Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 41


__ADS_3

Angga menyodorkan paperbag ke arah Lily yang duduk santai di sofa. Lily membukanya, sepasang pakaian yang baru saja Angga belikan.


Malam ini, mereka berdua terpaksa menginap. Lily maupun Angga banyak memberi alasan, tapi tetap tidak mempan.


"Ganti baju dulu, seragammu jadi kotor".


Lily menunduk, dia memang belum ganti baju sejak tadi. Beruntungnya, besoknya dia akan mengenakan seragam lain. Lily membaui pakaiannya, memang sudah tidak enak dicium.


Dia mendongak menatap Angga, memperhatikan pakaian Angga yang juga belum di ganti.


"Kakak tidak beli baju?" tanyanya.


"Beli" Angga duduk di samping Lily, tapi saat akan mendekat Atar muncul dan duduk diantara mereka.


"Sore sore gini, enaknya nonton acara apa ya?" Dia mengambil remot di meja, menyalakan tv.


Plak


Lily memukul punggung Atar "Apa sih Na? Aku cuman mau nonton!"


"Kamu yang apaan? Minggir, sempit tahu!" Lily berusaha mendorongnya "Kan banyak tempat lain"


"Aku suka di sini!"


"Tau ah" Dengan cemberut Lily berdiri, dia akan mandi dan ganti baju. "Duduk saja terus disitu sampai pantat kamu berakar"


Angga tertawa, dia hari ini melihat berbagai macam ekspresi Lily.


"Mandi sana lo bau" seru Atar.


"Ma... Atar nyebut Yana Lo lagi" lapor Lily


"Tarr..." Terdengar suara sang Mama dari dalam, Atar langsung melihat Lily, gadis itu menjulurkan lidah ke arahnya


"Tukang lapor!"


Lily hanya tersenyum lebar kemudian meninggalkan tempat itu, dia sudah tidak nyaman dengan bau keringatnya sendiri. Ditinggal berdua oleh Lily di ruang keluarga, Angga dan Atar hanya duduk canggung.


"Lily punya sepupu, namanya Rudi" Angga melirik Atar yang membuka percakapan. "Dia kelas sebelas sekarang, hati hati dengannya."


"Kenapa?"


Atar berdiri, dia akan bermain game saja karena acara tv tidak ada yang menarik. Sambil mengatur game dia kembali berkata "Dia preman!  Dia kasar, bahkan sejak anak anak." Dia kembali ke tempat duduk, dia melemparkan stik game ke arah Angga.


Mengangkat sebelah keningnya, Angga menerima stik game itu. Ya, dia sudah lumayan lama tidak bermain game. Terakhir bermain kapan ya? Kelas sepuluh atau sebelas ya?


"Kalau tahu Yana sudah menikah, aku tidak tahu masalah apa yang akan dia timbulkan." jelas Atar. "Aku mulai duluan"


"Di posisiku saat ini, anak SMA biasa tidak akan bisa menyentuhku dengan muda" jawab Angga sambil fokus ke layar "Dan berurusan dengan Siswa sok preman, bukan pertama kali bagiku."


Atar melirik Angga, dia tiba tiba teringat apa yang diucapkan cowok yang sempat mereka temui sore tadi.


"Kamu bisa berkelahi?"

__ADS_1


Angga terkekeh, dia menendang karakter milik Atar membuat cowok itu mengerang tidak terima.


"Lumayan" ucap Angga.


Atar melihatnya marah, dia kesal karakter gamenya di tendang dengan gampang. "Apanya yang lumayan?"


"Berkelahi, saya lumayan bisa" jawab Angga. Dia duduk dengan serius, karena sepertinya Atar mulai serius juga. "Tapi, kenapa sepupunya mengincar Lily?"


"Semenjak kakek Yana meninggal di usia muda, Ayahnya Yana adalah punggung keluarga" Atar berdecak, dia tidak tahu kalau Atar mahir main game "Tapi, semenjak menikahi ibunya Yana, Ayah Yana hanya membantu mereka sedikit. Karena itu, mereka membenci keluarga Yana. Aku hanya tahu itu."


"Ada berapa saudara sepupu Lily?"


Angga menghitung di kepalanya sebelum menjawab "Enam, tapi Rudi yang paling tidak segan memukul."


"Bahkan Lily?" Atar menganggukkan kepalanya


"Yana lah sasaran empuknya. Aku tidak terlalu bisa berkelahi, jadi aku tidak bisa terlalu menjaga Yana."


Pantas saja Lily betah di rumah ini, mereka menjaganya sangat baik. Melirik ekspresi Atar yang menyesal, Angga menepuk punggungnya.


"Mau kami ajari?"


"Apa?"


"Berkelahi. Teman teman saya lumayan bisa mengajarimu, mereka bisa diandalkan"


Atar terdiam, sebelum ini tidak pernah ada yang mengajaknya. Lily sekalipun.


"Serius?"


Angga menganggukkan kepalanya "Selama kamu tidak masalah dibuat memar."


***


Angga masuk ke kamar Lily di rumah itu, dia hanya tidak menyangka, Lily punya kamarnya sendiri.


Sama seperti di rumah Lily, kamar Lily di rumah ini serba merah muda. Membayangkan suatu hari nanti kamarnya menjadi warna merah muda, Angga hanya bisa menghela nafas panjang.


Dia memandang ke arah kasur, Lily sudah tertidur. Angga ingin bergabung, tapi kasurnya sepertinya hanya untuk satu orang.


Angga melangkah mendekati meja, tangannya terulur mengambil foto diatasnya. Foto milik Lily. Dalam figura itu, ada dua foto yang di gabungkan.


Mata Angga fokus menatap wanita dewasa yang tersenyum ke arah kamera, dari bentuk wajahnya, Angga meyakini kalau wanita itu ibu Lily.


Ini pertama kali dia melihatnya.


Sedangkan foto lainnya, itu foto Lily dan Ayahnya yang sepertinya berada di depan gerbang. Melihat Lily yang memakai baju tk, Angga menebak kalau foto itu di ambil di hari pertama masuk taman kanak kanak.


Angga terkekeh pelan melihat foto Lily. Dalam foto itu, Lily terlihat menggemaskan. Rambutnya di kuncir dua, matanya berair sepertinya baru saja menangis, hidungnya juga memerah bahkan mulutnya masih cemberut.


Lily meletakkan foto itu pada tempatnya, dia melirik Lily yang tertidur. Angga duduk di tepi kasur, dia masih menatap Lily.


Lily yang merasakan ada orang lain di kamarnya, berlahan dia membuka matanya. Pandangan pertama yang dia lihat adalah Angga yang melihatnya juga.

__ADS_1


"Kakak ngebangunin kamu ya?" tanya Angga, Lily menggelengkan kepalanya


"Kakak kenapa belum tidur?" Lily bertanya dengan suara pelan dan serak khas bangun tidur.


"Belum mengantuk" jawab Angga, dalam hati dia menambahkan kalau dia tidak tahu di mana harus berbaring, di kamar itu tidak ada sofa. "Kamu tidur lagi saja"


Angga kembali berdiri, dia melangkah menuju jendela kamar itu. Di kamar Lily tidak ada balkon, jadi untuk melihat langit malam hanya bisa lewat jendela saja.


Lily yang terbangun, tidak bisa tidur lagi. Dia juga melangkah mendekati Angga, berdiri di sampingnya.


Sebenarnya ini kali pertama mereka benar benar merasakan sekamar, sebelumnya pasti Lily hanya menemami Angga yang bekerja sampai dia tidur dengan sendirinya.


"Kenapa bangun?"


"Tidak bisa tidur lagi" jawab Lily, dia melihat keluar jendela sambil merapatkan selimutnya.


Angga menganggukkan kepalanya mengerti.


"Li!"


"Ya?"


Angga memiringkan badannya menghadap Lily, gadis itu melakukan hal yang sama. Dia memiringkan kepalanya bingung, Angga hanya melihatnya.


"Kenapa?" tanpa sadar Lily memegang wajahnya, siapa tahu ada bekas iler.


"Kakak boleh peluk gak?" tanya Lintang


"Hah?" Lily mendongak menatapnya, takut salah dengar.


"Kakak mau peluk, boleh tidak?" Angga mengulang pertanyaanya.


Lily diam sebentar sebelum menganggukkan kepalanya meski dia sangat malu, toh tidak ada yang salah di peluk suami sendiri. Angga membalikkan badan Lily, dia memeluknya dari belakang.


Sambil menumpukan dagunya di kepala Lily, mereka berdua menghadap jendela.


"Bulan depan akan ada OSN, apa pesertanya sudah dipilih" Angga bertanya "Setelah ulangan kenaikan kelaskan?"


"Iya" Jawab Lily "Tapi baru hari ini tes, besok baru diumumin siapa yang akan ikut."


Angga hanya bergumam sambil berkata "Pasti sulitkan?"


"Iya, soalnya tidak ada yang sama antar peserta" Lily menghela nafas, dia mengeratkan selimutnya karena merasa makin dingin.


Angga terkekeh "Itu karena pak Juan maniak matematika."


"Iya?" Lily mendongak menatap Angga, Angga bergumam mengiyakan.


Dia menunduk melihat wajah Lily "Dari yang aku dengar, beliau pemegang piagam emas. Beliau beberapa kali ikut kejuaraan matematika dan selalu menang"


Mata Lily membulat kaget "Hebat!"


"Pak Juan maniak, tidak hebat" gumam Angga, Lily terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2