Lily Untuk Angga

Lily Untuk Angga
Part 30


__ADS_3

"Hei, kenapa cemberut?" Angga menusuk pipi Lily dengan jari telunjuknya "masih kesal?"


Lily menganggukkan kepalanya. Tadi di klub persiapan OSN dia bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan, selalu menyindirnya yang mendapat peringkat satu tapi banyak tanya.


"Jangan dihiraukan orang seperti itu!" Angga mencubit pipinya pelan. "Sudah sampai"


Angga memarkirkan mobilnya di depan resto tempat Lily bekerja, dia memang sejak tadi pagi berencana mengantarnya sekaligus melihat lihat sebentar.


Lily mengambil tasnya dan turun dari mobil diikuti Angga di belakang. Mereka jalan berdampingan masuk ke dalam, Lily tersenyum ke salah satu rekan yang sudah diperkenalkan kemarin oleh Alga.


"Kak Angga?" Alga yang baru keluar dari dapur terkejut melihat kedatangan seniornya itu.


"Kak, Lily duluan, ya!" pamitnya yang  diangguki Angga.


Alga melihat mereka bergantian "Kak Angga mau makan?"


Angga menggelengkan kepalanya "Gue cuman nganter Lily." Dia melihat Lily yang keluar dari ruang ganti sambil memasang penutup kepala di lehernya sudah tergantung apron.


Alga juga melihat ke arah Lily yang menghilang di pintu dapur.


"Gue titip Lily ya, jangan izinkan dia pulang larut" Angga mengeluarkan hpnya dan meminta nomor Alga "Kasih tau gue kalau ada apa apa!"


Alga hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Angga. Dia setuju setuju saja, toh tidak ada ruginya. Meski penasaran dengan hubungan mereka, Alga tidak berniat bertanya.


Dia kembali ke dapur setelah Angga pamit.


Lily berkenalan kembali dengan orang orang yang belum sempat dikenalkan padanya kemarin. Dia senang karena mereka cukup ramah.


Karena masih baru Lily diberikan resep menu di resto Itu, dia juga belum tahu menu apa saja jadi memang masih perlu diajari. Lily senang karena mereka tidak pelit dan sabar mengajarinya.


"Kamu jago masaknya, padahal masih kecil." Yanti, salah satu koki disana memujinya.


"Terimah kasih, Kak." ucapnya. Yanti tertawa dan mengoreksi panggilan Lily


"Jangan panggil Kak ah, gak enak sama yang lebih muda" Canda Yanti, beberapa staff yang mendengarnya langsung bersorak ke arahnya. "Panggil mbak saja"


Meski bingung kenapa mereka bersorak Lily tetap mengangguk "Iya, Mbak!"


Lily memasak dalam diam, dia hanya bicara saat di tanya saja, takut dia salah memasukkan bahan.


Dia sudah di beritahu kalau jam jam seperti ini memang sangat sibuk. Pelanggan mereka kebanyakan remaja dan mereka pulangnya siang.


"Kamu capek, ya?" Fikri salah satu staff yang bertugas melayani tamu bertanya.


"Sedikit" jawabnya jujur.


"Hahaha wajar, masih hari pertama!" Fikri meletakkan minuman ringan di meja depan Lily "Lama lama terbiasa juga nanti"


"Iya, terimah kasih"


Lily mengambil minuman yang diletakkan Fikri dan menyesapnya, karena kebetulan dia memang haus. Mereka sekarang ada di ruang istirahat, bukan hanya ada mereka tapi masih ada dua lainnya.


"Yang nganterin lo tadi siapa, Li?" Luna, salah satu staff yang sama dengan Fikri bertanya. "Kakak? Aku dengar tadi lo manggil kakak, kenalin ke gue dong!"


"Eh iya ganteng, kelihatan dewasa" Tamara staff yang satu lagi menimpali.

__ADS_1


Bicara tentang mereka bertiga, mereka bertiga adalah staff yang sudah lama ada di sana, umur mereka masih dua puluh tiga dan dua puluh empat tahun.


Lily hanya menggenggam botol minumnya.


"Kakak kamu kan?" tanya Luna lagi.


Lily menggelengkan kepalanya


"Sepupu?" tanya Luna, Lily menggelengkan kepalanya lagi.


"Pacar?" Fikri yang menebak, Lily hanya mengangguk kepala pelan.


"Heh? Serius? Kamu masih kecil, jangan pacaran dulu" ucap Tamara. "Laki laki banyak yang buaya"


"Apa maksud lo ngomong gitu" tanya Fikri sembari melempar kulit kacang yang sementara dia makan, Tamara hanya tertawa.


Lily hanya menanggapi dengan tawa kecil. Tak lama dia pamit untuk kembali bekerja karena merasa istirahatnya sudah cukup.


"Lily, Kak Angga sudah jemput tuh" Beritahu Alga, Lily melihat jam di hpnya dan memang sudah setengah sembilan.


Lily lebih dulu pamit dan berjalan keluar menghampiri Angga yang sudah menunggunya. Sepertinya Angga juga baru pulang.


"Padahal Lily bisa naik taksi" Ucap Lily dia masih tidak memasang sabuk pengaman karena lukanya masih terasa perih kalau di tekan.


"Lain kali saja baru kamu dijemput taksi." Angga menjalankan mobilnya "Bagaimana dengan hari pertama kerja?"


"Lily senang! Teman temannya juga baik" beritahu Lily, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dan itu menular pada Angga.


"Kalau capek bilang, ya!" Angga menepuk kepala Lily, sepertinya sudah jadi kebiasaannya.


Lily mengiyakan.


"Boleh"


Angga memarkirkan mobilnya yang sekiranya tidak menganggu pengguna jalan lainnya. Mereka memilih berkeliling dengan berjalan kaki.


Karena tidak mau mencolok, Angga melepas dasi dan mengganti jasnya menjadi jaket yang memang selalu ada di mobil, dia juga mengganti sepatu menjadi sendal yang nyaman untuknya.


Angga menggandeng tangan Lily untuk berkeliling. Mereka mencoba beberapa makanan disana.


"Coba ini" Angga menyuapkan setusuk sate ke arah Lily, gadis itu langsung mencobanya "Bagaimana?"


Lily menelan satenya sebelum berkomentar "Kacangnya enak, cuman kurang pedes."


"Pedes ini"


Angga memang tidak terlalu bisa makan makanan pedas berbanding terbalik dengan Lily, gadis itu sangat suka pedas.


Angga mengambil botol sambal dari tangan Lily karena ngeri sendiri melihat kuah seblaknya yang sudah memerah.


"Kamu nanti sakit perut." Angga menjauhkan botol sambal, Lily hendak mengambilnya setelah mencoba seblaknya masih kurang pedas.


"Sedikit lagi"


"Tidak!" Angga menatap tegas ke istri kecilnya itu. "No!" jawabnya saat Lily kembali meminta.

__ADS_1


Meski kurang pedas tapi Lily tetap merasa puas setelah menghabiskannya.


Sekarang mereka bergandengan tangan berjalan sebentar karena perut mereka penuh, Lily menyesap boba yang dibelikan Angga untuknya.


"Masih mau jajan lagi?" Tanya Angga dan Lily menjawab tidak karena memang sudah sangat kenyang.


"Kakak santai begini, memang pekerjaan kakak tidak banyak"


Angga menggaruk pangkal hidungnya "Ya kalau pekerjaan tidak ada habisnya, Li. Tapi kakak tidak mau di perbudak pekerjaan di usia kakak sekarang. Tunggu deh setelah punya anak."


Lily langsung tersedak mendengar kalimat Angga.


"Anak?"


Angga mengangguk dan menatap jail ke arahnya, Lily berlahan menjauhkan dirinya. Cowok itu menariknya merangkulnya.


"Kakak!" Lily berusaha melepaskan diri "Dilihat orang" keluhnya malu.


Angga berbisik "Sepi ini"


Lily membulatkan matanya kaget, dan dengan berani mencubit pinggang Angga sampai dia meringis.


"shh.. Sekarang kamu berani cubit cubit ya!"


Lily terkekeh "Siapa suruh jail."


Angga menegakkan berdirinya kembali merangkul Lily, kali ini Lily tidak bereaksi seperti tadi karena bukan hanya dia dan Angga saja yang saling merangkul.


"Tapi kakak beneran mau punya anak loh" Lily kembali hendak mencubitnya tapi karena insting atau apa Angga berhasil menghindar. "Tidak sekarang! Nanti Li. Nanti kamu selesai sekolahnya."


Setelah puas berkeliling di tempat itu mereka kembali ke mobil untuk pulang ke rumah.


Angga melirik Lily yang lagi lagi tidak memakai sabuk pengaman. Kemarin malam saat Lily tidur tentunya, Angga mengangkat bajunya hanya untuk melihat luka disana. Sepertinya sup hari itu benar benar panas dan mengenai Lily cukup banyak. Lepuhan di perut Lily lumayan lebar dan lebar. Berhasil membuat amarah Angga memuncak sebentar.


Saat sampai di rumah mereka langsung di sambut Pak Tono satpam baru mereka.


"Malam pakde" Sapanya pak tua itu menganggukkan kepalanya membalas sapaannya.


"Loh kok belum tidur?" Lily kaget mendapati Farhan-cucu Bude Sum masih menonton tv.


"Ya gitu, Bu." Bude Sum mengelus kepalanya "Dia memang selalu begadang kalau malam."


Lily menganggukkan kepalanya lalu duduk di samping Farhan.


Lily dengan gemas memeluknya begitu Farhan menatapnya dengan mata bulatnya sambil memiringkan kepalanya.


Angga menggelengkan kepalanya menjauhkan Farhan darinya.


"Mandi dulu, Lily dari luar tidak baik langsung meluk anak kecil." Angga mengelus kepala Farhan sebelum menarik Lily ke lantai dua. "Nanti lagi mainnya."


Lily menepuk keningnya "Oh iya sekalian mau nyuci."


"Sudah larut, besok saja."


"Tidak apa apa" Lily mengikuti Angga ke kamar untuk mengambil pakaian kotor laki laki itu. "Besok baru jemur."

__ADS_1


Angga tanpa mengatakan apa apa langsung mencubit kedua pipi Lily sebelum mengelusnya.


"Jangan sampai masuk angin"


__ADS_2