
Lily membuka matanya berlahan saat dia menoleh ke samping, dia cukup terkejut karena Angga tidur di sisinya. Angga terlihat sangat lelap, wajahnya tampak lebih kuyu dari biasanya, kantung mata Angga juga sudah terlihat sangat jelas.
Karena tidak ingin mengganggu tidur Angga, Lily bangun dengan sangat berlahan. Dia haus dan air yang dipersiapkan untuknya sudah habis, jadi dia memutuskan akan turun untuk mengambilnya sendiri.
Dia melirik jam dan masih subuh, hari ini dia akan berangkat sekolah karena sudah merasa baik baik saja. Lily merapikan rambutnya yang sudah lebih panjang dari sebelumnya, dia memutuskan untuk memanjangkannya karena katanya Angga suka melihat rambutnya panjang.
Dia kembali melihat cowok itu, merapikan selimutnya dan menurunkan suhu AC. Dia berjalan keluar kamarnya, menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur.
"Oh sudah bangun?"
Lily terkejut melihat Lyz sudah ada di dapurnya, kapan orang ini ada di rumahnya. Seperti tidak terpengaruh dengan tatapan Lily, Lyz melanjutkan minumnya yang tertunda karena kedatangan gadis itu.
Lily hanya mengangguk kecil dia sama sekali tidak berniat bicara dengan orang yang sedikit asing untuknya. Dia memilih untuk membuka kulkas dan mengambil air menuangkannya ke gelas, baru akan minum seseorang yang baru mendekat mengambilnya dan meneguknya hingga tandas.
Angga meletakkan gelas itu kembali dan menatap Lily "Tidak boleh minum air es!"
"Ta-" belum selesai dia protes Angga sudah berbalik masih sambil membawa gelas, dia akan mengganti air yang dia minum dengan air hangat.
"Kamu minum ini." Lily hanya bisa menghela nafas panjang pasrah, meski sebenarnya keinginan untuk minum air dingin sudah ada sejak semalam, tapi apa boleh buat? "Untuk sementara kamu tidak boleh minum yang dingin dulu."
Tidak jauh dari mereka berdua, Lyz hanya bisa mencibir. Dia seperti tidak terlihat padahal tubuhnya lumayan besar untuk diabaikan, meski demikian dia hanya bisa diam saja dan memperhatikan dua remaja di depannya.
Awal saat dia mendengar kalau ayahnya menikahkan adik perempuannya, Lyz lumayan khawatir dengan keputusan itu. Tapi melihat bagaimana Angga memperlakukan Lily, dia sedikit merasa lega meski masih tidak rela sebenarnya.
Lyz sebenarnya juga merasa tidak pantas meributkan keputusan Ayahnya, selama hidup Lily, Lyz tidak sekalipun muncul dan bersikap seperti kakak laki laki. Karena itu, dia tidak pernah mengatakan apapun.
"Jadi, kamu mau sekolah?" Angga menarik kursi dan duduk "Tidak apa apa untuk istirahat sehari lagi."
Lily menggelengkan kepalanya "Lily sudah sehat, lagian sudah mau ujian kenaikan kelas."
Jelas Lily tidak berencana untuk tinggal di rumah, Angga tidak bisa mengatakan apa apa untuk menentangnya. Dan lagi memang benar, ujian kenaikan kelas tinggal beberapa hari lagi dan kehadiran sedikit mempengaruhi.
__ADS_1
"Kakak antar hari ini." ucap Angga, Lily baru akan mengeluarkan pendapat Angga menatapnya serius "Tidak ada bantahan!"
"Oke."
Tak lama orang orang di dalam rumah satu persatu bangun, saat melihat Lily Naya langsung heboh bertanya ini itu. Lily hanya bisa tersenyum kecil dan menanggapinya, dia juga sudah berniat ingin membantu membuat sarapan dilarang oleh Naya dan Bude Sum.
"Apa senin ini kalian sudah ujian?" Atar bertanya dia memindahkan sayuran ke piring Lily, tangannya di pukul Angga "Apasih?"
"Piring istriku bukan penampungan!" cibirnya, Atar tidak peduli dan tetap melanjutkan apa yang dia lakukan. "Apa lo bocah lima tahun yang tidak makan sayur?"
"Berisik!" selama Lily tidak protes dia tetap akan melakukannya, bahkan jika gadis itu protes "Jadi? Senin kamu sudah ulangan?"
Lily menganggukkan kepalanya, sayuran yang disimpan Atar di piringnya dia pindahkan ke Angga. Saat seperti ini dia sama sekali tidak mood untuk makan banyak, untungnya Angga tidak memprotes.
Sebenarnya kebiasaan Atar yang selalu memindahkan sayur ke piring Lily sudah sejak kecil, pun sebaliknya kalau Lily tidak suka pada satu makanan, dia akan memberikannya pada Atar dan kalau mereka berdua tidak suka mereka memberinya ke Afiq. Ya Afiq adalah penampungan terakhir si kembar yang bukan kembar sungguhan itu.
"Kelas sebelas aku mau pindah ke sekolahmu." ucap Atar. Atar dan Lily melihatnya dan berseru bersamaan
Atar mengedikkan bahunya dan menjawab kalau ingin saja, dia juga mengatakan kalau ingin mencari suasana dan teman baru.
"Bukan ide buruk, kamu juga bisa menjaga Lily." ucap Naya.
Angga meneguk air di sampingnya, dia menoleh ke arah Atar "Akan ada ujian untuk masuk ke Tunas Bangsa bagi siswa yang akan pindah ke sana, ini formalitas yang sederhana tapi sulit."
"Aku baru tahu." kata Lily yang kembali memindahkan daun bawang ke piring Angga "Tapi kenapa?"
"Untuk menentukan di kelas mana dia akan di tempatkan, ini peraturan dari lama." jelas Angga
"Apa itu juga menentukan jurusan?" Atar bertanya serius, dia sudah memikirkan kepindahannya dari sejak awal dia bertemu Lily "Apa siswa tidak diizinkan memilih jurusan?"
Angga menggeleng "Ujian masuk akan diberikan setelah siswa ditanyai akan masuk jurusan mana? Ini formalitas penentuan kelas, guru di Tunas Bangsa punya penilaian sendiri."
__ADS_1
Angga menjelaskan banyak hal pada Atar, bagaimana pun Angga tidak asing dengan pengaturan sekolah mengingat dia mantan ketua OSIS. Dia menjelaskan mulai dari keharusan dan hal yang tidak bisa dilanggar oleh siswa.
"Kalau ingin pindah ke sana, jangan membuat guru yang bernama Juandra kesal." Angga memperingatkan.
"Kenapa?"
"Dia akan membunuhmu dengan soal matematika!" Angga bergidik. "Dia pendendam!"
Dia pernah sekali membuat guru itu kesal, seperti yang dia katakan Pak Juan pendendam. Sejak saat dia membuat guru itu kesal saat kelas sepuluh, sampai kelas tiga guru itu tidak pernah lupa dan selalu membuat soal untuknya lebih sulit dari yang lainnya.
"Sepertinya lo pernah." Atar tertawa puas, mendengarnya tertawa Angga hanya bisa mencibir.
"Apa pak Juan semenyeramkan itu?" tanya Lily dia melihat Angga penuh kekhawatiran, Angga terkekeh ke arahnya.
"Tenang saja, Pak Juan suka murid cerdas yang tidak banyak bertingkah. Kennan adalah contoh mutlak."
Berbicara tentang Kennan, Lily sangat salut dengan kakak kelasnya itu. Meski terlihat seperti orang yang penuh tekanan dan kadang seperti orang linglung, Kennan tetap selalu mendapatkan nilai terbaik dari seluruh siswa di sekolah dan wajar kalau guru perhatian lebih.
Meski dan Rosa terkadang banyak bertanya ini dan itu, Kennan tetap dengan sabar menjelaskan dan menjabarkan satu persatu persoalan dalam soal. Angga juga selalu berkata padanya untuk mengambil banyak ilmu pada Kennan, karena orang cerdas dan mau berbagi ilmu itu sangat jarang dan mungkin sulit untuk ditemui kedepannya.
"Apa pak Juan guru killer?" Atar bertanya karena mendengar bagaimana Angga menjabarkan tentang guru itu, dia bisa menilai kalau dia mengerikan.
Angga menggelengkan kepalanya "Dibilang guru killer juga tidak, pak Juan hanya guru yang lebih tegas. Beliau adalah cukup ramah di luar dia jadi guru."
"Kakak pernah ketemu pak Juan di luar sekolah?"
"Tentu saja, kakak sebelumnya ketua osis dan beliau pembina OSIS sekaligus BK, intensitas pertemuan mungkin lebih sering ketimbang murid lain." Angga melirik meja depannya yang sudah kosong, sepertinya mereka sengaja meninggalkan mereka bertiga karena pembahasan soal sekolah. "Tar, gue saranin lo jangan masuk OSIS. Itu sedikit merepotkan!"
"Gue juga tidak tertarik, bisa masuk basket saja gue sudah senang." jelas Atar, dia juga tidak berniat mengambil banyak hal..
Saat SMP dia sudah cukup sibuk dengan kegiatan sekolahnya, pun dengan di sekolahnya saat ini. Dia hanya ingin santai kalau nanti diterima di sekolah Lily, terlalu merepotkan kalau harus ikut kegiatan.
__ADS_1