Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Epilog


__ADS_3

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi pelajar, banyak cerita suka dan duka dalam tiga tahun tersebut tidak terkecuali Lily.


Di tahun pertamanya adalah cobaan terberat untuknya, tahun dimana dia menerima bullyan sekelas dan tahun dimana dia kehilangan orang yang paling berarti baginya. Tahun kedua tahun dimana dia dan Angga menumbuhkan perasaan mereka lebih jauh, tahun itu juga dia sangat terkejut dengan sebuah kejutan yang tak terbayangkan.


Dia mengetahui kalau dia punya kakak kandung!


Dan disinilah dia berdiri, di podium aula untuk mengatakan sepatah dua kata di hari kelulusannya sebagai murid dengan nilai terbaik. Siapa yang akan menyangka kalau dia benar benar akan melihat namanya di mana nama Kennan dua tahun terpatri, ya... Meski dia menggantinya setelah Kennan lulus.


Senior itu terlalu jenius!


Dari atas podium dia dengan jelas bisa melihat kakaknya, keluarga angkat dan teman temannya, serta pemuda yang tidak lain adalah suaminya, Angga!


"Entah anak kalian nanti akan secerdas apa." ucap Naya, itu cukup beralasan karena dua tahun lalu Angga yang berdiri di sana sebagai lulusan terbaik juga.


Angga tidak mengatakan apa apa, dia hanya tersenyum kecil mendengarnya. Matanya terus menatap Lily penuh kebanggaan, padahal dia melakukan banyak hal selain belajar termaksud membangun bisnis makanan miliknya sendiri.


Tahun kemarin Angga menghadiahkannya toko, dia tidak bisa terus menerus membiarkan Lily bekerja pada orang lain. Beruntungnya Lily menerimanya, adapun modal, tidak keseluruhan dia yang memberinya karena Liz bersih keras memberinya ke adiknya.


Ya hubungan canggung antara Liz dan Lily, berlahan memudar dan sekarang mereka sangat dekat. Terkadang Angga sendiri sulit meminta Lily pulang saat berada di rumah kakaknya, nanti setelah dia menjemputnya barulah gadis itu mau pulang.


"..., Terima kasih."


Suara tepukan tangan yang meriah menandakan berakhirnya pidato singkat Lily, semua orang berdiri untuk menunjukkan penghargaan atas dirinya. Lily tersenyum ke arah kedua temannya, Nurul dan Rosa mengacungkan jempol ke arahnya.


Lily berjalan cepat ke arah keluarganya, orang pertama yang langsung dia peluk adalah Liz. Kakaknya itu mengingatkannya akan sosok sang Ayah yang sudah meninggal, tanpa bisa menahannya lagi Lily menangis dalam pelukan sang Kakak.


"Selamat atas kelulusan mu!" bisik Liz sambil mengelus punggung sang adik.


Setelah puas menangis, dia berpindah ke keluarga angkatnya. Mereka mengucapkan selamat padanya dan juga atar, Naya beberapa kali mencium wajahnya karena merasa bangga dengan Lily. Gadis itu hanya bisa tertawa dan menerimanya, dia dan Atar juga mendapatkan hadiah dari keluarga itu.


Angga tersenyum saat gadis kecil itu berdiri di depannya, Angga merentangkan kedua tangannya dengan kening terangkat. Melihat itu Lily dengan kesadaran penuh masuk ke dalam pelukan Angga, pelukan ternyaman untuknya selama dua tahun ini.


Air mata yang dia pikir tidak akan jatuh lagi, kembali jatuh saat dia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Angga. Pemuda itu tidak mengatakan apa apa hanya menepuk pelan punggung Lily menenangkannya, dia juga merasakan apa yang di rasakan Lily saat ini dua tahun lalu.


Setelah merasa lebih baik, Lily mengendurkan pelukannya. Angga membantunya menghapus air mata Lily dengan ibu jarinya, dia juga tanpa rasa jijik mengelap cairan bening yang keluar dari hidung Lily


"Sudah baikan?" Lily mengangguk dengan pertanyaan Angga padanya, "Sekarang kita dengar apa yang akan di sampaikan kepala sekolah." Lily pun pamit dan bergabung dengan teman sekelasnya.


"Nyaman banget ya, Bu!" goda Nurul pada Lily yang baru datang, Lily hanya tersenyum kecil ke arahnya "Bikin iri saja lo!"


"Dengarkan kepala sekolah." tegur Rosa saat Lily baru akan membuka mulutnya, Rosa sama sekali tidak berubah


Perusak suasana!


Setengah jam lewat kemudian, seluruh siswa dan keluarga keluar dari aula sekolah. Begitupun dengan Lily dan rombongannya, mereka memilih agak belakangan karena tidak ingin berdesakan.


"LILY!"


Tidak jauh dari aula, teman teman Angga melambai ke arah mereka. Bahkan diantara cowok cowok itu, menyempil dua gadis yang tidak lain adalah Nia dan Melanie.


"Selamat atas kelulusan kalian!" ucap Melanie pada Lily dan kedua temannya.


"Terima kasih, kak!"


Para pemuda kemudian menyingkirkan kedua gadis itu, padahal Melanie belum selesai bicara. Keempat cowok itu menyodorkan buket bunga pada gadis gadis yang baru lulus itu, mereka membelinya tadi tidak jauh dari sekolah.


"Terima kasih, Kak!" Nurul dan Lily mengucapkan bersamaan.


Tapi, beda dengan kedua temannya, Rosa menatap bunga itu terlebih dahulu. "Terima kasih!"


"Hahaha... Anak ini masih saja kulkas lima pintu" ucap Dwi. Mereka sudah tidak tersinggung dengan balasan dingin Rosa.

__ADS_1


Rosa tidak mengatakan apa apa, dia hanya bisa mencibir dalam hati. Kalau saja ini bukan hari terakhir, dia akan membalas para senior itu.


"Kamu pasti Lily dan Nurul?" Lily dan Nurul mengangguk dan mengatakan Iya pada orang tua Rosa, mereka berdua menyalaminya.


Ini pertemuan pertama mereka.


"Terima kasih sudah berteman dengan anak saya," wanita paru baya itu berkata tulus "Dia anak yang keras kepala, kalian pasti banyak di repotkan."


Lily dan Nurul berkata tidak bersamaan.


"Tante, kami yang harus berkata terima kasih, selama ini Oca selalu melindungi kami, dia juga selalu menegur saat salah." Nurul mengangguki ucapan Lily setuju, wanita itu hanya tersenyum.


Setelah pamit dengan teman temannya, rombongan Lily meninggalkan area sekolah. Tempat awal yang mereka kunjungi tidak lain tidak bukan adalah makam, sama seperti Angga juga dulu.


"Okey?" bisik Angga saat gadis itu menunduk, gadis itu mendongak dengan mata yang memerah.


"Hm." dia kembali menatap makam di makamnya, dia kemudian melirik ke arah Liz kakaknya.


Sebenarnya ini pertama kali mereka ke makam bersama sama, biasanya mereka pergi masing masing. Liz selalu menolak saat diajak ke makam, entah kenapa dia seperti itu.


Tapi sekarang dia mengerti, melihat wajah bersalah Liz menatap makam, dia yakin setiap kakaknya itu datang pasti selalu menyalahkan dirinya sendiri yang baru datang.


Setelah dari makam, mereka semua kembali terpisah dari rombongan. Angga mengambil tangan Lily dan membawanya ke mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Lily saat melihat Angga tidak menjalankan mobilnya bukan ke arah rumah.


Angga hanya menggenggam tangannya dan tersenyum ringan, Lily makin penasaran.


"Kakak!"


"Ini surprise cantik!"


Lily mencibir tapi tidak memungkiri kalau dia tersipu, padahal dia sudah mendengar itu hampir tiga tahun ini. Karena jarang bertemu, Lily masih saja tersipu dengan kata kata manis Angga.


Keningnya makin mengkerut saat mobil melewati rumah kakaknya, apa Angga ingin mengunjungi seseorang di perumahan mewah itu?


Tak lama mereka berhenti di depan sebuah gerbang rumah, Angga turun lebih awal dan membuka gerbang. Dia menoleh ke arah Lily yang masih di dalam mobil, sambil tersenyum dia memberi isyarat agar gadis itu turun dari mobil.


"Ayo masuk!" Angga meraih tangan Lily, menggandengnya masuk ke pelataran.


"Ini rumah siapa?"


Angga masih diam, dia tidak berniat menjawab sampai mereka tiba di depan pintu. Angga mengeluarkan kunci dari sakunya, Lily yang melihat itu hanya bisa mengkerutkan keningnya bingung.


"Kak?"


Pemuda itu menatapnya, dia tersenyum kemudian menundukkan kepalanya untuk berbisik. Tangannya membuka kepalan tangan Lily, meletakkan kunci di telapak tangannya.


"Selamat atas kelulusan mu dan selamat datang di rumah baru kita."


Mata Lily membulat, dia langsung menatap Angga tidak percaya. Angga terkekeh dan merangkul bahunya, dia menunduk dan mencium pelipisnya.


"Sekarang buka pintunya!"


Dia melihat Angga kemudian kunci di tangannya, dia menghela nafas panjang dan berlahan memasukkan kunci ke lubang kunci. Berlahan dia memutar kenop pintu, menarik nafas kemudian mendorongnya perlaha


Pyar pyar!


"SELAMAT DATANG!!!"


Lily terkejut, dia menatap tidak percaya orang orang berada di sana. Pantas saja mereka semua buru buru untuk pulang, ternyata semua berkumpul di sini.

__ADS_1


Lily tidak menyangka air matanya jatuh lagi, dia dengan cepat menghampiri mereka dan berbaur. Semuanya di sana, orang tua angkatnya, kakaknya, teman temannya bahkan keluarga Bude Sum juga di sana.


"Gila, habis berapa duit ini?" tanya Niel saat mereka sekarang ada di halaman belakang, mereka sedang barbeque-an.


Angga tidak menjawab dan hanya menyesap soda di tangannya, dia tidak berniat berapa banyak uang yang dia habiskan. Selama dia puas dan Lily senang, dia tidak akan memusingkan hal lain.


"Hahaha... Berapa banyak yang gue mesti kumpulin buat nikah?" Hari berjalan ke arah mereka.


"Semampu lo." jawab Angga "Tapi yang lebih penting, pasangan lo cari dulu sana!"


Hari mengumpat, dia mendengus ke arah Angga dan Niel yang tertawa.


"Lo lulus dulu sana, skripsi lo masih dua tahun lagi." Ezra yang memang sejak tadi berdiri di samping Angga ikut menimpali.


"WOI! NGAPAIN LO PADA DI SANA HAH?" Dwi yang sedang memanggang menatap kesal ke arah mereka "BURU SINI!"


"Anak anak, ayo kumpul sini! Tante sudah membeli banyak makanan lain juga."


Niel, Hari dan Ezra berlari ke arah Naya. Mereka selalu senang dengan makan gratis. Apalagi dua tahun ini mereka hanya mahasiswa yang merantau, makan gratis tentunya menjadi pilihan tepat untuk berhemat.


Angga yang hendak ikut melangkah menghentikan langkahnya, dia memutar arah ke rumah karena melihat Lily masuk ke dalam rumah.


"Hai!" sapa Angga saat masuk ke menghampiri Lily.


Gadis yang tadi ingin menyendiri untuk menutupi rasa harunya, menoleh menatap Angga. Postur tubuhnya santai sambil memasukkan tangan ke dalam saku, dia menatap Lily dengan kening terangkat.


Tanpa mengatakan apa apa, Lily berjalan ke arah Angga, mengulurkan tangannya memeluk leher Angga. Barulah dia meluapkan rasa harunya, Angga hanya menepuk pundaknya pelan.


"Kakak!"


"Hm?"


"Terima kasih" cicitnya


Angga hanya terkekeh tapi tidak mengatakan apa apa, dia mengendurkan pelukannya. Tangannya menghapus air mata Lily, menciumnya setelahnya.


"Tidak usah berterima kasih, kita suami-istri dan aku berkewajiban menyediakan papan dan sandang untuk istri," Dia menumpukan keningnya di kening Lily, menghapus air matanya yang masih berjatuhan "Terima kasih, selama ini kamu ada di masa sulit kakak."


"Lily juga," gadis itu tersenyum.


"Terima kasih juga pada para Ayah, mereka tahu kalau Lily untuk Angga," ucap Angga, meski merasa geli dengan ucapannya sendiri. Lily terkekeh tapi tetap mengangguk "Love you!"


Mata gadis itu membulat kaget, tapi tak ayal dia juga tersenyum lebar. "Love you too!"


Angga terkekeh senang, dia menangkupkan tangannya ke pipi Lily. Kali ini dia tidak akan ragu lagi, dia menunduk dan mencium Lily.


Meski kaget, gadis itu juga meresponnya. Angga baru melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu, seruan sudah terdengar Hari dari luar.


"WOI... MASIH SIANG! NGAPAIN SIH LO BERDUA DI DALAM?"


******


END


Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Lily dan Angga, sudah memberi komentar penyemangat untuk saya.


Maaf kalau belum memuaskan kalian, maaf kalau masih ada yang kurang, maaf juga kalau ada sikap saya yang kurang menyenangkan!


Terima kasih semuanya... Sampai bertemu di buku lainnya


Salam cinta dari

__ADS_1


ANGGA & LILY


__ADS_2