
Lily menatap pria di depannya kemudian menoleh ke Angga yang berdiri di sampingnya penuh tanda tanya.
Angga mengangkat sebelah keningnya dan bertanya "apa?"
Lily tidak menjawab tapi melirik Pria di depannya dengan mimik wajah bertanya, Angga terkekeh
"kenalin, Om Tio dia asisten Ayah. Beliau yang akan jadi wali kamu hari ini"
Lily kaget tapi dia langsung menyalaminya "maaf Lily jadi ngerepotin Om" ucapnya dengan rasa bersalah
"tidak apa apa nyonya"
Nyonya?
"eh?"
Lily dan Angga saling menatap, kemarin Angga hanya mengatakan pacarkan?
Pria itu terkekeh melihat ekspresi kaget dua remaja di depannya. Dia dengan cepat menjelaskan kalau dia tahu status mereka karena dia yang mengurus sedikit banyaknya pernikahan mereka dari mencari penghulu sampai beberapa hal yang diperlukan.
Angga dan Lily hanya bisa tersenyum canggung karena tidak sempat mengetahui dan bahkan lupa, bukan bagaimana hari itu benar benar kacau.
"Maaf Om" ucap Angga diikuti Lily
"hahaha... Tidak apa tuan, saya mengerti situasinya." Dia melihat Lily dan tersenyum "nyonya tenang saja, saya akan menyelesaikan masalahnya dengan cepat, Nyonya tidak perlu melakukan apa apa."
Lily menundukkan kepalanya dengan wajah yang panas dan memerah karena merasa malu mendengar kata 'nyonya' yang disematkan padanya.
Angga meliriknya dan menepuk punggungnya pelan karena berfikir kalau gadis itu gugup.
"tidak apa apa, serahkan saja pada Om Tio" Lily menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum canggung ke arahnya.
Angga membuka pintu mobil karena mereka sudah tiba di sekolah. Hari ini karena Om Tio yang akan menjadi wali Lily jadi mereka menggunakan mobil beliau.
"yo pagi senior!" Afkar mengangkat tangannya ke arah Angga yang hanya Angga balas dengan lambaian balik karena dia juga terburu buru mau mengantar Lily ke kelasnya, sedangkan Tio langsung ke ruang guru menunggu wali yang lain karena memakan waktu kalau dia harus bolak balik lagi.
"hei, angkat kepalamu" kata Angga saat Lily berjalan sambil menunduk
__ADS_1
"kakak kembali saja ke kelas, Lily bisa ke kelas sendiri" ucapnya
Pemuda itu menggelengkan kepalanya, dia tetap ingin mengantarkannya takut kalau gadis itu diganggu lagi.
Semua mata menatap ke arah mereka saat mereka sampai ke kelas Lily, Angga menatap mereka dengan dingin seolah memberi peringatan kalau mereka dalam pengawasannya.
"kalau ada apa apa kasih tau kakak" Angga berkata dengan pelan yang hanya diangguki Lily, dia memberi isyarat agar Lily ke bangkunya.
"titip adek gue ya" ucapnya pada Rosa yang dari tadi melihatnya, gadis itu mendengus dan melongoskan wajahnya ke arah lain.
Angga mendengar bel dia dengan cepat berbalik untuk ke gedung kelasnya.
Begitu Lily duduk dia langsung dihampiri beberapa dari teman sekelasnya untuk meminta maaf.
Lily hanya mengangguk dan meminta maaf kembali karena membuat suasana kelas kurang menyenangkan kemarinnya.
Meski demikian dia masih mendengar decihan dan merasakan tatapan benci tapi dia sama sekali tidak peduli, dia juga tidak mau minta maaf pada mereka sebelum mereka meminta maaf lebih dulu.
Lily bukanlah gadis yang suka membuat masalah jadi rumit, dia bahkan tidak peduli saat dia diganggu tapi kalau menyangkut orang tuanya dia tidak bisa terimah.
"tapi Lily, kak Angga itu serius kakak lo?" gadis bertagname Emilda gadis yang pertama jujur kemarin bertanya
"bukan kandung." cicitnya
"eh? Sepupuan?" Lily mengangguk kecil, dia sebenarnya merasa kurang untuk berbohong.
"pantas saja kemarin dia marah" gumamnya.
Rosa yang dari tadi diam meliriknya dengan kening dikerutkan karena senyum Lily kurang alami.
Merasa diperhatikan Lily melihat Rosa tapi gadis itu hanya mendengus ke arahnya, tapi Lily tetap senyum ke arahnya.
Lily merasa sangat berterimah kasih mengingat kemarin Rosa satu satunya yang berdiri membantunya sementara yang lain berbalik menuduhnya melakukan pembullyan.
Tidak lama Lily dan dua lainnya kembali di panggil ke ruang guru karena wali mereka juga sudah datang.
Lily mengangguk sopan ke orang tua lainnya sebelum duduk di samping Tio. Tio menepuk pundak Lily yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"tegakkan kepala anda, Nyonya!" bisiknya. Lily menghela nafas dan duduk tegak karena memang dia tidak salah.
Juan duduk di depan mereka berdampingan dengan kepala sekolah dan wali kelas mereka.
"jadi kamu yang memukul anak saya?" wanita dengan gaya glamor menatap rendah ke arah Lily, Lily tidak menjawab tapi tidak juga menunduk seperti sebelumnya "kudengar orang tuamu sudah meninggal"
"apa maksud anda mempertanyakan itu?" tanya Tio dia menatap wanita glamour itu dengan kening terangkat
"Ya tentu saja berhubungan! Mereka tidak mengajari putri mereka makanya jadi preman seperti ini" dia menunjuk Lily "kalau tidak ada yang mengajari biar saya mengajari biar jadi anak benar"
"terimah kasih, tapi saya tidak butuh" Lily mendongak "cukup anda mengajari anak anda untuk tidak memalak orang lain tidak sok jadi superior, beritahu kalau apa yang dia inginkan tidak semua bisa dia miliki"
"Lilyana" Juan berdehem jadi Lily diam "silahkan duduk Bu"
"Saya membayar sekolah mahal mahal tapi masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan, saya mau anak ini dikeluarkan"
"silahkan duduk" Wanita itu tertegun mendengar suara dingin Juan jadi mau tidak mau dia duduk
Dia mengeluarkan amplop dari tas dan menyimpannya di meja
"pemikiran anda kuno sekali" Tio berucap, wanita itu menatapnya tajam tapi Tio tidak melihatnya "Pak, saya harap bisa dilakukan secara adil, kalaupun nona saya harus dihukum, tapi dia harus secara adil"
"bapak tidak perlu khawatir" kepala sekolah yang dari tadi hanya diam akhirnya berbicara. "Juan!"
Juan mengangguk, dia memutar laptop yang sedari tadi ada di depannya ke arah para wali siswa "saya ingin memperlihatkan ini, bukan karena pihak sekolah memihak Lily tapi kami memaklumi pembelaannya meski memukul teman tidak benar"
Di layar laptop terlihat bagaimana Lily di bully tapi tidak melawan, dia hanya terus menunduk bahkan saat mereka bermain fisik.
"i..ini?" gadis yang dipukuli Lily berseru kaget, dia tahu di sekolah ada cctv tapi dia selalu mencari tempat yang memungkinkan tidak terjangkau CCTV.
Juan tersenyum melihat wanita glamour dan beberapa wali hanya bisa menganga dan mengencangkan rahang mereka
"jadi bagaimana kalian mau menjelaskan ini?" Juan juga mengeluarkan alat rekam dari sakunya dan menyetelnya dimana beberapa pengakuan teman sekelasnya yang memberitahu alasan kenapa Lily memukul mereka.
Tio melirik gadis di sampingnya yang kembali menundukkan kepalanya
Dia sadar kalau nyonya muda itu tidak akan peduli dengan apa yang dikatakan dan dilakukan orang lain padanya, tapi dia akan bertindak kalau garis batasnya dilewati.
__ADS_1
*****