
Lily membuka helmnya dan menyerahkannya pada Angga yang mengulurkan tangannya meminta helm
"Terimah kasih" ucapnya
"Lily, kakak kan sudah bilang. Jangan terlalu formal sama Kakak!"
Lily hanya tersenyum kecil dia belum terbiasa dengan Angga di sekelilingnya. Lily masuk lebih dulu di susul Angga.
Lily berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian, sambil menuruni tangga dia mengikat rambutnya yang ikatannya longgar.
"kakak mau makan apa?" Tanya Lily saat melewati Angga yang sudah berfokus pada soal bahkan sebelum mengganti bajunya.
Angga mendongak menatap Lily yang tampak segar dengan rambut cepol miliknya, ini pertama kali dia melihatnya.
"Kak?"
"Ah" Angga menggelengkan kepalanya menjernihkan pikirannya "Lily tadi bilang apa?"
"Kakak mau makan apa?" Lily mengulangi pertanyaannya. Angga melirik hpnya melihat jam dan memo yang sempat dia tidak lupa kalau ada janji
"Kakak mau keluar jadi Lily masak yang Lily mau makan saja" kata Angga dia merapikan lampiran kertas di atas meja.
"Iya"
Lily berjalan ke dapur dengan kaki telanjang dan itu tidak luput dari pandangan Angga. Lily memakai rok sebatas betisĀ jadi kakinya masih terlihat jelas.
"Lily pakai sendal, lantai dingin" ucapnya.
Lily berbalik menatapnya "Lily sudah biasa." Ucap Lily dia menongolkan kepalanya dari ambang pintu.
Angga menggaruk tengkuknya, dia akan keluar jadi dia akan membelikan gadis itu sendal untuk di rumah karena kasihan juga melihatnya selalu telanjang kaki.
Di dapur Lily mengambil bahan bahan di kulkas, karena sendiri jadi dia hanya akan membuat nasi goreng.
Saat keluar dia mendapati Angga sudah berganti pakaian, dia juga sudah terlihat rapi seperti akan kencan, tapi Lily tidak peduli soal itu.
Angga yang tau Lily melihatnya mengangkat kepalanya menatap Lily, gadis itu langsung menundukkan kepalanya
"Kakak mau menemui asisten Ayah" jelasnya, dia memang sudah membuat janji setelahnya baru menemui Melanie.
Soal Melanie, Angga tidak berniat memberitahu Lily karena Angga berniat menyelesaikan hubungan mereka.
Angga mengambil tas dan kunci kemudian memakai maskernya, dia menghampiri Lily mengelus rambutnya
"Kakak berangkat!" Lily menganggukkan kepalanya dia mengantar sampai ke pintu.
Angga sekali lagi melirik Lily yang menatapnya, mata Lily masih terlihat hampa. Angga menghela nafas panjang, ini kali pertama kali dia meninggalkan Lily semenjak mereka bersama.
__ADS_1
Angga kembali menstandarkan kembali motornya membuka maskernya
"Lily mau dibawain sesuatu?" Tanya Angga tapi gadis itu menggelengkan kepalanya "oke, jangan buka pintu ke siapapun."
"Iya!"
Angga menganggukkan kepalanya dan menjalankan motornya keluar halaman rumah, dia juga singgah hanya untuk mengunci gerbang.
Lily tidak mengenal siapa pun jadi dia harus berhati hati, Lily tanggung jawabnya sekarang.
Lily menutup pintu rumah berlari kecil ke meja makan dimana dia meninggalkan nasi gorengnya.
Tinggal sendirian di rumah membuat Lily merasa sedikit bosan jadi dia mengambil sapu dan pel untuk membersihkan rumah yang sangat besar padahal hanya mereka berdua dalam rumah itu.
Lily hanya membersihkan beberapa bagian karena mustahil membersihkan rumah itu seorang diri, setidaknya membutuhkan tiga orang untuk kebersihan totalnya.
Mungkin karena dari kalangan menengah ke bawah, Lily jadi bertanya tanya
Kenapa orang kaya harus membangun rumah besar padahal terkadang mereka hanya beranggotakan empat orang atau di bawahnya.
Lily hanya membersihkan dapur dan ruang tamu agar saat ada tamu dia tidak perlu malu karena rumah yang kotor dan berantakan, meski yakin dalam waktu dekat ini tidak akan ada tamu yang berkunjung dan tanpa Angga dia tidak bisa sembarangan menerima tamu.
***
Angga yang baru menemui asisten Ayahnya berjalan masuk ke sebuah kafe tempat dia janjian dengan Melanie.
Angga berhenti sejenak, dua tahun tidak bertemu perubahan Melanie sangat banyak, di mata Angga dia seperti orang yang berbeda. Wajah polosnya yang cantik alami sekarang penuh riasan meski terkesan alami.
Angga mendekatinya, saat Melanie ingin memeluknya kaki Angga reflek mundur.
"sayang?" Melanie memiringkan kepalanya bingung, Angga hanya menggaruk kepalanya. "I miss u" kata Melanie lagi
Angga lagi lagi hanya tersenyum karena sekarang dia merasa canggung mungkin karena efek tidak pernah berkomunikasi selama 2 tahun.
Mereka duduk berhadapan, ransel Angga dia tempatkan di sampingnya dia melihat Melanie lagi.
"Sudah makan?" Tanya Melanie dia memang tahu sikap Angga terkesan pendiam "aku benar benar tidak tahu soal paman! Tidak ada kabar beliau sakit"
"Yah, ayah hanya awalnya hanya sakit magh biasa" Angga melihat buku menu memanggil pelayan untuk memesan karena sudah sangat lapar. "Tapi siapa yang tahu Ayah pergi secepat itu."
Melanie menatap Angga dia meraih tangannya menepuk punggung tangan Angga
"Aku mengerti, pasti sulit bagimu" kata Melanie "maafkan aku!"
Angga melihat mata Melanie, sejak awal dia tahu kalau Melanie gadis baik makanya saat dia menyatakan perasaan saat mereka kelas 2 SMP dia menerimanya begitu saja. Dia jadi merasa tidak enak padanya.
"Jerman... Bagaimana?" Tanya Angga mengalihkan topik karena tidak terlalu mendalam membahas kematian Ayahnya, dia belum siap mental.
__ADS_1
"Amazing!" Mata Melanie berbinar bahagia "aku banyak teman di sana, kami berjalan jalan dan belajar bersama. Ah, aku masuk balet lagi"
Angga mengangguk lagi "kedengarannya lo senang banget"
Melanie terkekeh kecil, memikirkan Jerman adalah kebahagiaan kecilnya.
"Kenapa kamu tidak ke jerman juga?" Tangan Angga terhenti mendengar pertanyaan Melanie dia meletakkan kembali sendoknya
"Gue harus gantiin bokap gue di kantor" jawabnya, dan lagi ada Lily jadi mustahil untuknya pergi.
"Kamu kan bisa melakukannya setelah selesai kuliah, aku mau satu sekolah lagi" dia mengambil tangan Angga yang menganggur "memangnya kamu tidak lelah LDR?"
Angga menarik nafas panjang, dia menarik tangannya juga dan mulai menatap Melanie, dia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Melanie!"
Melanie balas menatapnya perasaanya tidak enak terlebih melihat kegelisahan Angga.
"Gue... Ada cewek lain, maaf"
Deg
Melanie menatap Angga tidak berkedip tapi air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya, melihat itu Angga menunduk
"Kamu nyelingkuhin aku?" Angga hanya mengangguk sambil bergumam. "Kenapa?"
"Aku tidak suka LDR!" Jawab Angga, lagipula hubungan mereka.tidak sekuat itu karena tidak ada komunikasi sama sekali.
"Siapa?"
"Adek kelas gue, dia gak tahu gue punya pacar!" Angga mengangkat wajahnya agar bisa menatap Melanie
Angga sebenarnya tidak suka melihat gadis menangis karenanya tapi dia tidak bisa apa apa, dia harus tegas karena tidak ingin ada keributan kedepannya.
Melanie menghapus air matanya dan berkata "aku mau ketemu dia!"
"Untuk apa?"
"Aku mau bilang kalau kamu punya aku dan suruh dia mundur"
Angga menyandarkan punggungnya "percuma, karena gue yang tidak bisa mundur."
"Kamu sesuka itu sama dia?" Tanya Melanie lagi "Ga, hubungan kita bukan hubungan sebentar, empat tahun, Ga!"
"Kamu yakin empat tahun?" Angga menatap Melanie serius "Mel, awalnya gue gak mau gini, selama dua tahun ini hubungan kita tidak jelas, gue malah sempat lupa kalau gue punya pacar" jawab Angga, air mata Melanie menetes jatuh "disini gue yang salah, gue ngehianatin lo. Tapi gue gak tahan LDR, maaf!"
****
__ADS_1