dimana langit yang memang masih agak gelap. Tak lama mereka berdua tiba di rumah mereka, Lily dengan cepat berlari ke kamarnya untuk mandi dan bersiap ke sekolah.


"Jangan lari! Nanti kamu jatuh." tegur Angga.


Setelah mandi dan bersiap, Lily kembali berlari turun ke bawah untuk sarapan dia kelaparan.


"Pagi bude!" sapanya.


"Pagi bu, pagi pak!"

__ADS_1


"Pagi!" balas Angga, Lily langsung menoleh karena tidak tahu Angga ada di belakangnya. Angga menatapnya dan menjitak Lily pelan "Dibilangin jangan lari kalau di tangga."


Lily tertawa sambil mengikuti Angga ke kursi makan.


"Teman kamu jadi ke sini?" tanya Angga dia mengolesi selai ke roti dan memberinya ke Lily


"Nanti Lily tanya lagi." Dia memakan roti dari Angga "Tapi kayaknya Lily harus belanja dulu, camilan habis."


Angga masih mengolesi roti dengan selai untuk dirinya sendiri, dia menoleh ke Lily "Dimana?"


"Mini market yang tidak jauh dari sekolah" jawab Lily "Biar sekalian."


"Kamu hati hati saja."


Lily menoleh dengan mata besarnya "Kenapa?"


"Tidak apa apa, hanya saja kamu tetap harus waspada kan? Kakak tidak ada di sekolah lagi."


Lily tertawa dan mengangguk, dia memperlihatkan lengannya yang kecil "Lily kuat, kakak jangan khawatir."


Dia mengangkat sudut bibirnya tersenyum, karena gemas dia mencubit hidungnya "Jangan jauh jauh dari teman kamu yang judes itu, dia bisa diandalkan!"


"Rosa?"


Angga mengedikkan bahunya "Itu mungkin."


"Rosa ngak judes kok, tapi anaknya emang gitu. Dia hanya tidak terlalu nyaman dengan kakak kelas" Jelas Lily membela temannya.


"Judes mah itu, cantik!" kata Angga gemas. Lily mendengus tidak terima. Angga menerima nasi goreng dari bude Sum "Cepat makan, kakak antar kamu ke sekolah."


"Kakak memang tidak lambat ke kantornya." Lily menyendok nasi memasukkan ke mulutnya dan menyendok lagi mengarahkan ke Angga.


"Bos mah ini, jadi tidak akan dimarahin!" Angga membuka mulutnya menerima suapan Lily "Enak!"


Lily mengambil piring Angga menyodorkan ke Angga, "Sekarang Kak Angga makan sendiri."


Angga hanya menerimanya dan menikmatinya makannya. Tak lama menyodorkan piringnya juga, Angga menatapnya dengan kening mengkerut.


"Lily sudah kenyang." ucap Lily polos, Angga mengambil piring Lily memasukkan isinya ke piringnya sendiri. "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2