
Sejak hari dia hampir mencium Lily, sudah hampir sebulan Angga tidak pulang ke rumahnya. Bukan karena dia menghindari Lily, Angga hanya tidak sempat karena pekerjaan dan tugas yang menumpuk.
Bahkan belakangan dia tidak pulang ke kosan, dia kebanyakan tidur di kantornya. Kos nya pun ditempati Ezra yang tidak ada tanda tanda mau pulang, dia tahu temannya itu menghindari Ayahnya yang kebetulan ada di rumah omahnya dalam waktu lama ini.
Tapi dia bersyukur ada Ezra di sekitarnya, berkat dia tugas Angga banyak terbantu. Dia juga banyak memberinya ide dan bertukar pendapat, kalau dia tidak berencana menjadi pengacara, Angga mungkin merekrut Ezra di kantornya sebagai tangan kanannya.
"Jrak!" panggil Angga
"Hm?" Ezra yang makan nasi mengangkat kepalanya "Apa?"
"Lo mau ngak kerja disini kalau lo sudah jadi pengacara?" tanya Angga, Ezra mengangkat alisnya, memang apa yang bisa dia kerjakan? "Lo bisa jadi penasehat hukum disini."
"Emang ada?"
Angga berdiri berjalan ke arahnya, tangannya mengambil krupuk di piring Ezra.
"Woi!!"
"Setiap perusahaan pasti ada penasehat hukumnya, Narendra company taukan?"
"Siapa yang tidak tahu perusahaan satu itu."
Angga yang kembali ingin mengambil krupuk di piring Ezra, tangannya langsung ditepis.
"Pelit lo!"
"Dosa ngambil makanan anak piatu!" Seru Ezra.
"Ya elah itu mulu yang alasan lo." Ezra hanya menatapnya tajam, Angga duduk di sofa depan Ezra "Lo tau siapa penasehat perusahaan besar itu."
"Ngak."
Angga mengambil air di depannya "Suami ibu Ratna, wali kelas 11 IPS 1," ucap Angga setelah meneguk airnya "Jadi gue mau kontrak lo kerja disini nanti."
"Boleh lah, Ngak perlu gue cari cari kantor lagi." Dia memasukkan kembali makanan di mulutnya, setelah menelannya dia kembali bertanya "Sudah hampir sebulan, tapi tidak ada tanda tanda ada acara di kampus, untung lo menolak proposal mereka."
Angga menghela nafas panjang, asistennya sudah memberikan laporannya. "Karena memang tidak ada acara, om Tio bilang proposal tahun kemarin."
"Hah?"
"Begini," Angga mengatur posisi duduknya "BEM membuat banyak proposal dan dibagikan ke berbagai tempat, nah berkas kemarin itu berkas yang tersisa dan kebetulan orang iseng yang dapat. Dia mengubah tanggal dan waktu acara dan menyerahkan proposal mereka, om Tio mengkonfirmasi langsung dengan kak Indra."
__ADS_1
Ezra menganggukkan kepalanya mengerti, berarti ada yang mau memanfaatkan berkas itu. Sangat kurang kerjaan.
"Lo bilang, kampus itu tempat nyokap lo dulu kerjakan?" tanya Ezra, Angga menganggukkan kepalanya "Pertanyaan gue, kok nyokap lo betah mengajar di sana?"
"Pertanyaan itu juga muncul di kepala gue." ucap Angga, dia menghela nafas panjang "Gue kangen bini gue!"
"Bucin!"
Angga mendengus kearahnya "Nikah makanya! Biar lo tau rasanya."
"Ngapain nikah cepat? Lo juga gak bisa apa apain istri lo kan?"
Bukh
Ezra meringis saat bantal sofa mendarat cantik di wajahnya, Angga pelakunya. Dia melempar balik bantal itu ke arah Angga, tapi Angga yang sudah antisipasi dengan pembalasannya bisa dengan mudah menangkap bantal itu.
"Lagian ya, rumah lo itu dekat! Tiban pulang kan bisa," Ezra menyeruput air putihnya "kayak orang susah aja hidup lo."
Angga diam dan menatapnya malas, itu juga dia tahu. Tapi saat pulang dia tidak ingin bekerja dan hanya mau mengganggu Lily, tapi melihat tugas dan pekerjaan yang menumpuk dia hanya bisa menghela nafas panjang.
**
Lily menatap ponselnya, dia ingin menghubungi Angga tapi sedikit ragu. Meski lama tidak bertemu bukan berarti mereka tidak saling komunikasi, setiap hari Angga akan menelfonnya dan malam mereka akan video call sebelum Lily tidur.
Tapi sekarang dia kangen.
"Cowok lo gak nelfon lo?" Rora yang masuk ke ruang istirahat bertanya, dia melihat Lily menatap telfonnya kemudian menghela nafas "atau kalian bertengkar?"
"Kak Angga belakangan ini sibuk sekali, tugasnya banyak," jawab Lily, sebenarnya jawaban itu untuk menghibur dirinya sendiri. "Dia juga bekerja jadi."
Rora hanya bergumam saja, dia tahu Lily menghibur dirinya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya merasa lucu, tapi dia juga takjub dengan dua remaja itu.
Di tengah kesibukan mereka sekolah, mereka juga sibuk bekerja untuk membiayai hidup mereka. Dan dari apa yang dia dengar dari Alga, dua remaja itu adalah anak yatim piatu yang Ayahnya meninggal di hari yang sama.
Kebetulan yang mengerikan!
"Malam ini mau jalan jalan? Sepulang kerja"
Lily menggelengkan kepalanya "Besok aku ada ulangan, jadi harus belajar di rumah."
"Jangan terlalu memforsis otak lo, nanti lo botak sebelum jadi profesor" canda Rora, Lily hanya tersenyum kecil mendengarnya.
__ADS_1
Dia langsung melihat ponselnya saat ada pesan yang masuk, dengan terburu buru dia membukanya. Ekspresi antusiasnya berlahan luntur, dia pikir itu pesan dari Angga.
Apa Angga sesibuk itu hari ini?
Itu hanya pesan grup, Nurul mengeluh kepalanya akan meledak karena terlalu banyak belajar. Lily menggelengkan kepala saat membacanya, tak lama pesan dari Rosa yang masuk.
Rosa : Belum meledakkan? Belajar lagi!
Lily terhibur, seperti biasa Rosa akan membalas dengan kata kata pedasnya. Karena mereka tidak terlalu dekat dengan teman sekelas yang lain, jadi mereka membuat grup yang berisi tiga orang saja.
Adapun grup kelas yang wajib dimasuki, mereka jarang menimpali di sana.
Saat Nurul mengatakan ingin minta jawaban padanya, Lily memotret tempat istirahatnya dan mengatakan kalau dia belum belajar. Tapi seperti biasa Nurul keras kepala dan tetap mengatakan kalau dia akan menyontek pada Lily, Lily hanya bisa mengatakan iya.
Nurul : Terima kasih, sayangku! Muaachh
Rosa : Jangan manjakan dia, biarkan saja kepalanya meledak!
Lily melihat jam di dinding, sudah waktunya kembali bekerja. Dia membalas pesan kedua temannya sebelum menyimpan ponselnya di loker, merapikan dirinya kemudian berjalan keluar dan kembali bekerja.
Dengan menyibukkan dirinya, Lily bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dan hanya fokus pada masakannya. Hari ini Alga memberinya resep baru, seperti biasa itu selalu enak.
Lily selalu bertanya tanya, dari mana seniornya itu selalu mendapatkan ide masakan? Atau mungkin bakat alami? Yang Lily tahu, seniornya itu sangat ahli dalam memasak.
"Selalu ramai!" Seorang pria keturunan tionghoa berdiri di samping tempat mereka menaruh menu yang akan dikirim ke pelanggan, dia menatap takjub ke pelanggan.
"Ko Liam!" Alga yang kebetulan di dapur berseru "Ngapain di sini?"
"Memang gue ngak bisa apa jalan jalan disini?" dia mendengus, Alga meminta Lily melanjutkan pekerjaannya. "Abang lo mana?"
"Di rumahnya, kenapa cari kak Adam di sini?"
Liam menatap adik temannya itu jengah, "Lo tau yang namanya basa basi gak sih? Lo sama tidak asiknya dengan kakak lo!"
Alga hanya bisa tertawa, dia mengangkat sebelah keningnya saat Liam menyodorkan undangan.
"Ling-ling ulang tahun, kamu harus datang. Karena duit lo banyak, bawain kado mahal buat anak gue."
Alga menerima undangan itu sambil pura pura kesal "Sudah tiga tahun saja, padahal baru kemarin lahirnya."
"Karena itu, suruh abang lo nikah dan kasih lo ponakan!"
__ADS_1
"Ngak usah ngehasut adek gue!" Terdengar suara berat dari depan mereka, Adam melihat teman lamanya itu menyengir dan adiknya yang berekspresi membosankan masih membaca undangan di tangannya.