Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 62


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Lily di hari sebelumnya, hari ini mereka berdua pergi ke toko perabotan. Semalam pun Lily sudah membantu Angga mencatat semuanya, sekarang tinggal eksekusi saja.


Adapun pembicaraan mereka di taman kemarin, tak satupun dari mereka mengungkitnya lagi. Bukan karena lupa tapi Lily tidak ingin terlalu membebani pikiran Angga, meski sebenarnya kenyataan kalau dia akan ditinggalkan membuatnya sedikit takut.


Sambil menggandeng tangan Lily, Angga memimpin masuk ke dalam toko. Tujuan pertama mereka adalah kasur, setidaknya itu poin pertama yang mereka tulis semalam.


"Kakak mau yang ukuran satu orang?" Lily bertanya sambil memeriksa kasur di depannya, dia sudah biasa dengan ini. Dia mendongak menatap Angga yang tampak berfikir "Tapi badan kakak gede, kakak ngak bisa leluasa geraknya."


"Yang untuk dua orang, kamu bisa nginap kapan kapan kalau berkunjung!" jawab Angga, Lily memelototinya. Biar bagaimana pun mereka di tempat umum. "Bercanda cantik! Tapi kamu saja yang pilih, Kakak benar benar tidak paham beginian."


Lily menganggukkan kepalanya, dia mulai menimbang nimbang dan memeriksa kasurnya. Setelah tiga puluh menit, akhirnya dia menentukan pilihannya.


"Nanti kami antarkan, Mas. Tulis saja alamatnya." ucap pelayan toko.


"Oh iya, Mas. Nanti sekalian dengan yang lain karena saya masih cari barang lain." Angga tersenyum ramah.


Lily yang tadi entah dari mana kembali "Kakak mau lemari kayu atau plastik?" tanya Lily.


"Plastik saja, terlalu merepotkan kalau kayu." jawab Angga, Lily memiringkan kepalanya berfikir.


"Kayaknya kayu saja." putus Lily, Angga menatapnya tidak percaya. Apa fungsinya dia bertanya? Lily melihatnya "Tadi Lily kurang berfikir. kakak kan bakal tinggal lumayan lama di sana, kayu lebih tahan lama."


"Terserah kamu lah Li. Kakak ngikut saja."


"Oke!" dia kembali pergi, Angga hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Sambil Lily mencari lemari, Angga mendekati tumpukan meja. Dia akan mencari meja kerja yang nyaman untuknya. Mengingat sesuatu dia mendekati Lily, mencegah gadis itu memilih perabot yang besar.


"Kosan kakak kecil, takut barangnya bikin sempit."


Lily menatap laci yang terlihat menggemaskan di matanya, dia menatap Angga lagi "Tapi kakak butuh laci, buat nyimpan dasi, jam tangan, sapu tangan sama kaos kaki untuk ke kantor, biar rapi juga."


Angga menyentuh keningnya sendiri, sepertinya dia salah memilih kosan. Melihat dari lagak Lily, sepertinya masih banyak yang ia ingin beli.


"Untuk sekarang barang barang itu bisa ditaruh di lemari, setelah kakak dapat kosan yang lebih besar baru beli lagi oke?" tawar Angga, Lily mengangguk mengerti. Angga mencubit hidungnya "Sudah jangan cemberut, kita cari yang lain dulu."

__ADS_1


Lily menepis tangan Angga sebelum mengelus hidungnya, dia percaya kalau hidungnya pasti memerah. Angga hanya tertawa sambil berjalan lebih dulu, sambil misuh misuh Lily hanya bisa mengikut saja.


"Tunggu sebentar!" Angga berhenti, dia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang berdering. Bibirnya terangkat melihat id pemanggil "Kamu tunggu di sini sebentar, Kakak mau angkat telfon dulu."


Lily menganggukkan kepalanya membiarkan Angga menjauh, dia hanya sedikit mengkerutkan keningnya merasa sedikit aneh. Biasanya Angga tidak masalah mengangkat telfon di sampingnya, Lily dengan cepat menghilangkan pemikirannya dan mencari barang lainnya.


Angga menatap keluar jendela "Oke, secepatnya gue bakal nemuin lo. Tempat biasa ya!" Dia melihat ke arah Lily yang seperti anak kecil yang mengamati barang barang di depannya "Tidak, jangan kasih tahu Lily dulu. Gue bakal nemuin lo."


Merasa namanya disebut, Lily menoleh ke arah Angga yang melihatnya. Angga mengangkat sudut bibirnya, mengangguk kecil memberi isyarat untuk Lily berkeliling lagi.


"Ya gue tahu, sudah ya! Gue sibuk sekarang." Dia melihat jamnya "Kencan lah, kemarin waktu gue habis sama anak anak."


Angga mematikan sambungan telfonnya, dia menghampiri Lily yang melihat stiker dinding beserta kawan kawan.


"Untuk apa ini?" Angga menunjuk stiker berwarna merah muda di tangannya. Lily menatapnya polos


"Kulkas, nantikan kita mau cari kulkas" jawab Lily "Buat kompor juga bagus."


Angga mengangguk dan ikut memilih, dia bahkan menunjukkan motif yang beda masih dengan warna yang sama, dia tahu Lily suka warna itu. Setelah memilih mereka berpindah ke toko elektronik, mereka akan membeli kulkas kecil, kipas angin, kompor, mesin cuci.


Lily berdiri di dalam kosan Angga, menatap sekelilingnya sebelum mengambil sapu yang sengaja mereka beli tadi. Menyadari sesuatu Lily langsung menatap Angga dengan tatapan bersalah, ditatap seperti itu Angga mengangkat keningnya.


"Kenapa?"


Lily mengangkat sapu di tangannya "Lily beli barangnya kebanyakan warna pink" ucapnya, kalau dia tidak salah ingat seprainya juga warna pink "Kak. Lily benar benar tidak sengaja, Lily lupa. Biasanya memang Lily selalu mengambil barang warna pink."


Angga memiringkan kepalanya dengan kening mengkerut bingung "Dimana letak masalahnya? Hanya warna pink!"


Lily menatap wajah Angga, tidak ada wajah keberatan dari sana. Angga melirik barang barangnya memang kebanyakan warna pink, tapi sekali lagi... Angga bukan orang yang mempermasalahkan warna.


"Lily minta maaf" cicitnya


Angga tertawa, dia mengibaskan tangan di depan wajahnya "Hanya warna pink, biarkan saja."


"Tapi kakak kan cowok!"

__ADS_1


"Tidak apa apa, dengan begitu mereka tau kalau Kakak sudah ada yang punya." ucapnya benar benar tidak keberatan.


Dua jam kemudian mobil yang membawa barang yang mereka tiba, Angga dibantu beberapa pekerja dari toko mengangkatnya masuk ke dalam kosan. Lily hanya bisa melihatnya karena tidak diizinkan Angga mengangkat barang berat, Lily tidak benar benar berdiam diri, dia melangkah ke arah warung yang tadi sempat dilewati untuk membeli beberapa camilan.


Saat dia kembali ke kosan para pekerja sudah pergi, jadi dia menyimpannya di lemari pendingin sebagai persiapan Angga. Mereka berdua kemudian sibuk masing masing mengatur barang.


"Capek!" Angga duduk di sudut kasur yang sudah dipasangkan seprai warna pink oleh Lily. "Mau istirahat sebentar sebelum pulang?"


Lily yang sempat melamun tersentak, dia mengangkat kepalanya menatap Angga yang tiba tiba bertanya. Angga menghela nafas panjang dia bukannya tidak sadar, tapi dia ingin menunggu waktu yang tepat. Semenjak membereskan barang barang, dia sudah memperhatikan Lily yang sesekali melamun.


"Ah?"


Angga menatapnya "Mau istirahat dulu baru pulang? Kalau iya kakak keluar cari makan di depan." kata Angga.


Lily melihat jendela yang belum di tutup, memang sudah lumayan larut. Dia menganggukkan kepalanya saja karena perutnya sudah demo juga, tanggung juga kalau tempat itu ditinggalkan pekerjaan tinggal sedikit lagi.


Angga mengambil kunci mobilnya, dia meminta Lily menunggu sebentar. Sementara Angga keluar mencari makan, Lily memilih menyelesaikan membereskan tempat itu.


Karena sudah lumayan larut, Angga terpaksa mencari makana lumayan jauh dari tempat kosnya. Begitu dia kembali, Lily sudah tertidur karena kelelahan.


Angga mendekatinya duduk di tepi kasur, dia menepuk pelan lengan Lily membangunkannya.


"Li. Lily!" panggilnya tapi gadis itu hanya membalikkan badannya. "Lily makan dulu, Lilyana."


Angga menatap sekitarnya sudah tidak ada yang berantakan, dia melirik Lily yang pulas karena kelelahan. Angga berdiri mengambil piring menyiapkan makanan mereka, setelahnya dia kembali membangunkan Lily.


"Makan dulu baru pulang" Ucap Angga saat melihat Lily yang matanya sudah terbuka, gadis itu cemberut "Kenapa?" Angga bertanya dengan suara sangat lembut, nada yang hanya dipakai saat bicara dengan Lily


"Kakak kenapa lama?"


Angga mengelus kepala Lily "Maaf. Tapi di depan tidak ada nasi jadi kakak cari dulu." dia menarik tangan Lily untuk duduk "Cuci muka dulu, kakak sudah siapin makan."


"Ngantuk!"


"Iya nanti tidur lagi." Angga membantunya berdiri dan mengantarnya ke kamar mandi karena takut gadis itu terjatuh mengingat dia masih setengah sadar.

__ADS_1


__ADS_2