Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 52


__ADS_3

Angga menghempaskan berkas di meja, dia tidak tau kenapa pekerjaan karyawannya berantakan sekali. Hampir semua materi yang akan mereka bahas ada kesalahannya, Angga benar benar tidak paham.


Para peserta rapat hanya bisa menundukkan kepala mereka, Angga sangat menakutkan bagi mereka saat sedang marah. Angga berdiri sambil menumpukan tangannya di meja, matanya yang tajam seperti elang menatap mereka satu persatu.


"Kalau kalian tidak ingin bekerja, katakan saja! Saya tidak kesulitan mencari pengganti kalian yang lebih kompeten" dia mengeletukkan giginya, wajahnya memerah menahan amarah.


Tidak ada yang menjawabnya, baru akan kembali meluapkan emosinya, hp yang dia anggurkan berbunyi. Angga suasana hening semakin sunyi, Angga melirik hpnya untuk melihat siapa yang menelfonnya.


Lily?


Angga mengkerutkan keningnya, di jam seperti ini Lily jarang menelfonnya karena harus kerja. Dia menarik nafas panjang, meredakan emosinya kemudian menjawab telfon.


"Halo! Kenapa Li?"


Mereka tertegun, Angga berbicara sangat berbeda dari yang tadi. Emosi yang meluap seakan lenyap tersapu ombak, suara Angga sangat lembut saat ini.


"Kak! Kak Alga kasih libur hari ini." Terdengar suara yang begitu semangat dari sebarang.


"Hm.. Lalu?" Angga kembali duduk, ekspresi kakunya juga sudah hilang.


"Lily mau ke rumah Mama boleh? Nanti Atar jemput ke rumahnya Mama."


"Iya boleh. Pulang nanti Kakak jemput." ucap Angga "Atau mau nginap di sana?"


"Ngak! Besok Lily ada quis di kelas."


"Oke."


Begitu Angga mematikan telfonnya, suasana yang tadi sudah rileks kembali tegang. Ekspresi Angga yang lembut saat menelfon, sekarang kembali menampakkan wajah kakunya.


Setelah menolak beberapa usulan karyawannya, Angga mau tidak mau menunjukkan apa yang dia maksud. Rencana awal mereka hanya sekitar sejam di ruang rapat menjadi tiga jam.


Dia kembali ke ruangannya, meregangkan sedikit ototnya karena terasa kaku. Setelah merasa cukup, dia meraih berkas berkas dan tenggelam pada pekerjaannya.


"Masuk!" Serunya begitu ada ketukan dari luar.


Sekretaris yang mengetuk pintu langsung masuk dengan file dan kopi di tangannya.


"Ini berkas kerja sama yang bapak minta." Sekretaris itu meletakkan di depan Angga "Dan bapak ada janji dengan perwakilan dari grup Valcon jam tiga nanti."


Angga melirik jam, sudah jam setengah tiga. Angga menghela nafas dan mengangguk, dia meminta sekretaris dan Om Tio tentunya untuk bersiap juga.

__ADS_1


"Siapkan mobil." perintahnya.


"Baik Pak!" Sekretaris itu langsung pamit keluar, dia akan melakukan tugasnya.


Angga mengambil jasnya dan berjalan keluar ruangannya, dia juga meminta beberapa pengawal mengikuti mereka. Sambil berjalan, Angga mengirimi pesan ke Lily memberitahukan kalau kemungkinan dia akan pulang agak terlambat.


Angga tiba lebih dulu yang di janjikan, dia menarik nafas karena sedikit merasa bosan. Keningnya terangkat melihat ke arah samping, pandangannya tertuju ke samping dimana orang yang dikenalinya duduk di sana tengah mengobrol.


"Oh Senior!" Orang itu menyapa saat menyadari Angga juga ada di sana.


"Yo Zain!" Angga menegakkan duduknya, dia menatap gadis berperawakan bule di depan Zain tengah cemberut. "Kencan?"


"Mana ada." Zain berkata dengan wajah tidak enak dilihat, dia terlihat kesal. "Senior ngapain di sini?"


"Tunggu rekan kerja." Angga mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Jadi bagaimana?"


"Apanya?"


"Kemarin itu?" tanya Angga, kemarin dia memang tidak sampai akhir karena harus kembali ke kantor.


Zain yang masih di tempatnya bersandar "Di urus pak Juan, ntah mau bagaimana gue tidak tahu."


"Bagus lah, Aryan gimana?"


"I have to go! (#1)" Zain menoleh ke arah perempuan yang mengebrak meja kuat.


Zain hanya menatapnya tidak peduli. "Tell your father, cancel the engagement immediately. otherwise I will not stay silent. (#2)"


"I will never let you go. Goodbye fiance"(#3)  Gadis itu menyeringai dan berlalu.


Angga tidak mengatakan apa apa melihat itu, itu bukan urusannya sama sekali. Dia berdiri menyambut klien yang mengajukan kerja sama dengan perusahaannya, dalam hati dia sedikit protes karena keterlambatan mereka.


"Maaf, kami ada kendala dalam perjalanan."


Angga mengangguk dan mempersilahkan mereka duduk. Dia mengambil berkas dari tas kerjanya, meletakkannya di atas meja siap berdiskusi. 


Setelah satu jam setengah, pembahasan tentang bisnis selesai dan mereka memesan makan. Angga menyerahkan berkas ke asistennya untuk disimpan.


"Saya benar benar tidak menyangkan, Erlangga grup mengganti pimpinan mereka dengan pimpinan yang begitu muda."


Angga tidak mengatakan apa apa, dia hanya tersenyum kecil sambil menyesap kopinya. Sebenarnya dia lapar, tapi berfikir dia akan makan malam bersama keluarga barunya saja.

__ADS_1


"Anda juga terlihat begitu muda." Angga membalas dia meletakkan gelasnya, sebenarnya dia merasakan kalau pria itu menatapnya juga.


Awalnya Angga berfikir kalau mereka hanya mengirim perwakilan mereka saja, tapi siapa yang menyangka kalau yang datang pimpinannya juga.


Pria itu terkekeh "Ya, saya masih dua puluh enam." Dia juga meraih cangkir kopinya, matanya tajam menatap Angga "Tapi dibanding anda, Saya masih tergolong tua."


Angga tertawa. " Tidak juga. Pak-"


"Lyz, terlalu tua untuk dipanggil Pak." Pria itu terkekeh "Ngomong ngomong, apa anda punya kekasih? Saya punya adik per-"


"Ya, Ada!" Angga memasang wajah dinginnya "Kita disini membahas kerja sama, bukan pribadi."


Lyz tertawa sampai air matanya jatuh, dia menatap Angga geli "Ah maaf maaf, tapi anda kaku sekali." Dia mengambil rokok "Tidak masalahkan kalau saya merokok?"


"Silahkan."


Lyz menyalakan sebatang rokok di tangannya, Angga tidak tahu kenapa merasakan kalau Lyz tidak asing. Tapi dia tidak mau mengambil pusing, Angga melihat sekelilingnya, Zain sudah pulang.


Suasana tiba tiba sepi, Angga tidak tau kenapa juga merasa kalau orang di depannya tengah dalam mood yang tidak stabil.


Yang Angga tahu, orang di depannya ini baru kembali dari luar negeri. Begitu tiba dia langsung menduduki kursi pimpinan, melengserkan saudara sepupu serta kakeknya.


Angga tidak terlalu cocok dengannya, terlihat jelas orang di depannya ini sangat ambisius. Menurut rumor yang beredar, dia ditemukan kakeknya saat berusia sepuluh tahun, semenjak itu dia dikirim ke luar negeri untuk pendidikan.


"Tempat ini banyak berubah." Angga meliriknya saat mendengar Lyz bergumam, pria itu melipat kakinya elegan dan menatap lurus ke depan.


Angga ikut menatap keluar, kalau rumor itu benar berarti Lyz di luar negeri selama enam belas tahun, wajar saja banyak yang berubah.


"Kenapa anda tiba tiba mengajukan kerja sama dengan kami?" tanya Angga, dia tidak pernah mengajukan kerja sama lebih dulu.


"Azka yang kasih tahu."


"Azka? Kak Azka anak tante Naya?" Lyz mengangguk "Saya baru disini, jadi memintanya membantu. Dia memberitahu kalau perusahaanmu milikmu adalah peluang." Dia bersandar di kursi. "Dan setelah membahas ini itu, well saya cukup puas tinggal menunggu hasil."


Angga tidak tahu kalau Azka akan membantunya, mengingat hari itu dia yang wajahnya paling membencinya. Angga menghela nafas panjang dan berterimah kasih di dalam hati.


***


#1 --Saya pergi


#2 --Beritahu ayahmu untuk membatalkan pertunangan secepatnya. Atau aku tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


#3 --Aku tidak akan melepasmu, selamat tinggal tunangan.


__ADS_2