
Seperti yang dikatakan Angga sebelumnya, hari ini dia benar benar mengantar Lily ke sekolah. Dan tanpa di ketahui Lily, Angga meminta seseorang mengawasinya dalam artian mengawalnya, dia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.
Angga meminta seseorang tapi sebenarnya itu orang kepercayaan Lyz, Angga belum ada waktu untuk merekrut keamanannya sendiri. Jadi untuk sementara dia dikawal oleh pengawal almarhum Ayahnya yang usianya juga hampir seusia beliau bahkan lebih, ada beberapa dari mereka pun mengajukan pengunduran diri tapi Angga mengatakan kalau dia masih membutuhkan mereka dan berjanji akan melepas mereka setelah mendapat pengawalnya sendiri.
"Orang sibuk kita ini, tumben datang lagi ke sekolah!" Afkar yang menjaga pintu gerbang menghampiri mobil Angga.
Angga membantu melepas sabuk pengaman Lily, dia meminta agar gadis itu masuk saja. Angga membuka mobilnya dia ikut bersandar di mobil seperti Afkar.
"Gimana?"
Angga mengernyit "Apanya?"
"Jadi mahasiswa sibuk." Afkar memberi isyarat pada siswa yang bukannya masuk malah singgah bergosip di depan pagar. "Lancar?"
"Ini baru mau ke sana. Ada beberapa katanya mau diurus, merepotkan sekali." Keluhnya, Afkar tertawa karena tau karakter senior itu yang memang lebih suka praktis.
Angga melihat jam yang melingkar di tangannya, sebelum ke kampus dia berencana untuk mampir ke kosan yang akan dia tempati. Dia menepuk bahu Afkar kemudian pamit untuk pergi.
"Ah hampir lupa." Angga membuka jendela mobil memanggil Afkar "Tolong liatin Lily ya! Kalau bukan supir gue yang jemput jangan izinin dia ikut siapapun."
Afkar mendengus "Lo pikir gue satpam gitu?"
"Lah, pan lu satpan siswa!" canda Angga, Afkar hanya bisa berseru jengkel padanya "Ya udah gue duluan ya. Jagain tuh anak anak lo, jangan kasih lolos."
"Sint*ng!"
Angga hanya tertawa sebelum benar benar meninggalkan depan sekolah.
Seperti yang dia katakan, sebelum ke kampus dia mampir ke kosan tempat dia akan tinggal. Dia dengan cepat masuk untuk berganti pakaian, dia berganti ke pakaiannya yang agak lama tapi masih sopan. Angga juga mengeluarkan motor bekas yang baru saja dia beli, setelahnya baru dia ke kampus.
Sebenarnya dia ke kampus hanya untuk pendaftaran formalitas, semua berkas yang diminta sebelumnya sudah di kirimkan oleh asistennya yang juga wali pengganti Ayahnya. Kalau saja bukan untuk pendaftaran kembali secara manual, dia sangat malas ke kampus di saat ada urusan yang lebih penting.
Begitu sampai di kampus yang ditujunya, Angga menatapnya sedikit pangling. Beberapa tahun sebelumnya saat Ibunya masih hidup dia pernah ke sana, banyak gedung yang sebelumnya belum ada sekarang berdiri kokoh di depannya.
__ADS_1
Dan seperti yang diharapkan dan universitas bergengsi, begitu dia ke area parkiran motor, semua yang ada di sana tidak ada yang seperti miliknya semuanya adalah motor motor dengan harga fantastik. Dan saat menoleh ke area mobil, semua tampak mewah dan kinclong yang harganya pasti mewah juga.
Melihat itu apa dia iri? Tentu saja tidak, dia memiliki beberapa di rumah meski itu milik almarhum Ayahnya. Saat pergi ke gedung dimana calon mahasiswa di minta mendaftar kembali, dia tidak sengaja bertemu Ezra.
"Lah ini anak, sudah disini aja lu." Ezra berkata sambil kerepotan dengan berkas di tangannya "Gue pikir lo gak datang."
"Peserta calon mahasiswa wajib datang, jadi tentu saja gue disini." kata Angga.
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, tampaknya sudah hampir setengahnya hadir melihat bagaimana sesaknya ruangan itu. Angga mencari tempat untuk duduk karena nomor antriannya masih jauh, padahal dia termaksud cepat mengambil nomor antrian.
Ezra juga ikut dengannya, karena dia hanya dua nomor lebih depan dari Angga. Sambil menunggu antriannya, Angga memberi beberapa instruksi pada asisten melalui telfon.
"Permisi!" Dua cowok itu mengangkat kepalanya, seorang perempuan berdiri di depan mereka. Dia menunjuk kursi kosong samping Angga. "Apa sudah ada yang menempati kursi itu? Kalau tidak boleh gue duduk disitu?"
Angga dan Ezra melirik kursi kosong dan menganggukkan kepala mereka, toh itu tempat umum mereka tidak berhak melarang. Gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, dia gugup untuk pendaftaran ini tapi dua cowok di sampingnya sama sekali tidak berniat saling bercerita.
"Kemarin gue ketemu Afkar sama ceweknya." cetuk Ezra tiba tiba "Lo minta apaan sama dia?"
"Ada, urusan pribadi." jawab Angga, dia tidak perlu memberitahu Ezra karena menurutnya ini urusan keluarga. "Lama banget."
"Ban*ke lo!"
"Lah kenyataan kan?" Ezra bersandar di dinding dia juga kelelahan "Aneh rasanya mau belajar tapi tak berseragam."
"Lo sendiri nolak disuruh masuk akademi berseragam." Angga menyeringai ke arahnya, Ezra mencibir "Terima saja!" balasnya
"Ngikutin jejak orang itu? Ogah gue."
Angga tertawa kecil, mereka semua tahu bagaimana Ezra benci profesi Ayahnya yang anggota TNI. Tugasnya yang selalu berpindah pindah dan menetap di satu tempat lain cukup lama dan pindah lagi, Ezra membencinya terlebih setelah tahu Ayahnya punya simpanan di salah satu tempat dia di tugaskan.
Dan simpanan itu sekarang jadi Ibu tirinya, tentunya setelah Ibu kandungnya meninggal. Karena itu Ezra sebenarnya sedikit iri dengan Angga, mereka sama sama tidak punya Ibu tapi Ayah Angga masih setia pada istrinya dan menolak menikah lagi.
Ezra makin tidak menyukai keluarga Ayahnya karena bukannya membela ibunya, mereka malah mewajarkan perbuatan Ayahnya yang memiliki perempuan lain dengan alasan laki laki punya kebutuhan. Mereka bahkan menyalahkan Ibunya yang tidak ikut suami, padahal Ayahnya yang melarang karena tempat tempat yang ditujunya jauh dan tidak pasti terlebih anak anak masih kecil.
__ADS_1
Puncak kebencian Ezra pada Ayahnya saat adiknya juga meninggal, padahal saat itu adiknya demam tinggi dan sudah dilarikan ke rumah sakit. Padahal Ayahnya ada di kota yang sama, begitu di telfon dan dimintai datang dia menolak dengan alasan istri barunya sakit kepala dan tidak bisa ditinggalkan.
"Kalian dari sekolah yang sama?" Gadis yang dari tadi hanya diam mendengar mereka akhirnya bersuara.
"Ya." Ezra yang menjawab karena Angga sama sekali tidak berniat.
"Pasti enak punya teman satu sekolah, Ah gue Vidya." gadis itu memperkenalkan dirinya.
"Gue Ezra." Dia menerima uluran tangan Vidya "Dia Angga." Saat namanya di sebut Angga hanya mengangguk dan kembali menatap hpnya.
"Kalian dari SMA mana?" tanya Vidya basa basi, dia tidak tahan berdiam diri. "Aku dari SMA swasta putri."
"Kami dari SMA Tunas Bangsa." Ezra menjawabnya tapi kakinya tanpa diketahui Vidya, dia menendang kaki Angga karena malas berbicara Sebenarnya.
"Tunas Bangsa? Gue baru dengar."
Ezra tersenyum kecil "Sekolah kami memang tidak terkenal."
Gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti, dia melirik Angga yang terus diam sambil serius dengan hpnya. Melihat itu dia menepuk bahu Angga, dia langsung menatap Vidya yang tertangkap basah melihat Angga.
Gadis itu sebenarnya merasa sedikit tersinggung, Angga sama sekali tidak pernah merespon dan hanya bermain game. Dia tidak pernah terabaikan sebelumnya dan selalu jadi pusat perhatian, jadi dia merasa aneh dan tersinggung saat seseorang tidak menanggapinya.
"Jangan pernah punya pikiran tentang anak ini." Ezra berkata dia menepuk pipi Angga "Ekonomi keluarganya dibawa rata rata, keluarganya juga banyak hutang."
Angga mengumpatinya dalam hati, sejak kapan keluarganya sampai banyak hutang? Tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan apa yang dia pikirkan, dia hanya ingin sekolah tanpa berniat mencolok.
"Karena itu, dia harus belajar serius. Biar bisa kerja dan bayar hutang." Ezra menyeringai, kapan Lagi bisa mengerjai Angga?
Angga mengangkat kepalanya dari ponsel, telinganya tanpa sengaja mendengar sesuatu.
"Kemarin lo ngalahin geng timurkan, Rudi?"
Angga tidak menyangka melihatnya disini, Ezra tanpa sengaja melihat tatapan tajam Angga jadi dia mengikutinya. Angga melihat kumpulan cowok yang tertawa dengan suara keras, mengganggu konsentrasi orang lain.
__ADS_1
"Lo kenal?" tanya Ezra, Angga menggelengkan kepalanya dan melihat hpnya lagi.
"Hanya berfikir, dunia benar benar hanya sesempit itu."