
Angga memasuki area kampus, yang membuatnya sedikit merasa aneh adalah hampir semua orang yang dia lewati melihatnya kemudian berbisik satu sama lain. Meski sedikit merasa terganggu, Angga tetap melanjutkan langkahnya masuk ke area kampus.
"Datang juga lo!" Ezra yang memang dari tadi menunggu segera menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Angga, dia melihat seperti ada yang salah dengan temannya.
"Lo di D.O dari sekolah, surat D.O lo di pajang besar besar! Kayak spanduk pemilu." ucap Ezra
Angga mengangguk paham, tak lama rombongan Indra datang dan pandangannya sama paniknya. Bukan hanya dia, ada Rio, Aldi dan Emil juga.
"Ga, lo gak apa apa?" Rio bertanya panik
Angga menghela nafas, sedih tentu saja. Tapi di banding sedih, dia kecewa dengan penyelesaian pihak kampus. Angga mengedikkan bahunya sambil memasang wajah tidak peduli, dia jarang memperlihatkan ekspresinya.
"Makanya, gue kan bilang lo harusnya terima saja masuk columbia, padahal sudah lolos ujian masuk. Sok sokan sekolah dalam negeri." Ezra berkata, tapi mendengar perkataannya orang di sana tercengang.
"Gue sudah memperingatkan berkali kali, kenapa lo masih berurusan sama Dero?" Indra berkata penuh penyesalan.
"Kami sudah memperingatkan sejak awal." ucap Bakti juga.
Tak lama gerombolan Dero muncul, dia menatap Angga penuh provokasi. Tapi tidak seperti keingginannya, Angga malah terlihat biasa saja.
"Lo sudah di keluarkan dari kampus, masih saja sombong, tidak tahu malu."
Angga terkekeh "Sepertinya cara main lo main bokap ya?" Angga berkata sambil mengeluarkan ponselnya "Sepertinya gue juga harus melakukan hal yang sama."
Dia menempelkan telfon di telinganya, di sampingnya Ezra terkekeh dan merasa lucu. Ini sepertinya baru pertama kali Angga melakukannya, menggunakan kedudukan keluarga.
"Ini saya, cabut investasi dari usaha rumahan milik Anggota Dewan Bramo. Tolak proposal pengajuan dukungan untuk partainya juga." Dia menatap Dero "Ah satu lagi, Angkat ke media tentang apa yang dilakukan putranya, dua tahun lalu, jangan biarkan itu di turunkan sampai dia di tuntut. Serahkan laporannya padaku sore ini."
Angga tahu kalau Dero tidak menanggapinya, tapi dia ingin tahu bagaimana reaksinya saat berita itu di naikkan ke permukaan.
"Serahkan semua bukti sogokan Bramo, serta bukti curang mereka. Jangan tinggalkan satupun!"
Angga menutup telfonnya, Ezra langsung bertepuk tangan heboh.
"Hahahaha... Itu baru calon bos gue!" Angga memutar bola mata jengah "Woi mau kemana lo?"
"Ambil surat DO gue." ucapnya santai, dia menarik nafas berlahan saat memunggungi mereka.
Kampus ini penuh kenangan, dia selalu merasa dekat dengan sang Ibu kala dia berada di sana. Tapi sepertinya dia memang tidak di takdirkan di sana, padahal dia hanya ingin kuliah dengan tenang sayangnya dia tidak bisa menutup mata.
__ADS_1
"Woi Angga!"
Dia menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Ezra.
"Pak Juan sudah bergerak, ini tahun terakhirnya. Lo ikut?"
"Tidak! Gue punya banyak kerjaan." jawab Angga sebelum kembali berjalan meninggalkan mereka.
***
Malamnya Angga kembali ke rumah utama, sekarang dia sedang menonton dengan suasana hati yang sangat baik. Lily di sampingnya menatapnya heran, padahal mereka sedang menonton berita.
"Kak, bukannya dia dari kampus kakak?"
Lily bertanya mengenai mahasiswa yang di jemput polisi di kampus, Angga hanya mengedikkan bahunya. Dalam berita itu, seorang mahasiswa yang di duga pelaku dari terbunuhnya seorang mahasiswa dua tahun lalu, juga pelaku pemerko*aan yang di lakukan di sebuah rumah kosong.
Korbannya adalah mahasiswi baru, mahasiswi itu tidak lain tidak bukan hanya mahasiswi yang menerima beasiswa. Dikatakan korban mengalami trauma, bahkan sejak dia di temukan sampai saat ini, dia takut dengan laki laki.
"Sudah jangan nonton lagi," dia meraih tangan Lily menariknya berdiri "Sampah sepertinya tidak pantas di perhatikan."
"Padahal dia anak anggota dewan." gumam Lily. Angga mengelus kepalanya dan berkata
"Kakak benar, Rosa saja yang anak mentri hukum biasa saja."
"HAH?"
Lily langsung mendengar pekikan Angga, dia tidak menyangka Angga sekaget itu.
"Kakak!"
Angga menatapnya dengan tatapan tidak percaya "Rosa anak menteri?" Lily menganggukkan kepalanya "Seriusan?"
"Iya, aku juga baru tahu."
Angga terkekeh pelan dan bergumam "Kalau tau, gue bakal ngirim bukti itu ke rumahnya."
"Kakak ngomong sesuatu?" tanya Lily saat melihat Angga bergumam tidak jelas, Angga tersenyum sambil terkekeh
"Kayaknya enak makan nasi goreng malam malam."
"Kakak lapar?" Angga mengangguk tanpa dosa "Mau aku masakin."
__ADS_1
Angga menyengir "Kalau cintaku tidak keberatan."
"Apa sih kak!" Lily mencibir dan berlari cepat dengan wajah merah, Angga terkekeh pelan dan menatap Lily yang kabur karena malu.
Saat dia tidak melihat Lily lagi, wajah Angga berubah menjadi dingin dan menghadap tv. Dia mengambil remote di atas sofa dan mematikan tv, "Harusnya mereka tidak melangkah terlalu jauh."
Orang yang ada dalam berita tidak lain adalah Dero, beritanya langsung turun sejam setelah dia memberi instruksi. Bahkan saat beritanya turun tadi, Ezra langsung menelfonnya dan menceritakan bagaimana kacaunya kampus begitu dia meninggalkannya.
Angga menghela nafas panjang, sekarang kemana dia harus ngampus?
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berfikir bagaimana cara memberitahu Lily soal ini. Angga juga tidak ingin Lily tahu permasalahannya di kampus, karena baginya Lily lebih baik tidak tahu.
Dia tidak ingin gadis itu mencemaskan dirinya.
"Kakak mau pedes atau tidak?" tanya Lily saat Angga memasuki area dapur.
"Pedes." jawab Angga, dia berjalan ke arah Lily "Aku mau coba cobek sendiri deh."
Mendengar ucapan Angga, Lily langsung menyingkir dan menyerahkan batu ulekan ke tangan Angga. Awalnya batu itu tidak ada di dapur yang sangat cantik itu, tapi karena Lily tidak terlalu suka menggunakan blender saat membuat sambal, jadi dia membelinya saat ke pasar bersama bude Sum.
"Kakak, stop ih! Itu kebanyakan!" tegur Lily begitu Angga mengambil lebih banyak cabe rawit "Nanti kakak sakit perut."
"Ngak pedes ini!"
"Apanya yang ngak pedes," Lily mengambil sebagian cabe di tangan Angga "Cabe sebanyak ini, kalau sakit perut Lily biarin aja, ngak mau ngurus."
Angga cemberut tapi menurut juga, "Okelah."
Dia dengan tekun mulai mengulek, tapi yang namanya baru pertama kali pasti sulit. Angga dan cobekan adalah kombinasi yang lucu, dan Lily menikmati pemandangan melihat Angga kesulitan.
"Hahaha... Sini biar Lily saja," dia mengambil alih cobekan di tangan Angga "Kalau kakak ngewarung dan selambat ini, pelanggan bisa lari."
Angga bersandar pada Lily membuat gadis itu agak kesulitan bergerak "Makanya aku tidak mau ngewarung," dia mencubit sedikit nasi yang mau di goreng memasukkan ke dalam mulutnya "Kamu saja kalau mau."
"Kasih modal tapinya" Lily memutar tubuhnya menghadap Angga, cowok itu balas menatapnya.
Cup
Angga mengecup pipinya kemudian berdiri tegak, dia juga berjalan menuju meja makan.
"Berapa pun yang Cantik mau, abang jabanin!"
__ADS_1